Mengangkat sudut pandang unik dari perspektif guru yang terjebak dalam hubungan dengan dua murid sekaligus, mempertanyakan apakah dirinya korban atau pemangsa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laila Kim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tamu Tak di Undang
Hari pertama tanpa Ima terasa seperti neraka bagi Rizky.
Pagi itu, ia datang ke sekolah dengan harapan bisa melihat Ima setidaknya dari kejauhan. Tapi saat jam pelajaran matematika tiba, yang masuk ke kelas XII IPA 2 justru guru pengganti Pak Saeful, guru tua berusia 50-an dengan kumis tebal dan kacamata tebal.
"Bu Ima sedang ada keperluan keluarga," jelas Pak Saeful sambil membuka buku absen. "Jadi minggu ini saya yang gantikan."
Rizky merasa dunianya runtuh.
Sepanjang pelajaran, ia tak mendengar sepatah kata pun yang diucapkan Pak Saeful. Pikirannya hanya pada Ima. Lagi apa Ima sekarang? Apa Ima kangen? Apa Ima baik-baik saja?
Ponselnya ia raba di saku celana. Beberapa kali ia ingin mengirim pesan, tapi urung. Ima sudah berpesan: jangan kirim pesan selama suaminya di rumah. Terlalu berisiko.
"Zky! Lo denger gue nggak?" Wira menyenggol lengannya.
Rizky menoleh. "Apa?"
"Gue tanya, lo jadi ikut futsal sore ini?"
Rizky menggeleng. "Gue nggak mood."
"Ya udah. Tapi lo jangan di kost melulu. Nanti tambah stres."
Rizky hanya mengangguk malas.
Tiga hari berlalu. Tiga hari yang terasa seperti tiga tahun.
Rizky mulai kehilangan nafsu makan. Ia hanya tidur, main game sebentar, lalu tidur lagi. Ponselnya selalu dalam genggaman, berharap ada pesan dari Ima meskipun tahu itu mustahil.
Wira sesekali datang menjenguk, membawakan makanan, memaksa Rizky untuk makan. Tapi Rizky hanya menyentuh makanan itu sebentar lalu membiarkannya dingin.
"Lo kayak orang putus cinta," Wira berkata suatu sore. "Padahal lo tahu sendiri, dia emang bukan milik lo."
Kata-kata Wira menusuk, tapi Rizky tak punya energi untuk marah.
Malam harinya, saat Rizky terbaring gelisah di kasur, ponselnya bergetar.
"Rindu".
Satu kata dari Ima. Hanya satu kata. Tapi cukup membuat jantung Rizky berhenti berdetak sejenak.
Dengan tangan gemetar, ia membalas: "Gue juga. Kangen banget."
Tak sampai semenit, balasan masuk: "Dia tidur. Ima sembunyi di kamar mandi. Cuma bisa ngetik sebentar."
Rizky membaca pesan itu berulang kali. Ima sembunyi di kamar mandi hanya untuk mengirim kabar. Perasaan campur aduk antara senang, rindu, dan bersalah memenuhi dadanya.
"Gimana kabarnya?" tanya Rizky.
"Baik. Cuma kangen kamu."
"Gue juga. Nggak bisa tidur mikirin Ima."
"Nggak boleh. Kamu harus tidur. Besok sekolah."
"Gue nggak bisa. Kalau inget Ima."
Beberapa saat kemudian, Ima membalas dengan pesan yang membuat Rizky tersenyum: "Kamu tuh manis banget. Ima harus kembali. Nanti Ima kabari lagi kalau ada kesempatan. Jaga diri, Sayang. Ima sayang kamu."
Rizky membalas: "Ima sayang kamu juga."
Ia memeluk ponselnya erat. Untuk pertama kalinya dalam tiga hari, ia bisa tidur dengan senyum di wajah.
---
Hari keempat. Kelima. Keenam.
Setiap malam, selalu ada pesan singkat dari Ima. Kadang hanya "Rindu" atau "Kangen". Kadang lebih panjang, bercerita tentang kesehariannya bersama suami. Rizky membaca semua pesan itu dengan perasaan yang rumit—senang karena Ima masih memikirkannya, tapi juga cemburu karena Ima menghabiskan waktu dengan laki-laki lain.
"Lo tuh udah keterlaluan, Zky," Wira berkata saat mereka duduk di kantin. "Cemburu sama suami sahnya? Sadar diri dong."
"Gue tahu, Ra. Tapi nggak bisa ngapa-ngapain."
"Justru itu. Lo nggak bisa ngapa-ngapain. Jadi terima aja kenyataan."
Rizky menghela napas. "Gue usahain."
Malam ketujuh, atau malam terakhir sebelum Ima dan suaminya berpisah lagi, Rizky menerima pesan yang tak terduga.
"Besok Ima ke sekolah. Suami Ima antar. Tolong... jangan tunjukin perasaan apa-apa. Jangan lihat Ima terlalu lama. Dia orangnya peka."
Rizky membalas: "Gue usahain."
Tapi dalam hati, ia sudah tak sabar ingin melihat Ima lagi. Meskipun hanya dari kejauhan. Meskipun harus pura-pura tak kenal.
---
Pagi itu, Rizky datang lebih awal. Ia duduk di kantin, memesan kopi, dan matanya tak lepas dari pintu gerbang.
Pukul 06.45, sebuah mobil Avanza hitam masuk ke parkiran guru. Rizky melihat Ima turun dari sisi penumpang. Ia memakai gamis warna ungu tua dengan hijab senada. Cantik. Selalu cantik.
Dari sisi pengemudi, turun seorang laki-laki. Tinggi, agak gendut, berkacamata. Wajahnya tampan meski agak tua. Suami Ima.
Rizky mengepalkan tangannya di bawah meja. Ima berjalan di samping suaminya, sesekali berbicara. Mereka terlihat seperti pasangan harmonis. Suami Ima memegang tangan Ima, menggenggamnya erat.
Rasanya seperti ada pisau menusuk jantung Rizky.
"Lo nggak usah lihat ke sana," Wira berbisik, tiba-tiba sudah duduk di sampingnya. "Muka lo udah jelas banget. Cemburu."
Rizky membuang muka. "Gue nggak—"
"Jangan bohong. Lo cemburu. Dan itu wajar. Tapi ingat, dia milik orang itu. Bukan lo."
Rizky diam. Matanya tetap menunduk.
Wira menghela napas. "Lo mau gue temenin ke kelas?"
"Nggak usah. Gue bisa sendiri."
Rizky bangkit dan berjalan ke kelas. Sepanjang jalan, ia berusaha tak menoleh ke arah parkiran. Tapi godaan terlalu besar. Ia melirik sekilas, dan saat itu juga matanya bertemu dengan mata Ima.
Hanya satu detik. Tapi cukup.
Ima menggeleng pelan. Peringatan. Lalu ia tersenyum tipis pada suaminya dan mereka berjalan menuju ruang guru.
Rizky menarik napas dalam-dalam dan melanjutkan langkah.
---
Jam pelajaran kedua, Rizky tak sengaja berpapasan dengan Ima di koridor. Ima sedang membawa setumpuk buku. Di belakangnya, suaminya masih menemani.
"Maaf, Nak," Ima berkata sopan saat mereka hampir bertabrakan.
Rizky menunduk. "Maaf, Bu."
Mereka berlalu. Rizky terus berjalan, tak berani menoleh. Tapi di ujung koridor, ia mendengar suara Ima tertawa kecil mendengar sesuatu yang dikatakan suaminya.
Sakit. Sakit sekali.
Istirahat pertama, Rizky tak bisa makan. Ia duduk di bangku taman belakang, jauh dari keramaian. Wira menemaninya diam-diam.
"Gue nggak kuat, Ra," bisik Rizky akhirnya. "Ngeliat mereka bersama."
"Lo harus kuat. Ini konsekuensi yang harus lo terima."
"Tapi gue cinta dia."
Wira menatapnya tajam. "Cinta? Lo tahu apa itu cinta? Cinta itu bukan cuma soal perasaan, Zky. Cinta itu soal tanggung jawab. Apa lo bisa tanggung jawab sama dia? Apa lo bisa nikahin dia? Apa lo bisa beri dia masa depan?"
Rizky terdiam.
"Lo nggak bisa. Karena lo masih bocah. Karena dia udah punya suami. Karena dunia nggak akan terima hubungan kalian." Wira menghela napas. "Maaf gue keras, tapi lo perlu dengar ini. Ini bukan cinta. Ini obsesi."
Rizky menatap Wira dengan mata berkaca-kaca. "Terus gue harus gimana, Ra?"
"Lo harus mundur. Sekarang juga. Sebelum lo tenggelam lebih dalam."
"Gue nggak bisa."
"Bisa. Lo bisa. Sakit emang, tapi lama-lama sembuh."
Rizky menggeleng. "Gue nggak mau sembuh. Gue mau dia."
Wira menghela napas pasrah. "Ya udah. Terserah lo. Tapi jangan bilang gue nggak ngingetin."
---
Sore itu, Rizky menerima kabar bahwa suami Ima sudah berangkat ke bandara. Dinas lagi ke luar pulau. Ima sendiri di rumah.
Pesan Ima: "Dia udah pergi. Ima sendirian. Kapan kamu ke sini?"
Rizky membaca pesan itu dengan perasaan lega. Tapi ada juga rasa bersalah yang mengganggu. Kata-kata Wira terus terngiang di kepalanya.
Ini bukan cinta. Ini obsesi.
Tapi ketika Ima mengirim foto dirinya di kamar, dengan daster tipis dan senyum menggoda, semua keraguan Rizky lenyap.
"Ima kangen. Cepet ke sini."
Rizky mengetik balasan: "Gue ke sana sekarang."
---
Sesampainya di rumah Ima, Rizky langsung ditarik masuk. Ima memeluknya erat, menangis di dadanya.
"Tuhan, Ima kangen banget," isak Ima. "Seminggu Ima nahan diri. Nggak bisa kemana-mana. Nggak bisa ngapa-ngapain."
Rizky mengusap punggung Ima. "Gue juga kangen."
Ima menengadah, wajahnya basah air mata. "Kamu marah sama Ima?"
"Marah kenapa?"
"Karena Ima ninggalin kamu seminggu. Bersama suami Ima."
Rizky menghela napas. "Marah? Nggak. Cemburu? Iya."
Ima tersenyum getir. "Maafin Ima, Sayang. Ima nggak punya pilihan."
Rizky mengusap air mata Ima dengan jempolnya. "Gue tahu. Gue terima."
Ima menciumnya. Ciuman panjang yang penuh rasa rindu. Mereka berciuman sambil berjalan menuju kamar, melepas pakaian satu per satu.
Malam itu, mereka bercinta dengan penuh gairah. Seperti orang kehausan di padang pasir yang menemukan air. Ima lebih agresif dari biasanya. Rizky membalas dengan semangat yang sama.
Saat semuanya usai, mereka berbaring dalam pelukan. Ima mengusap dada Rizky dengan jari-jarinya. Rizky mengecup puncak kepalanya.
"Ima," bisik Rizky.
"Hm?"
"Gue... gue sayang Ima."
Ima tersenyum. "Ima juga sayang kamu."
"Bukan. Maksud gue..." Rizky menjeda. "Gue sayang Ima beneran. Gue mau sama Ima selamanya."
Ima diam sejenak. Lalu ia duduk, menatap Rizky dengan serius. "Rizky, kita nggak bisa sama selamanya."
"Kenapa?"
"Kamu tahu sendiri kenapa." Ima menghela napas. "Ima udah punya suami. Ima lebih tua dari kamu. Ini... hubungan ini nggak punya masa depan."
"Terus kita ngapain?"
Ima mengusap wajah Rizky lembut. "Kita nikmati selama bisa. Sampai waktunya tiba..."
"Waktu apa?"
Ima tak menjawab. Ia hanya mencium Rizky lagi, lembut, penuh arti.
Tapi Rizky tahu jawabannya. Waktu ketika semuanya berakhir. Waktu ketika mereka ketahuan. Atau waktu ketika Ima bosan. Atau waktu ketika Rizky lulus dan pergi.
Malam itu, mereka bercinta lagi. Lebih lambat. Lebih dalam. Seperti ingin mengabadikan setiap detik.
Karena mereka tahu, tak ada yang abadi di dunia ini.
---