"Cantiknya memikat, pelukannya menjerat, malam ketujuhnya... membunuhmu tanpa sempat bertaubat."
Dihina sebagai gadis penghibur tak laku, Syifa berubah menjadi primadona VIP yang dipuja setelah menerima minyak keramat dari Nenek Lamiang, dukun pedalaman Kalimantan. Syifa memiliki daya tarik mistis yang membuat setiap pria merasa dialah wanita paling suci yang pernah mereka sentuh. Namun, kecantikan itu menyimpan rahasia gelap tentang sebuah hitungan malam yang tak boleh dilanggar.
Pelariannya ke Kalimantan
Mempertemukannya dengan Agung, arsitek yang terobsesi pada wanginya, dan Penyang, pemuda lokal yang mencium aroma maut di balik pesonanya. Di tengah persaingan dua pria itu, Syifa menyadari satu hal: ada harga nyawa yang harus dibayar tepat di malam ketujuh. Kini, sebelum hitungan terakhir tiba, Syifa harus memilih antara mengikuti nafsu yang menghancurkan atau melakukan pengorbanan terakhir yang akan mengubah wujudnya selamanya.
BERANI MELEWATI MALAM KE-6?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eouny Jeje, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menari di malam ketujuh
..."Akta Cerai di Tangan Kiri, Surat Undangan di Tangan Kanan, Dan Maut yang Menari di Malam Ketujuh."...
................
Syifa duduk dengan angkuh di balik meja sekretaris jati yang sangat mewah, meski jemarinya yang lentur tampak kaku saat menyentuh laptop. Ia hanya mampu menggunakan "sebelas jari", itu pun hanya untuk browsing barang-barang bermerek. Tugasnya hanyalah kedok; ia hanya menyusun jadwal pertemuan tanpa memahami satu pun istilah bisnis para petinggi. Bagi Syifa, ijazah S2 "kilat" itu hanyalah tameng untuk membungkam mulut para staf yang nyinyir.
Sudah dua pekan semenjak malam keenam yang dahsyat itu, Broto sedang berada di Hong Kong. Syifa mulai gelisah; Sihir Kukang di dalam darahnya mulai merengek haus. Ia bisa merasakan kulit porselennya meredup—sebuah tanda maut bahwa ia harus segera mencari "obat" penyambung sinar wajahnya agar tidak berubah menjadi nenek tua dalam semalam.
Demi tetap cantik, Syifa terpaksa memburu energi dari Bastian—pria tampan jabatan HRD yang sudah lama ia jadikan inang sementara.
"Mungkin aku sarjana keluaran COVID, makanya agak lambat," desah Syifa di sela deru napas Bastian, mengabaikan fakta bahwa Bastian rela menyerahkan segalanya demi sekretaris yang dianggap "dungu" oleh karyawan lain ini. Bagi Syifa, peluh Bastian adalah bedak, dan gairah pria itu adalah pelembab agar wajahnya tetap bersinar bak dewi.
Di dalam ruang kerja HRD yang terkunci rapat, atmosfer terasa pengap dan panas. Syifa membiarkan Bastian melumatnya dengan gairah yang membabi buta. Perselingkuhan ini bukan cinta, melainkan ritual pembersihan agar Minyak Kukang tidak menghisap nyawa Syifa sendiri. Namun, di tengah pergulatan intim yang penuh peluh itu, jantung Syifa tiba-tiba berdegup kencang karena ketakutan.
TOK... TOK... TOK...
Pintu kayu ruang HRD diketuk perlahan. Sangat halus, namun terasa seperti dentum lonceng kematian di telinga Syifa.
"Permisi... Pak Bastian? Apakah Bapak di dalam?" suara staf administrasi terdengar rendah dan sangat berhati-hati. "Mohon maaf sekali Pak, ini ada kurir paket eksklusif untuk Pak Broto. Katanya sangat rahasia. Kami sudah cari Nona Syifa di ruangannya tapi tidak ada... Apa mungkin Nona Syifa sedang koordinasi dengan Bapak?"
Syifa membeku, napasnya tertahan di kerongkongan. Beruntung, pintu itu terkunci rapat dari dalam. Rasa aman sesaat itu memberinya kesempatan untuk bergerak cepat. Dengan gerakan yang sangat efisien, ia segera menyambar pakaiannya yang berserakan di lantai, mengenakannya kembali ke tubuhnya yang masih hangat oleh peluh.
"Bastian, diam... jangan bersuara sedikit pun," desis Syifa dengan nada panik, sembari mengancingkan kemejanya dengan jemari yang gemetar namun cekatan.
Bastian yang sudah terlanjur kecanduan justru mencoba menarik pinggang Syifa kembali, ia meminta lagi seolah jiwanya telah terhipnotis oleh pesona mistis wanita itu. "Biarkan saja, pintunya terkunci..." rintih Bastian rendah.
"Lepaskan! Kau mau kita ketahuan?!" Syifa menyentakkan tangannya dengan kasar. Berkat pintu yang terkunci, ia berhasil merapikan penampilannya tanpa terlihat acak-acakan. Ia memulas kembali lipstik merah meronanya dengan terburu-buru. Ajaib, begitu "ritual" singkat tadi usai, sinar wajahnya kembali memancar hebat—lebih segar dan lebih muda.
Setelah memastikan semuanya rapi, ia mengatur napas, membuka kunci pintu, dan melangkah keluar dengan wajah paling tenang seolah baru saja selesai mendiskusikan laporan penting.
"Iya, saya di sini. Tadi sedang memeriksa berkas sensitif dengan Pak Bastian," ucap Syifa datar saat menerima paket dari staf yang menunduk sopan.
Begitu sampai di ruangannya sendiri, Syifa merobek dua paket eksklusif itu. Isinya membuat dunianya seolah berhenti berputar.
Paket Pertama: Akta Cerai Broto. Pria itu resmi menjadi duda setelah mendepak istri sahnya demi dirinya.
Paket Kedua: Bundel rencana pernikahan agung yang dijadwalkan tepat seminggu lagi. Nama SYIFA tertulis besar di sana.
"Aku akan menikah! Jadi nyonya kaya raya!" Syifa memekik girang, melupakan ketegangannya tadi. Ia segera menghubungi ibunya di kampung untuk bersiap menghadiri pernikahan kilat yang paling megah itu.
Syifa merasa sangat aman. Sebelumnya, ia sempat mencari informasi browsing dan membaca bahwa minyak kukang hanyalah minyak pemikat biasa yang banyak dijual bebas. Namun, ia tidak menyadari satu fakta mengerikan: minyak yang diberikan Nenek Lamiang bukanlah minyak kukang sembarangan. Itu adalah Minyak Karas Paten, sihir murni yang menuntut tumbal nyawa tepat setelah malam ketujuh berlalu. Syifa mengira ia akan naik ke pelaminan untuk menjadi ratu, padahal ia sedang menuntun Broto menuju liang lahat yang telah dipersiapkan oleh pesona jahatnya.
Satu minggu kemudian, suasana ijab kabul terasa melambat secara tidak wajar, seolah setiap detiknya adalah siksaan bagi jiwa yang menghitam. Broto berkali-kali terbata dan salah mengucapkan kalimat sakral itu; lidahnya kelu seolah ada tangan gaib yang mencekik lehernya, menghalangi cahaya masuk ke dalam raga yang telah terkunci sihir. Di telinga Syifa, alunan doa yang menggema justru terdengar memekakkan, memuakkan, dan panas layaknya cairan timah yang dituangkan paksa ke telinganya.
Begitu kalimat "Sah" bergema, tubuh Syifa mendadak membara hebat. Panas menjalar dari tulang ekor hingga ke ubun-ubun, meledakkan debar jantung yang tak beraturan hingga ia hampir pingsan dan nyaris kesurupan di depan penghulu. Ia segera dipapah masuk ke kamar. Di sana, Syifa mulai tenang saat jauh dari kerumunan doa yang menyerang energi negatif di tubuhnya.
Broto menyusul dengan wajah pucat dan napas berat. "Apa kita batalkan saja resepsi nanti malam, Sayang? Wajahmu sangat pucat," tanya Broto cemas. Syifa, yang jiwanya telah mulai terkikis oleh kegelapan, meliuk layaknya ular yang sedang menjerat mangsa. Ia membisikkan kata-kata manja yang kental dengan pengaruh Minyak Kukang. "Aku kuat kok, sayang... Bahkan untuk melanjutkan 'permainan' kita setelah ini, aku sangat kuat," bisiknya sambil menghisap sisa kewarasan Broto melalui ciuman di lehernya.
Empat jam kemudian, mereka bersanding di pelaminan megah. Di antara tamu, Bastian muncul dengan mata merah penuh dendam. Saat bersalaman, ia membisikkan racun, "Selamat berbahagia, Nyonya Syifa. Pilihanmu sangat tepat, akhirnya aku tahu seleramu." Jantung Syifa mencolos, ia ketakutan setengah mati jika skandal mereka terbongkar di depan Broto yang sudah dibutakan total.
Setibanya di villa mewah keluarga Adiningrat, ia tak menyadari malam ketujuh yang diperingatin Lamiang pun tiba. Syifa segera mengunci diri di kamar mandi, merasa sangat haus akan kecantikan. Ia menumpahkan botol Minyak Kukang yang ajaib itu secara membabi buta ke wajah dan bagian vitalnya. Seketika, Syifa merasakan kulitnya mendidih.
Dalam hitungan detik, rupa aslinya terkelupas. Di cermin, ia melihat pemandangan horor: kulitnya melayu dan menghitam, rambutnya rontok dan memutih kusam, giginya goyah, dan tubuhnya meringkuk menjadi nenek tua renta yang sangat kering. "AAA! Wajahku! Sayang, tolong!" Syifa menjerit histeris, tak menyadari bahwa suara yang keluar adalah pekikan parau makhluk gaib.
Broto mendobrak pintu dengan napas memburu. "Ada apa, Sayang?!"
Syifa gemetar hebat, menutupi wajah nenek rentanya dengan tangan yang hanya tinggal tulang. Ia menangis pilu, yakin Broto akan mati ketakutan melihat bangkai hidup di depannya. Namun, pengaruh Minyak Kukang pada malam puncak ini telah memutarbalikkan kenyataan di mata Broto.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
karena apa coba