NovelToon NovelToon
'SUAMI BUTA' Ku Yang Kaya Raya

'SUAMI BUTA' Ku Yang Kaya Raya

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Balas Dendam
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: Elprasco

"Dasar pria buta, dia cuma hidup dari sumbangan keluarga Wijaya!" cibir seorang wanita.

Sepertinya kehadiran Elang telah menjadi tontonan bagi mereka. Semua orang mengatainya sebagai pria tak berguna,

"Aku calon istri dari pria yang kalian bicarakan."

Entah naif atau bodoh, ucapan Nila berhasil menarik perhatian Elang.

Setelah kecelakaan 10 tahun lalu, pria itu kembali dari pengasingan panjang. Diam-diam bertingkah lemah demi membalaskan dendam,

Namun siapa sangka? di tengah sandiwara dia justru bertemu seorang gadis liar yang membuat hidupnya berubah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elprasco, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rekan kerja

"Argh, laper banget. Harusnya tadi aku sarapan dulu," rengek Nila dalam hati, menyentuh singkat perut rampingnya.

"Kamu baik-baik saja?" tanya Herman mengangkat alis,

"Iya, gapapa." sahut Nila mengangguk senyum,

Berjalan mengikuti pria yang sedang mengantarnya masuk, melewati pintu kaca sebuah ruang.

"Karena ini hari pertamamu. Nanti kamu jadi asisten dulu sambil melajari tugas-tugasnya ya," lugas Herman menjelaskan,

Melangkah ke depan meja kosong yang telah disediakan. "Tempat dudukmu disini. Di sebelah Pak Juna---dia senior yang akan membimbingmu."

"Halo, saya Juna. Salam kenal," sapanya dengan ramah, mengajukan jabat tangan yang disambut oleh Nila. "Saya Nila, salam kenal."

"Ya sudah kalau begitu. Silahkan lanjut bekerja," 

"Terima kasih, Pak." ujar Nila mengangguk, memandang sekilas pria yang baru saja berpamitan.

Mulai meletakkan tas yang dibawa ke atas meja lalu menempati kursinya. Sekilas mengamati sekeliling, setiap meja yang sudah diisi. Suasananya cukup tenang karena mereka terlihat sibuk dengan komputer masing-masing.

"Nila sebelum ini, kerja dimana?" tanya Juna berbasa-basi,

Gadis itu menoleh berusaha akrab. "Sebelumnya saya kerja di bisnis katering."

"Wah, berarti udah pengalaman ya di bidang makanan. Berarti gampang nanti adaptasinya,"

"Semoga gitu ya,"  lugas Nila mengiyakan.

"Kerjanya hampir sama kok. Nanti disini tugasnya ngembangin produk makanan, kayak bikin menu sama resep."

"Terus kita wajib memastikan makanan itu udah aman memenuhi standar kesehatan. Kita juga punya tugas buat inovasi produk biar bisa unggul di pasaran,"

Nila diam menyimak dengan seksama setiap penjelasan yang diberikan sampai tak sengaja mengeluarkan suara nyaring dari perutnya. "Grrrrr!!"

"Belum sarapan ya?" ucap Juna tersenyum jahil,  

Nila yang memang sedang dalam keadaan lapar, hanya bisa mengangguk. "Tadi bangun kesiangan,"

"Mau makan dulu?" tawarnya mengangkat alis.

"Ga usah gapapa. Nanti aja sekalian makan siang," geleng Nila merasa tak enak hati,

"Lho, nanti sakit maag. Ayo gapapa makan dulu, saya traktir." Juna bangkit bersiap mengambil dompet dari dalam laci, "Santai aja kalau sama saya."

"Tapi beneran gausah Pak, saya ga lapar banget. Nanti aja," pinta Nila menggelengkan telapak tangan, bersikeras menolak ajakan Juna.

Namun sepertinya pria itu juga tak ingin menyerah, menarik pelan lengan Nila agar berdiri. "Udah ayo,"

"Saya juga ada tugas ngecek produk, jadi sekalian kamu ikut biar paham." tambahnya berhasil membujuk,

"Lihat tu, Pak Juna udah nemu mangsa baru." bisik karyawan lain, melihat Juna yang dinilai bertingkah sok akrab.

Dua karyawan wanita memandang dari kejauhan, seakan sudah terbiasa dengan perilaku temannya.

"Iya, kayak biasa. Setiap ada karyawan baru Pak Juna langsung nyosor---kita lihat aja, apa lagi caranya buat ngerayu anak baru."

Di sisi lain.

Herman kembali setelah mengantar Nila, pergi menemui atasannya yang sudah berada di dalam kantor.

Menempati ruang CEO yang tidak boleh dimasuki sembarang orang.

"Bagaimana, apa kamu sudah mengurusnya?" celetuk Elang menatap singkat selagi menyelesaikan beberapa dokumen di atas meja,

"Iya, sudah. Tapi kayaknya saya salah memilih rekan buat nyonya--" sahut Herman terdengar ragu, menggaruk ambang ujung kepala yang terasa gatal.

Elang mengernyit, meletakkan pena yang dipegang. "Ada apa?"

"Karena nyonya baru masuk kerja, jadi saya pasangkan nyonya dengan senior yang bisa mengajarinya."

"Terus apa masalahnya?" Elang menatap tajam, tak mengerti kenapa Herman merasa bersalah.

"Kebetulan karyawan yang luang sisa satu. Karyawan cowok," bergumam lirih, Herman sedikit takut meneruskan cerita.

"Tapi, sepertinya dia berusaha mendekati nyonya. Bagaimana menurut Tuan? Apa tidak apa-apa?" 

"Ya, emang kenapa?" lugas Elang santai, tak keberatan akan keputusan Herman yang memasangkan Nila dengan pria lain.

"Apa Tuan lupa? Mau bagaimanapun, nyonya adalah istri anda. Bagaimana kalau dia tertarik dan menyukai pria lain.." jawab Herman bersikap waspada.

"Itu ga penting buatku. Pernikahan ini cuma pura-pura, jadi dia bebas berhubungan dengan pria manapun."

"Aku tidak mau ikut campur," tambahnya bersungguh-sungguh, kembali menggarap tugas dan menganggap obrolan tadi sebagai angin lalu.

 

Pukul 19.00

"Terima kasih, sudah mengantarkan saya pulang." ucap Nila tersenyum, melepas sabuk pengaman lalu menuruni mobil.

Karena tadi sempat ada pekerjaan di luar kantor yang cukup sibuk, mereka diharuskan lembur sampai malam. Nila terpaksa menerima bantuan Juna yang ingin memberi tumpangan,

"Lho, kenapa kamu ada di luar?" tanya Nila terkejut mendapati Elang berdiri di halaman rumah dengan pakaian tipis.

"Udah jam segini tapi kamu belum pulang. Jadi aku keluar buat ngecek---aku pikir kamu lupa rumahmu dimana," jawab Elang dengan nada ketus,

Tidak tahu apa sebabnya, perkataan Herman terus mengiang di kepala sampai membuat Elang tak bisa duduk tenang. Tapi dia masih terus berusaha menyangkal perasaannya itu,

Lagipula dari awal pernikahan mereka hanyalah sandiwara. 

"Siapa dia?" benak Juna mengawasi dari dalam mobil. 

"Maaf, hpku lowbat. Aku lupa ngabarin---tadi ada kerjaan jadi pulangnya agak malam." sesal Nila merendahkan suara, tak menyangka kalau pria itu rela menunggu di luar pada cuaca dingin seperti sekarang.

"Aku akan bicara pada Herman biar dia mengganti aturan perusahaannya. Ga boleh ada yang lembur kerja." tegas Elang tampak serius,

"Haha--gausah lah, ngapain ganti aturan." lugas Nila dibuat tertawa oleh tingkah lucu Elang yang terlihat kesal.

"Nila," panggil Juna baru saja turun dari mobil, memutuskan untuk menghampiri. Sepertinya dia penasaran dengan sosok pria yang berbincang asik bersama Nila,

"Apa dia pacarmu?" tanya Juna berhasil mengejutkan mereka,

Gadis itu mengira rekannya sudah langsung pergi setelah mengantar.

"Mmm? Iya, dia pacarku." angguk Nila tak segan memperkenalkan mereka,

"Pak Juna ini seniorku di tempat kerja." 

Juna berdiam mengamati penampilan Elang yang memakai kacamata hitam serta memegang tongkat.

"Apa dia tidak bisa melihat?" tanya Juna bergumam tanpa suara, berdada tangan sebagai isyarat.

"Iya, dia dulu pernah mengalami kecelakaan parah yang membuat matanya bermasalah." jawab Nila dengan santai menjelaskan, merasa kalau itu bukanlah aib yang harus ditutupi.

"Oh gitu, aku penasaran kok bisa pria muda sepertimu ga bisa melihat. Ternyata pernah kecelakaan," berpura-pura bersimpati,

"Hhh, Cuma pria buta. Mana mungkin bisa menyaingiku? Aku pasti bisa merebut Nila darinya." batin Juna tertawa licik, mulai berniat buruk.

Pria itu pikir dia bisa mengalahkan Elang karena fisiknya yang buta, tanpa tahu kalau dia sudah menggali kuburannya sendiri.

Karyawan rendahan berani melawan pemilik tempatnya bekerja? Dia benar-benar bodoh. 

"Oh ya, kebetulan aku punya kenalan dokter mata. Dia dokter terbaik di negara ini, sudah banyak kasus yang dia tangani."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!