Rengganis, seorang dokter spesialis kandungan yang sukses namun skeptis terhadap cinta, merasa hidupnya sudah "terlambat" untuk urusan asmara. Di usianya yang matang, ia dikejutkan oleh wasiat perjodohan sang ayah dengan Permadi, putra sahabat ayahnya yang merupakan seorang CEO muda yang sedang naik daun.
Bagi Rengganis, perbedaan usia mereka bukan sekadar angka, melainkan jurang rasa tidak percaya diri. Ia merasa tidak pantas bersanding dengan "berondong" yang memiliki masa depan panjang, sementara dunianya hanya berputar di ruang persalinan. Di sisi lain, Permadi yang visioner justru melihat Rengganis sebagai sosok wanita yang selama ini ia cari.
Pernikahan mereka pun menjadi medan tempur. Bukan hanya soal ego dan rasa minder Rengganis, tapi juga hantaman dari luar: keluarga yang menuntut keturunan dengan cepat, cemoohan sosial tentang "wanita matang dan lelaki muda", hingga munculnya sosok dari masa lalu Permadi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
Permadi melangkah keluar kamar dengan perlahan agar tidak mengusik tidur istrinya yang tampak sangat lelap.
Ia berdiri di lorong, meraih ponselnya, dan langsung menghubungi sekretaris pribadinya.
"Sarah, saya akan cuti selama seminggu penuh. Saya akan membawa Rengganis bulan madu ke Labuan Bajo," ucap Permadi tanpa basa-basi.
"Baik, Pak. Jadwal Bapak sudah saya kosongkan. Apakah perlu saya pesankan tiket pesawat komersial?" tanya Sarah di seberang sana.
Permadi melirik ke arah pintu kamar yang tertutup.
Ia ingin kenyamanan maksimal untuk Rengganis, terutama setelah melihat betapa lelahnya wanita itu pagi ini.
"Tidak perlu. Siapkan private jet perusahaan untuk keberangkatan malam ini pukul sembilan. Pastikan semuanya siap, termasuk penjemputan di sana."
"Siap, Pak. Segera saya atur."
Setelah menutup telepon, Permadi kembali masuk ke kamar.
Ia mendapati Rengganis masih bergelung di balik selimut.
Napasnya teratur, wajahnya tampak sangat damai.
Permadi mendekat dan mengusap dahi istrinya dengan lembut.
"Dasar putri tidur," gumamnya sambil tersenyum tipis. "Sepertinya semalam benar-benar menguras tenagamu, Sayang."
Permadi menatap tiket bulan madu dari mertuanya yang tergeletak di nakas.
Ia tidak ingin membuang waktu. Dengan cekatan, pria itu mulai menarik koper besar dari dalam lemari.
Ia mulai memasukkan kemeja, celana santai, dan beberapa perlengkapan pribadinya. Namun, bagian paling menarik adalah saat ia beralih ke laci pakaian dalam Rengganis.
Permadi membuka laci itu dan menemukan deretan lingerie sutra dengan berbagai warna—mulai dari putih bersih, ungu tua, hingga hitam yang elegan.
Tanpa ragu, ia memasukkan semuanya ke dalam koper.
"Ini akan sangat berguna untuk 'gaya helikopter' yang aku janjikan tadi," bisiknya nakal pada diri sendiri.
Ia juga memasukkan beberapa potong gaun musim panas milik Rengganis dan peralatan medis kecil yang selalu dibawa istrinya.
Permadi memastikan tidak ada yang tertinggal. Ia ingin selama di Labuan Bajo nanti, Rengganis tidak perlu memikirkan apa pun kecuali dirinya.
Selesai mengepak, Permadi duduk di kursi dekat jendela, menatap pemandangan luar sambil menunggu waktu keberangkatan.
Ia merasa seperti remaja yang sedang merencanakan pelarian romantis.
Baginya, seminggu ini bukan hanya tentang bulan madu, tapi tentang memastikan bahwa Rengganis benar-benar menyadari bahwa ia adalah milik Permadi sepenuhnya.
Malam nanti, di atas awan, perjalanan baru mereka akan benar-benar dimulai.
Semburat jingga mulai menyeruak masuk melalui celah gorden, menandakan sang surya sudah bersiap kembali ke peraduannya.
Di dalam kamar yang masih diselimuti keheningan, Permadi sudah tampak jauh lebih segar.
Ia telah mandi untuk kedua kalinya, mengenakan kaos polo santai dan celana chino yang membuatnya terlihat sangat maskulin namun tetap santai.
Ia mendekat ke tepi ranjang, menatap lekat wajah istrinya yang masih betah menjelajahi alam mimpi.
Dengan gerakan lembut, Permadi mengusap pipi Rengganis, lalu merunduk untuk membisikkan sesuatu di telinganya.
"Sayang, ayo bangun. Sudah sore," bisik Permadi rendah.
Rengganis mengerang kecil, perlahan bulu matanya yang lentik bergetar.
Ia membuka matanya yang masih sedikit berat dan hal pertama yang ia tangkap adalah sosok suaminya yang sudah tampak rapi dan wangi.
Aroma maskulin bercampur sabun mandi yang segar seketika menyapa indra penciumannya.
"Mas..." gumam Rengganis serak.
Ia mencoba mengucek matanya, lalu menatap jam dinding.
"Ya Tuhan, aku tidur lama sekali?"
"Hampir sepanjang hari, Putri Tidur," goda Permadi sambil membantu Rengganis duduk dengan menyangga punggungnya.
"Tapi tidak apa-apa, kamu memang butuh tenaga ekstra untuk perjalanan kita nanti malam."
Rengganis menguap kecil, masih mencoba mengumpulkan nyawanya.
"Jam berapa kita berangkat? Aku belum menyiapkan koper, Mas. Baju-bajuku belum masuk, alat mandi, belum lagi aku harus cek—"
"Ssttt..." Permadi meletakkan jari telunjuknya di bibir Rengganis, menghentikan kepanikan istrinya.
Ia kemudian menunjuk ke arah sudut kamar, di mana dua koper besar sudah berdiri tegak dengan rapi.
Rengganis mengikuti arah telunjuk Permadi dan matanya seketika membelalak.
"Mas, kamu yang menyiapkan itu semua?" tanya Rengganis tidak percaya.
"Kapan? Kamu memasukkan apa saja ke sana?"
Permadi tersenyum penuh rahasia, sebuah senyuman yang membuat Rengganis tiba-tiba merasa waswas.
"Semua kebutuhanmu sudah masuk. Gaun, skincare, bahkan semua 'koleksi' sutra di lacimu sudah aku amankan di sana."
Wajah Rengganis seketika merona merah saat menyadari apa yang dimaksud suaminya.
"Mas! Kamu memasukkan lingerie itu juga?"
"Tentu saja. Itu perlengkapan wajib bulan madu, Sayang," sahut Permadi santai sambil mengedipkan mata.
"Sekarang, cepat mandi dan bersiap. Kita tidak pakai pesawat komersial. Private jet sudah siap di bandara, dan aku ingin kita makan malam romantis dulu di atas awan sebelum mendarat di Bajo."
Rengganis terpaku sejenak. Kecepatan tindakan Permadi selalu membuatnya kewalahan.
Dari seorang "berondong" yang ia remehkan, kini pria itu berubah menjadi sosok pelindung yang mengatur segalanya dengan begitu sempurna.
"Terima kasih ya, Mas," ucap Rengganis tulus, kali ini tanpa rasa malu untuk menatap mata suaminya.
Permadi menarik dagu Rengganis dan mengecup bibirnya singkat.
"Sama-sama. Sekarang cepat mandi, atau aku yang akan memandikanmu agar lebih cepat?"
"Maaaasss! Jangan mulai!" seru Rengganis sambil buru-buru menyambar handuknya dan berlari kecil menuju kamar mandi, mengabaikan rasa perih yang sebenarnya masih sedikit terasa namun tertutupi oleh debaran bahagia.
Setelah selesai bersiap, mereka berangkat menuju bandara.
Di dalam mobil mewah yang dikemudikan oleh sopir pribadi Permadi, Rengganis tampak gelisah.
Ia menatap jalanan, lalu menoleh ke arah suaminya yang sedang asyik memeriksa beberapa dokumen di tabletnya.
"Mas..." panggil Rengganis pelan.
"Iya, Sayang? Ada yang tertinggal?" tanya Permadi tanpa mengalihkan pandangan.
"Mas, apa tidak sebaiknya kita naik pesawat biasa saja? Kelas ekonomi atau bisnis juga tidak apa-apa. Kita ke Labuan Bajo saja sudah mahal, ditambah lagi pakai sewa jet pribadi segala. Uang kamu bisa habis nanti, Mas. Kita harus hemat untuk masa depan," ucap Rengganis dengan nada penuh kekhawatiran khas seorang istri.
Permadi yang mendengar kekhawatiran tulus dari istrinya itu seketika menghentikan kegiatannya.
Ia menoleh ke arah Rengganis, lalu sedetik kemudian tawa baritonnya pecah.
Permadi tertawa terbahak-bahak sampai harus memegang perutnya.
"Hahaha! Sayang, kamu lucu sekali," ujar Permadi di sela tawanya.
"Mas! Aku serius! Aku tidak mau kamu bangkrut cuma karena menuruti gengsi bulan madu," seru Rengganis kesal karena merasa ditertawakan.
Permadi meredakan tawanya, lalu menggenggam tangan Rengganis dan mengecup punggung tangannya dengan lembut.
"Dengarkan aku, Dokter Rengganis. Suamimu ini bukan cuma direktur yang numpang lewat. Wijaya Group itu punya beberapa jet pribadi untuk operasional direksi. Jadi, aku tidak menyewa, aku hanya memakai fasilitas milikku sendiri."
Permadi mendekatkan wajahnya ke telinga Rengganis, berbisik dengan nada sombong yang nakal.
"Lagipula, uangku tidak akan habis hanya karena membawamu keliling dunia sepuluh kali pun. Fokusmu sekarang bukan mengkhawatirkan saldo rekeningku, tapi mengkhawatirkan staminamu untuk seminggu ke depan."
"Sombong sekali!" gerutunya, meski dalam hati ia merasa sangat tenang.
"Bukan sombong, Sayang. Itu namanya realistis," sahut Permadi sambil mengedipkan mata saat mobil mereka memasuki area VIP Lounge bandara.
"Ayo turun, pesawatnya sudah siap menunggu. Kita punya janji makan malam di ketinggian 30.000 kaki."
Rengganis hanya bisa melongo melihat kemewahan yang ada di depannya.
Ternyata, memiliki suami "berondong" yang merupakan seorang konglomerat jauh lebih mengejutkan daripada yang ia bayangkan.