Kehidupan seorang anak yang terus diremehkan. Di bully, karena miskin. Berpenampilan tidak menarik dan tampak tidak sehat.
Gavino adalah nama anak laki-laki tersebut. Yang secara kebetulan, mendapatkan keberuntungan dengan adanya sistem mafia yang hadir dalam otaknya.
Apakah Gavino bisa menjadi kuat, sama seperti seorang mafia yang hebat?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tompealla kriweall, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Persaingan Dua Cewek
Pengaruh Gavino, di mulai dari sini. Di mana simpati dan perhatian, terpusat padanya. Meskipun pada awalnya orang tersebut tidak respek padanya.
Gavino sudah masuk ke sekolah lagi, bersama dengan Lorenzo dan Jeffrie. Dante dan Cardi, sudah masuk terlebih dahulu sedari kemarin-kemarin. Bersama dengan Bianca juga.
Mereka pun menyambut Gavino dengan penuh suka cita. Termasuk beberapa teman, yang biasanya menjadi korban dari geng Alano.
Kabar yang beredar mengatakan bahwa, orang tuanya Alano, akan memindahkan anaknya itu untuk sekolah di luar kota. Mereka merasa malu, dengan apa yang dilakukan oleh Alano. Yang sudah membuat kekacauan atas kejadian kemarin.
Untungnya, orang tuanya Alano adalah orang-orang yang berpengaruh di kota ini. Jadi, mereka dengan mudah melakukan lobi-lobi. Agar anaknya itu tidak sampai di tahan.
Bahkan mereka mengunakan 10 pengacara handal di kota ini. Untuk membela anaknya, dan membebaskannya dari jeratan hukum.
"Wahhh.... Gavin udah balik sekolah!"
"Selamat ya! Kamu jadi pahlawan untuk sekolah ini."
"Gavin. Aku mau dong di kawal Kamu ya?"
Di sudut kelas, ada Madalena yang melihat Gavino tak berkedip. Ada banyak hal yang sedang dia pikirkan saat ini.
'Benerkan dia itu hebat. Alano gak percaya sih dengan apa yang Aku katakan. Sekarang, dia justru yang harus disingkirkan dari kota ini. Ck, Alano... Alano.'
'Tapi, Aku mainan sama siapa nanti? Masa sih Aku harus bergabung dengan mereka? apa yang mereka katakan nanti*?'
Madalena membatin, dan tanpa sadar jadi menatap ke arah Gavino tanpa berkedip. Sehingga jadi melamun sendiri, sehingga tidak tahu jika ada salah satu temannya yang bertanya padanya.
"Madalena, apa Kamu bawa buku tugas hari ini? Boleh Aku pinjam sebentar?"
Tapi pertanyaan tersebut tidak mendapatkan perhatian dan jawaban. Akhirnya, orang yang menepuk pundak Madalena.
Pluk!
"Kamu sedang apa sih?"
"Ehhh... apa?" Madalena bertanya dengan bodoh. Karena di memang tidak tahu, apa yang ditanyakan oleh temannya itu.
"Buku tugasmu mana?"
"Ambil di tas," jawab Madalena acuh.
Dia kembali pada mode, di mana melihat ke arah Gavino yang sedang berbincang dengan teman-temannya.
'Kok Aku gak bisa mengalihkan pandanganku dari si Gavin? Apa Aku juga mulai menyukainya? Bersimpati gitu,' batin Madalena terus bermonolog. Karena menyadari jika saat ini dia memiliki perasaan yang aneh. Tidak sama seperti kemarin-kemarin, pada Gavino itu.
"Hufhhh..."
Madalena membuang nafas panjang. Dia bertekad untuk bisa merebut perhatian khusus Gavino untuknya.
'*Aku harus memiliki dia. Ah... Aku jadi seperti seorang putri yang menginginkan seorang pangeran. Hehehe...'
'Aku mulai gila. Dan untungnya tidak ada Alano di sini. Bisa-bisa, Aku ditertawakan oleh nya gara-gara semua perasaan ini*.'
Bel bunyi tanda masuk terdengar. Membuat semua siswa siswi bergegas untuk masuk dan menempati bangku masing-masing. Sehingga, mau tidak mau, Madalena juga harus menghentikan lamunannya tentang Gavino.
*****
Jam istirahat, Madalena mulai menjalankan rencananya. Dia mendekati tempat duduk Gavino, yang berdekatan dengan Bianca.
"Hai Gavin. Boleh ya duduk di sini?"
Tapi tanpa menunggu jawaban dari Gavino, dia langsung duduk di bangku, yang ada di depan Gavino. Bangku milik temannya yang lain, dan yang punya tempat duduk sedang keluar kelas. Karena memang jam istirahat.
Bianca yang duduk di seberang, di samping Gavino, menoleh ke arah Madalena.
'Putri gadungan itu ngapain sekarang? apa karena dia sudah gak punya Alano lagi?' batin Bianca bertanya-tanya.
Karena semua orang juga tahu, bagaimana Madalena selama ini. Karena dia memang dekat dengan Alano. Dan juga bagai impiannya Madalena yang terobsesi dengan dongeng seorang putri dan pangeran.
"Gavin. Pulang sekolah jalan yuk! Aku traktir nonton di mall," ajak Madalena memberikan penawaran.
"Gak. Dia udah ada rencana dengan Aku!"
Suara Bianca yang menyahuti ajakan Madalena, tentu membuat Gavino dan Madalena sendiri langsung mengalihkan pandangannya ke arah Bianca.
Dalam hati Gavino, 'Bianca ngajak ke mana? Tadi gak bilang apa-apa.'
Tapi sedetik kemudian, Gavino tersenyum tipis. Menyadari bahwa itu adalah sebuah strategi yang dapat menjauhkan Madalena darinya.
Sedangkan Madalena sendiri, langsung cemberut dan kesal. Karena ajakannya tadi tidak direspon Gavino. Tapi justru Bianca yang menyahuti, dengan perkataannya yang membuat hati Mandela panas.
"Kamu kan udah biasa sama Bianca. Sekali-kali sama Aku ya?"
Sepertinya Madalena tidak mau menyerah begitu saja. Dia kembali bertanya, dengan memaksa.
"Hai! apa Kamu tidak mendengar apa yang Aku katakan tadi?"
Sekarang, Bianca yang sudah berdiri di samping Gavino. Kembali menyahut.
Gavino jadi merasa tidak enak hati, karena adu mulut antara Bianca dengan Madalena bisa-bisa bertambah panas. Jadi, dia berpikir untuk menengahi saja. Karena dia juga tidak mau jika, Madalena kembali salah pergaulan. Dengan anak-anak yang sama seperti Alano kemarin-kemarin.
"Emhhh... bagaimana jika kita pergi rame-rame?"
Baik Bianca maupun Madalena, melihat bersamaan dengan tatapan penuh tanya pada Gavino.
"Begini. Pulang sekolah sudah sangat sore. Bahkan mau malam. Gimana jika kita hanya pergi cari makan? tapi ajak Dante dan Cardi juga. Bagaimana?"
"Nanti Aku yang traktir," kata Gabon cepat, menyambung perkataannya yang tadi.
Sekarang, Bianca dan Madalena, saling pandang tanpa bicara. Mereka berdua mungkin sedang mempertimbangkan ajakan Gavino. Karena mereka berdua pasti tidak akan merasa nyaman, jika harus berjalan bersama-sama. Sedangkan tujuannya adalah untuk mendapatkan perhatian dari Gavino.
"Aku tidak mau."
"Aku mau!
Madalena langsung menerima tawaran dari Gavino, di saat Bianca menjawab jika dia tidak mau.
Dia tidak mau melewatkan kesempatan bagus ini, untuk bisa lebih dekat dengan Gavino. Pangerannya yang baru saja dia sadari.
Tentunya ini membuat Bianca mendelik ke arah Madalena dan Gavino bergantian. Dia berharap agar Gavino membatalkan rencananya tadi.
Karena dia akan sangat menyesal, jika Gavino akan melanjutkan ajakannya tadi. Karena Madalena pasti merasa menang atas persaingan ini.
Tapi ternyata, apa yang dia harapkan tidak terwujud. Nyatanya, Gavino menganggukkan kepalanya, mengiyakan jawaban Madalena.
"Vin. Kamu..."
Bianca tidak melanjutkan kalimatnya. Dia hanya menghentakkan kakinya, kemudian berjalan dengan cepat menuju ke luar kelas.
"Ahhh... thanks ya Vino!"
Bahkan sekarang Madalena mendapatkan nama baru untuk Gavino. Dengan memanggil namanya dengan sebutan Vino. Nama diambilnya dari yang paling belakang.
Dalam hati Mandela bersorak kegirangan. Karena Bianca tidak akan menganggu acaranya dengan Gavino nanti malam.
Dia sudah punya banyak rencana, untuk dihabiskan bersama dengan Gavino.
Senyuman manis terbit di bibir Madalena, khusus di depan pangerannya ini.
"Jangan lupa ya Vino."
Cup!
Dengan cepat, Madalena mencuri kecupan di pipi Gavino. Kemudian dia berlari dengan malu-malu ke tempat duduknya sendiri.
"Yesss!"
Mandela berseru kegirangan, dengan tangannya yang di angkat ke atas. Dia merasa menang dalam persaingannya bersama Bianca. Untuk bisa mendapatkan perhatian Gavino.