NovelToon NovelToon
Aku Memang Pernah Selingkuh

Aku Memang Pernah Selingkuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Konflik etika / Selingkuh / Cerai / Pelakor / Penyesalan Suami / Healing
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Poporing

Arinta adalah seorang pria, suami, juga ayah yang telah melakukan perselingkuhan dengan teman sekantornya bernama Melinda dari istri sah nya, Alena setelah menjalani bahtera rumah tangga hampir tujuh tahun pernikahan hanya karena kekhilafan.

Ketika semua rahasianya terbongkar oleh sang istri, semuanya dianggap terlambat, Alena seolah menutup ruang untuknya kembali sekalipun ia berusaha memperbaiki.

Sesakit itukah yang dirasakan oleh Alena? Harapannya untuk bersama Alena pupus ketika wanita itu mantap untuk bercerai dan sepertinya ia mulai dekat dengan seorang pengusaha kaya raya bernama Aditya.

Arinta harus melepaskan Alena meski ia masih mencintai sang istri dan tampak menyesal, tapi kehidupan terus harus berjalan....

Bagaimana cara Arinta memulai kembali semuanya dari awal sementara penghakiman atas dirinya akan terus melekat entah sampai kapan....

"Apakah aku tak pantas dengan kesempatan kedua...?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Poporing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 4 : Foto perselingkuhan

Suasana di dalam ruangan itu berubah, diliputi ketegangan tak kasat mata di antara keduanya yang saling beradu pandang dengan intens.

Alena terlihat sudah duduk di atas tempat tidurnya, sementara Arinta berdiri tegak berhadapan dengan wajah sang istri yang menatapnya seakan mencari kepastian akan kebenaran sesuatu yang belum bisa diungkapkan.

Arinta terdiam sejenak, memikirkan jawaban yang harus ia berikan. Dia yakin kalau Alena pasti sudah curiga.

"Aku pergi sama teman kantor." Akhirnya ia pun menjawab jujur.

"Oh, sama teman kantor? Perempuan?" Pertanyaan yang sarat akan kecurigaan itu meluncur cepat dengan tajam yang menusuk nurani terdalam Arinta. Alena menatapnya tajam dengan sikap dingin.

"Kamu kenapa sih, nanya aku kayak gitu? Harus banget ya detail?" Arinta terlihat agak frustasi yang mendorong egonya bermain.

"Lho kenapa? Aku biasa saja, kamunya yang aneh, kenapa gak mau jawab? Sederhana saja 'kan, perempuan atau laki-laki?" Alena segera bangkit dari atas ranjang tempat tidur dan bicara dengan ekspresi ketus.

"Kamu paham gak sih, cara kamu bertanya itu terlalu menghakimi!" Arinta pun jujur merasa tak nyaman. Ada tekanan yang diberikan oleh Alena dan membuatnya seakan sedang diintimidasi oleh istrinya sendiri.

"Tinggal jawab saja," balas Alena dengan tegas, berdiri melipat tangan di dada.

"Perempuan...," jawab Arinta seperti terpaksa.

Ada jeda sejenak dari wanita berhijab itu. Dahinya mengernyit seakan sedang memikirkan sesuatu.

"Selingkuhan kamu?" Tembaknya langsung yang membuat ekspresi Arinta berubah.

"Len...?! Jaga mulut kamu!" Lelaki itu menyalak tajam. Ekspresinya tegang dan wajahnya mengeras.

"Kenapa? Kamu tersinggung? Aku cuma nanya sama kamu." Alena mendengus pelan.

"Dia bukan selingkuhan aku!" Sambar Arinta cepat (meski dia tau itu bohong).

"Yakin kamu?" Alena melihatnya dengan tatapan memicing. Keraguan jelas terpancar pada sorot matanya yang tajam. "Kamu aja sampai rela bohong ke aku, bilangnya telat karena macet, padahal kamu lagi pergi sama dia makan bareng 'kan!?" Sindirnya dengan tajam seperti menguliti semua kebohongan Arinta seketika.

Tapi pria itu tentu tak tinggal diam untuk mempertahankan kebohongan itu dan langsung mencari-cari alasan.

"Kalau aku bilang kamu pasti marah!" Balasnya klise.

"Oh ya iya lah!" Nada suara Alena meninggi. "Karena kamu bohong sama aku dan gak bilang dulu!" Alena menunjuk ke arah Arinta dengan sengit. Emosinya mulai naik.

"Kamu bakal tetap marah sekalipun aku pergi sama Adik aku atau bahkan Ibu aku sendiri!" Arinta pun tak mau kalah. Ia membalas dengan suara yang lebih keras bahkan bisa dikatakan ia berteriak membuat suaranya tembus keluar kamar.

"Jelas, karena aku Istri kamu! Aku berhak untuk mengetahui segala urusan dan kegiatan kamu termasuk rencana kamu pergi sama Ibu atau pun Adik perempuan kamu!"

Situasi di antara keduanya semakin tegang dan tak terkendali. Baik Alena atau Arinta, sama sekali belum ada yang bisa mengontrol diri menjadi lebih stabil. Mereka malah beradu argumen siapa yang berhak atau tidak, benar atau salah akan sikap masing-masing.

"Aku memang pergi sama dia karena katanya ada tempat makan bakso yang enak...." Arinta mencoba untuk menjelaskan kembali setelah sempat hening sesaat. "Makanya aku pulang sambil bawain kamu dan Alea bakso," imbuhnya menggunakan makanan yang dia bawa pulang sebagai alasan, meski setengahnya benar tapi setengahnya lagi bohong. Dia memang benar tulus membeli itu untuk anak dan istri tapi dia berbohong karena menyangkal tentang perselingkuhannya.

"Gak..., aku gak percaya...." Alena berjalan keluar ruangan dengan sorot mata kecewa.

"Len, Alena tunggu dulu, Len!" Arinta bergegas mengejar wanita itu dari belakang.

.

.

Keduanya terlihat berjalan terburu-buru dengan Alena yang berada di depan sambil terus melangkah tanpa mempedulikan panggilan dari Arinta yang berusaha mendahuluinya, namun terlambat.

Alena sudah lebih dulu masuk ke dalam kamar milik sang putri dan mengunci pintunya rapat, membiarkan Arinta di depan berdiri menunggu.

"Alena, kamu dengarkan aku dulu!" Pria itu berusaha membuka pintu, menggerakkan gagang pintunya turun-naik tapi ternyata tak bisa didorong karena sudah terkunci.

"Gak, tolong pergi! Biarkan aku sendiri!" Balas Alena berteriak dari dalam dengan suara yang mulai serak. Kedua-matanya sudah memerah menahan tangis.

"Tapi, Len, aku gak selingkuh! Kamu bisa mikir kayak gitu dari mana sih?" Arinta tetap saja mencoba untuk membela diri.

"Tolong, pergi!" Alena tak menjawab. Ia meminta lelaki itu untuk tak mengganggu karena saat ini yang ia butuhkan hanya ketenangan.

"Baik, aku akan tinggalkan kamu, besok kita bicara lagi." Arinta pada akhirnya mengalah.

Laki-laki itu membiarkan Alena mendapatkan kesendiriannya dan dia kembali menuju ke dalam kamar.

Alena yang sudah tak sanggup menahan rasa sesak di dadak akhirnya menangis. Yani yang berada di kamar hanya bisa kebingungan melihat situasi ini. Dalam pikirannya, apa benar majikannya berselingkuh? Dia terlihat seperti seorang suami dan ayah yang baik.

Karena suara tangisnya Alena yang baru saja terlelap akhirnya terbangun. Gadis kecil itu mengucek-ngucek kedua-matanya lalu menoleh ke samping di mana ia melihat sang ibu tengah menangis pilu.

"Mamih, kok nangis?" Ujar anak itu langsung berdiri di atas ranjang dan mendekati Alena yang duduk di ranjang kasur kecilnya sambil bersandar pada tembok.

"Alea, kamu tidur sama Bibi dulu ya...?" Ujarnya sambil memeluk putri kecilnya. Ia tak ingin anaknya kepikiran karena ia menangis.

"Iya, tapi Mamih kenapa?" Gadis kecil itu tampak masih penasaran.

"Mamih gak nangis, tadi habis makan bakso pedas dari Papih 'kan...?" Ia tersenyum lembut, berbicara dengan nada suara yang meyakinkan agar sang anak berhenti bertanya.

"Ohh, oke...." Alea yang masih polos hanya mengangguk saja.

"Sekarang Alea tidur di kamar Bibi ya?" Alea mengangguk patuh. Namun sebelum pergi anak itu sempat membuat hati Alena terharu.

"Air mata Mamih hapus ya, Alea gak suka...." Kedua tangan kecil itu menyapu lembut kedua pipi Alena yang sudah cukup basah.

"Bi..., tolong cepat bawa Alea...," ujarnya dengan bibir bergetar.

"Baik, Bu!" Yani mengangguk sigap, kemudian berjalan ke sisi ranjang. "Yuk, Alea tidur di kamar Bibi!"" Ia merentangkan tangan sebagai udangan yang disambut cepat oleh Alea.

"Nanti bacain cerita lagi ya, Bi!" Ucap anak itu antusias dan langsung memeluk sang babysitter.

Yani pun membawa Alea keluar kamar sambil membawa buku dongeng kesukaan anak itu tentang hutan.

Begitu sendirian, Alena langsung emosional. Air matanya tumpah kembali. Dia gak tau Arinta benar selingkuh atau tidak, tapi meski baru dalam dugaan saja ia sudah bisa merasakan sakit yang luar biasa, terutama ketika ia membayangkan kebahagiaan Alea pasti tidak akan sama lagi.

Namun tiba-tiba ia dapat merasakan ponsel dalam kantong baju gamisnya bergetar.

Perasaan Alena seakan tercabik saat melihat ada sebuah pesan berupa foto terkirim. Foto itu jelas menampilkan Arinta sedang berjalan keluar dari sebuah mall bersama dengan seorang wanita berpakaian modis sedang menuruni tangga dan merangkul pinggang.

Kamu memang beneran selingkuh??? Ucapnya dalam hati, mencoba tak mempercayai tapi foto itu tampak nyata tanpa rekayasa.

Apa yang akan dilakukan Alena setelah ini?

.

.

Bersambung....

1
partini
kesempatan kedua
hemmmm jarang deh mungkin ada 1000/1 yg betul" sadar, sodara ku aja berhentinya ajal menjemput selingkuh Mulu susah kalau hati udah pernah bercabang
Panda: wah baru tau aku 😱
total 7 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!