Arlan menatap gedung Megantara dengan map biru di tangan. {Sanggupkah semut sepertiku menang?} Tiba-tiba, layar biru muncul: [Status: Pengangguran Berbahaya]. "Tahu diri, Arlan. Kasta rendah dilarang bermimpi," cibir Tegar. Tapi Arlan tak peduli karena sistem mulai membongkar busuknya korporasi. Demi ibu yang masih menjahit di desa, ia akan merangkak dari nol hingga menjadi penguasa kasta tertinggi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khusus Game, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 5
Siska menyodorkan sebuah map cokelat yang ujungnya sudah sedikit terlipat. Dia berdiri di depan meja resepsionis, tempat yang sama di mana Arlan pertama kali merasa seperti semut kecil tempo hari. Siska menatap Arlan dengan tatapan yang sulit diartikan, ada kelegaan tapi juga ada kecemasan yang tertahan di sana.
"Ini adalah data fisik yang seharusnya masuk ke server minggu lalu, tapi entah kenapa tertinggal di laci bawah meja ini," ucap Siska sambil menurunkan volume suaranya.
Arlan menerima map itu dengan tangan yang sedikit kaku. {Kenapa data sepenting ini bisa ada di sini? Apa ini benar-benar ketidaksengajaan?}
"Mbak Siska yakin tidak apa-apa memberikan ini padaku?" tanya Arlan sambil memandang sekeliling, memastikan tidak ada orang lain yang memperhatikan mereka.
"Pak Yudha sudah memintaku untuk membantumu, kan? Lagi pula, aku merasa berutang budi padamu. Kalau bukan karena kamu, aku mungkin sudah tidak berdiri di sini mengenakan seragam ini lagi," jawab Siska dengan nada yang lebih tulus.
[Sistem: Menganalisis Konten Dokumen Fisik...] [Hasil: Ditemukan inkonsistensi antara laporan logistik lapangan dengan input digital yang dilakukan oleh akun 'Tegar_Adm'.]
Arlan merasa jantungnya seolah berhenti berdetak sesaat membaca tulisan biru di sudut matanya. {Tegar? Jadi dia sengaja mengubah datanya agar terlihat seperti efisiensi, padahal dia hanya membuang data kerugian?}
"Arlan? Kamu kenapa melamun? Wajahmu mendadak jadi pucat sekali," tegur Siska sambil menyentuh lengan kemeja Arlan.
"Oh, tidak apa-apa, Mbak. Saya cuma... cuma kaget melihat tumpukan angka sebanyak ini. Terima kasih banyak ya, Mbak Siska. Ini sangat membantu saya untuk dua hari ke depan," balas Arlan sambil berusaha memaksakan senyum.
"Jangan sungkan. Tapi Arlan, aku ingin memberimu satu saran. Di gedung ini, tidak semua hal yang terlihat benar itu benar-benar jujur. Kamu harus hati-hati, terutama karena kamu adalah orang baru yang langsung mendapat perhatian dari Pak Yudha," Siska berkata dengan nada yang sangat serius.
"Saya mengerti, Mbak. Saya hanya ingin bekerja dengan tenang dan mengirim uang untuk Ibu di rumah," jawab Arlan pelan.
"Semoga saja kota ini membiarkanmu tetap memiliki niat sederhana itu. Ya sudah, kembalilah ke lantai sepuluh. Jangan sampai Tegar melihatmu membawa map itu sendirian di sini," ucap Siska sebelum akhirnya kembali ke balik meja resepsionis.
Arlan berjalan menuju lift. Di dalam kotak besi yang bergerak naik itu, dia sendirian. Dia membuka sedikit map cokelat tersebut dan membaca baris demi baris angka yang ditulis dengan tinta hitam.
{Tegar bukan hanya sombong, dia berbahaya. Dia memanipulasi data untuk menutupi kegagalan pengiriman di wilayah utara. Jika aku melaporkan ini, dia akan tamat. Tapi jika aku diam saja, Pak Yudha akan menyalahkanku karena data yang tidak lengkap.}
[Pilihan Strategis Tersedia:] [1. Melaporkan Sabotase: Reputasi meningkat drastis, tapi menciptakan musuh abadi.] [2. Memperbaiki Secara Diam-diam: Aman untuk saat ini, tapi beban kerja meningkat 200%.]
Arlan menghela napas panjang. {Kenapa hidup di kota besar selalu penuh dengan pilihan yang tidak enak seperti ini?}
Saat pintu lift terbuka di lantai sepuluh, Arlan langsung disambut oleh pemandangan yang membuatnya tidak nyaman. Tegar sedang duduk di atas meja kerja Arlan sambil mengobrol dengan beberapa karyawan lain. Mereka tampak tertawa terbahak-bahak. Begitu melihat Arlan datang, tawa Tegar mendadak berhenti dan berubah menjadi senyum yang meremehkan.
"Wah, anak emas kita sudah kembali. Bawa apa itu di tangan? Oleh-oleh dari desa atau surat pengunduran diri?" tanya Tegar dengan suara yang cukup keras agar terdengar oleh orang-orang di sekitar.
Arlan tidak menjawab. Dia terus berjalan menuju mejanya, berharap Tegar akan segera turun dari sana.
"Mas Tegar, permisi. Saya mau mulai kerja lagi," ucap Arlan dengan nada sedatar mungkin.
"Sopan sekali ya kamu. Padahal di dunia kerja, sopan santun itu nomor dua, hasil kerja itu nomor satu. Kamu bawa map apa itu? Sini, biar saya periksa dulu sebagai senior kamu," Tegar menjulurkan tangannya, mencoba meraih map cokelat di tangan Arlan.
Arlan dengan cepat menarik map itu ke belakang punggungnya. "Maaf, Mas. Ini berkas dari HRD untuk keperluan tugas saya dari Pak Yudha. Saya tidak bisa memberikannya kepada siapa pun tanpa izin beliau."
Wajah Tegar mendadak berubah menjadi merah padam. Matanya menatap tajam ke arah Arlan. "Kamu sudah mulai berani ya? Kamu pikir karena Pak Yudha memberikanmu waktu dua hari, kamu sudah setara denganku? Ingat Arlan, aku punya koneksi yang bisa membuatmu didepak dari gedung ini dalam hitungan jam."
"Saya hanya menjalankan perintah, Mas Tegar. Saya tidak punya niat lain," balas Arlan sambil menundukkan kepalanya sedikit.
"Halah, sok suci! Lihat saja nanti. Kamu tidak akan bisa menyelesaikan data itu sendirian. Aku tahu apa yang kurang dari data itu, dan aku tidak akan membiarkanmu menemukannya," bisik Tegar tepat di telinga Arlan sebelum akhirnya turun dari meja dan berjalan pergi dengan langkah yang kasar.
Maya yang sejak tadi memperhatikan dari mejanya segera mendekati Arlan setelah Tegar menjauh.
"Arlan, kamu tidak apa-apa? Tegar itu kalau sudah marah bisa melakukan hal yang nekat. Kamu harus benar-benar menjaga map itu," ucap Maya dengan nada khawatir.
"Iya, Mbak Maya. Saya tahu. Mbak, boleh saya tanya sesuatu?"
"Tanya apa, Lan?"
"Apa benar di perusahaan ini orang bisa bertahan hanya karena koneksi, meskipun mereka melakukan kesalahan besar?" tanya Arlan sambil menatap monitor komputernya yang masih gelap.
Maya terdiam sejenak. Dia menarik kursi untuk duduk di samping Arlan. "Jujur saja, Lan, itu terjadi di mana-mana. Megantara Group juga bukan pengecualian. Tapi Pak Yudha berbeda. Beliau benci orang yang tidak jujur. Itulah kenapa kamu masih punya kesempatan di sini. Tapi kamu harus kuat, karena orang-orang seperti Tegar akan selalu mencoba menarikmu turun agar mereka terlihat lebih tinggi."
Arlan mengangguk pelan. Dia menyalakan komputernya.
{Aku tidak punya koneksi. Aku tidak punya jam tangan emas. Aku hanya punya kejujuran dan... sistem aneh ini. Tapi itu harus cukup.}
[Misi Dimulai: Rekonstruksi Data yang Hilang] [Waktu Tersisa: 46 Jam 30 Menit] [Tingkat Kesulitan: Tinggi]
Arlan mulai bekerja. Dia tidak mempedulikan suara dengung dari ruang server di sebelahnya. Dia juga tidak mempedulikan tatapan sinis dari Tegar yang berulang kali lewat di belakang kursinya. Jari-jarinya mulai menari di atas keyboard, mencocokkan angka-angka fisik dari map Siska dengan barisan kode digital di layar.
Jam demi jam berlalu. Mata Arlan mulai terasa sangat lelah. Cahaya dari layar monitor seolah membakar matanya, tapi dia menolak untuk berhenti. Di kepalanya, dia terus mengingat wajah ibunya. Dia ingat bagaimana ibunya selalu berkata bahwa orang jujur akan selalu menemukan jalan, meskipun jalannya penuh dengan duri.
"Arlan, ini sudah jam delapan malam. Kamu tidak pulang?" tanya seorang petugas kebersihan yang mulai mengosongkan tempat sampah di ruangan itu.
"Sebentar lagi, Pak. Tanggung," jawab Arlan tanpa menoleh.
Ruangan itu kini sepi. Hanya ada Arlan dan suara detak jam dinding yang seolah mengejek keterbatasannya. Tiba-tiba, sistem di matanya berkedip merah.
[Peringatan: Upaya Akses Ilegal Terdeteksi pada Jaringan Komputer Anda!] [Sumber: Terminal 10-A (Meja Tegar)]
Arlan tersentak. Dia melihat ke arah meja Tegar yang berada di tengah ruangan. Lampu di meja itu mati, tapi Arlan bisa melihat cahaya biru redup dari layar monitor yang seharusnya sudah dimatikan.
{Dia mencoba masuk ke komputerku dari sana? Dia benar-benar ingin menghancurkan pekerjaanku malam ini juga?}
Arlan segera mengetikkan perintah untuk mengunci akses jaringannya. Dia bisa melihat di layar bagaimana ada seseorang yang mencoba menebak kata sandinya berkali-kali. Arlan merasa tangannya kembali bergetar, tapi kali ini bukan karena takut, melainkan karena marah.
"Kamu sudah keterlaluan, Mas Tegar," bisik Arlan pada kegelapan ruangan itu.
Arlan memutuskan untuk menyimpan semua pekerjaannya ke dalam flashdisk dan mematikan komputernya. Dia harus membawa pekerjaan ini pulang. Dia tidak bisa membiarkan data ini berada di kantor tanpa pengawasannya.
Saat Arlan berjalan menuju pintu keluar, dia harus melewati meja Tegar. Dia berhenti sejenak dan melihat ke arah layar monitor Tegar yang masih menyala. Di sana, terbuka sebuah aplikasi pengolah data yang menampilkan nama 'Arlan Dirgantara' dengan status 'Hapus'.
Arlan mengepalkan tinjunya. {Dia benar-benar ingin aku menghilang dari sini.}
Dia terus berjalan keluar gedung. Di trotoar depan Megantara Group, Arlan berdiri sendirian menunggu bus terakhir. Jalanan sudah mulai sepi. Cahaya lampu jalanan memantul di aspal yang masih menyisakan bekas hujan sore tadi.
Arlan merogoh sakunya dan menemukan koin terakhirnya. Dia tersenyum pahit. {Pekerjaan ini benar-benar sebuah perjuangan hidup dan mati bagiku. Tegar bermain-main dengan kariernya, sementara aku bertaruh dengan seluruh hidupku.}
Tiba-tiba, sebuah mobil mewah berwarna hitam berhenti tepat di depan Arlan. Kaca mobil itu turun perlahan, memperlihatkan sosok Pak Yudha yang sedang duduk di kursi belakang sambil membaca dokumen.
"Arlan? Kenapa kamu masih di sini jam segini?" tanya Pak Yudha dengan nada datar, namun ada sedikit rasa penasaran di matanya.
"Baru selesai mengerjakan data yang Bapak minta, Pak. Saya mau pulang ke rumah," jawab Arlan sambil membungkuk sopan.
Pak Yudha menatap Arlan dari atas ke bawah, melihat map cokelat yang dipeluk erat oleh Arlan. "Kamu membawa pulang pekerjaanmu?"
"Iya, Pak. Saya merasa lebih aman jika data ini ada bersama saya malam ini."
Pak Yudha terdiam cukup lama. Dia menutup dokumennya dan menatap Arlan dengan tajam. "Kamu tahu, Arlan? Terkadang di perusahaan ini, hal yang paling aman justru adalah hal yang paling berbahaya. Masuklah, saya antar kamu sampai halte depan yang lebih ramai. Tidak baik seorang anak baru berdiri sendirian di sini sambil membawa 'bom' di tangannya."
Arlan ragu sejenak, tapi dia tidak berani menolak. Dia masuk ke dalam mobil yang sangat mewah itu. Di dalamnya, tidak ada aroma wewangian yang mencolok, hanya kesunyian yang terasa sangat formal.
"Terima kasih banyak, Pak Yudha," ucap Arlan dengan suara yang hampir tidak terdengar.
"Simpan terima kasihmu sampai kamu bisa menunjukkan hasil kerja yang sempurna lusa nanti. Dan Arlan... hati-hati dengan apa yang kamu temukan di dalam map itu. Tidak semua kebenaran perlu diledakkan sekaligus," ucap Pak Yudha sambil menatap ke luar jendela.
Arlan tertegun. {Apa Pak Yudha sudah tahu soal manipulasi Tegar? Apa ini sebuah ujian untuk melihat apa yang akan kulakukan?}
Mobil terus melaju menembus malam. Arlan memeluk map cokelat itu semakin erat. Dia tahu, esok hari akan menjadi hari yang jauh lebih berat dari hari ini. Dan di sudut matanya, sistem kembali memunculkan sebuah pesan singkat.
[Status: Hubungan dengan Pak Yudha Memasuki Tahap 'Mentor-Mentee' (?)] [Peringatan: Anda sedang diawasi oleh banyak mata.]
Arlan menutup matanya sejenak, mencoba menenangkan pikirannya yang berkecamuk. Di tengah kemewahan mobil ini, dia tetaplah Arlan si anak daerah yang hanya ingin membuat ibunya bangga dengan hasil keringatnya sendiri. Perjalanan ini masih sangat jauh, dan dia baru saja menyadari bahwa gunung yang dia panjat ini jauh lebih licin dari yang dia bayangkan sebelumnya.