Siang itu Berlian berniat pulang kerja lebih awal, dengan tujuan untuk memberi kejutan pada sang suami. Hari ini adalah anniversary pernikahan mereka yang ke tujuh.
Tapi kenyataan kadang tak sesuai ekspektasi. Niat awal ingin memberi surprise, malah dirinya sendiri yang terkejut.
Berlian mendapati sang suami asyik berbagi peluh dengan adik di ranjang miliknya.
Kedua kakinya tak mampu lagi menopang badan, hatinya luruh lantak melihat kenyataan di depan mata.
"Sayang, ini tak seperti yang kamu lihat," alibi laki-laki yang menjadi suami Berlian.
Akankah Berlian tegar menghadapi atau malah hancur meratapi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moena Elsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mulai Terkuak
"Apa kakak sudah mengetahuinya?" tanya Intan.
"Aku rasa belum," sahut nyonya Adrian.
Intan tersenyum senang, 'Kesempatanku untuk memanfaatkan kebodohan Berlian,' batin Intan.
"Pah, kita coba telpon dia aja. Bilang kalau kita jadi korban penculikan. Pasti dia tak tega," usul Intan.
"Di belakang Berlian ada Dominic sama ayah kandungnya," ragu tuan Adrian Kusuma.
"Kita manfaatkan saja kebaikan hatinya," sela nyonya Adrian.
"Coba papa yang hubungi dia," saran nyonya Adrian.
"Pakai ponsel siapa?" tuan Adrian baru teringat kalau ponselnya tertinggal di mobil penculik.
Intan dan nyonya Adrian pun sama hanya saling pandang karena tak bawa ponsel.
Tuan Adrian mencoba melepas ikatan di tubuhnya.
"Kita harus cepat, jangan sampai Dominic sialan itu bertemu Berlian. Akan susah mempengaruhi Berlian jika ada Dom," gerutu tuan Adrian.
Intan dan nyonya Adrian melakukan hal yang sama, mencoba mengurai ikatan di tubuh.
"Issshh susah banget sih," keluh Intan yang merasakan ikatan di tubuh bukannya kendor malah semakin erat.
Hampir satu jam mereka melakukan, belum ada yg berhasil.
"Huh, capek," keringat banyak nempel di dahi Intan.
.
"Oh ya Berlian, datanglah bersama Dom saat Dom sudah balik sini," ucap tuan Wiranata dengan tatapan teduh.
Berlian mengangguk, 'Terserah tuan Dom saja,' batin Berlian.
"Setelah ini rencana kalian mau ke mana?" tanya tuan Wiranata.
Berlian menatap Maura.
"Agenda bos saya ini masih kosong tuan Wiranata," jelas Maura.
"Hhhmmm bagus lah, kita bisa leluasa ngobrolnya," balas tuan Wiranata.
Berlian tertegun sesaat, 'Ngobrol? Orang sibuk seperti tuan Wiranata mengajak aku ngobrol? Nggak salah?'
Lamunan Berlian tersadar saat Maura menyenggol lengannya.
"Ditanya tuan besar itu loh, malah bengong," celetuk Maura.
"Iya tuan," gugup menguasai Berlian.
"Kamu belum jawab, di mana kamu tinggal sekarang? Kali aja suatu saat pria tua ini bisa mampir," kata tuan Wiranata, senyum getir terlihat di sana.
Berlian menyebutkan suatu tempat.
"Oh, kawasan elit milik Dom?" tanggap tuan Wiranata.
"Hah? Milik tuan Dom?" Berlian dan Maura saling pandang.
"Iya, Dom banyak miliki aset properti," tuan Wiranata menimpali.
"Itu artinya? Diskon? Sewa murah?" celetuk Maura.
"Itu pasti akal-akal an bocah tengik itu, agar kamu nyaman Berlian," tuan Wiranata tertawa lepas.
'Sampai sebegitunya?' batin Berlian.
"Makanya, peka dikit. Dibilangin tuan Dom suka sama kamu sedari dulu, nggak percaya?" seloroh Maura.
Berlian mencubit lengan Maura gemas.
Mereka melanjutkan obrolan meski ringan, hingga ponsel Berlian berdering.
"Honey," suara Dom terdengar sebelum Berlian sapa.
Berlian bengong, 'Panggilan macam apa nih?"
"Ikut lah Uncle Wiranata setelah ini," pinta Dominic.
"Tapi aku ada janji dengan PH iklan," Berlian teringat akan proposal kerjasama yang diajukan bagian marketing.
"Sudah direscedule oleh Maura," bilang Dominic.
"Ikut apa kata uncle saja, Oke...?" lanjut Dom.
"Hhmm, ngikut apa kata bos saja," jawab Berlian.
.
"Kita kemana tuan?" tanya Berlian yang saat ini duduk semobil dengan tuan Wiranata. Sementara Maura balik ke kantor, untuk menemui PH yang akan ditemui Berlian.
Tuan Wiranata tersenyum penuh wibawa.
"Nak, apa kamu bahagia dengan kehidupanmu sekarang?" pertanyaan itu membuat Berlian lama merespon.
Pertanyaan tuan Wiranata, seolah pertanyaan tulus seorang ayah kepada anaknya.
"Aku harap kamu baik-baik saja, setelah semua yang kamu lewati," lanjut tuan Wiranata.
"Semua cerita hidupmu aku tahu Nak,"
"Apa tuan Dom...?" tanya Berlian menggantung.
"Bukan, Dom itu pelit kalau soal beginian," tuan Wiranata terkekeh.
"Apalagi menyangkut wanitanya. Tak ada yang dibagi sedikit pun" lanjut tuan Wiranata.
'Sebegitu penting kah arti diriku buat Dom?'
"Kamu lah wanita pertama yang dikenalkan Dom pada uncle nya ini. Dan tak pernah sekalipun aku mendengar Dom tertarik pada wanita selain kamu," jelas tuan Wiranata.
'Kok sepertinya tuan Wiranata sedang menyelidiki diriku. Ada yang salah?" pikir Berlian.
"Apa tuan tahu alasan Dom untuk ini?" tanya Berlian.
"Tanyalah pada nya, dia pasti akan menjelaskan semua," kata tuan Wiranata bijak.
Mobil melaju tenang ke suatu tempat.
.
Mobil berhenti di sebuah hunian mewah, gerbang tinggi menjulang menyambut kedatangan tuan Wiranata dan Berlian.
Tak perlu menunggu lama, gerbang terbuka perlahan.
Tak banyak bertanya, Berlian mengikuti langkah tuan Wiranata masuk ke sana.
"Ini rumah ku," beritahu tuan Wiranata.
Berlian melihat sekeliling, tak ada barang murah di sana.
Berlian tertarik ke sebuah foto di atas nakas yang terbingkai dalam sebuah pigura klasik.
Foto seorang wanita, yang anggun dan terpancar aura keibuan.
Tuan Wiranata mendekat.
"Dia lah wanita yang sangat kucintai satu-satunya dalam hidup ini," ujar tuan Wiranata.
"Oh, nyonya Wiranata?" tanggap Berlian.
"Hampir...," nada getir terdengar dari bibir tuan Wiranata.
Berlian menautkan alis.
"Dia pergi sebelum aku sempat meminta maaf dan membuatnya bahagia nak," ujar tuan Wiranata dengan raut sedih.
"Maaf tuan," tukas Berlian merasa bersalah.
"Oh, nggak papa. Pria tua ini kadang suka melow kalau mengingat semuanya," tuan Wiranata tersenyum. Tapi raut muka, tak bisa bohong. Ada kesedihan mendalam di sana.
'Apa karena ini tuan Wiranata tak menikah sampai sekarang?' pikir Berlian.
Tuan Wiranata mengajak Berlian ke ruang tengah.
Sebuah lukisan besar nan klasik terlihat terpajang di ruangan itu.
Berlian seolah melihat siluet dirinya dalam wanita yang ada di lukisan itu.
"Apa ini juga....?" Berlian menjeda tanya.
"Ya, dia wanita yang sama seperti yang kamu lihat tadi," seru tuan Wiranata.
"Anda pasti sangat mencintainya tuan," ucap Berlian. Tuan Wiranata mengangguk pasti.
"Dan yang paling ku sesali adalah...," tuan Wiranata menjeda ucapannya.
Tuan Wiranata menghirup nafas dalam untuk menghela sesak yang menghimpit.
"Dia pergi sebelum aku tahu kalau dia hamil anakku," pria setengah baya yang bersahaja dan berwibawa saat ini nampak rapuh di depan Berlian.
Tak lama, tuan Wiranata segera menghapus air mata yang menetes.
"Maaf... Maaf.. Aku malah menjual kesedihanku padamu," ucapnya tersenyum, meski kesedihan itu belum hilang.
Berlian diam. Tak tahu mesti berbuat apa.
"Hhhmmm duduklah!" kata tuan Wiranata.
Maid datang menghampiri
"Silahkan Nona," sebuah minuman hangat tersaji.
"Makasih,"
Berlian meneguk minuman yang tersaji.
"Hhhmmm beginilah kehidupan pria tua ini. Rumah segini besar, tapi rasanya sepi," tuan Wiranata duduk bersandar dengan menyilangkan kaki di depan Berlian.
Berlian tak berani bertanya, padahal dalam benaknya banyak yang ingin ditanyakan.
"Pasti kamu penasaran, di mana mereka sekarang?" lanjut tuan Wiranata. Berlian menggeleng.
"Kamu sudah aku anggap anak sendiri nak, Dom saja tak tahu alasan aku masih sendiri sampai setua ini," tuan Wiranata terkekeh. Teringat Dom yang penasaran dengan cerita masa lalu tuan Wiranata.
.
.
Pagi disambut hujan gerimis, hawa dingin menyeruak ### Setiap hari harus optimis, hilangkan rasa tak mampu dalam benak
Ayam berkokok tanda telah pagi, sinar mentari datang penuh hangat ### Meski lelah menghampiri, kita harus tetap semangat
Vote .. Vote nya .. Guysss....,💖💖💖