Hanemo wasakasa adalah seorang pria yang berumur 27 tahun ia mencari uang dengan menjadi musisi jalanan namun pada suatu hari ada kejadian yang membuatnya meninggal dan hidup kembali dia dunia yang mana dunia itu di punuhi sihir
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wakasa Kasa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 24
Wakasa membuka matanya.
Seluruh wajahnya basah oleh keringat, napasnya tidak beraturan. Dadanya berdetak cepat, sementara matanya masih menatap langit-langit kamar penginapan.
Ucapan Fenrir terus terngiang di kepalanya.
Ketakutan… kebencian… kemarahan… dendam.
Ia menutup mata sebentar, lalu menghembuskan napas panjang.
Tak lama kemudian, terdengar ketukan pelan di pintu.
“Wakasa-kun, kamu sudah bangun?”
Itu suara Starla.
“Iya , aku sudah bangun kok,” jawab Wakasa, meski tubuhnya masih rebah di atas kasur.
“Kita akan pulang ke ibu kota hari ini,” lanjut Starla. “Kamu cepat bersiap ya. Aku tunggu di bawah.”
“Baiklah,” jawab Wakasa singkat.
Suara langkah kaki menjauh. Wakasa pun duduk di tepi kasur, masih terdiam sejenak.
Beberapa saat kemudian, ia berdiri lalu melangkah turun dari kamarnya.
Sesampainya di bawah, Wakasa menoleh ke kanan dan kiri. Tidak terlihat Diana maupun Starla.
Ia pun bertanya pada ibu pemilik penginapan yang sedang merapikan meja. “Oh, mereka sudah keluar duluan,” jawab ibu itu ramah.
Wakasa mengangguk kecil dan segera menyusul keluar.
Begitu tiba di depan penginapan, ia melihat sebuah kereta kuda sudah menunggu. Diana dan Starla sudah berada di atasnya.
“Lama banget,” ujar Diana begitu melihatnya.
Starla hanya tersenyum lembut, tidak mengatakan apa-apa.
Wakasa naik ke kereta kuda itu dan duduk di samping Starla, sementara Diana duduk di hadapan mereka.
Kereta kuda pun mulai berjalan, meninggalkan kota itu.
Di perjalanan, Diana memperhatikan Wakasa yang sejak tadi hanya diam menatap ke depan.
(Aku akan mempelajari cara mengendalikan kekuatan itu…)
gumam Wakasa dalam hati, pikirannya kembali tenggelam.
“Wakasa.”
“Wakasa.”
“Wakasa!”
Namanya dipanggil berulang kali.
“Hah—eeh?” Wakasa tersentak, akhirnya sadar. “Ada apa?” jawabnya terbata.
Diana menyipitkan mata menatapnya. “Ada apa sih? Dari tadi kamu melamun aja.”
“Ah… aku nggak apa-apa kok,” jawab Wakasa sambil tersenyum tipis.
Diana dan Starla saling pandang. Ada sesuatu yang terasa aneh, tapi mereka tidak mengatakannya.
Wakasa kembali terdiam beberapa detik… lalu tiba-tiba menoleh ke Starla.
“Starla,” katanya pelan, “boleh aku tiduran di pahamu?”
“Hah—?!”
Starla langsung panik. “Eeeh… anu… aku… apa…”
Wajahnya memerah dengan cepat. Namun setelah ragu sejenak, ia menunduk kecil dan mengangguk pelan.
Diana menatapnya dengan wajah heran. “…Ada apa sih dengannya?”
Sementara itu, Wakasa sudah memiringkan tubuhnya, perlahan merebahkan kepala di paha Starla.
Sambil tiduran di pangkuan Starla, Wakasa hanya diam.
Napasnya perlahan menjadi lebih teratur.
Beberapa saat kemudian, matanya berkedip beberapa kali… lalu tertutup sepenuhnya.
“Anu… Wakasa-kun, kenapa kamu tiba-tiba ingin tidu—”
Starla menghentikan ucapannya karena terdengar suara dengkuran pelan.
Ia menunduk dan melihat wajah Wakasa. Yang sudah tertidur.
“Eh…” Starla terkejut kecil. “Dia… udah tidur.”
Wajahnya makin memerah, tapi tangannya tetap diam, seolah takut mengganggu.
Diana menyandarkan dagunya di tangan, menatap Wakasa dengan ekspresi berpikir. “Aku ngerasa… hari ini dia aneh.”
“Uum… kamu benar, aku juga berpikir begitu” jawab Starla pelan.
Diana melirik Starla, senyum jahil kembali muncul di wajahnya. “Tapi… kamu senang, kan, Starla?”
Starla tersentak kecil. “E—eeh?!”
Ia langsung menunduk cepat.
Dua hari pun berlalu. Akhirnya, kereta kuda itu memasuki gerbang ibu kota kerajaan.
“Wakasa-kun, kita sudah sampai loh,” ucap Starla sambil menepuk pipi Wakasa pelan.
Ia membangunkannya beberapa kali. Butuh waktu cukup lama sebelum Wakasa akhirnya membuka matanya.
“Hmm… eh?”
Wakasa refleks bangun—dan baru sadar posisi kepalanya.
Ia buru-buru bangkit dari pangkuan Starla.
Saat melihat ke depan, matanya langsung membesar. “Eeeh?! Kenapa aku tidur di pahamu Starla loh kita udah sampai? Padahal aku baru tidur sebentar, loh!” ucap wakasa dengan pipi memerah dan terkejut.
Mereka bertiga pun turun dari kereta kuda.
Begitu menginjak tanah, Wakasa merasa ada yang aneh. Ia menoleh— Diana dan Starla sama-sama menatapnya.
“Anu…” Wakasa menggaruk pipinya, “kenapa kalian dari tadi lihat aku terus, ya?”
Diana memperhatikannya sebentar , lalu mulai bertanya pada wakasa.
“Wakasa… kamu yakin nggak apa-apa?” ucap Diana, nadanya kali ini lebih serius.
“Em? Memangnya aku kenapa?” jawab Wakasa polos.
Diana menghela napas kecil. “Kamu itu tidur selama dua hari penuh, loh. Aku sama Starla sudah berkali-kali membangunkanmu, tapi kamu nggak bangun-bangun.”
Wakasa membeku. “Eeeh… dua hari?”
Starla menambahkan pelan, “Kami juga membangunkanmu waktu makan, tapi kamu tetap nggak bangun.”
Wajah Wakasa jelas terkejut. “Apa… aku benar-benar tidur selama itu?”
Wakasa langsung jongkok, kedua tangannya menekan sisi kepalanya.
“ada apa ini… apa aku terlalu capek?” gumamnya pelan.
Diana dan Starla saling pandang, terlihat sama-sama khawatir.
“Sudah,” kata Diana akhirnya, “kita ke kantor petualang dulu. Kita harus lapor misi.”
“Em… baiklah” jawab Wakasa pelan sambil berdiri kembali.
Mereka pun berjalan menuju kantor petualang.
Begitu pintu dibuka, mereka langsung disambut oleh sakura.
Saat pintu kantor petualang terbuka, mereka melihat Sakura yang sedang berdiri di balik meja.
Begitu menyadari kedatangan mereka, Sakura langsung menoleh dan tersenyum gembira.
“Selamat datang kembali kalian bertiga.”
“Lama tak bertemu, Sakura,” ucap mereka hampir bersamaan.
Sakura tersenyum, lalu menanyakan kabar mereka setelah mengobrol cukup lama sakura menanyai misi mereka. “Misinya sudah selesai?”
“Eem, sudah,” jawab Diana sambil menyerahkan kertas misi ke atas meja.
“Baiklah, tunggu sebentar ya,” kata Sakura sambil menerima laporan itu.
Sakura pun masuk ke ruangan belakang. Tidak lama kemudian ia kembali dengan membawa hadiah misi mereka.
" ini untuk hadiah misi kali ini ya " ucap sakura sambil menyerahkan hadiah itu
"eem.. terimakasih " ucap Diana mengambil hadiah itu.
Saat suasana mulai santai, Wakasa tiba-tiba angkat bicara.
“Sakura… apa kau tahu tempat yang menjual rumah?”
Ucapan itu membuat suasana mendadak hening.
“Hah?”
“Kau mau membeli rumah, Wakasa-kun?” tanya Sakura terkejut.
Starla dan Diana juga ikut kaget, menoleh bersamaan ke arah Wakasa.
“Eem,” jawab Wakasa singkat, mengangguk kecil.
Sakura menatapnya beberapa detik, lalu tersenyum. “Kalau begitu, aku ada kenalan untuk mu. Mereka memang khusus mengurus tentang jual beli rumah.”
“Kalau Wakasa-kun mau, aku bisa mengenalkan mu. Mereka pasti bisa membantu mencarikan rumah yang cocok.”
Wakasa mengangguk pelan. “Terima kasih, Sakura.”
Setelah itu, Sakura pun mengantar mereka ke tempat kenalannya.
Sesampainya di sana, mereka tiba di sebuah bangunan yang cukup besar. Begitu mereka membuka pintu, seorang perempuan dewasa dengan penampilan rapi langsung menyambut mereka.
" Selamat datang di Palace house ada yang bisa saya bantu " ucap perempuan itu dengan nada sangat ramah
“eh? Ternyata Sakura?” ucap perempuan itu sambil tersenyum. “Ada apa kemari?”
Sakura membalas senyum itu. “Aku mengantar temanku. Dia sedang mencari rumah.”
Perempuan itu lalu mengalihkan pandangannya ke Wakasa, Diana, dan Starla, menatap mereka satu per satu dengan tatapan penasaran namun ramah.
“Oh begitu,” katanya. “Silakan masuk. Kita bisa bicarakan sambil duduk.”
Wakasa melangkah maju sedikit dan menunduk sopan. “Mohon bantuannya.”