Gugur dalam sebuah pemberontakan tepat di hari pelantikannya sebagai jenderal, Ellenoir, mantan prajurit wanita hebat di dunia kuno, kembali ke dunia aslinya, dunia yang sudah hancur. Dengan membawa pedang dan tekad ia bergerak menumpas kejahatan dan zombie.
Sepupu dan tunangan yang selingkuh? Bunuh!
Paman dan Bibi yang licik? Bunuh!
Orang-orang serakah yang berniat jahat? Bunuh!
Meski perjalanan panjang dan berdarah menanti, Elle siap menghadapinya. Bersama orang-orang kepercayaannya, menaklukkan kota miskin yang terbuang, menciptakan sebuah kota aman yang akan menjadi cahaya dimasa depan. Menciptakan sebuah harapan ditengah-tengah keputusasaan.
Mampukah Elle menciptakan harapan ditengah kehancuran? Atau justru gugur dimakan kejinya akhir dunia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serigala Kecil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rencana Perjalanan
**
Seraya menunggu waktunya tiba, penggalian inti kristal dipercepat. Hingga dalam waktu 3 jam penggalian seluruhnya telah selesai, dan pagi hari tiba dengan cepat. Elle langsung menyodorkan wadah besar berisi air, menyuruh ketiganya langsung mencuci semua inti kristal tersebut sekalian membersihkan tangan-tangan kotornya.
Elle berencana pergi keesokan harinya, masih ada beberapa hal yang belum terealisasikan saat ini. Juga, ia belum mengatakan rencana masa depannya pada yang lain, jadi butuh waktu tambahan untuknya tetap diam di komunitas tersebut.
"Akhirnya selesai! Kalian pasti sangat lelah, cepat masuk aku sudah memasak mie dengan telur. Tidakkah kalian ingin memakannya hangat-hangat?" Tanya Elle dengan bangga, karena ia masih bisa menyajikan makanan panas untuk orang-orangnya.
Alhasil, ketiganya mulai masuk mengikuti Elle ke rumah dilantai 5 yang sudah dibersihkan sebelumnya. Ketika keempatnya baru saja duduk, Darrion datang bersama paman Jergh, diikuti satu perempuan yang sama sekali tidak diundang.
Avin dan Elle yang melihatnya datang, menatapnya dengan tajam. Membuat Darrion menutupi Shaya dengan tubuhnya. Kemudian keduanya membuang muka bersamaan.
"Kau! Bisakah kau menjaga sikapmu? Tidakkah kau tahu, kau orang asing disini?" Ucap Darrion menunjuk Avin dengan kesal.
"Apa maksudmu, Darrion?" Tanya Elle terdengar dingin.
"K-kakak, dia tidak sopan pada Shaya." Ucap Darrion tidak terima. Membuat Shaya menarik baju Darrion dan mengatakan beberapa patah kata agar Darrion tidak membuat keributan.
Elle mendelik sebal. Wajah teh hijaunya itu benar-benar menyebalkan. Seolah ia melihat anak dari perdana menteri yang mengejar wakil jenderalnya di dunia kuno dulu. Mual sekali, menjijikkan, ucapnya dalam hati.
"Oh ya? Avin, pergi minta maaf padanya." Ucap Elle malas, membuat Avin mau tidak mau mengucapkan maaf dengan tidak rela.
Setelahnya semuanya mulai makan dengan porsi masing-masing yang telah disiapkan, tapi tidak ada porsi tambahan lain dimeja, jadi Darrion bertanya apakah kakaknya bisa membuatkannya satu lagi untuk Shaya.
"Tidak ada, kalau kau mau kau bisa memberikan porsimu padanya." Ucap Elle seraya tersenyum dengan kedua mata menyipit. Mari kita lihat, bagaimana Darrion mengatasi rasa laparnya pagi ini, karena Elle tahu Darrion pasti akan memberikan porsinya pada Shaya.
Tebakannya jelas benar. Saat ini Shaya sudah makan mie dengan telur itu dengan santai. Dengan wajah tanpa rasa salah sama sekali. Membiarkan Darrion menatapnya dari samping dengan perut berbunyi dan tenggorokan yang bergerak menahan keinginan untuk makan.
Elle berdecih pelan.
"Apa dia adik kandungmu? Kenapa sifatnya jauh berbeda denganmu? Ia seperti pengecut besar." Bisik Luca dengan wajah tanpa ekspresinya. Membuat Elle menahan tawa, Luca juga bisa bergosip? Pikirnya geli.
"Ingat, dia dalam pengaruh ilusi. Selama bersama, mungkin sudah mengembangkan beberapa hubungan baik, jadi ia mudah terpengaruh. Kau juga lihat kalau dia sebelumnya paling menurutiku. Sifatnya tegas dan bijak, keberaniannya juga tidak kecil." Balas Elle ikut berbisik.
Terjadilah obrolan bisik-bisik keduanya dimeja makan. Semua orang tidak sadar karena fokus pada makanan masing-masing, Darrion juga fokus pada Shaya. Tapi Shaya sendiri sesekali mencuri pandang pada keduanya, terutama pada Luca yang terlihat sangat tampan dimatanya. Wajah cantik dengan pembawaan dingin ini benar-benar memikat.
"Dia menatapku." Bisik Luca membuat Elle tergelak, karena ketidaksukaannya jelas terlihat diwajahnya yang selalu tanpa ekspresi ini.
**
Setelah sarapan dan orang asing pergi dari rumah lantai 5, semuanya berkumpul diruang tengah, kecuali Darrion yang sedang menempel pada Shaya.
Didepan semuanya terdapat satu wadah kecil penuh inti kristal.
"Ini inti kristal. Warna dasarnya adalah putih transparan, jika ada warna lain maka hal itu menunjukkan bahwa zombie yang digali intinya lebih kuat dari zombie lain. Dengan urutan warna Putih, merah, kuning, emas, dan hitam pekat. Semakin pekat warnanya, semakin tinggi kekuatannya." Jelas Elle dengan serius. "Kegunaan benda ini adalah untuk mengisi ulang dan meningkatkan kekuatan orang-orang yang terbangun. Selain itu, juga bisa menjadi media untuk membangunkan kekuatan supernatural jika beruntung." Lanjutnya.
"Kakak, bolehkah aku bertanya?" Ucap Avin yang mengangkat tangan kanannya.
"Sebelum bertanya, jawab pertanyaanku lebih dulu. Kekuatan supernatural apa yang kau miliki?" Tanya Elle membuat Avin terkejut.
"Tenang, aku hanya menebak. Dengan kau menyelinap masuk semalam, jika kau tidak punya kekuatan, kau tidak akan mampu melewati satu penjaga pun." Jelas Elle membuat Avin mengangguk, itu masuk akal.
"Aku bisa menghilang, kak. Itulah mengapa aku masuk dengan mulus. Selain manusia, zombie juga tidak bisa melihat dan mencium bauku." Ucap Avin menjawab dengan jujur.
Elle mengangguk dengan senyum samar. Ia tahu anak ini mampu. Bukan saja manusia, bahkan zombie juga bisa dihindarinya. Masuk akal kenapa ia selamat semalam. Bibit unggul, bisa ia jadikan agen pencarian informasi untuknya. Pikir Elle, bahkan sudah mengaturkan tugas untuknya.
"Apa hal yang mau kau tahu?" Tanya Elle kemudian.
"Apa ada efek samping dari penggunaannya?" Tanya Avin, membuat Elle mengangguk.
"Memang ada, setiap kali naik level setelah melewati level 5, kau akan melawan mimpi buruk yang paking ingin kau hindari. Karena ada unsur gelap yang tertinggal di inti kristal, yang bisa memancing hal yang paling kau benci dalam pikiranmu. Itulah kenapa, setiap kali naik level setelah level 5, tidak akan mudah bagi kalian. Tapi tenang saja, level 5 juga tidak mudah dicapai." Jelas Elle seraya tersenyum tipis.
"Layaknya manusia yang terus naik level, apakah zombie dan mutan lainnya juga sama?" Tanya Sam.
"Tentu, mereka juga sama." Balas Elle.
"Kau serius, nona? Lalu bagaimana nasib kami para manusia tanpa kemampuan ini?" Ucap paman Jergh dengan sedih.
"Ya, selain naik level mereka juga akan membuka kecerdasan. Jadi, manusia tanpa kekuatan hanya bisa bekerja sama dengan yang punya kekuatan untuk membunuh mereka. Akan ada kebangkitan kedua selain menggunakan inti kristal." Jelas Elle pada semuanya.
Luca satu-satunya orang yang diam mencerna tanpa sedikitpun bertanya. Ia menatap Elle dengan tatapan yang tidak pernah beralih. Menelisik beberapa hal. "Kenapa kau bisa tahu banyak hal?" Celetuk Luca tanpa sadar. Membuat Elle beralih menatapnya dengan raut sedikit terkejut.
Elle terbatuk dua kali. Berpikir apakah ia terlalu berlebihan memberi informasi pada orangnya? Tapi, ini orang-orangnya sendiri dan mereka akan bekerjasama kedepannya. Jelas mereka harus tahu lebih banyak juga. Jadi Elle merasa tidak ada salahnya ia memberitahu mereka semua apa yang ia tahu.
Tumbuhkan kepercayaan dan kesetiaan, dengan banyaknya pengetahuan, mereka akan lebih menghormatinya sebagai ketua tanpa mereka sadari. "Aku mendengarnya dari radio." Balas Elle seraya tersenyum kecil.
"Apa rencanamu selanjutnya?" Tanya Luca.
"Pergi ke kota Q!" Balas Elle dengan mantap. Membuat Paman Jergh dan Sam saling menatap dengan terkejut.
"Nona, maksudmu kota yang terbuang itu?" Tanya Sam mengungkapkan pikirannya.
"Benar, ini kota Q dengan cuaca paling dingin. Kota miskin yang disebut-sebut kota terbuang. Perbatasan kota dengan negara yang sama miskinnya dengan kota Q. Ini adalah tempat strategis untuk mendirikan tempat aman. Penduduk disana sangat jarang, meski sumber daya disana sama miskinnya dengan penduduknya, tapi aku punya beberapa cara untuk mengatasi sumber daya." Jelas Elle membuat semua orang terdiam.
Hening, membuat Elle menatap satu persatu orang dihadapannya yang tampak tidak percaya.
"Aku akan mengikutimu."
Suara berat yang terdengar magnetis dengan sensasi dingin ini, keluar memecah keheningan. Membuat Elle tersenyum lebar, menatap Luca dengan bersemangat. Karena setelahnya, satu persatu suara juga mengikuti.
"Baiklah, ayo buat rencana perjalanannya!" Ucap Elle lagi dengan senyum lebar.
**