“Aku telah melihat masa depan kalian,” lanjutnya. “Dari abu pengorbanannya, jiwanya tidak hancur. Jiwa sang Ratu terlepas dari pusaran kehancuran dan ditakdirkan untuk terlahir kembali.”
“Sebagai apa?” suara Ragnar nyaris hanya bisikan.
“Sebagai manusia.”
“Manusia?” Ragnar tertawa pendek, pahit. “Makhluk fana, rapuh, dengan umur sekejap mata?”
“Justru karena itu,” jawab Holly. “Ia akan hidup jauh dari dunia kita, tanpa ingatan tentang perang, mahkota, atau pengorbanannya. Namun takdir tidak sepenuhnya kejam, bukan? Setidaknya dia terlahir kembali kali ini hanya untukmu.”
999 tahun pencarian....
“Akhirnya, aku menemukanmu, Ivory! Aku telah menepati janjiku untuk tidak melupakanmu dan datang menjemputmu.”
PLAK!
“Anda sudah keterlaluan! Dasar Bos Gila!” Kata Ivory penuh amarah.
Akankah takdir kali ini akan mempersatukan Ragnar dan Ivory kembali? Ataukah takdir sebelumnya akan terulang kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Phopo Nira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 02. 999 Tahun Pencarian
“Ivory, tunggu aku menemukanmu? Berapa lama… berapa jauh kau berada aku pasti akan menemukanmu. Sampai bertemu kembali, Ratuku—Ivory!”
Namun kini, kesunyian itu tidak sepenuhnya kosong. Di balik duka dan kehancuran, sang Raja Vampir kembali berdiri, bukan sebagai pemenang perang, melainkan sebagai penjaga sebuah janji. Ia akan menunggu. Seperti yang selalu ia lakukan. Hingga sang Ratu kembali ke dunia dalam wujud manusia, dengan takdir yang sama sekali baru.
...****************...
999 Tahun Kemudian ….
Langit dalam mimpinya selalu berwarna senja. Wanita cantik berusia 26 tahun bernama Ivory Asteria itu terbangun dengan napas tersentak, seolah baru saja kembali dari perjalanan yang terlalu jauh untuk diingat. Cahaya putih lampu rumahnya menusuk matanya, bau aroma terapi menggantikan aroma hujan dan tanah basah yang entah dari mana masih tertinggal di dadanya.
“Mimpi itu lagi.” Gumamnya menggema, lalu larut begitu saja dalam keheningan. Kepalanya terasa kosong, seperti sebuah buku yang halaman-halamannya telah dicabik, menyisakan hanya bekas lipatan dan tinta yang luntur.
“Kenapa aku selalu merasa memimpikan kejadian yang sama, orang yang selalu sama tapi aku sama sekali tidak bisa mengingatnya dengan jelas.” Ivory bertanya-tanya pada dirinya sendiri.
Kini sudah satu bulan lebih semenjak dia bangun dari koma setelah jatuh dari tangga. Kecelakaan biasa. Tidak ada yang aneh. Tidak ada yang istimewa. Namun setiap malam sejak dia sadar dari koma, saat ia menutup mata, mimpi itu selalu kembali tapi ia tak bisa mengingatnya dengan jelas. Dadanya seolah terasa nyeri oleh sesuatu yang tak bisa ia sebutkan.
“Rindu? Tapi aku tidak tahu sedang merindukan siapa?”
Dalam benaknya hanya tersisa potongan-potongan tak utuh. Bayangan seorang pria berdiri di bawah langit merah darah, tatapan mata yang terlalu tua untuk sebuah wajah yang sempurna, dan sebuah suara yang memanggil namanya dengan lembut, putus asa, seolah telah melakukannya selama ratusan tahun.
Ketika Ivory berusaha mengingat lebih jauh, kepalanya berdenyut. Dokter menyebutnya efek pasca koma. Otak menyimpan mimpi terlalu panjang, lalu menguburnya demi bertahan. Ivory menerima penjelasan itu. Apa lagi yang bisa ia lakukan?
Namun perasaan itu tidak pernah pergi. Ivory selalu memimpikan kejadian yang sama, orang yang sama … yang selalu dirinya rindukan, meski ia sendiri siapa orang tersebut.
Setiap kali hujan turun, ia merasa kehilangan. Setiap kali malam terlalu sunyi, hatinya bergetar, seolah ada seseorang di luar jendela yang menunggunya pulang. Padahal ia tidak tahu ke mana harus pulang. Tidak, ini adalah rumahnya. Ivory sudah pulang, tetapi ia masih merasa bahwa ada rumah dalam artian lain yang selalu menunggunya kembali. Hingga akhirnya bagi Ivory semua itu hanyalah sekadar mimpi panjang. Kabur. Pudar. Tak utuh, tapi masih meninggalkan perasaan rindu yang tak terkira.
“Siapapun dirimu… aku sangat merindukan, bahkan aku sendiri tidak mengerti alasan akan perasaan rindu ini. Semoga kita bisa cepat dipertemukan untuk saling melepas rasa rindu yang hampir tak tertahankan ini,” ucap Ivory lirih sembari menatap bintang-bintang yang menghiasi langit malam itu.
...****************...
Tidak demikian bagi sang Raja Vampir—Ragnar Rowan Agharon. Dimana ia kini tengah berdiri di balkon kastil miliknya yang telah menyaksikan lahir dan runtuhnya peradaban. Malam menyelimuti dunia dengan tenang, sama seperti malam pertama ketika ia kehilangan ratunya.
Ragnar masih mengingat segalanya.
Darah di tangannya. Jeritan yang terhenti. Janji yang terlambat diucapkan. Ia mengingat bagaimana jiwanya terbelah saat jiwa dan tubuh ratunya menghilang bersama tiupan angin kala itu. Dan bagaimana dunia sejak saat itu menjadi tempat yang terlalu sunyi untuk seorang raja abadi seperti dirinya.
Reinkarnasi bukanlah harapan kosong. Karena Ragnar telah menyaksikannya berulang kali… jiwa-jiwa kembali dalam rupa baru, tanpa ingatan, tanpa beban masa lalu. Namun menemukan satu jiwa di antara miliaran manusia adalah penantian yang kejam, bahkan bagi makhluk yang tidak mengenal kematian sepertinya.
“Sudah hampir seribu tahun, Ivory! Apakah kau benar sudah terlahir kembali atau aku harus menunggu lebih lama lagi untuk kembali bertemu denganmu?” gumamnya menatap langit malam yang penuh bintang.
“Aku sangat merindukanmu, Ratuku!” ucapnya lirih penuh kerinduan.
Malam telah berganti ribuan kali sejak hari ratunya menghilang. Bagi dunia, abad-abad itu adalah sejarah. Namun bagi Ragnar, sang Raja Vampir semuanya adalah satu penantian panjang yang tak pernah benar-benar berakhir.
Ia masih mengingat wajahnya dengan jelas bahkan lebih jelas daripada kenangan akan siapa dirinya sendiri. Cara ratunya tersenyum sebelum cahaya pengorbanan itu menelan segalanya. Cara jiwanya bergetar saat ikatan mereka terputus, namun tidak pernah benar-benar lenyap. Karena semua itu jelas bukan mimpi.
Ragnar sudah sering kali membelah samudra gelap. Angin asin selalu menerpa jubah hitamnya, ombak berkilau di bawah cahaya bulan. Ia telah menyeberangi lautan ini berkali-kali, dari timur ke barat, dari dunia lama ke dunia baru. Tidak ada samudra yang tidak mengenal langkahnya. Tidak ada pelabuhan yang tak pernah ia singgahi.
Jika ratunya terlahir kembali sebagai manusia, maka ia bisa berada di mana saja yang ada dibumi ini. Dan ia akan menemukannya.
Benua demi benua telah ia lalui. Padang pasir yang menelan kerajaan, pegunungan bersalju yang menusuk tulang, kota-kota yang lahir lalu runtuh sebelum ia sempat menghafal namanya. Ia menyaksikan manusia menciptakan peradaban, menghancurkannya, lalu mengulanginya lagi. Sementara dirinya tetap sama, terikat pada satu janji yang tak pernah pudar.
Di setiap tempat, ia mencari tanda itu. Tanda kuno yang disebutkan oleh peri masa depan. Tanda jiwa yang hanya dimiliki oleh ratunya. Ragnar menelusuri desa-desa kecil, berdiri di sudut rumah sakit modern, mengamati bayi-bayi yang baru lahir dengan mata yang telah melihat ribuan kehidupan dimulai dan berakhir. Banyak yang hampir memiliki jiwa-jiwa cerah, kuat, istimewa… namun bukan dia.
Tidak pernah dia, bukan Ratunya!
Keputusasaan adalah kemewahan yang tak mampu ia miliki. Maka ia terus berjalan. Beruntungnya, ia tidak sendirian.
Di ruangan mewah yang disebut dengan kantor dari perusahaan yang Ragnar bangun untuk membantu pencarian ratunya, beberapa sosok berlutut dengan satu lutut menyentuh lantai marmer.
Mereka adalah bayangan setia, anak buah kepercayaan yang telah mengabdi lintas generasi, vampir-vampir yang mengerti bahwa pencarian ini bukan sekadar urusan hati, melainkan keseimbangan dunia itu sendiri.
“Yang Mulia!”
“Apakah kalian berhasil menemukannya?” tanya Ragnar pada para pengikut setianya, Dorian, Denzel, Ellias dan juga Theron yang selalu menjadi kepercayaannya.
“Kami tidak yakin, Yang Mulia! Namun, ada informasi mengatakan bahwa seorang wanita yang berasal dari bangsa manusia memiliki ciri-ciri yang sama persis dengan Yang Mulia Ratu Ivory,” ujar Dorian menyampaikan informasi yang didapatkannya dengan susah payah.
Bersambung ….
Tapi, apakah Ragnar akan nyerah gitu aja? Pasti Ragnar akan semakin gencar mendekati Ivory dan terus mencari tanda itu..
Iya ngga sih... 😩
Terus kapan nih, Ragnar lihat tanda dibelakang telinganya Ivory... Ngga sabar pengen lihat reaksinya... 😋
Meskipun Ragnar udah yakin kalo Ivory reinkarnasi Ratu nya, tapi Ragnar belum lihat tanda itu kan? 😌😌😌
Penyihir hitam dan Ratu Vampir emang kakak beradik, tapi mereka terpisah. Gitu yah?
Ivory mau bilang apa yah ke Elena? Apa Ivory udah tahu, kalau dirinya adalah reinkarnasi dari Ratu Vampir? 🤔