Ini Novel Wuxia!
Di dunia persilatan yang kelam dan penuh intrik, nama Liang Shan adalah luka yang tak pernah sembuh—anak dari keluarga pendekar agung yang dibantai secara keji oleh lima perguruan besar dan puluhan tokoh bayaran.
Sejak malam berdarah itu, Liang Shan menghilang, hanya untuk muncul kembali sebagai sosok asing yang memikul satu tujuan, yaitu membalas dendam!
Namun, dendam hanyalah awal dari kisah yang jauh lebih kelam.
Liang Shan mewarisi Kitab Golok Sunyi Mengoyak Langit, ilmu silat rahasia yang terdiri dari sembilan jurus mematikan—masing-masing mengandung makna kesunyian, penderitaan, dan kehancuran.
Tapi kekuatan itu datang bersama kutukan, ada racun tersembunyi dalam tubuhnya, yang akan bereaksi mematikan setiap kali ia menggunakan jurus kelima ke atas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nnot Senssei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
Han Xiang tidak menjawab, dia hanya bisa memeluk Liang Shan dengan erat, di tengah dunia persilatan yang kini semakin haus akan darah dan kekuasaan.
Hujan turun rintik-rintik, membasuh sisa-sisa abu yang melekat pada pakaian Liang Shan. Lembah Kedamaian kini tinggal kenangan yang memudar di belakang bukit, menyisakan kepedihan yang diam-diam berdenyut di setiap langkah kaki Han Xiang.
Gadis itu tidak banyak bicara sejak mereka meninggalkan sisi gunung kemunculannya tadi. Ia hanya menggenggam ujung jubah Liang Shan, seolah itu adalah satu-satunya jangkar yang menahannya agar tidak hanyut dalam samudera kesedihan.
Liang Shan berjalan dengan napas yang masih terasa berat. Efek dari Pembukaan Sembilan Gerbang meninggalkan rasa hampa di nadinya.
Dia merasa seperti sebuah pedang yang baru saja keluar dari tungku api yang panas lalu dicelupkan ke dalam air es, tajam, namun rapuh.
"Kita akan menuju Kota Menara Langit," ucap Liang Shan pelan, suaranya hampir tertelan deru hujan. "Itu adalah kota terdekat sebelum mencapai Ibu Kota. Di sana, kita harus mencari seseorang bernama Tuan Tua Tanpa Bayangan."
Han Xiang menatap punggung Liang Shan yang lebar namun tampak kesepian. "Apakah dia pemegang pecahan ketiga?"
Liang Shan mengangguk. "Si Buta Lu pernah berbisik sebelum aku meninggalkan Kota Teratai Biru. Dia bilang, jika dua pecahan telah bersatu, maka pecahan ketiga akan mulai 'menangis'. Dan hanya Tuan Tua Tanpa Bayangan yang tahu cara meredam tangisannya."
Dua hari kemudian, mereka tiba di sebuah kedai arak di perbatasan kota. Kedai itu tampak kusam, dengan papan nama yang sudah miring dan hampir jatuh.
Tetapi, di dunia persilatan, tempat yang paling kotor seringkali menyimpan rahasia yang paling bersih, dan orang yang paling hina seringkali memiliki hati yang paling mulia.
Di sudut kedai, duduk seorang pria paruh baya yang mengenakan pakaian lusuh. Di depannya terdapat guci arak besar. Dia tidak membawa pedang, hanya sebuah kipas bambu yang digunakan untuk mengusir lalat.
Liang Shan masuk dengan topi caping menutupi wajahnya. Ia merasakan getaran aneh dari Permata Tiga Hati yang tergantung di dadanya. Permata itu menghangat dan mengeluarkan denyutan halus yang selaras dengan detak jantungnya.
Pria pemabuk itu mendongak, matanya yang sayu tiba-tiba berkilat menembus keremangan kedai.
"Arak di sini sangat buruk, anak muda. Tapi bagi orang yang tidak punya tujuan, arak buruk pun terasa seperti madu."
Liang Shan duduk di meja seberang pria itu. Han Xiang duduk dengan gelisah di sampingnya.
"Aku mencari seseorang yang bisa membaca tangisan permata," ucap Liang Shan tanpa basa-basi.
Pria pemabuk itu tertawa, tawa yang kering dan hambar. "Pecahan pertama dibawa oleh dendam, pecahan kedua dibawa oleh rasa bersalah. Dan sekarang, kau datang mencari pecahan ketiga yang dibawa oleh penyesalan. Apakah kau siap untuk memikul ketiga beban itu sekaligus?"
Liang Shan meletakkan Golok Sunyi di atas meja.
BRAKK!!!
"Namaku Liang Shan. Aku sudah kehilangan segalanya. Penyesalan tidak bisa lagi menakutiku."
Pria itu menghentikan gerakan tangannya. Ia melipat kipas bambunya dengan suara yang tajam.
"Ada dua jenis orang di dunia ini, mereka yang mabuk karena arak, dan mereka yang mabuk karena masa lalu. Kau, anak muda, adalah jenis yang kedua."
"Aku bukan Tuan Tua Tanpa Bayangan," ucap pria itu sambil menuangkan arak ke cangkirnya. "Namaku adalah Gu Mu, mantan pencuri yang kini hanya ingin mencuri waktu dari maut. Tuan Tua Tanpa Bayangan sudah lama mati di tangan Menteri Wei Zong."
Han Xiang terkesiap, tangannya menutup mulut, sedangkan Liang Shan mengepalkan tangannya hingga buku-bukunya memutih.
"Mati? Lalu di mana pecahan ketiga itu?"
Gu Mu menatap ke arah jendela, ke arah jalanan yang mulai gelap.
"Dia mati, tapi rahasianya tidak. Pecahan ketiga tidak berbentuk batu seperti dua lainnya, tapi berbentuk sebuah lagu. Dan lagu itu hanya dimiliki oleh seorang wanita di Paviliun Hujan Abadi di pusat Kota Menara Langit."
Liang Shan mengernyit. "Lagu?" tanyanya penasaran.
"Benar. Pecahan ketiga adalah selembar sutra tipis yang berisi notasi musik kuno. Jika dimainkan dengan benar di hadapan dua pecahan lainnya, dia akan memancarkan peta yang sebenarnya. Wanita itu adalah Yue Niang, seorang pemain kecapi yang tidak pernah bicara sejak lidahnya dipotong oleh orang-orang istana sepuluh tahun lalu."
Tiba-tiba, pintu kedai ditendang terbuka. Lima orang pria dengan pakaian serba hitam masuk. Mereka membawa aura membunuh yang pekat.
Di punggung mereka terdapat lambang awan berdarah yang merupakan ciri khas Organisasi Langit Berdarah, pembunuh bayaran tingkat atas yang dikontrak oleh klan-klan besar.
"Liang Shan! Jangan lari lagi!" teriak salah satu dari mereka.
Liang Shan bangkit berdiri. Ia merasakan tubuhnya masih lemah, namun amarah di hatinya memberikan kekuatan baru.
"Xiang-er, bersembunyilah di belakang Gu Mu," perintah Liang Shan.
Para pembunuh itu bergerak serentak. Mereka tidak menggunakan teknik yang indah, melainkan teknik yang efisien untuk membunuh secepat mungkin.
Dua orang menyerang dari depan dengan belati kembar, sementara dua lainnya melompat ke arah atap untuk menyerang dari atas.
Liang Shan ikut berbetak. Golok hitam itu menebas udara dan menciptakan gelombang energi hitam yang berbentuk seperti sabit.
SRETT!!!
Dua belati kembar itu patah seketika. Liang Shan tidak berhenti. Ia memutar tubuhnya dan menggunakan tendangan melingkar untuk mematahkan serangan dari atas.
Tepat saat itu, pemimpin mereka, seorang pria dengan mata satu, mengeluarkan sebuah jaring baja yang diledakkan dengan tenaga dalam.
"Tangkap dia!" perintahnya.
Jaring itu menyelimuti Liang Shan. Namun, di saat kritis itu, Gu Mu yang tadinya tampak mabuk, tiba-tiba melemparkan kipas bambunya.
Kipas tersebut berputar di udara seperti gergaji mesin, memotong jaring baja itu menjadi kepingan tak berguna.
"Jangan mengganggu orang yang sedang minum arak," ucap Gu Mu tenang, meski ia tetap duduk di kursinya.
Liang Shan memanfaatkan celah itu. Ia melesat maju, ujung goloknya berhenti tepat di tenggorokan pemimpin bermata satu itu.
"Siapa yang mengirim kalian? Klan Murong? Atau siapa?" tanya Liang Shan dingin.
Si mata satu itu hanya menyeringai, lalu tiba-tiba tubuhnya bergetar dan darah hitam keluar dari mulutnya. Ia telah menelan racun bunuh diri. Empat orang lainnya melakukan hal yang sama!
Liang Shan tersentak melihat kejadian tiba-tiba ini, dia tidak pernah menyangka bahwa mereka akan bunuh diri.
Mungkin bagi seorang pembunuh, kegagalan adalah dosa yang hanya bisa ditebus dengan maut, karena hidup dalam kegagalan lebih mengerikan daripada mati dalam kesetiaan.
Liang Shan menyimpan kembali goloknya. Ia menatap jasad-jasad itu dengan perasaan hampa.
"Mereka akan terus datang," ucap Gu Mu sambil berdiri. "Kota ini sudah dipenuhi oleh mata-mata. Jika kau ingin menemui Yue Niang, kau harus masuk ke Paviliun Hujan Abadi sebagai pengawal bayaran. Itu adalah satu-satunya cara untuk mendekati kamarnya yang dijaga ketat."