NovelToon NovelToon
A Little Bit Of LaNi

A Little Bit Of LaNi

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Diam-Diam Cinta / Cintapertama / Enemy to Lovers
Popularitas:165
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira Ramadhani

Lo tahu kenapa lampu lalu lintas warna merah itu artinya berhenti?"
Ifa menatap cowok di depannya dengan benci. "Karena merah itu tanda bahaya."
Nicholas menyeringai, mendekat hingga napasnya terasa di kening Ifa. "Sayangnya, makin bahaya, orang malah makin penasaran, Fa. Termasuk lo."
Lathifa (IPA, kelas 12) dan Nicholas (Teknik, tingkat 3). Dua kutub yang tidak seharusnya bertemu, dipaksa bersinggungan karena sebuah ketidaksengajaan di depan pintu rumah. Bagi Ifa, Nick adalah red flag yang harus dihindari. Bagi Nick, Ifa adalah gangguan kecil yang sangat menarik untuk dipermainkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 28

Senin pagi yang seharusnya tenang kembali berubah menjadi "Markas Teknik Cabang Rumah Ryan". Amara yang baru saja selesai bersiap-siap di kamarnya, dikejutkan oleh kebisingan luar biasa yang merayap naik hingga ke lantai dua. Suara tawa bariton yang saling bersahutan, denting gelas, dan perdebatan tentang struktur bangunan memenuhi atmosfer rumah.

Amara menghela napas panjang, merapikan kuncir kudanya untuk terakhir kali, lalu melangkah turun. Begitu kakinya memijak anak tangga tengah, pemandangan di ruang tamu membuatnya refleks memutar bola mata malas.

Di sana, di atas karpet dan sofa, tersebar beberapa teman Ryan. Ada Arga yang sibuk dengan penggaris sikunya, Deno yang asyik mengunyah keripik, dan tentu saja sang pemilik rumah, Ryan, yang duduk bersila di tengah-tengah kekacauan itu. Suara mereka benar-benar bising, sanggup mengalahkan raungan mesin motor di sirkuit balap.

Ryan, yang memang punya insting tajam kalau soal adiknya, langsung mendongak. Begitu melihat Amara turun dengan seragam sekolah yang rapi dan aroma parfum yang lembut, seringai jahilnya langsung terbit.

"Eaaa! Kanjeng Ratu sudah turun dari peraduannya!" seru Ryan dengan suara yang sengaja dikeraskan, memancing perhatian seluruh teman-temannya.

"Wuih, Amara! Makin bening aja nih pagi-pagi," goda Arga sambil nyengir lebar.

Amara tidak menyahut. Ia terus berjalan menuju dapur dengan wajah datar, melewati kerumunan mahasiswa Teknik itu seolah-olah mereka adalah perabotan rumah tangga yang tidak bernyawa.

"Dek, rapi amat? Mau sekolah atau mau kencan di gerbang?" teriak Ryan lagi, tidak menyerah untuk menggoda. "Nick belum dateng? Biasanya jam segini udah nempel kayak prangko."

Amara berhenti di ambang pintu dapur, ia berbalik dan menatap kakaknya dengan tatapan tajam yang sanggup membekukan air laut. "Abang bisa diem nggak? Berisik banget, tau nggak. Kasihan tetangga, disangka kita lagi buka bengkel ilegal!"

"Galak banget, pantesan si Nick makin cinta!" sahut Deno yang disambut tawa riuh dari yang lain.

Tepat saat suasana sedang heboh-hebohnya, pintu depan yang tidak terkunci terbuka. Nicholas melangkah masuk dengan gaya santainya. Ia memakai jaket denim gelap dan membawa helm di tangannya. Begitu melihat teman-temannya sedang menertawakan sesuatu, ia mengernyitkan dahi.

"Kenapa nih? Pagi-pagi udah pada ayan?" tanya Nick pendek.

Mata Nick langsung mencari sosok Amara, dan begitu ia menemukannya di ambang pintu dapur, sorot matanya yang dingin langsung melunak.

"Nick! Pas banget. Nih, adek lo lagi sensi. Katanya kita bising kayak mesin motor," lapor Ryan sambil tertawa.

Nicholas tidak ikut tertawa. Ia berjalan mendekati Amara, mengabaikan teman-temannya yang mulai bersiul nakal. "Udah siap?" tanya Nick lembut, mengabaikan semua godaan di sekitarnya.

Amara mengangguk pelan. "Udah. Ayo berangkat sekarang, Kak. Di sini hawanya panas banyak orang nggak jelas."

Nicholas melirik ke arah Ryan dan yang lain dengan tatapan "berhenti-ganggu-cewek-gue". Seketika, volume suara di ruang tamu itu mengecil drastis. Kekuatan intimidasi Nicholas memang tidak ada duanya.

"Gue berangkat dulu. Jagain rumah, jangan sampe rubuh gara-gara tawa lo pada," pesan Nick pada Ryan sebelum menggiring Amara keluar.

Antara Buku dan Debar Jantung

Begitu sampai di samping motor, Nicholas tidak langsung memberikan helm. Ia menahan tangan Amara sebentar, menatap wajah gadis itu dengan teliti.

"Kenapa? Ada yang aneh?" tanya Amara bingung.

"Mata lo agak merah. Begadang lagi?" tanya Nick dengan nada menyelidik.

Amara menggigit bibir bawahnya. "Cuma sampai jam satu. Tanggung, soal pengetahuannya belum selesai."

Nicholas menghela napas, ia memakaikan helm ke kepala Amara dengan gerakan yang sangat pelan. Tangannya sempat mengusap pipi Amara sebentar, membuat Amara mematung di tempat.

"Gue bangga lo ambisius, tapi kalau lo sakit, siapa yang bakal gue anter-jemput tiap hari?" bisik Nick. "Inget kesepakatan kita di taman kemarin. Jangan paksa diri lo berlebihan."

"Iya, Kak Nick. Maaf," jawab Amara pelan, hatinya kembali menghangat.

Perjalanan menuju sekolah terasa lebih cepat dari biasanya. Saat sampai di gerbang, Amara melihat Daffa sedang berdiri di dekat pos satpam. Begitu melihat Amara turun dari motor Nicholas, wajah Daffa tampak berubah mendung.

Amara merasa sedikit tidak enak, tapi ia sudah memantapkan hatinya.

"Kak, makasih ya," ucap Amara sambil menyerahkan helm.

"Ra," panggil Nick sebelum Amara berbalik.

"Iya?"

Nicholas merogoh saku kemejanya dan mengeluarkan sebuah cokelat batang kecil. "Buat cemilan pas pusing ngerjain soal nanti. Jangan dikasih ke siapa-siapa, apalagi ke cowok yang lagi nungguin lo di depan pos itu."

Amara tertawa kecil. Ternyata Nicholas masih Nicholas yang posesif, hanya saja caranya sekarang jauh lebih manis. "Iya, posesif banget sih."

"Emang. Dan lo suka, kan?" goda Nick dengan kerlingan mata yang membuat jantung Amara berdisko lagi.

Amara segera berbalik dan berlari masuk ke dalam sekolah dengan perasaan yang sangat ringan. Di koridor, ia berpapasan dengan Daffa.

"Ra, baru sampai?" tanya Daffa, mencoba bersikap biasa.

"Iya, Daff. Duluan ya, mau ke perpustakaan dulu," sahut Amara dengan sopan namun memberikan batasan yang jelas.

Amara duduk di sudut perpustakaan yang paling sepi. Ia membuka cokelat pemberian Nicholas. Di balik bungkusnya, ada tulisan tangan kecil menggunakan spidol permanen: "Focus on your dream, I'll focus on you."

Amara tersenyum lebar, mematahkan satu kotak cokelat dan memasukkannya ke mulut. Manis. Semanis perasaannya saat ini. Ia sadar, perjalanan menuju UTBK mungkin masih panjang dan melelahkan, tapi selama ada Nicholas yang menunggunya di garis finish (atau setidaknya di gerbang sekolah), Amara yakin ia bisa melewati semuanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!