NovelToon NovelToon
TIRAKAT 2

TIRAKAT 2

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Horor / Tumbal
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: DENI TINT

Berdasarkan kisah nyata.

Novel ini adalah seri kedua dari novel TIRAKAT. Menceritakan tentang kehidupan Nisa (Aku) setelah kejadian mengerikan yang hampir saja merenggut nyawa Bapaknya, yang telah dikisahkan pada seri sebelumnya.

Apakah Nisa melanjutkan tirakatnya?
Bagaimana kehidupan berjalan berikutnya?
Bagaimana pandangan orang-orang di sekitarnya sekarang?
Dan... Apakah Bapak bisa kembali normal?

SELAMAT MEMBACA... ☺️☺️☺️
.
.
.
!!! DISCLAIMER!!!

Seluruh nama tokoh, nama tempat, nama daerah, telah disamarkan. Apabila ada kesamaan, harap dimaklumi. Dan novel ini ditulis bukan untuk menyudutkan seseorang, tokoh, tempat, daerah, agama, atau kepercayaan tertentu. Murni hanya berbagi kisah dengan para pembaca sekalian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

STASIUN KERETA API PASAR SENEN

Akhirnya...

Hari di mana aku akan berangkat ke Jawa Timur pun tiba...

Dari rumah aku diantar oleh bapakku, dan juga dibantu oleh dua sahabatku, Dinda serta Ningrum, beserta ke dua orang tua mereka.

Kini aku sudah sampai di stasiun kereta api Pasar Senen, Jakarta.

Hiruk pikuk kondisi stasiun yang ramai membuatku agak sedikit tak nyaman. Karena seumur hidupku, baru kali ini aku pergi ke stasiun. Dan baru kali ini aku juga menginjakkan kaki di tempat seramai ini.

Begitu kontras perbedaannya dengan kondisi di desaku. Namun aku sudah siap untuk menghadapinya.

"Eh, Nis, orang itu jualan apa ya?" kata Ningrum sambil menunjuk ke salah satu pedagang di pinggir jalan.

"Aku juga gak tau Rum." jawabku.

"Itu kayaknya jualan gorengan deh..." sahut Dinda sambil membantu membawakan salah satu tas milikku.

"Tapi kok gorengannya tipis gitu ya? Kayak cuma tepung aja tuh..." kata Ningrum heran.

"Itu namanya kue krepes Rum..." sahut bapaknya.

"Krepes? Krepes apaan Pak?" tanya Dinda.

"Kue krepes itu ya kayak gitu... Tapi biasa dikasih toping meses, atau gula-gula, atau juga bisa pisang..." jawab ibunya Dinda.

"Oooh... Gitu..." sahut Dinda dan Ningrum bersamaan.

"Kalian belom pernah ya liat kue kayak gitu? Hahaha..." kataku.

"Halaaah... Kamu juga tadi aku tanya gak tau kan? Gak usah ngeledek deh..." sahut Ningrum sambil mencubit pelan lenganku.

"Aduh-duh... Iya-iya..." jawabku.

Harap maklum...

Aku, Dinda, dan Ningrum, memang termasuk gadis-gadis desa yang agak kuper, tak terlalu paham tentang banyak hal di daerah perkotaan seperti Jakarta ini.

Akhirnya kami semua sampai di depan area loket. Bapakku, bapaknya Dinda dan Ningrum, berinisiatif untuk menanyakan terkait jalur kereta yang akan ku naiki.

Sedangkan aku, Dinda, Ningrum, beserta yang lain menunggu di kursi tunggu.

Dinda dan Ningrum tampak asik mengobrol soal kondisi stasiun yang ramai. Sedangkan ibu mereka tampak asik mengobrol hal lain. Sedangkan aku merasa harus membiasakan diri dengan kondisi yang jauh berbeda dengan kondisi desaku.

Aku memperhatikan sekitar dengan cukup tertarik. Karena baru kali ini aku berada di stasiun kereta.

Ada banyak orang berlalu lalang, ada yang tampak membelikan jajan untuk anak-anaknya di luar area stasiun, ada juga beberapa petugas stasiun yang mengawasi dan membantu calon penumpang lain.

Semuanya tampak sibuk dengan keperluan dan tugas masing-masing.

"Ternyata kayak gini toh stasiun kereta..." gumamku dalam hati.

Terdengar suara klakson mobil dan motor yang seolah terus saling bersahutan di luar stasiun. Terdengar juga suara keras dari klakson kereta api itu sendiri.

Tak mau kalah dari semua suara itu, suara petugas stasiun memberikan informasi dan pengumuman pun terdengar sesekali melalui pengeras suara.

"Nis! Jangan bengong kamu!" tegur Ningrum yang tiba-tiba.

"Yeeeh... Siapa juga yang bengong?" jawabku.

"Ya kamu diem aja dari tadi. Ngeliatin apa sih kamu?"

"Ya ngeliatin semuanya Rum..."

"Hehehe... Takut hilang kamu ya? Takut kesasar? Hehehe..."

"Ya gak lah... Kan ada kalian semua di sini. Masa iya aku kesasar?"

"Hehehe... Iya sih..."

Tak lama kemudian, bapakku dan bapak Dinda serta Ningrum menghampiri kami semua di kursi tunggu.

"Ini keretanya dateng masih satu jam lagi kata petugasnya." kata bapakku.

"Oh... Iya Pak..." jawabku.

"Jalurnya di mana Pak?" tanya Dinda yang ingin tahu.

"Di peron 4, ada di seberang dari sini." jawab bapakku.

"Oh gitu, ya udah, mau ke sana sekarang apa gimana?" tanya Ningrum.

"Eh, ini tuh yang mau berangkat Nisa atau kalian berdua sih? Kok yang kelihatan semangat banget malah kalian toh?" celoteh ibunya Dinda.

"Hehehe... Maklum Bu, kan aku belom pernah ke stasiun juga. Sama kayak Ningrum dan Nisa..." jawab Dinda.

"Hehehe... Iya Bu... Sekali-kali boleh lah..." tambah Ningrum.

Aku tertawa kecil dan merasa senang saat melihat mereka semua tampak semangat dan seolah tak merasa terbebani karena mengantarku.

"Ya udah, ini juga kan udah mau zhuhur, kita sholat zhuhur dulu aja. Cari mushollah di sini dulu." kata bapaknya Ningrum.

Dan semua yang memang sedang tak berhalangan (haid), menyetujui usulan beliau.

Kecuali aku dan Ningrum. Kami berdua sedang dalam kondisi berhalangan (haid).

"Em, Pak, aku sama Ningrum nunggu di sini aja atau langsung ke peron 4?" tanyaku pada bapakku.

"Ya terserah, mau nunggu di sini ya boleh. Atau kalo mau coba belajar cari peron keretanya juga boleh. Nanti pasti kan kita semua ke sana juga selesai sholat zhuhur." jawab bapakku.

"Oh, ya udah Pak, aku mau coba cari peron 4 nya ya..." kataku.

"Iya boleh... Tapi hati-hati... Kalo bingung, tanya sama petugas ya. Jangan sembrono kamu berdua." pesan bapakku.

"Iya Pak." jawabku.

"Ayok Rum, kita cari yuk peron 4 nya..." ajakku pada Ningrum. Segera ia juga menyetujui dengan tampak semangat.

Aku membawa dua buah tas cukup besar. Satu di punggungku dan satu lagi aku tenteng saja. Sedangkan Ningrum membantu membawakan satu tas lagi berukuran lebih kecil.

Kami berdua awalnya agak bingung harus berjalan ke arah mana. Tapi dengan adanya petugas stasiun, kami bisa diarahkan ke peron yang kami tuju.

"Wah... Ternyata kayak gini ya Rum, peron kereta api kalo dari deket." kataku saat sudah sampai di peron 4.

Ningrum hanya menganggukkan kepala. Sambil tengok kanan kiri. Memperhatikan kondisi sekitar.

Tampak di sebelah peron 4, adalah peron 5 yang sudah terisi sebuah rangkaian kereta api. Sedang berhenti. Tampak agak kosong seluruh gerbongnya.

Sedangkan di belakang kami, adalah peron 3 dan 2. Tak ada kereta api di sana. Tercium aroma mesin kereta api, dan juga aroma oli kereta yang khas.

"Nis, duduk di sana yuk, itu ada bangku kosong." kata Ningrum sambil menunjuk ke sebelah kiri.

"Oh iya, ayok..." jawabku.

"Eh, tapi nanti yang lain bakal susah cari kita gak kalo kita duduk di sana?" tanyaku sambil kami berjalan berdua.

"Kayaknya enggak Nis, kan ini pas di depan tangga kita turun tadi dari atas. Pasti langsung kelihatan kok." jawab Ningrum yang berjalan di depanku.

Akhirnya kami berdua duduk di kursi tunggu tepat di peron 4. Agak sedikit jauh dari tangga turun lantai atas di mana kami menunggu di depan loket tadi.

Ningrum tampak membuka tas kecil yang dibawanya. Dikeluarkan camilan dari dalamnya.

"Nih, kamu mau gak? Ngemil dulu..."

"Apaan tuh?" tanyaku.

"Keripik singkong Nis. Rasa balado."

"Wah, mau dong..."

Kami berdua makan camilan keripik singkong balado itu seperti dua anak SD sedang menunggu kereta jemputan. Sambil sesekali kami mengobrol soal kereta api, soal bagaimana nanti aku ketika sampai di pondok pesantren Ustadz Furqon, dan hal-hal lainnya.

Sekitar beberapa menit kemudian, keripik pun habis...

"Nis, kamu bawa tisu basah?"

"Bawa nih, kenapa?"

"Kamu mau cuci tangan atau pakai tisu basah aja?"

"Tisu basah aja deh. Kalo cuci tangan, berat dan repot bawa-bawa tasnya ini."

"Oh gitu... Ya udah, bentar ya, aku mau cuci tangan aja. Itu di ujung sana ada tempat cuci tangan."

"Iya Rum, jangan lama-lama..."

Ningrum beranjak dari kursi, menuju tempat cuci tangan di ujung peron 4 ini.

Aku yang menunggunya, masih sambil sedikit mengunyah keripik dalam mulutku....

Dan ketika aku menoleh ke sebuah arah, tepat di seberang peron 5. Seketika itu juga aku sedikit kaget.

Aku melihat dengan jelas. Padahal kondisi saat ini adalah siang hari yang cerah.

Berdiri seorang perempuan berwajah pucat... Mematung... Tertunduk...

Namun seluruh pakaiannya berlumuran darah...

1
Akbar Aulia
Nisa Baek" ya disana nanti
Ayuk Witanto
lanjut
Ayuk Witanto
tinggal nunggu keberangkatan
Ayuk Witanto
lanjut
Ayuk Witanto
sepertinya bisa nanti akan menetap di Jawatimur sama iko
Ayuk Witanto
Alhamdulillah di kasih ijin
Ayuk Witanto
lanjut
Ayuk Witanto
pasti si iko ada rasa sama kamu nis
Ayuk Witanto
si Gilang minta di getok tuh...makin lama makin jail gak bisa di kasiani
Ayuk Witanto
bener2 si Gilang
Ayuk Witanto
kerasukan
Ayuk Witanto
si Gilang harus di musnahkan
Ayuk Witanto
si Gilang perlu di pulangkan
Ayuk Witanto
si Gilang ini meresahkan
Ayuk Witanto
kok agak aneh ya
Ayuk Witanto
rumahnya di pucuk
Ayuk Witanto
Risa sakit apa yah
Ayuk Witanto
mencurigakan...kok tau dayang putri
Ayuk Witanto
kok ngomongnya gitu si risa
Ayuk Witanto
pasti saudara pak Handoyo punya pesugihan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!