Devan, ketua geng motor yang disegani, tak pernah menyangka hatinya akan terpikat pada Lia, gadis berkacamata yang selalu membawa setumpuk buku. Lia, dengan dunia kecilnya yang penuh imajinasi, awalnya takut pada sosok Devan yang misterius. Namun, takdir mempertemukan mereka dalam sebuah kisah tak terduga, membuktikan bahwa cinta bisa tumbuh di antara dua dunia yang berbeda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28: Debar di Antara Persiapan
Persiapan pernikahan yang dijadwalkan dua minggu lagi mengubah suasana sunyi lereng bukit menjadi sebuah gotong royong yang mengharukan. Warga desa yang merasa berutang budi pada kebaikan Devan bahu-membahu membersihkan halaman luas di depan rumah kayu mereka. Tidak ada dekorator mahal dari kota; hanya untaian bunga liar pegunungan dan lampu-lampu gantung sederhana yang dirangkai oleh pemuda desa.
Namun, yang paling mengejutkan adalah kedatangan "pasukan" bantuan yang tak terduga. Baron datang bersama sepuluh mantan anggota inti Black Roses. Mereka tidak lagi datang dengan rompi kulit atau wajah sangar. Mereka mengenakan kaos oblong biasa, membawa palu, gergaji, dan kayu-kayu berkualitas tinggi untuk membangun panggung pelaminan kecil di bawah pohon pinus.
"Bos, kami sudah tidak punya geng, tapi kami masih punya tenaga," ujar Baron sambil menyeringai, meskipun matanya tampak berkaca-kaca melihat Devan yang kini lebih sering memegang popok bayi daripada kunci pas.
Devan tersenyum, menepuk bahu sahabat lamanya itu. "Terima kasih, Ron. Pastikan panggungnya kuat, jangan sampai roboh saat aku berdiri di sana nanti."
Di dalam rumah, Lia sedang mencoba gaun pengantinnya yang sederhana—sebuah gaun lace putih dengan potongan yang longgar untuk menampung perutnya yang kini sudah mencapai puncaknya. Ia menatap cermin, mengagumi betapa banyak hal yang telah berubah. Gadis culun yang dulu hanya bisa bersembunyi di balik buku kini akan menjadi seorang istri dan ibu.
Tiba-tiba, saat ia sedang mengancingkan bagian lengan, sebuah rasa nyeri yang tajam dan melilit menghantam pinggang bawahnya. Lia tersentak, tangannya mencengkeram pinggiran meja rias.
"Akh..." rintihnya pelan.
Nyeri itu hilang sejenak, namun kembali lagi beberapa menit kemudian dengan intensitas yang lebih kuat. Keringat dingin mulai membasahi dahinya. Lia mencoba mengatur napasnya seperti yang diajarkan dalam kelas senam hamil, namun rasa panik mulai merayap.
"Devan!" panggilnya dengan suara yang bergetar.
Devan, yang sedang membantu Baron memasang tiang dekorasi di luar, langsung melepaskan palunya saat mendengar teriakan Lia. Ia berlari masuk ke dalam rumah secepat kilat, diikuti oleh Baron yang ikut panik.
"Lia?! Ada apa?!" Devan menemukan Lia sedang terduduk lemas di lantai sambil memegangi perutnya.
"Sakit... Devan, perutku sakit sekali. Rasanya seperti... seperti ditarik-tarik," bisik Lia dengan wajah pucat pasi.
Devan merasa dunianya seolah berhenti berputar.
Ketakutan yang lebih besar daripada saat ia dikepung musuh kini melumpuhkannya sesaat. "Apa bayinya mau keluar sekarang? Tapi ini baru minggu ke-36!"
"Cepat bawa ke bidan desa, Bos! Jangan bengong!" teriak Baron menyadarkan Devan.
Tanpa membuang waktu, Devan menggendong Lia dengan sangat hati-hati menuju mobil bak terbuka milik warga desa yang terparkir di depan. Ia memang memang mantan ketua geng motor yang pemberani, tapi saat ini, tangan Devan gemetar hebat. Sepanjang perjalanan menuju klinik bidan desa, ia terus menggenggam tangan Lia dan menciuminya.
"Sabar, Sayang... sabar. Kita hampir sampai. Jangan tinggalin aku, tolong kuat ya," gumam Devan berulang kali, suaranya hampir pecah karena tangis.
Lia yang melihat kepanikan luar biasa di wajah suaminya, malah mencoba tersenyum di tengah rasa sakitnya. "Tenang, Devan... tarik napas..."
Sesampainya di klinik kecil milik Bidan Siti, Lia segera dibawa ke ruang pemeriksaan. Devan mondar-mandir di depan pintu seperti harimau yang terkurung, sesekali memukul tembok dengan frustrasi. Baron dan beberapa anak buahnya berjaga di luar klinik, membuat warga desa sempat mengira ada penggerebekan, padahal mereka hanya ikut cemas menunggu kelahiran "keponakan" mereka.
Setelah tiga puluh menit yang terasa seperti tiga puluh tahun bagi Devan, Bidan Siti keluar sambil tersenyum tenang.
"Bagaimana, Bu? Apa istri saya harus dioperasi? Apa bayinya selamat?" rentetan pertanyaan keluar dari mulut Devan.
Bidan Siti tertawa kecil. "Tenang, Pak Devan. Itu tadi hanya kontraksi palsu, atau istilah medisnya Braxton Hicks. Istri Anda hanya terlalu kelelahan karena mempersiapkan pernikahan. Kandungannya sehat, bayinya hanya sedang memberi tanda bahwa dia juga ikut tidak sabar menunggu hari pernikahan orang tuanya."
Lutut Devan lemas seketika. Ia terduduk di kursi tunggu dan menutup wajahnya dengan kedua tangan, mengembuskan napas lega yang sangat panjang. Baron yang melihat itu langsung mendekat dan menepuk punggung Devan.
"Aduh, Bos... kau hampir membuatku jantungan. Aku sudah siap-siap memacu motor ke rumah sakit kota tadi," canda Baron.
Devan mendongak, matanya merah karena menahan tangis haru. "Aku tidak tahu apa yang akan kulakukan kalau terjadi sesuatu pada mereka, Ron. Ternyata jadi ayah itu jauh lebih menakutkan daripada jadi ketua geng."
Devan masuk ke dalam ruangan dan menemukan Lia sedang berbaring sambil meminum teh hangat. Ia langsung memeluk istrinya dengan sangat erat namun lembut.
"Maafkan aku... aku tidak akan membiarkanmu melakukan apa-apa lagi sampai hari pernikahan tiba. Kamu cukup duduk manis seperti ratu," bisik Devan di telinga Lia.
Lia mengusap air mata di pipi Devan. "Kamu cengeng sekali sekarang, Serigala Hitam-ku."
"Hanya untukmu, Lia. Hanya untukmu."
Kejadian sore itu menjadi pelajaran berharga bagi Devan. Ia menyadari bahwa harta terbesarnya bukanlah kekuasaan atau rasa hormat di jalanan, melainkan detak jantung kecil yang ia dengar melalui perut Lia. Sejak saat itu, Devan melarang Lia menyentuh persiapan apa pun.
Seluruh anggota Black Roses yang bertobat dikerahkan untuk menjadi "seksi sibuk" paling loyal di bawah komando Baron, sementara Devan fokus menjadi pengawal pribadi Lia 24 jam.
Pernikahan yang tinggal menghitung hari kini terasa lebih dari sekadar upacara; itu adalah sebuah perayaan kehidupan baru yang benar-benar suci.