NovelToon NovelToon
Ditempat Dimana Salju Berhenti

Ditempat Dimana Salju Berhenti

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Misteri
Popularitas:1
Nilai: 5
Nama Author: Yuh! No!

Sinopsis


Norden adalah kota mati bagi Noah, sampai Alice datang. Gadis misterius dari ibu kota itu menyewa jasa Noah untuk memperbaiki villa tua yang terasingkan di atas bukit.


Pada awalnya hanya hubungan kerja biasa, namun kesepian menyatukan mereka. Di tengah dinginnya angin utara, kedekatan itu terasa begitu nyata bagi Noah.


Namun, tepat ketika Noah merasa hidupnya mulai berubah, Alice menghilang dalam semalam.


Tanpa jejak, tanpa pesan. Hanya ada sebuah amplop tebal berisi uang yang tertinggal di meja bengkel Noah. Apakah kedekatan mereka selama ini nyata? Atau bagi Alice, Noah hanyalah sekadar "hiburan" yang kini sudah dibayar lunas?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuh! No!, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6: Ketukan yang Tidak Diundang

(POV: Noah)

Aku tidak langsung memberitahu Alice apa yang kulihat setelah itu.

Jejak kaki di salju mengarah ke sisi barat villa—ke tempat yang tidak bisa terlihat dari jendela depan. Seseorang tahu bagaimana cara mendekati rumah ini tanpa menimbulkan kecurigaan. Itu bukan orang sembarangan. Itu orang yang datang dengan tujuan.

Aku berdiri di dekat jendela dapur, memegang cangkir kopi yang sudah dingin, mataku terus mengamati pepohonan pinus yang berderit pelan diterpa angin. Salju di beberapa bagian mulai mencair, meninggalkan lumpur cokelat yang kontras dengan putih bersih di sekitarnya.

“Kalau mereka kembali,” gumamku pelan pada diriku sendiri, “aku harus siap.”

“Apa yang kau sembunyikan?”

Suara Alice membuatku tersentak kecil. Dia berdiri di ambang pintu dapur, mengenakan mantel tipisnya. Wajahnya terlihat lebih pucat dari biasanya, tapi matanya tajam. Terlalu tajam untuk seseorang yang sedang ketakutan.

“Tidak ada,” jawabku refleks.

Dia menyilangkan tangan. “Kau buruk sekali dalam berbohong.”

Aku menghela napas. Tidak ada gunanya.

“Ada orang yang datang pagi tadi,” kataku akhirnya. “Jejak kakinya masih ada.”

Wajah Alice langsung kehilangan warna.

“Mereka?” suaranya hampir tidak terdengar.

“Mungkin.” Aku menatapnya. “Tapi mereka tidak masuk. Hanya memastikan.”

Alice duduk perlahan di kursi, seolah lututnya tidak lagi mampu menopang tubuhnya.

Tangannya mencengkeram ujung meja.

“Berapa lama sebelum mereka kembali?” tanyanya.

“Aku tidak tahu.” Dan itu adalah bagian terburuknya. “Tapi orang-orang seperti itu tidak datang hanya sekali.”

Keheningan jatuh di antara kami, berat dan tidak bersahabat.

“Aku tidak ingin melibatkanmu,” kata Alice akhirnya. “Ini bukan hidupmu. Kau bisa pergi sebelum semuanya menjadi lebih buruk.”

Aku tertawa pendek. “Terlambat.”

Dia menatapku, bingung.

“Jika aku pergi sekarang, mereka akan tahu aku ada hubungannya denganmu,” lanjutku. “Dan orang-orang seperti mereka tidak suka saksi.”

Alice menelan ludah. “Aku minta maaf.”

“Berhenti,” kataku tegas. “Aku tidak melakukan ini karena kasihan. Aku melakukan ini karena aku benci orang yang berpikir mereka bisa membeli hidup orang lain.”

Kata-kata itu keluar lebih keras dari yang kurencanakan. Alice terdiam, menatapku dengan mata berkaca-kaca.

(POV: Alice)

Siang itu terasa seperti menunggu vonis.

Alice duduk di dekat jendela, memeluk selimut, memandangi jalan setapak yang tertutup salju setengah cair. Setiap suara angin terdengar seperti langkah kaki. Setiap derit kayu terdengar seperti pintu yang akan didobrak.

Noah bergerak di sekitar rumah, memeriksa pintu, jendela, bahkan gudang belakang. Cara dia berjalan berubah—lebih waspada, lebih tajam.

Seperti seseorang yang sudah terbiasa menghadapi masalah, meskipun dia berpura-pura tidak peduli.

“Apa kau pernah berurusan dengan orang seperti ini sebelumnya?” tanya Alice saat Noah kembali ke ruang tamu.

Noah berhenti sejenak. “Orang yang merasa berhak atas hidup orang lain?” Dia mengangguk pelan. “Sering.”

Alice tidak bertanya lebih jauh. Ada luka di suara itu.

Sore mulai turun ketika suara mesin terdengar dari kejauhan.

Alice adalah orang pertama yang mendengarnya.

“Tidak,” bisiknya. “Mereka datang.”

Noah langsung bergerak ke jendela. Sebuah SUV hitam muncul di tikungan jalan, melaju perlahan menuju villa. Mobil itu terlalu bersih, terlalu modern, terlalu tidak cocok dengan lingkungan ini.

Sebuah mobil dari dunia Alice.

“Masuk ke belakang,” perintah Noah cepat.

“Jangan buat suara.”

“Apa yang akan kau lakukan?”

“Aku yang akan bicara.”

Alice menggeleng panik. “Tidak. Mereka tidak akan mendengarkanmu.”

“Noah,” katanya, menyebut namanya dengan nada yang membuat dadanya terasa sesak. “Tolong hati-hati.”

Aku bukan orang yang terbiasa dimintai tolong seperti itu.

“Aku selalu hati-hati,” jawab Noah, lalu membuka pintu depan sebelum Alice sempat menghentikannya.

(POV: Noah)

Mobil itu berhenti di depan gerbang.

Dua pria keluar. Keduanya mengenakan mantel hitam panjang. Postur tegap. Wajah datar. Sepatu mereka mahal, bersih dari lumpur. Ini bukan orang-orang lokal.

Salah satu dari mereka melangkah maju. “Kami mencari seorang wanita bernama Alice.”

Nada suaranya sopan. Terlalu sopan.

“Tidak ada siapa-siapa di sini,” jawabku dingin.

“Villa ini kosong.”

Pria itu tersenyum tipis. Senyum yang tidak mencapai mata. “Kami punya informasi yang berbeda.”

Aku berdiri di ambang pintu, tidak memberi mereka ruang untuk masuk. “Informasimu salah.”

Pria kedua melirik ke dalam villa, matanya menyapu ruangan. “Tuan Noah,” katanya tiba-tiba.

“Kami tahu ini bengkel Anda yang merawat kendaraan di kota. Kami tidak berniat menimbulkan masalah.”

Aku menegang. Mereka tahu namaku.

“Kami hanya ingin membawa Nona Alice pulang,” lanjut pria pertama. “Keluarganya sangat mengkhawatirkannya.”

“Kalau dia ingin pulang,” kataku, “dia akan pulang sendiri.”

“Dia sedang bingung,” pria itu berkata lembut. “Dan orang bingung sering membuat keputusan buruk.”

Aku tertawa pendek. “Kau tidak terdengar seperti orang yang peduli pada keputusan seseorang.”

Senyum pria itu menghilang.

“Kau menghalangi urusan yang bukan milikmu,” katanya. “Kami bisa menyelesaikan ini dengan mudah… atau dengan cara lain.”

Aku melangkah maju setengah langkah.

“Ancaman tidak akan membuatku berubah pikiran.”

Hening tegang terbentang di antara kami.

Akhirnya pria itu menghela napas, seolah kecewa.

“Kami akan kembali.”

“Aku menunggu,” jawabku.

Mereka masuk kembali ke mobil dan pergi, meninggalkan jejak ban yang merusak salju di halaman villa.

Aku baru menyadari tanganku mengepal erat saat suara mesin mereka menghilang.

(POV: Alice)

Alice keluar dari persembunyiannya saat Noah menutup pintu.

Wajah Noah terlihat lebih pucat dari biasanya. Ada sesuatu yang berubah di matanya—kemarahan yang tertahan, mungkin juga ketakutan.

“Mereka tahu namamu,” kata Alice pelan.

“Ya.”

“Aku tidak seharusnya menyeretmu ke ini.”

Noah menatapnya lama. Terlalu lama.

“Kau tidak menyeretku,” katanya akhirnya. “Aku melangkah sendiri.”

Air mata Alice jatuh tanpa suara.

“Aku tidak pernah meminta siapa pun membelaku,” katanya terisak. “Aku tidak pernah diizinkan.”

Noah ragu sejenak, lalu melakukan sesuatu yang bahkan tidak dia rencanakan.

Dia menarik Alice ke dalam pelukan.

Tidak keras. Tidak posesif. Hanya cukup untuk menahan tubuhnya yang gemetar. Alice terkejut, lalu membalas, mencengkeram jaket Noah seperti itu satu-satunya hal yang menahannya tetap berdiri.

Untuk sesaat, dunia berhenti.

Tidak ada keluarga. Tidak ada villa. Tidak ada masa lalu atau masa depan.

Hanya dua orang yang sama-sama lelah.

“Aku takut,” bisik Alice.

“Aku tahu,” jawab Noah pelan. “Aku juga.”

(POV: Noah)

Malam itu, aku tidak tidur.

Aku duduk di dekat jendela dengan rokok yang tidak pernah kusulut, memandangi halaman villa.

Aku tahu mereka akan kembali. Orang-orang seperti itu selalu kembali dengan rencana yang lebih rapi.

Pertanyaannya bukan apakah.

Pertanyaannya kapan.

Dan yang lebih penting—apa yang akan kulakukan saat saat itu tiba.

Di lantai atas, Alice akhirnya tertidur. Aku bisa mendengar langkahnya tadi, pelan, ragu, sebelum pintu kamarnya tertutup. Aku berdiri di sini untuk satu alasan sederhana:

Aku tidak akan membiarkan siapa pun mengambil keputusan untuknya lagi.

Bahkan jika itu berarti aku harus kehilangan satu-satunya hal yang kupunya—hidup yang tenang, meskipun menyedihkan, di kota mati bernama Norden.

Di luar, salju yang tersisa mencair, mengalir perlahan menuju tanah.

Jejak-jejak lama menghilang.

Tapi aku tahu, ada beberapa hal yang tidak pernah benar-benar pergi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!