NovelToon NovelToon
Metaforis (Lilin Yang Tak Pernah Padam)

Metaforis (Lilin Yang Tak Pernah Padam)

Status: sedang berlangsung
Genre:Menjual Anak Perempuan untuk Melunasi Hutang / CEO / Dijodohkan Orang Tua
Popularitas:784
Nilai: 5
Nama Author: Yun Alghff

Ria, seorang gadis yang harus menanggung aib kedua orangtuanya seumur hidupnya. Lahir sebagai anak haram. Di belenggu sangkar emas dalam genggaman Ayahnya, di siksa lahirnya, dan di cabik batinnya. Ria terpaksa menikah dengan Pria dingin tak berperasaan bernama Arya. fisik Ria tidak terluka bersama Arya, namun batin Ria semakin tersiksa. Sampai ajal menjemput Ria, Arya baru tahu apa arti kehilangan cinta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yun Alghff, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Di Balik Tirai Kesempurnaan

Malam itu, hujan gerimis membasahi aspal di depan apartemen sederhana tempat Ria tinggal. Arya turun dari mobilnya tanpa payung, membiarkan butiran air mendinginkan kepalanya yang hampir meledak karena berita tentang Ashleen. Ia harus menjelaskan semuanya. Ia harus memberitahu Ria bahwa Ashleen hanyalah bagian dari jebakan Soraya untuk menjatuhkan harga saham perusahaan dan menghancurkan hubungan mereka.

Namun, tepat saat ia akan melangkah menuju lobi, sebuah motor sport berhenti tepat di depan pintu masuk.

Seorang pria muda—Evan, desainer junior yang baru bergabung di tim Ria—melepas helmnya dan memberikan senyuman lebar. Ria turun dari boncengan, tertawa kecil sambil merapikan blusnya yang sedikit basah.

"Terima kasih sudah mengantarku, Van. Maaf ya, aku jadi merepotkan mu gara-gara busway sedang mogok tadi," ujar Ria tulus.

"Sama sekali tidak repot, Ria. Lagipula, mana mungkin aku membiarkan pimpinan timku yang hebat ini kehujanan di jalan?" jawab Evan sambil mengusap air hujan di bahu Ria dengan gerakan yang bagi Arya terlihat sangat intim.

Darah Arya mendidih. Rasa bersalah yang tadi ia bawa seketika berubah menjadi api cemburu yang membakar logika. Selama ini ia mengira Ria sedang menyendiri untuk menyembuhkan luka, namun ternyata ia justru melihat Ria "bahagia" bersama pria lain.

Tanpa berpikir panjang, Arya melangkah maju dari kegelapan. "Jadi, ini alasanmu tidak mau pulang ke rumah?"

Ria dan Evan tersentak. Ria menoleh dan mendapati Arya berdiri dengan pakaian yang basah kuyup, matanya berkilat penuh amarah dan kekecewaan.

"Mas Arya? Sedang apa kau di sini?" tanya Ria, mencoba menormalkan suaranya yang bergetar.

"Siapa pria ini, Ria? Apakah ini caramu membalas masa laluku? Dengan membawa pria asing ke tempat tinggal mu?" suara Arya meninggi, membuat Evan merasa terancam.

"Maaf, Pak, saya hanya rekan kerja—"

"Diam kau!" bentak Arya ke arah Evan. "Pergi dari sini sebelum aku melakukan sesuatu yang membuatmu menyesal!"

Ria menarik napas tajam. Sifat posesif Arya yang kaku kini kembali muncul di saat yang paling tidak tepat. "Mas, cukup! Evan hanya membantuku. Jangan bawa-bawa urusan kantorku ke dalam masalah pribadi kita!"

Setelah Evan pergi dengan perasaan bingung dan takut, Ria menatap Arya dengan pandangan menghina.

"Ternyata kau tidak berubah, Mas. Kau masih pria yang sama—yang berpikir bisa membentak dan mengatur semua orang seolah mereka adalah bawahanmu," desis Ria.

"Aku datang ke sini untuk menjelaskan tentang Ashleen, Ria! Foto itu hanya akal-akalan Soraya!" seru Arya, mencoba meraih tangan Ria namun ditepis dengan kasar.

"Oh, tentang Ashleen? Cinta pertamamu yang sempurna itu?" Ria tertawa sinis, matanya berkaca-kaca. "Kau tidak perlu menjelaskan apa pun. Setelah mendengar rekaman itu, dan sekarang melihatmu bersikap seperti tiran lagi... aku sadar bahwa tempatku memang bukan di sisimu. Aku tidak butuh pria yang mencintaiku karena rasa bersalah, dan aku tidak butuh pria yang memperlakukanku seperti barang miliknya."

Ria berbalik dan melangkah masuk ke lobi. "Pulanglah, Mas. Temui Ashleen mu. Setidaknya dia adalah wanita yang kau pilih karena cinta, bukan karena saham. Biarkan aku hidup tenang sebagai wanita yang 'kau beli' dan sekarang sudah melunasi hutangnya."

"Ria! Tunggu!"

Pintu kaca otomatis itu menutup, dan petugas keamanan apartemen menghalangi langkah Arya. Arya berdiri mematung di tengah hujan yang semakin deras. Ia datang untuk memadamkan api, namun ia justru membawa bensin yang membuat segalanya hangus tak bersisa.

Di dalam apartemennya, Ria merosot di balik pintu, tangisnya pecah. Ia sangat merindukan Arya, namun egonya dan rasa sakitnya terlalu besar untuk membiarkan pria itu masuk kembali.

...****************...

Pagi itu, cahaya matahari yang masuk melalui jendela apartemen kecilnya terasa menyakitkan bagi Ria. Ia berdiri di depan cermin kamar mandi, perlahan-lahan melepas turban sutra yang selama ini menjadi tamengnya di hadapan dunia.

Di bawah pantulan lampu yang dingin, Ria menatap dirinya sendiri.

Rambutnya kini mulai tumbuh kembali, namun tidak beraturan. Ada bagian yang mulai memanjang, namun ada bagian lain yang masih pendek dan tipis—sisa dari perjuangan tubuhnya melawan maut dan efek samping pengobatan pasca-koma. Rambut yang dulu hitam dan berkilau, kini tampak rapuh dan tak berbentuk.

Ria menyentuh helai-helai rambut itu dengan jari yang gemetar. Pikirannya melayang pada sosok Ashleen yang ia lihat di berita kemarin. Ashleen dengan rambut panjang bergelombang yang sempurna, kulit yang sehat, dan aura kecantikan wanita yang tak pernah merasakan hancurnya tubuh di atas meja operasi.

"Bagaimana mungkin aku bisa bersanding dengannya?" bisik Ria parau.

Rasa tidak percaya diri yang sempat terkubur oleh kesuksesan kariernya kini muncul kembali, lebih kuat dan lebih menghancurkan. Di matanya, ia melihat seorang wanita yang 'rusak'. Ia melihat sisa-sisa kematian yang masih menempel di kepalanya. Sementara Arya, pria itu adalah matahari yang terang, dan sekarang di sisinya ada bulan yang sempurna seperti Ashleen.

Ria teringat bagaimana Arya menatapnya semalam di bawah hujan. Apakah tatapan amarah Arya itu benar-benar cemburu, ataukah Arya merasa malu karena istrinya kini harus bersembunyi di balik kain turban sementara ia bisa memiliki wanita sehebat Ashleen?

"Kau hanya wanita kontrak, Ria," batinnya menghakimi. "Kau dibeli saat kau masih cantik, dan sekarang saat kau hancur, kau hanya menjadi beban bagi reputasinya."

Setiap helai rambut yang tak beraturan itu seolah menjadi pengingat bahwa ia tidak akan pernah bisa kembali menjadi Ria yang dulu. Ia merasa seperti sebuah vas bunga yang sudah pecah; meski direkatkan kembali, bekas retakannya akan selalu terlihat.

Saat Ria sedang berjuang dengan air matanya sambil mencoba merapikan letak turbannya, bel apartemennya berbunyi. Ria menghapus air matanya dengan kasar, menarik napas panjang, dan memastikan turbannya terpasang sempurna sebelum membuka pintu.

Ia mengharapkan Arya yang kembali datang untuk memohon. Namun, saat pintu terbuka, jantung Ria seolah berhenti berdetak.

Di depannya berdiri seorang wanita dengan tinggi semampai, mengenakan setelan jas berwarna dusty pink yang sangat elegan. Wajahnya begitu halus tanpa cela, dan rambutnya yang indah tergerai di bahunya.

"Ria Rinjani?" suara wanita itu lembut, namun berwibawa.

Ria terpaku. "Ashleen?"

Ashleen menatap Ria dengan pandangan yang sulit diartikan—bukan kebencian, bukan pula penghinaan yang diharapkan Ria. Ia justru menatap turban Ria dengan tatapan yang penuh rasa ingin tahu.

"Boleh aku masuk? Aku tahu kau sedang sibuk untuk berangkat kerja, tapi apa yang ingin ku sampaikan tidak bisa menunggu," ujar Ashleen.

Ria ragu sejenak, namun harga dirinya melarangnya untuk terlihat lemah. Ia membuka pintu lebih lebar. "Silakan."

Ria terpaku menatap Ashleen yang duduk di sofa kecilnya. Di dalam ruangan sempit ini, Ashleen tampak seperti perhiasan yang sangat berkilau, sementara Ria merasa dirinya hanya bayangan pudar. Tangan Ria tanpa sadar meraba turban yang menutupi kepalanya—pengingat permanen akan leukemia yang hampir merenggut nyawanya. Penyakit yang lahir dari gizi buruk akut karena tekanan keluarganya sendiri, yang memaksa tubuhnya menyerah hingga ke titik nol.

"Kenapa kau di sini, Nona Ashleen?" suara Ria bergetar. "Untuk menunjukkan padaku betapa sempurnanya wanita yang seharusnya berada di samping Arya?"

Ashleen menggeleng perlahan. Ia tidak menatap Ria dengan rasa kasihan, melainkan dengan kekaguman yang jujur.

"Kau salah, Ria. Aku di sini bukan karena aku merasa lebih baik darimu. Aku di sini karena aku merasa kalah," ucap Ashleen lirih.

Ria mengerutkan kening. "Kalah? Kau memiliki segalanya. Pendidikan, kecantikan, dan masa lalu yang indah bersama Arya."

"Masa lalu hanyalah sebuah museum, Ria. Benda mati yang tidak punya detak jantung," Ashleen memajukan duduknya. "Kau tahu? Saat aku mendengar berita tentang kondisimu memburuk karena leukemia itu muncul dua tahun lalu, aku mencoba menghubungi Arya. Aku pikir, di saat dia hancur melihat istrinya sekarat, dia akan membutuhkanku untuk bersandar."

Ashleen menarik napas panjang. "Tapi dia menolak ku mentah-mentah. Dia bahkan tidak melihatku. Selama kau terbaring koma, pria yang kau sebut kaku dan dingin itu menghabiskan malam-malamnya di koridor rumah sakit, tidur di kursi tunggu yang keras, hanya agar dia bisa menjadi orang pertama yang kau lihat saat kau membuka mata."

Ria terdiam. Bayangan Arya yang tidur di kursi rumah sakit yang dingin mulai mengaburkan rasa sakit hatinya.

"Kau bilang dia menikahi mu karena saham? Mungkin awalnya begitu," lanjut Ashleen. "Tapi saham tidak akan membuat seorang pria menangis tersedu-sedu di depan ruang ICU setiap kali dokter bilang harapanmu menipis. Dia menderita, Ria. Dia hidup seperti mayat berjalan selama kau tidak ada di sisinya. Dia menghukum dirinya sendiri dengan bekerja tanpa henti, merasa bahwa gizi buruk yang kau alami adalah kegagalannya sebagai seorang pelindung."

Ashleen tersenyum pahit. "Foto-fotomu saat kau masih sekolah, yang dia ambil di rumah orangtua mu, saat kau masih terlihat pucat dan sakit... dia menyimpannya di laci mejanya. Dia mencintaimu bukan karena kau sempurna, Ria. Dia mencintaimu karena kau adalah satu-satunya wanita yang membuat dia merasa 'dibutuhkan' sebagai manusia, bukan hanya sebagai mesin uang."

Ria menunduk, menatap jari-jarinya. "Tapi lihat aku sekarang, Nona Ashleen. Rambutku tumbuh berantakan. Aku tidak punya energi yang sama seperti dulu. Aku merasa... rusak."

Ashleen berdiri, menghampiri Ria dan memegang bahu wanita itu dengan lembut. "Rambut bisa tumbuh kembali, Ria. Tapi cinta yang tulus seperti yang dimiliki Arya tidak tumbuh di sembarang hati. Dia tidak butuh istri yang sempurna untuk dipamerkan. Dia butuh Ria-nya kembali."

Ashleen melangkah menuju pintu, namun ia berhenti sejenak. "Jangan biarkan Tante Soraya menang dengan membuatmu merasa rendah diri. Kau adalah pejuang yang berhasil bangkit dari kematian. Dan baginya, itu jauh lebih cantik daripada rambut panjang mana pun di dunia ini."

Setelah Ashleen pergi, apartemen itu kembali sunyi. Ria berdiri kembali di depan cermin. Ia perlahan melepas turbannya lagi. Ia melihat rambutnya yang pendek dan tidak rata. Tapi kali ini, ia tidak melihatnya sebagai sebuah kerusakan. Ia melihatnya sebagai bukti bahwa ia telah menang melawan maut.

Tiba-tiba, ponselnya bergetar. Sebuah pesan singkat dari Arya: "Aku di bawah. Aku tidak akan memintamu pulang, aku hanya ingin membawakan bubur ayam langgananmu agar kau tidak lupa sarapan. Aku akan meletakkannya di depan pintu."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!