Lin Xiao, seorang Supreme Alchemist dan petarung tingkat Dewa di "Alam Kayangan", dikhianati oleh kekasih dan sahabatnya demi merebut "Kitab Keabadian". Ia meledakkan jiwanya sendiri, tetapi bukannya musnah, ia bereinkarnasi 500 tahun kemudian ke tubuh seorang tuan muda yang dianggap sampah di sebuah kota kecil di Benua Bawah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ikyar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33
Lin Xiao bersiap pergi. Namun, langkahnya terhenti.
Seorang gadis berdiri menghalangi jalannya.
Gadis itu mengenakan jubah putih polos dengan tudung yang menutupi sebagian wajahnya. Namun, Lin Xiao bisa melihat sepasang mata yang cerah dan jernih, bersinar seperti matahari pagi.
Aura gadis ini aneh. Panas. Sangat panas. Jauh lebih panas dari kultivator api biasa.
"Minggir," kata Lin Xiao dingin.
Gadis itu tidak takut. Dia justru menatap Lin Xiao dengan rasa ingin tahu yang meluap-luap.
"Teknik api yang kau gunakan tadi..." suara gadis itu merdu, seperti lonceng angin. "Itu bukan api Qi biasa. Itu memiliki sifat korosif namun memurnikan. Apakah itu... Api Inti Bumi?"
Lin Xiao menyipitkan mata di balik topengnya. Gadis ini punya pengetahuan luas.
"Bukan urusanmu," Lin Xiao mencoba melangkah ke samping.
Gadis itu menggeser tubuhnya, kembali menghalangi.
"Tunggu! Aku tidak bermaksud jahat. Namaku... panggil saja aku Qing'er," gadis itu tersenyum manis. "Aku membeli sisa Cairan Esensi Api-mu. Aku sudah memeriksanya. Kemurniannya 92%. Bahkan kakekku... maksudku, Guru Alkemis di sekte ini jarang bisa mencapai angka itu."
Qing'er mengeluarkan kantong uang.
"Aku ingin membeli resep pemurnianmu. Sebutkan harganya. 500 Batu Roh? 1000?"
Lin Xiao terdiam sejenak. 1000 Batu Roh adalah jumlah yang sangat besar. Itu cukup untuk membeli senjata tingkat tinggi. Tapi resep pemurnian teknik Supreme Alchemist tidak ternilai harganya.
"Tidak dijual," jawab Lin Xiao tegas.
"Ayolah! Aku sangat penasaran! Kenapa struktur cairanmu bisa stabil tanpa Rumput Pendingin?" Qing'er terus mendesak, matanya berbinar antusias seperti anak kecil yang menemukan mainan baru. "Apakah kau menggunakan teknik getaran? Atau api khusus?"
Lin Xiao mulai kesal. Gadis ini cerewet sekali.
"Dengar, Nona Matahari Kecil," bisik Lin Xiao, mendekatkan wajah bertopengnya ke wajah gadis itu. "Jika kau ingin tahu rahasianya, kau harus belajar seratus tahun lagi. Minggir, atau aku akan menganggapmu musuh."
Aura dingin membunuh terpancar sedikit dari Lin Xiao.
Qing'er tersentak mundur, sedikit terkejut dengan agresivitas itu. "Galak sekali..."
Memanfaatkan celah itu, Lin Xiao mengaktifkan langkah Kilatan Hantu, tubuhnya memudar menjadi bayangan dan menghilang ke dalam kegelapan hutan bambu.
"Hei! Tunggu!" Qing'er mencoba mengejar, tapi bayangan Lin Xiao sudah lenyap tanpa jejak.
Gadis itu menghentakkan kakinya ke tanah dengan kesal.
"Sombong! Awas saja kalau ketemu lagi!" Qing'er menggembungkan pipinya. Tapi kemudian dia tersenyum, menatap botol cairan api yang baru dia beli.
"Alkemis Jubah Hitam... Menarik. Kakek pasti akan kaget melihat ada murid luar yang bisa membuat benda ini. Aku harus mencarinya."
Lin Xiao kembali ke Kebun Herbal Nomor 9 lewat jalan rahasia. Dia memastikan tidak ada yang mengikutinya.
Dia masuk ke gubuk kayu, melepaskan jubah hitam dan topengnya, menyembunyikannya di bawah lantai kayu.
"Panen yang bagus," Lin Xiao menghitung Batu Roh-nya. Total 150 Batu Roh (dari penjualan dan 'ganti rugi' preman).
"Pulang malam lagi, Nak?"
Suara serak Tetua Han terdengar dari sudut ruangan yang gelap. Orang tua itu sedang duduk bersila di atas tempat tidur jeraminya, tidak tidur. Matanya yang tajam menatap Lin Xiao.
"Hanya jalan-jalan mencari angin," jawab Lin Xiao santai.
Tetua Han mendengus. "Angin yang berbau 'Pasar Hantu' dan sedikit bau gosong? Hati-hati. Ketenaran di dunia gelap itu pedang bermata dua. Kau bisa dapat uang cepat, tapi kau juga bisa mati cepat."
Lin Xiao tersenyum tipis. Orang tua ini benar-benar tajam.
"Terima kasih peringatannya, Kek. Tapi aku lebih suka mati cepat daripada hidup miskin dan lambat."
Lin Xiao melemparkan satu botol arak berkualitas tinggi yang dia beli di pasar ke arah Tetua Han.
"Oleh-oleh."
Tetua Han menangkap botol itu. Dia membuka tutupnya, menghirup aromanya, dan matanya berbinar. "Arak Bunga Persik Seribu Tahun? Lumayan juga seleramu."
Tetua Han meneguk arak itu, lalu menatap Lin Xiao dengan pandangan yang sedikit lebih lunak.
"Besok adalah hari pembukaan Paviliun Teknik (Technique Pavilion) untuk murid baru. Dengan uangmu itu, carilah teknik bela diri yang layak. Teknik pedang beratmu terlalu mencolok. Kau butuh sesuatu untuk menutupi jejakmu."
Lin Xiao mengangguk. Itu memang rencananya. Dia butuh teknik gerakan (Movement Technique) yang lebih baik daripada Langkah Kilatan Hantu (yang sebenarnya teknik pembunuh, kurang cocok untuk pertarungan terbuka sekte).
Keesokan paginya.
Matahari bersinar cerah di Puncak Utama Sekte Awan Putih. Paviliun Teknik, sebuah bangunan megah bertingkat lima yang dijaga oleh formasi pertahanan, sudah dipadati oleh murid-murid baru.
Lin Xiao datang dengan pakaian murid luar abu-abu standar. Dia tampak biasa saja, tidak ada yang mengenalinya sebagai "Alkemis Jubah Hitam" semalam.
"Biaya masuk lantai satu: 10 Poin Kontribusi atau 1 Batu Roh," kata penjaga pintu dengan wajah bosan.
Lin Xiao menyerahkan satu Batu Roh. Dia masuk ke dalam.
Lantai satu berisi ribuan rak buku. Ini adalah teknik tingkat dasar (Mortal Grade). Tinju Batu, Langkah Angin, Pedang Air Mengalir.
Lin Xiao menggeleng. Terlalu lemah. Dia berjalan menuju tangga ke lantai dua.
"Lantai dua khusus untuk teknik Tingkat Bumi Rendah. Biaya: 50 Batu Roh."
Lin Xiao membayar tanpa ragu. Uangnya masih cukup.
Di lantai dua, jumlah rak buku lebih sedikit, tapi pengunjungnya lebih elit. Banyak murid senior Tingkat 8 atau 9 di sini.
Lin Xiao menelusuri rak bagian "Teknik Gerakan".
Matanya berhenti pada sebuah gulungan kusam yang diletakkan di pojok paling bawah, penuh debu.
Judulnya: Sembilan Langkah Bayangan Petir (Nine Lightning Shadow Steps).
Lin Xiao mengambilnya dan membaca deskripsinya. Kelebihan: Kecepatan ledakan instan setara petir. Mampu menciptakan bayangan solid. Kekurangan: Sangat sulit dipelajari. Membutuhkan tubuh fisik yang sangat kuat untuk menahan beban G-force saat berakselerasi. Jika fisik lemah, kaki pengguna bisa patah sendiri.
"Sempurna," Lin Xiao tersenyum lebar.
Kebanyakan kultivator fokus pada Qi, fisik mereka lemah. Itulah kenapa teknik ini ditinggalkan. Tapi bagi Lin Xiao yang memiliki Tulang Besi Otot Tembaga, teknik ini diciptakan untuknya.
Dia mengambil gulungan itu dan membawanya ke meja pendaftaran untuk disalin (murid tidak boleh membawa asli).
Saat dia menunggu proses penyalinan, keributan terjadi di pintu masuk lantai dua.
Seorang gadis cantik dengan jubah murid inti berwarna putih-emas masuk, diikuti oleh beberapa pengawal yang menjilat.
"Minggir! Nona Qing'er mau lewat!"
Jantung Lin Xiao berdegup. Itu gadis yang semalam! Ye Qing'er.
Tapi kali ini dia tidak memakai tudung. Wajahnya terlihat jelas. Cantik, dengan mata cerah dan aura bangsawan yang kental. Dia adalah cucu dari Tetua Agung Paviliun Alkimia, putri emas sekte ini.
Lin Xiao segera memalingkan wajah, pura-pura sibuk membaca buku lain. Dia tidak mau identitasnya terbongkar.
Namun, nasib berkata lain.
Ye Qing'er berjalan melewati meja pendaftaran. Hidungnya yang mancung berkedut sedikit. Dia berhenti.
Dia mencium aroma yang familiar. Aroma herbal Rumput Roh Api yang sangat pekat, bercampur dengan bau belerang samar. Aroma yang sama dengan "Alkemis Jubah Hitam" semalam.
Ye Qing'er menoleh cepat. Matanya tertuju pada punggung Lin Xiao yang sedang menunggu salinan buku.
"Hei, Kau!" panggil Qing'er.
Lin Xiao membeku. Sial. Hidung anjing.
Dia berbalik perlahan, memasang wajah polos dan bodoh. "Saya, Senior?"
Qing'er menyipitkan mata, berjalan mendekat, mengamati Lin Xiao dari atas ke bawah.
"Siapa namamu?" tanyanya menyelidik.
"Lin Xiao. Murid Luar dari Kebun Herbal Nomor 9," jawab Lin Xiao dengan nada merendah.
"Kebun Herbal Nomor 9?" Qing'er mengerutkan kening. Itu tempat sampah. Tidak mungkin seorang Grandmaster bersembunyi di sana, kan?
Dia menatap mata Lin Xiao. Mata pemuda ini tampak tenang, terlalu tenang. Tapi tidak ada aura api yang kuat seperti semalam (Lin Xiao menekannya habis-habisan).
"Hmm... mungkin aku salah orang," gumam Qing'er kecewa. "Baumu mirip seseorang. Tapi auramu terlalu lemah."
Qing'er mengibaskan tangannya. "Lupakan. Minggir, kau menghalangi jalanku."
Lin Xiao buru-buru menyingkir. "Baik, Senior."
Qing'er berjalan pergi menuju rak teknik tingkat tinggi.
Lin Xiao menghela napas lega. Hampir saja. Dia mengambil salinan tekniknya dan segera keluar dari Paviliun Teknik.
Namun, dia tidak sadar. Di lantai tiga, sepasang mata lain sedang mengamatinya dari balkon.
Mata itu milik seorang pemuda tampan dengan aura dingin dan pedang merah di punggungnya. Wang Jian. Kakak sepupu Wang Lei (musuh Lin Xiao di kota asal), dan merupakan salah satu dari Sepuluh Murid Terkuat Sekte Luar.
"Lin Xiao..." gumam Wang Jian sambil meremas pagar balkon hingga bengkok. "Jadi ini tikus kecil yang menghancurkan cabang Keluarga Wang di Kota Batu Hijau? Surat dari paman memintaku untuk membunuhnya."
Wang Jian tersenyum kejam.
"Kebun Herbal Nomor 9? Tempat yang bagus untuk 'kecelakaan' yang tidak terdeteksi."
Badai baru sedang berkumpul di atas kepala Lin Xiao.