Lin Xiao, seorang Supreme Alchemist dan petarung tingkat Dewa di "Alam Kayangan", dikhianati oleh kekasih dan sahabatnya demi merebut "Kitab Keabadian". Ia meledakkan jiwanya sendiri, tetapi bukannya musnah, ia bereinkarnasi 500 tahun kemudian ke tubuh seorang tuan muda yang dianggap sampah di sebuah kota kecil di Benua Bawah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ikyar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30
Murid-murid senior yang kebetulan lewat dan mendengar itu langsung berhenti dan berbisik-bisik ngeri. "Nomor 9? Bukankah itu Kebun Kematian?" "Kasihan sekali anak itu. Tiga murid terakhir yang ditugaskan di sana ada yang gila, ada yang lari dari sekte." "Tanah di sana terkutuk. Tidak ada yang bisa tumbuh. Jika target panen tidak tercapai, dia akan dihukum cambuk!"
Lin Xiao menangkap token itu. Dia mendengar bisik-bisik itu, tapi ekspresinya tidak berubah.
"Kebun Herbal?" batin Lin Xiao. Justru ini yang dia inginkan. Akses ke tanaman obat.
"Terima kasih, Diaken," kata Lin Xiao, menyimpan token itu.
"Jangan berterima kasih dulu," bisik Diaken Zhao saat Lin Xiao melewatinya. "Target setoranmu adalah 50 batang Rumput Roh Api per bulan. Jika kurang satu batang saja... bersiaplah untuk diusir dari sekte."
Lin Xiao hanya melirik sekilas, lalu berjalan pergi menuju arah Puncak Obat Spirit.
Di mata Lin Xiao, Diaken Zhao ini sudah masuk dalam daftar "Orang yang akan kubereskan nanti". Tapi sekarang, dia butuh tempat tenang untuk menstabilkan kultivasinya.
Puncak Obat Spirit terletak di bagian belakang area sekte. Semakin jauh Lin Xiao berjalan, semakin sepi suasananya.
Kebun Herbal Nomor 1 sampai 8 terletak di lereng gunung yang subur, dijaga ketat, dan dipenuhi tanaman hijau yang menyegarkan mata.
Tapi Kebun Herbal Nomor 9?
Lin Xiao berdiri di depan gerbang kayu reyot yang hampir rubuh.
Tempat ini terletak di lembah sempit di belakang gunung, di mana sinar matahari jarang masuk. Tanahnya berwarna hitam pekat dan kering, retak-retak seperti kulit kura-kura. Bau belerang samar tercium di udara. Tanaman yang ada di sana layu, berwarna kekuningan, dan tampak menyedihkan.
Di tengah kebun, ada sebuah gubuk kayu kecil.
"Jadi ini 'Kebun Kematian' itu?"
Lin Xiao berjongkok, mengambil segenggam tanah hitam itu. Dia meremasnya. Tanah itu terasa panas di tangan.
Mata Lin Xiao—mata seorang Supreme Alchemist—seketika berbinar.
"Bodoh," gumam Lin Xiao, menahan tawa. "Orang-orang Sekte Awan Putih ini benar-benar bodoh."
Tanah ini bukan tanah mati. Sebaliknya, tanah ini terlalu subur.
Di bawah lembah ini pasti ada pecahan Vena Api Bumi (Earth Fire Vein) yang bocor. Energi api Yang murni terus-menerus naik ke permukaan, membakar akar tanaman biasa yang tidak kuat menahannya.
Itulah sebabnya tanaman biasa mati di sini.
"Tapi bagi tanaman elemen api... atau bagi Alkemis yang ingin menanam bahan tingkat tinggi... ini adalah surga!"
Lin Xiao berdiri, menepuk tangannya.
"Target 50 batang Rumput Roh Api? Diaken Zhao, kau baru saja memberiku tambang emas."
Lin Xiao berjalan menuju gubuk kayu. Dia mendorong pintunya.
Kriet.
Debu berterbangan. Di dalam gubuk, seorang pria tua kurus kering dengan rambut putih acak-acakan sedang tidur mendengkur di atas tumpukan jerami. Dia memeluk botol arak murahan.
"Siapa yang mengganggu tidurku?!" bentak orang tua itu tanpa membuka mata saat Lin Xiao masuk.
"Murid baru. Lin Xiao. Ditugaskan mengurus kebun ini," jawab Lin Xiao.
Orang tua itu membuka satu matanya. Mata itu keruh dan merah, tapi ada kilatan tajam yang tersembunyi jauh di dalamnya.
"Murid baru lagi?" Orang tua itu mendengus, lalu berbalik memunggungi Lin Xiao. "Dengar, Nak. Jangan ganggu aku. Jangan coba-coba menanam apa pun, pasti mati. Lapor saja kau gagal, terima hukuman cambuk, lalu pergi. Itu lebih baik daripada membuang tenaga."
"Namanya Tetua Han?" Lin Xiao melihat papan nama yang tergantung miring di dinding. Bukan tetua sekte, hanya panggilan untuk orang tua.
"Aku akan mencoba menanam," kata Lin Xiao. Dia meletakkan tas perbekalannya.
"Terserah kau. Kuburan di belakang gubuk masih muat satu orang lagi," gumam Tetua Han, lalu kembali mendengkur.
Lin Xiao tidak peduli. Dia keluar dari gubuk, menatap lahan seluas satu hektar yang tandus itu.
Langkah pertama: Modifikasi Tanah.
Dia tidak bisa menutup kebocoran Vena Api Bumi di bawah tanah (dia belum cukup kuat), tapi dia bisa mengarahkannya.
Lin Xiao mengeluarkan pedang hitam Xuan-nya.
Dia mulai menggali parit-parit kecil di tanah dengan pola tertentu. Bagi orang awam, itu terlihat seperti galian irigasi sembarangan. Tapi sebenarnya, Lin Xiao sedang menggambar Formasi Pengumpul Yang (Yang Gathering Array) raksasa di atas tanah.
Dia bekerja sampai malam. Keringat membasahi tubuhnya.
Saat bulan naik, Lin Xiao menyelesaikan galian terakhir.
"Aktifkan!"
Lin Xiao menghentakkan kakinya ke pusat formasi. Dia menyalurkan sedikit Api Roh Ungu ke dalam tanah sebagai pemicu.
Wuuung...
Tanah bergetar pelan. Uap panas yang biasanya menyebar liar dan membakar akar tanaman, kini terhisap masuk ke dalam parit-parit yang dibuat Lin Xiao, mengalir teratur seperti sungai api tak terlihat.
Tanah di antara parit-parit itu perlahan mendingin, menjadi hangat dan lembap—kondisi sempurna untuk menanam. Sementara itu, energi api terkonsentrasi di titik-titik tertentu yang bisa digunakan untuk menanam herbal tingkat tinggi.
"Selesai."
Lin Xiao menyeka keringatnya. Dia mengeluarkan benih Rumput Roh Api yang diberikan Diaken Zhao (biasanya benih ini akan mati dalam 2 hari di sini).
Dia menanam benih itu di titik pertemuan energi.
Dalam hitungan menit, tunas hijau kemerahan muncul dari tanah. Tunas itu tumbuh dengan kecepatan yang bisa dilihat mata telanjang! Daunnya melebar, batangnya menebal, dan warnanya merah menyala yang sehat.
Energi Vena Api Bumi + Teknik Tanam Alkemis Dewa \= Pertumbuhan 10x lipat.
"Dalam tiga hari, ini akan panen," Lin Xiao tersenyum puas. "Dan kualitasnya akan menjadi Tingkat Tinggi."
Tiba-tiba, dia mendengar suara langkah kaki di belakangnya.
Tetua Han, si pemabuk tua, berdiri di ambang pintu gubuk. Botol araknya terjatuh dari tangannya. Matanya yang keruh kini melotot lebar, menatap tanaman yang tumbuh subur di tanah "terkutuk" itu.
"Kau..." suara Tetua Han serak dan bergetar. "Apa yang kau lakukan pada tanahku?"
Lin Xiao berbalik, tersenyum misterius.
"Hanya sedikit berkebun, Kek. Bukankah lebih indah kalau ada warna hijau di sini?"
Tetua Han menatap Lin Xiao, lalu menatap pola parit di tanah. Dia bukan orang bodoh. Dia bisa melihat kerumitan formasi itu.
"Siapa kau sebenarnya?" tanya Tetua Han serius, aura pemabuknya lenyap seketika, digantikan oleh tekanan samar yang membuat Lin Xiao waspada. "Murid Luar biasa tidak mungkin menguasai Formasi Tanah Tingkat 3."
Lin Xiao menyipitkan mata. Orang tua ini... bukan sekadar penjaga kebun. Auranya terasa rusak dan terpecah, tapi sisa kekuatannya masih mengerikan.
"Aku hanya seseorang yang ingin hidup tenang dan menanam obat," jawab Lin Xiao diplomatis. "Jika Kakek tidak bertanya masa laluku, aku juga tidak akan bertanya kenapa seorang ahli Ranah Inti Emas yang terluka parah bersembunyi di kebun sampah ini."
Mata Tetua Han menyipit tajam. Niat membunuh melintas sesaat, lalu padam. Dia tertawa, tawa yang kering dan batuk-batuk.
"Hahaha! Menarik! Menarik! Sekte ini mengirimiku monster kecil."
Tetua Han memungut botol araknya.
"Baiklah, Bocah. Lakukan sesukamu. Asal kau memberiku arak yang enak dari hasil panenmu nanti, aku akan menutup mata."
Tetua Han berbalik masuk kembali ke gubuknya. Tapi sebelum menutup pintu, dia berkata:
"Hati-hati. Diaken Zhao adalah anjing penjilat dari Fraksi Pedang Darah di Sekte Dalam. Jika kau membuatnya marah, dia akan mengirim lebih dari sekadar tugas berat."
Blam. Pintu tertutup.
Lin Xiao berdiri sendirian di bawah sinar bulan.
"Fraksi Pedang Darah?" Lin Xiao menyeringai. "Bagus. Hidup tanpa musuh itu membosankan."
Dia duduk bersila di tengah kebun, mulai berkultivasi menyerap uap energi murni yang keluar dari formasinya sendiri.
Di Sekte Awan Putih, hari pertama Lin Xiao dimulai dengan menanam benih. Benih tanaman, dan benih kekacauan.