NovelToon NovelToon
Penakluk Para Legenda

Penakluk Para Legenda

Status: tamat
Genre:Fantasi / Pendekar / Perubahan Hidup / Fantasi Timur / Tamat
Popularitas:2.5M
Nilai: 4.9
Nama Author: Sigi Tyo

Seorang Dewa Perang yang terbuang dari Alam Dewa karena ulah nya yang dianggap "nakal", hingga membuat kaisar Dewa memohon kepada sang pencipta untuk membuang nya ke alam manusia.

Jalan takdir yang membawa nya ke alam yang baru dengan ingatan yang hilang dan kekuatan yang tersegel.

Mampukah Sang Dewa Perang menemukan jati dirinya..? ikuti kisah ini

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sigi Tyo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Menguak Kebenaran

"Maaf tuan Senopati Kidang Semeleh, ada sesuatu yang penting yang ingin aku sampaikan kepada mu dan juga Yang Mulia Prabu Danar Kencono," kata Bekel Soponyono ketika menghadap sang Senopati di kediamannya.

"Apakah itu sangat penting guru Benowo..?, hingga membuat mu tak sabar menunggu hari Pasewakan Agung..," goda senopati Kidang Semeleh kepada sang Bekel.

Memang keduanya nampak akrab, dan bersahabat baik termasuk dengan Yang Mulia Prabu yang juga bersahabat baik dengan guru Benowo.

"Iya..ini sangat penting, menyangkut masalah kejadian Ndaru Kolocokro, juga bangkitnya kekuatan yang pernah saya ceritakan dahulu."

Mendengar itu Senopati langsung memasang wajah serius.

"Maksud guru..?."

"Nanti aku akan ceritakan jika kita sudah bertemu yang mulia, dan untuk kekuatan yang pernah saya ceritakan ..benar saat ini mereka sudah menampakkan diri bahkan terlihat mengacau di sana sini," kata Bekel Soponyono alias Benowo.

Kidang Semeleh menarik nafasnya, memijit pelipisnya.

"Makin rumit jagat ini.." gumamnya pelan.

"Jika demikian kita harus menghadap Yang Mulia sekarang..," ajak Senopati Kidang Semeleh sambil bangkit dari duduknya, diikuti oleh guru Benowo.

**

"Dia masih muda..mungkin usianya dua puluhan, tapi kekuatannya luar biasa.," kata salah satu anak buah dari Jambumangli menerangkan.

"Apakah itu orang yang sama yang menyatroni hunian ini beberapa waktu yang lalu..?."

"Ampun tetua saat itu saya tak ada di sini, jadi tak tau seperti apa rupanya.., mungkin ndoro ayu tau sesuatu," kata anak buah Jambumangli sambil menatap ke arah Kumala yang juga ada disana.

"A.. a-aku tak begitu yakin paman.. malam itu juga gelap," elak Kumala berkilah.

Jambumangli hanya terdiam," Kita harus hati hati bertindak mulai saat ini, jangan sembrono lagi karena pasti pemerintah akan mengawasi kita setelah kejadian ini."

Anak buah tersebut lalu menjura, menundukkan kepalanya kemudian meninggalkan tempat tersebut.

Setelah kepergian sang anak buah Jambumangli kemudian menatap Kumala.

"Ayah akan menghadap Pemimpin Agung, sekarang kau bersiap siap, ayah juga akan mengabarkan perkembangan mu kepada Yang Mulia Pemimpin Agung," kata Jambumangli memberikan perintah.

Kumala sedikit kaget, entah kenapa kini dirinya malas untuk bertemu dengan pria berusia kurang dari empat puluhan tahun yang menjadi Pemimpin Agung di kelompok Mata Iblis.

"B.. b-bagaimana jika aku tak usah ikut saja..Ayah..?."

"APA...!!," bentak sang ayah kaget, karena tak biasanya putrinya menolak mengikuti pertemuan dengan Pemimpin Agung.

Masih ingat beberapa tahun yang lalu saat itu Kumala merengek untuk ikut bertemu dengan Pemimpin Agung, bahkan saat itu usianya masih sangat muda.

"Ada apa dengan dirimu anakku .?." tanya Jambumangli dengan menurunkan nada bicara nya.

"A.. a-aku tak enak badan Ayah..," katanya sedikit berbohong.

"Cck..tak ada penolakan, kau harus ikut Ayah, sekarang bersiaplah kita akan butuh waktu satu dua hari perjalanan."

Dengan lesu Kumala akhirnya mengikuti apa perintah ayahnya.

**

"Dinda harus berlatih lagi, termasuk harus bisa menaiki kuda, jika selama ini kita hidup terasing di dasar jurang, kini kita sudah kembali di alam bebas, harus bisa berubah."

Kata Jaya Sanjaya menasehati Pelangi.

"Kalau aku sudah mahir naik kuda apa kakang mau membawaku mengembara..?," tanya Pelangi menatap tajam ke arah Jaya Sanjaya, menunggu jawaban nya.

Jaya Sanjaya menarik nafas," Ini perjalanan yang penuh bahaya Dinda, sementara Kakang tak yakin bisa melindungi mu.."

"Aku juga bisa olah Kanuragan Kakang, jangan meremehkan ku..!," dengus Pelangi jengkel.

"Kakang boleh mengujiku..aku bukan wanita lemah," kata Pelangi lagi.

Ya Pelangi memang bukan gadis lemah tingkatan kependekaran nya bahkan sudah mencapai tingkat prajurit emas meskipun masih level awal.

"Baik ayo kita coba berlatih..," seru Jaya mencoba mulai berlatih dengan gadis manis berusia belasan akhir di depannya.

Pelangi langsung maju mulai memainkan jurus jurus tangan kosongnya.

"Hiaaa..!!."

Pelangi mulai menyerang Jaya dengan jurus jurus yang sudah mainkan nya.

Wuuuss..! wuuuuung...!!

Pukulan pukulannya menyasar ke badan Jaya Sanjaya, namun dengan cepat Jaya Sanjaya menghindari hantaman tersebut.

Wuuss..!!

Plaaaakk...!!

Jaya menepis pukulan tersebut, hingga melenceng.

"Sekarang gunakan senjata..!," teriak Jaya Sanjaya memberikan perintah.

Mereka berlatih, dengan Jaya yang mengarahkan jika ada gerakan yang di rasa kurang pas.

Tanpa lelah keduanya berlatih hingga sampai matahari sedikit condong ke barat.

**

"Ada hal apa guru Benowo menghadap ku," tanya pelan Prabu Danar Kencono sambil duduk di taman istana.

Sengaja mereka tak membicarakan masalah tersebut di tempat umum biasa melakukan "Pasewakan", karena ini adalah rahasia sesuai permintaan Senopati Kidang Semeleh.

"Ampun Yang Mulia..hamba baru menghadap sekarang untuk masalah ini."

"Karena hamba juga baru saja mengetahui masalah ini."

"Hmm.. masalah apa..? kelihatan sangat penting dan rahasia sekali," kata Danar Kencono sambil tersenyum.

"Masalah Ndaru Kolocokro..," kata Benowo dengan pelan.

Wajah sang Prabu langsung berubah setelah mendengar bahasan tersebut, kemudian menatap Kidang Semeleh dan Benowo.

"Putri sudah kembali..!," kata Benowo pelan, takut ada yang mendengar padahal mereka sudah di tempat khusus.

"Apa..??." seru Sang Prabu kaget, seketika wajahnya langsung sumringah.

Begitupun dengan Kidang Semeleh yang juga kaget, mendengar berita sang putri yang selama ini sudah di anggap mati bersama adik seperguruan Benowo bernama Jayeng Rono.

"Guru tak membohongiku kan..?."

Benowo menggeleng pelan.

"D...d-dimana sekarang..?," sang prabu mendekat ke arah Benowo.

"Masih di tempat persembunyian nya Yang Mulia, karena hamba masih takut para pemburu itu masih berkeliaran."

"Kapan aku bisa ketemu.. guru..?," kata prabu Danar Kencono antusias.

"Sebentar lagi Yang Mulia menunggu saat yang tepat," kata Benowo.

"Yang penting Yang Mulia Prabu tau berita ini, namun kita tetap harus berhati hati jangan sampai membahayakan nya."

"Ya aku akan menjaga ini semua, jika perlu sekarang aku akan memerangi siapapun yang berniat jahat kepada nya."

Benowo mengangguk," Untungnya saat ini berita penemuan pusaka ada dimana mana jadi para tokoh sakti tak terfokus hanya di satu tempat." katanya.

"Iya guru benar."

**

Jambumangli dan Kumala bersama para anak buahnya sudah setengah perjalanan menuju ke pusat kelompok Mata Iblis.

Butuh waktu dua hari jika berkuda pelan, namun hanya satu hari lebih sedikit jika berkuda sangat cepat seperti saat ini.

"Kita istirahat disini..!," teriak Jambumangli memberikan perintah nya kepada para anak buah nya.

Rombongan itu pun beristirahat disana.

"Apakah perlu mendirikan tenda tuan..?," tanya anak buah Jambumangli sambil menghadap.

"Tak usah, kita cukup duduk dan istirahat saja sambil makan," kata Jambumangli.

Rupanya di seberang jalan dengan tujuan yang berlawanan, nampak sepasang kakek dan nenek sedang beristirahat juga di sana.

Aura wibawa terpancar dari kedua orang sepuh di sana, dengan baju yang putih bersih dan wajah yang nampak bercahaya menampakan jika keduanya bukan dari golongan hitam macan kelompok Mata Iblis.

Mereka saling bertatapan sesaat, nampak sepasang kakek dan nenek yang bersahaja itu menatap tajam ke arah Jambumangli dan rombongan nya.

"Apa perlu saya kasih pelajaran pada mereka tuan..?," kata anak buah Jambumangli melihat tatapan mata dari sepasang sosok di depannya.

Jambumangli hanya menggeleng pelan, sedangkan sosok di depannya terlihat tertawa pelan, nampaknya mereka mendengar perkataan anak buahnya padahal jaraknya lumayan jauh.

____________

Selamat membaca jangan lupa tinggalkan jejak nya...

1
Raysonic Lans™
duh duh
Reza bima
iya,musuhnya lari ga dibunuh, terus bikin perguruan lagi bikin ulah lagi.. begitu seterusnya...ya orangnya itu2 saja
Reza bima
berhenti,tunjukkan surat2nya.. dewa kok begini
Markinyo
rasa kemanusiaan apa? gimana dengan korban yg di bantai oleh perusuh itu?

jgn naif dunk thor..
Markinyo
kelamaan, knp tdk langsung d ikuti ke markas penjahat, langsung d tumpas sekalian..?
Reza bima: bertele-tele..ceritanya
total 1 replies
Markinyo
katanya pembela kebenaran? kelompok pemeras di biarkan..
Markinyo
katanya kl ketemu zirah sayapnya, akan kembali ke Jaya, krn ada roh di zirahnya..
lha ini ktmu kok g kembali ke Jaya thor..

yg bnr mn thor?
Bagian Pendaftaran Cristal Biru Meuligo
Luar biasa
Iskandar Yunaeni
Sepertinya mau jadi kuat nih
Iskandar Yunaeni
Baru mulai
Iskandar Yunaeni
WAH RAME NIH
muh syahlan
mantap.............,/Good//Good//Good//Good/
teguh andriyanto
Luar biasa
Irfan tejo laksono
top
Agus Susanto
Lumayan
left
Luar biasa
left
Lumayan
Dewi Yani
mcnya gila jalan makan istrahat....jalan makan istrahat....lha pusaka udah diambil semua orang...
Zacky yulianto
Luar biasa
Zacky yulianto
Lumayan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!