NovelToon NovelToon
Milik Sang Ketos Dingin

Milik Sang Ketos Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Ketos / Dijodohkan Orang Tua / Perjodohan / Cintapertama
Popularitas:6.6k
Nilai: 5
Nama Author: kasychan_A.S

Bagi Aluna, Arlan adalah musibah berjalan. Ketua OSIS yang kaku, sok suci, dan hobi memberinya hukuman hanya karena masalah sepele.

​Aluna bersumpah tidak akan pernah mau berurusan dengan cowok itu seumur hidupnya. Namun, takdir punya selera humor yang buruk.

​Hanya karena gerendel pintu toilet sekolah yang macet dan sebuah aksi penyelamatan yang salah waktu, Aluna dan Arlan terjebak dalam satu bilik yang sama selama tiga puluh menit. Sialnya, mereka tidak ditemukan oleh teman-temannya, melainkan oleh Bu Lastri guru BK paling kejam seantero sekolah.

​Tuduhan melakukan hal tidak pantas langsung meledak. Penjelasan mereka dianggap bualan. Dan yang lebih gila lagi, kedua orang tua mereka yang ternyata sahabat lama memutuskan bahwa satu-satunya cara menutupi skandal ini adalah dengan pernikahan.

follow IG author:qilla_kasychan
semoga kalian suka

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kasychan_A.S, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16- manjat gerbang

Aluna meloncat dari tempat tidur seolah-olah kasurnya baru saja dialiri listrik. Dengan nyawa yang belum terkumpul sepenuhnya, ia menyambar handuk dan lari tunggang langgang ke kamar mandi. Tidak ada waktu untuk mandi cantik; ia hanya mengguyur badannya secepat kilat, bahkan mungkin ada bagian yang lupa terkena sabun.

​"Aduh, mampus! Bisa-bisa gua kekunci lagi di gerbang!" gumamnya panik sambil berusaha memakai seragam dengan tangan gemetar. Kancing kemejanya bahkan sempat salah masuk lubang, tapi ia tak peduli. Rambutnya yang masih basah dibiarkan tergerai berantakan.

​"Aluna! Sarapan dulu!" teriak Papahnya dari bawah.

​"Nggak sempat, Pah! Aluna bisa jadi santapan singa kalau telat sekarang!" balas Aluna sambil berlari menuruni tangga, hampir saja tergelincir anak tangga terakhir.

​Ia menyambar kunci motor Scoopy nya, memakai helm dengan posisi sedikit miring karena terburu-buru, dan langsung memacu motornya membelah jalanan kota yang mulai padat. Di kepalanya hanya ada satu bayangan menyeramkan yaitu Arlan si robot.

Ia memacu motornya membelah jalanan kota yang mulai padat. Pikirannya benar-benar kacau, hanya ada bayangan wajah datar Arlan dan jarum jam yang terus berdetak. Karena terlalu fokus pada kecepatan dan ketakutannya pada sang Ketua OSIS, Aluna sedikit kehilangan fokus pada kondisi jalanan di depannya.

​Saat melewati sebuah gang perumahan yang cukup ramai, tiba-tiba saja seorang anak kecil berusia sekitar empat tahun berlari ke tengah jalan mengejar bola plastiknya.

​"Aaaaaa!!!" jerit Aluna spontan.

​Mata Aluna membelalak sempurna. Jantungnya serasa berhenti berdetak. Dengan refleks gila-gilaan, ia menarik tuas rem depan dan belakang sekencang mungkin. Ban motornya berdecit keras di atas aspal, menimbulkan suara gesekan yang memilukan telinga.

​Sreeeeeetttt!

​Motor Scoopy-nya oleng ke kanan, hampir saja roboh, namun berhenti tepat hanya beberapa sentimeter dari tubuh mungil anak kecil yang mematung ketakutan itu. Aluna terengah-engah, seluruh tubuhnya gemetar hebat. Adrenalinnya terpompa maksimal, rasa takut menabrak orang jauh lebih besar daripada rasa takutnya pada Arlan saat itu.

​"Ya ampun... Dek! Kamu nggak apa-apa?" Aluna langsung turun dari motor dengan kaki yang masih lemas, menghampiri anak itu.

Seorang wanita paruh baya berlari kencang dari teras rumah sambil berteriak histeris, "Ya Allah, Adek!"

​Wanita itu langsung memeluk anaknya erat-erat, lalu menatap Aluna dengan wajah penuh rasa bersalah dan ketakutan. "Mbak, maaf ya Mbak... maaf banget. Saya tadi lagi lengah sebentar di dapur, nggak tahu kalau dia lari ke jalanan ngejar bola. Aduh Mbak, saya minta maaf ya, Mbak nggak apa-apa kan?"

​Aluna menghela napas panjang, mencoba menenangkan jantungnya yang masih berdegup kencang. "Nggak apa-apa, Bu. Saya juga minta maaf tadi agak ngebut karena udah telat sekolah. Untung remnya pakem, Bu."

​"Iya Mbak, sekali lagi maaf ya Mbak. Ini bener-bener kelalaian saya. Makasih ya Mbak udah sigap ngerem," ucap ibu itu berkali-kali sambil membungkukkan badan.

​"Iya Bu, sama-sama. Saya duluan ya, Bu," pamit Aluna lemas. Ia kembali naik ke motor, tangannya masih sedikit gemetar saat menarik gas. Antara trauma hampir menabrak orang dan panik karena jam sudah menunjukkan angka kritis, Aluna memacu Scoopy-nya lagi menuju sekolah.

Harapan Aluna pupus. Gerbang besi raksasa SMA-nya sudah tertutup rapat dan digembok. Di sana, ia melihat dua sosok yang sangat ia kenal sedang berdiri lemas sambil memegangi jeruji gerbang. Sesya dan Belva.

​"Lo berdua juga?!" seru Aluna sambil memarkirkan motornya asal-asalan, napasnya masih tersengal-sengal.

​"Telat berjamaah kita, Al. Lo kenapa? Muka lo pucat banget kayak kertas?" tanya Sesya heran melihat Aluna yang berkeringat dingin.

​"Gue... gue tadi hampir nabrak anak kecil di jalan. Masih gemeteran nih gue," jawab Aluna jujur.

​"Sstt, diem! Liat tuh di depan kita ada siapa," bisik Belva sambil menunjuk ke arah balik gerbang.

​Di sana, berdirilah tiga kulkas paling ditakuti seantero sekolah Arlan, Barra, dan Darrel. Arlan berdiri paling depan, mengenakan seragam OSIS yang sangat rapi tanpa cela. Ia menatap jam di pergelangan tangannya, lalu menatap tajam ke arah tiga gadis di luar gerbang.

​"Tujuh lewat dua belas. Terlambat dua belas menit," suara Arlan terdengar sangat dingin, seolah ia tidak mau tahu drama apa pun yang baru saja dialami Aluna.

​"Kak, buka dong! Gue tadi hampir kecelakaan di jalan, beneran! Tadi kaki gue masih lemes banget!" rengek Aluna dengan suara yang sedikit bergetar, berharap ada sedikit empati di balik wajah kaku itu.

​Arlan tidak bergeming. Tatapannya tetap datar. "Alasan tetap alasan. Aturan sekolah nggak peduli sama hambatan di jalan. Barra, Darrel, ayo balik ke kelas. Biar mereka nunggu di sini sampai jam pertama mulai."

​Arlan berbalik begitu saja diikuti kedua temannya. Aluna menatap punggung Arlan dengan rasa kesal yang memuncak. "Gila ya itu orang! Nggak punya hati banget."

"Eh, apa kita bolos aja sekalian?" celetuk Sesya tiba-tiba, matanya berbinar licik.

"Mumpung motor masih di luar, kita ke mall atau balik ke kafe semalam yuk? Paling besok cuma dipanggil BK, daripada sekarang dihukum si robot Arlan."

​Belva tampak menimbang-nimbang. "Boleh juga sih. Gue juga males banget dengerin ceramah pagi ini. Gimana, Al? Kita cabut aja?"

​Aluna sempat terdiam. Ide bolos itu terdengar sangat menggiurkan daripada harus menghadapi wajah kaku Arlan. Namun, bayangan wajah Papah dan Mamahnya semalam yang sudah memaafkannya muncul di kepala.

​"Jangan deh," desah Aluna lesu. "Gue baru aja baikan sama nyokap bokap semalam. Kalau gue bolos terus ketahuan, bisa-bisa gue gak dikasih uang jajan selama sebulan. Bisa mati gue."

​"Yah... bener juga sih," Sesya ikut lemas. "Tapi masa kita pasrah dijemur di sini kayak ikan asin?"

​"Nggak," Aluna mendongak, matanya menatap tajam ke arah gedung sekolah. "Kita masuk lewat tembok belakang. Lebih baik dihukum karena ketahuan masuk daripada dihukum karena bolos. Ayo, sebelum Arlan balik lagi!"

Dengan gerakan nekat yang sisa-sisa traumanya masih terasa di kaki, Aluna memimpin kedua sahabatnya mengendap-endap ke area belakang sekolah. Tembok itu cukup tinggi, namun karena sudah sering menjadi jalur darurat, ada beberapa susunan batu yang memudahkan mereka untuk naik.

​"Ayo, Bel! Dorong gue!" bisik Sesya panik.

​"Sstt! Jangan berisik!" balas Aluna yang sudah lebih dulu nangkring di atas tembok.

​Satu per satu mereka berhasil melompat turun.

Aluna mendarat paling akhir.

Bug!

Aluna mendarat dengan posisi tidak sempurna karena kakinya masih sedikit lemas pasca kejadian hampir menabrak anak kecil tadi. Ia meringis pelan, mengusap lututnya yang berdenyut, lalu segera bangkit berdiri.

​"Fiuuh... aman," desah Aluna sambil mengibaskan debu dan serpihan lumut kering dari rok abunya. "Ternyata gampang jug..."

​"Kreatif. Tapi sayangnya, jalur ilegal ini hukumannya tiga kali lipat lebih berat."

​Suara berat dan dingin itu membuat bulu kuduk Aluna berdiri seketika. Jantungnya seolah berhenti berdetak sesaat. Ia menoleh perlahan dengan leher kaku, dan seketika nyalinya menciut.

1
Suo
CIEEE KEINGAT ALUNAA/Grin/
Suo
Fix Aluna sih
Kim Umai
sehabis acara, datang lah pegal² 🤣
Ria Irawati
nanggung lun.. gk usah pulang sampai besok 🤭
Panda%Sya🐼
Aduh-aduh dingin-dingin ternyata peduli ya 🤭🤏
j_ryuka
lalat aja kepeleset apalagi hatinya kakak😭
j_ryuka
gue Tabok juga mulut Lo
Blueberry Solenne
Wkwkwk gila aja ngepel lg. 4. mau sekolah apa jadi OB di suruh ngepel mulu
Blueberry Solenne
Uhuk uhuk cie cie ada yang lagi sating tuhhh, udah pacaran aja kalian
pojok_kulon
Apa sekolahnya akan fokus, apa mereka nggak takut anaknya jadi nggak semangat untuk sekolah laki
pojok_kulon
wah jangan jangan Arlan tuh
Kim Umai
ada aja gebrakan nya tiap hari 🤣
Blueberry Solenne
asiik, serahkan smuanya sama Arkan ketimbang kecoa doang wkwkwk
Blueberry Solenne: Arlan, typo😭😭😭
total 1 replies
Blueberry Solenne
Ett dah udah kek bocil, eh emang bocil ya🤭
Suo
wahh jadi aluna berharap nya lain nih/CoolGuy/
Panda%Sya🐼
Enggak usah marah. Toh si Arlan bukan pacar kamu /Facepalm/
j_ryuka
akhirnya cieeee cieeeee
j_ryuka
hey awas aja kau lyra
Hafidz Nellvers
edyan bisa sama gitu 😱
Hafidz Nellvers
keren orang tuanya 🥳
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!