Xiao Chen kehilangan seluruh keluarganya akibat sebuah rumor tentang Buku Racun Legendaris yang sebenarnya tidak pernah ada. Keserakahan sekte-sekte besar dan para pendekar buta membuat darah tak bersalah tumpah tanpa ampun.
Dihantam amarah dan keputusasaan, Xiao Chen bersumpah membalas dendam. Ia menapaki jalan terlarang, memilih menjadi pendekar racun yang ditakuti dunia persilatan.
Jika dunia hancur karena buku racun yang tak pernah ada, maka Xiao Chen akan menciptakannya sendiri—sebuah kitab racun legendaris yang lahir dari kebencian, kematian, dan dendam abadi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25: Altar Kehidupan
Gerbang raksasa di ujung hutan hancur berkeping-keping bukan oleh ledakan, melainkan oleh pelapukan instan saat Xiao Chen menyentuhnya.
Di baliknya, terbentang Altar Kehidupan, sebuah kompleks bangunan putih berbentuk melingkar yang mengelilingi sebuah pohon raksasa yang bercahaya keemasan—Pohon Primordial.
Di tengah altar tersebut, tiga orang tua berjubah emas murni sedang duduk bersila. Mereka adalah Tiga Tetua Agung Lembah Dewa Obat: Tetua Lang, Tetua Mu, dan Tetua Shi.
Ketiganya berada di Ranah Raja Roh tingkat menengah dan dikenal sebagai penguasa teknik "Penyembuhan Terbalik"—kemampuan untuk memacu regenerasi sel musuh hingga sel-sel tersebut meledak karena kelebihan beban.
"Anak muda, kau telah melanggar kesucian tempat ini," ucap Tetua Lang, yang tertua di antara mereka. Suaranya mengandung getaran energi yang membuat udara di sekitar Xiao Chen berdesis. "Kau membawa kehancuran ke tempat yang hanya mengenal kehidupan. Maka, kehidupanlah yang akan menghukummu."
Tanpa bangkit dari duduknya, ketiga tetua itu menghentakkan tangan ke lantai altar. Cahaya hijau keemasan yang sangat terang memancar dari bawah kaki Xiao Chen, Ling, dan Bai.
"Teknik Agung: Pertumbuhan Tanpa Batas!"
Seketika, Ling menjerit kecil. Ia merasakan sel-sel di tubuhnya mulai membelah diri dengan kecepatan ribuan kali lipat.
Rambutnya memanjang dalam hitungan detik, dan otot-ototnya mulai membengkak secara tidak wajar. Ini adalah serangan yang mengerikan; musuh tidak dibunuh dengan racun, melainkan dipaksa "tumbuh" hingga tubuh mereka hancur karena tidak mampu menampung volume daging yang tercipta.
Xiao Chen mendengus dingin. Ia melangkah di depan Ling, meletakkan tangannya di dahi muridnya itu. "Ling, ingatlah hukum dasar kita. Kehidupan yang tidak terkendali adalah kanker. Dan kanker adalah makanan bagi racun."
Xiao Chen menyuntikkan Qi hitamnya ke dalam tubuh Ling, seketika menghentikan pembelahan sel yang liar itu dan mengubah energi pertumbuhan tersebut menjadi bahan bakar bagi Sembilan Racun Alami milik Ling.
Bai, yang melihat tuannya diserang dengan teknik cahaya, merasa sangat terhina. Tubuhnya mulai memancarkan uap perak yang sangat dingin, dan pupil vertikalnya membelah menjadi tiga.
"Kalian menyebut ini kehidupan?" Bai tertawa melengking, suara yang penuh dengan kegilaan dan obsesi. "Kehidupan tanpa Tuanku adalah kekosongan! Dan kekosongan harus dimusnahkan!"
Bai melesat maju, namun Tetua Mu mengangkat tangannya, menciptakan dinding cahaya yang mampu meregenerasi dirinya sendiri setiap kali Bai mencakarnya. "Monster! Kau tidak akan bisa menembus Cahaya Primordial kami!"
"Benarkah?" Xiao Chen muncul di samping Bai secara tiba-tiba, tangannya yang bersisik hitam menyentuh dinding cahaya itu.
"Seni Kaisar Racun: Pembusukan Inti Sel!"
Saat jari Xiao Chen menyentuh cahaya tersebut, warna keemasan itu mulai berbintik-bintik hitam. Cahaya itu tidak lagi meregenerasi; ia mulai "sakit". Penyakit itu merambat melalui energi hingga mencapai tangan Tetua Mu.
"A-apa ini?! Energi hidupku... membusuk?!" Tetua Mu berteriak ngeri saat melihat tangannya mulai layu dan rontok menjadi abu, meskipun teknik penyembuhannya sedang aktif.
Xiao Chen tidak memberikan mereka waktu. Ia melompat ke udara, jubah abu-abunya berkibar seperti sayap malaikat maut. Dari tubuhnya, keluar ribuan benang ungu yang sangat tipis, menghubungkan dirinya dengan setiap tanaman dan setiap pendekar di altar tersebut.
"Kalian bangga dengan Pohon Primordial ini karena ia memberikan kehidupan abadi," ucap Xiao Chen, suaranya bergema seperti guntur. "Tapi hari ini, aku akan menunjukkan bahwa maut adalah guru yang lebih jujur."
Xiao Chen menarik benang-benang itu. Seketika, energi kehidupan dari pohon raksasa itu berbalik arah.
Daun-daun emasnya rontok dan berubah menjadi hitam. Ketiga Tetua Agung mencoba menahan arus energi itu, namun mereka justru terhisap masuk ke dalam pusaran maut Xiao Chen.
"Guru, biarkan aku!" teriak Ling. Ia melompat ke arah Tetua Shi yang sedang melemah. Dengan tangan yang kini dilapisi racun pelangi hasil serapan hutan, Ling menghantamkan tinjunya tepat ke jantung tetua itu.
BUM!
Bukan ledakan fisik, melainkan ledakan biologis. Tubuh Tetua Shi seketika ditumbuhi oleh jamur-jamur hitam yang beracun, melahap seluruh energinya dalam sekejap hingga ia hanya menyisakan kerangka yang dibalut lumut hitam.
Bai tidak mau kalah. Ia menerjang Tetua Lang dan Tetua Mu, mencabik mereka dengan kecepatan yang tak terlihat, mengubah mereka menjadi potongan es perak yang kemudian mencair menjadi genangan cairan korosif.
Altar Kehidupan yang tadinya suci kini telah berubah menjadi taman kematian yang mengerikan.
Pohon Primordial yang agung kini berdiri sebagai batang hitam yang layu, namun di puncaknya, sebuah buah berwarna merah darah dan hitam mulai tumbuh—inilah hasil distilasi seluruh energi kehidupan yang telah diracuni oleh Xiao Chen.
Xiao Chen mendarat dengan tenang, Bai langsung memeluk pinggangnya dengan erat, menyembunyikan wajahnya di dada Xiao Chen. "Tuanku... kau sangat tampan saat menghancurkan harapan mereka." bisik Bai dengan napas yang memburu.
Xiao Chen mengambil buah itu. "Ini bukan lagi buah kehidupan. Ini adalah Buah Inkarnasi Maut. Dengan ini, jalanku menuju Ranah Kaisar Racun sudah terbuka lebar."
Ia menatap ke arah bangunan utama di belakang pohon yang mulai runtuh. "Pemimpin Lembah... keluarlah. Aku tahu kau sedang memegang Tanaman Primordial Hidup dan Mati. Jangan buat aku harus meratakan seluruh benua ini hanya untuk menemukanmu."
Silat Nusantara • Kultivasi • Dunia Purba • Dimensi
MC tidak naif.
Kekuatan dibangun dari raga, napas, dan kehendak.
👉 Jika suka progres nyata & cerita panjang,
jangan lupa favorit & komentar.