Freen Sarocha adalah seorang penipu ulung yang hidup dari rasa takut orang lain. Berbekal minyak melati, bubuk kunyit, dan trik kabel listrik, ia sukses membangun reputasi sebagai "Paranormal Sakti" demi menguras dompet para orang kaya yang percaya takhayul. Baginya, hantu itu tidak nyata—mereka hanyalah peluang bisnis.
Namun, keberuntungan Freen berakhir saat ia menginjakkan kaki di rumah tua milik sahabatnya, Nam.
Di sana, ia bertemu dengan sesuatu yang tidak bisa ia tipu dengan trik pencahayaan. Sosok arwah bernama Chanya tidak hanya mengusir Freen, tapi juga memberikan hukuman paling kejam bagi seorang penipu: Membuka Mata Batinnya secara paksa.
Kini, dunia Freen berubah menjadi mimpi buruk. Ia melihat sosok-sosok mengerikan di setiap sudut jalan, di punggung orang asing, dan di bawah lampu merah. Hanya ada satu cara agar ia bisa kembali menjadi "normal": Freen harus berhenti berpura-pura dan mulai menjadi paranormal sungguhan.
Terjebak dalam konspirasi pembunuhan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Princss Halu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perjalanan menuju Ubon Ratchathani
Nam segera beralih dari mode mode liburan ke mode researcher yang panik. Matanya terpaku pada tablet, mencari petunjuk tentang "Candi Bayangan" atau kuil dengan reputasi ilusi di perbatasan Thailand-Laos.
"Freen, tidak ada kuil yang secara eksplisit bernama 'Candi Bayangan' dalam data resmi atau legenda populer," lapor Nam, mengetik dengan kecepatan tinggi.
"Tapi ada banyak kuil yang sangat terpencil, terutama di provinsi Ubon Ratchathani, di mana taman nasional Phu Chong–Na Yoi berbatasan langsung dengan Laos dan Kamboja. Daerah itu dikenal sangat terisolasi dan penuh dengan formasi batuan aneh serta air terjun tersembunyi."
"Candi Bayangan berarti itu bukan kuil fisik, Nam, tapi tempat spiritual yang tidak terlihat," kata Freen, memikirkan kembali peringatan Mae Nakha. "Mae Nakha bilang 'tempat ilusi dan manipulasi'. Cari kisah tentang tempat di mana pandangan atau realitas sering berubah-ubah di perbatasan itu."
Nam mengubah kuerinya: "tempat mitos ilusi perbatasan Ubon Ratchathani"
"Aku menemukan sesuatu!" seru Nam, menarik napas. "Ada legenda lokal di sekitar Phlan Kong Kwian—sebuah teras batu luas di Taman Nasional Phu Chong–Na Yoi. Tempat itu dijuluki 'Tanah Gagal Paham'. Konon, roh-roh di sana suka memanipulasi pikiran orang yang lewat, membuat mereka melihat ilusi, mengubah jalur, dan menjebak mereka dalam bayangan takdir yang berbeda."
"Itu terdengar sangat mirip dengan 'Candi Bayangan'," Freen mengangguk, merasa dingin.
"Tempat di mana realitas dipertanyakan, tempat yang sempurna untuk 'ujian' tentang kelayakan. Ini adalah tempat di mana Takdir akan melihat apakah aku bisa membedakan realitas dari ilusi, dan apakah aku akan melepaskan Mustika itu hanya karena dipaksa oleh manipulasi spiritual."
"Phu Chong–Na Yoi National Park," Nam segera menandai lokasi itu di peta. "Kita akan naik pesawat ke Ubon Ratchathani, menyewa mobil, dan menuju ke Taman Nasional itu. Kita harus mencari Phlan Kong Kwian."
Freen mengambil ranselnya. "Kita berangkat sekarang, Nam. Aku akan memakai kembali Mustika ini. Kita harus siap menghadapi apa pun ujian, ilusi, manipulasi, dan kemungkinan harus berhadapan langsung dengan pemilik Mustika Merah Delima."
Nam menatap Freen. "Ingat kata Mae Nakha: jangan percaya apa pun yang kau lihat atau kau dengar. Percayai nalurimu... dan aku."
Freen tersenyum. "Ayo, Nam. Kita hadapi ujian Takdir ini bersama."
Freen berhenti sejenak saat memasukkan survival kit ke dalam ranselnya—sepasang pakaian ganti yang tebal, senter LED berkekuatan tinggi, baterai cadangan, dan pisau lipat multifungsi. Ia sedang berpikir tentang peringatan Mae Nakha mengenai 'ilusi'.
Nam, yang sibuk di laptop memesan tiket pesawat ke Ubon Ratchathani dan mengatur penyewaan mobil off-road, menoleh ke Freen.
"Ingat Freen, ini ujian," kata Nam, matanya serius. "Kemungkinan mereka ingin tahu seberapa layak kamu memegang karma ini dan memiliki batu itu. Jangan gegabah."
Freen mengangguk, lalu Nam melanjutkan, memicu pemikiran yang membuat Freen terdiam.
"Tapi jika ini panggilan dari pemilik batu, kenapa bukan si 'Sun' yang ambil?" lanjut Nam, merenung sambil menekan tombol konfirmasi pemesanan tiket.
Freen menoleh dan mengerutkan keningnya. "Sun? Siapa Sun? Kita tidak pernah bertemu orang atau hantu bernama Sun." Freen benar-benar bingung dengan nama baru ini.
Nam menepuk dahinya. "Astaga, Freen. Sun itu bahasa Inggris! Maksudku, si Matahari, harusnya dia yang meminta batu itu. Karena dialah orang yang memberikannya kepadamu secara langsung. Ingat, Mustika Merah Delima itu terasa panas, seperti matahari!"
Freen terdiam sejenak. Pikiran itu masuk akal. Mustika Merah Delima, yang memancarkan aura panas dan energi kehidupan, terasa kontras dengan aura dingin dan menipu dari Mae Nakha.
"Kau benar, Nam," kata Freen, mengambil Mustika itu dari lehernya dan mengamatinya. Batu itu memang memancarkan kehangatan yang stabil.
"Pesan itu datang dari sumber otoritas yang lebih tinggi daripada Mae Nakha, seseorang yang bisa mengendalikan 'alat' yang ia gunakan."
"Jadi, kita mungkin akan menghadapi sumber kekuatan yang memberi Mae Nakha kekuatannya, entitas yang lebih tua atau lebih tinggi," simpul Nam, kini kembali ke tabletnya untuk mencari informasi tentang mitologi Matahari dalam kepercayaan Thai-Lao.
"Kita harus membawa bukti dari kesuksesan kita, Nam," kata Freen, mengambil cek besar dari Khun Rinda dan memasukkannya ke dalam saku tersembunyi.
"Kita akan tunjukkan bahwa meskipun kita melampaui batas, kita melakukannya untuk kebaikan, menggunakan uang yang kita dapat untuk tujuan baik. Itu adalah karma terbaik kita."
Mereka berdua menyelesaikan pengepakan mereka: ransel survival yang sempurna, logistik perjalanan yang terencana, dan pemahaman yang lebih dalam tentang bahaya yang menanti.
"Ayo, Nam," kata Freen. "Kita terbang ke Ubon. Kita akan menunjukkan kepada 'pemilik' Mustika Merah Delima, atau siapa pun di Candi Bayangan itu, bahwa alat mereka telah berevolusi menjadi agen takdir yang mandiri."
Freen dan Nam meninggalkan rumah mereka dengan ransel survival yang terisi penuh. Suasana di dalam mobil taksi online yang membawa mereka ke Bandara Internasional Don Mueang terasa sunyi dan penuh antisipasi.
Nam, meskipun merasa takut, mencoba meredakan ketegangan dengan memeriksa ulang logistik. "Aku sudah memesan mobil SUV dengan sistem four-wheel drive di Ubon. Kita akan langsung mengambilnya di bandara dan menuju ke Taman Nasional Phu Chong–Na Yoi. Jalurnya akan sulit."
"Bagus," jawab Freen, pandangannya lurus ke depan.
Freen mengenakan Mustika Merah Delima, yang kini terasa lebih hangat dari biasanya, seolah menyalurkan kesiapan untuk pertemuan besar.
"Kita harus berada di 'Candi Bayangan' itu pada waktu yang tepat. Pesan itu tidak menyebutkan jam, tapi kuil spiritual seringkali mengharuskan kehadiran saat fajar atau senja."
Freen mengambil napas dalam-dalam. "Nam, saat kita berada di Candi Bayangan, kau harus berhati-hati. Mae Nakha bilang ini tempat ilusi. Apa pun yang kau lihat, betapa pun meyakinkannya, itu bisa jadi palsu. Mungkin kau akan melihat orang yang kau cintai dalam bahaya, atau tawaran yang mustahil. Jangan pernah bereaksi impulsif."
"Aku mengerti, Freen," kata Nam, menggenggam tas ranselnya yang berisi peralatan komunikasi dan perlengkapan P3K.
"Aku akan berpegangan pada kenyataan: aku adalah Nam, aku di sini untuk Freen, dan aku tidak memiliki kekuatan spiritual. Itu adalah perisai terkuatku."
Setibanya di bandara, Freen dan Nam bergerak cepat dan efisien. Mereka membeli beberapa bekal tambahan—air minum yang banyak, makanan ringan berenergi tinggi—sebelum check-in.
Saat mereka menunggu di ruang tunggu, Freen sekali lagi merenungkan pesan 'Sun' yang disampaikan Nam.
"Nam, aku merasa bahwa entitas yang memanggilku ke Candi Bayangan ini ingin mengambil kembali Mustika Merah Delima, bukan karena aku gagal, tapi karena aku berhasil melampaui tugas yang ditetapkan. Aku menjadi terlalu kuat," kata Freen pelan.
"Maka kita akan bernegosiasi," balas Nam, menyandarkan bahunya ke bahu Freen.
"Kita akan tunjukkan semua karma baik yang sudah kita ciptakan. Jika mereka ingin mengambilnya, mereka harus melihat buktinya. Mustika itu bukan hanya alat, itu adalah bagian dari dirimu sekarang, Freen."
Panggilan untuk penerbangan mereka ke Ubon Ratchathani terdengar. Freen dan Nam bertukar pandang penuh makna. Mereka melangkah maju, meninggalkan hiruk pikuk Bangkok menuju perbatasan timur laut Thailand, menuju ujian spiritual yang bisa mengubah takdir Freen Sarocha untuk selamanya.