Nara adalah seorang gadis yang baru saja pindah ke apartemen baru setelah putus cinta. Sialnya, tetangga sebelah unitnya adalah Rian, cowok paling menyebalkan, sombong, dan perfectionist yang pernah Nara temui.
Mereka berdua terlibat dalam sebuah insiden konyol (seperti kunci tertinggal atau salah kirim paket) yang membuat mereka harus sering berinteraksi. Karena sering berisik dan saling komplain ke pengelola apartemen, mereka akhirnya membuat "Kontrak Damai". Salah satu aturannya adalah: Dilarang keras baper (jatuh cinta) satu sama lain.
Tapi, kita semua tahu, aturan dibuat untuk dilanggar, kan? 😉
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon salsabilah *2009, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Markas Rahasia di Vila dan Jempol Sakti Nara
Suasana di vila Bogor yang tadinya syahdu mendadak berubah jadi War Room. Rian udah nggak lagi pakai kemeja rapi, dia cuma pakai kaos kutang putih (yang tetep kelihatan keren karena badannya emang kebentuk) dan celana pendek. Di depannya ada tiga layar monitor portable yang dia bawa dari bagasi mobil.
Sementara Nara? Dia udah stand-by dengan daster buah naganya, rambut diikat cepol berantakan pakai pensil, dan laptop tempur kesayangannya yang penuh stiker kucing.
"Oke, Mas. Jadi rencana kita apa? Kita mau bikin video ekspos ala-ala akun gosip atau gimana?" tanya Nara sambil ngelemesin jari-jarinya kayak mau main piano.
Rian nengok ke Nara, matanya tajam banget tapi penuh kepercayaan. "Bukan video gosip, Nara. Itu terlalu receh. Kita mau bikin 'presentasi kematian' buat Pak Handoko di rapat umum pemegang saham lusa. Saya punya data aliran dananya, saya punya rekaman suara dia pas lagi nyuruh Karin lewat Bima... tapi saya butuh kamu buat ngerangkai semua itu jadi visual yang bisa bikin semua orang di ruangan itu langsung melongo."
Nara nyengir nakal. "Gampang itu mah! Kita bikin infografis yang sat-set-das-des, kita kasih animasi yang bikin jantung mereka copot, terus kita selipin bukti digital yang nggak bisa dibantah. Mas Rian cukup berdiri di sana, sok keren kayak biasanya, biar saya yang urus 'senjata' di layar."
"Oky. Tapi inget, Nara. Pak Handoko itu licik. Dia pasti bakal coba cari celah buat bilang kalau data kita itu hoaks atau editan."
Nara langsung nepuk dadanya kencang. "Mas, di depan Mas ini ada desainer yang kemarin baru aja ngebongkar editan kasarnya si Karin. Saya tahu mana pixel yang asli, mana pixel yang manipulasi. Kalau dia bilang ini hoaks, saya bakal tantang dia buat bedah file-nya langsung di depan semua orang!"
Rian senyum bangga. Dia narik kursi Nara biar makin deket sama dia. "Saya suka semangat kamu. Sekarang, ayo kita mulai gempur."
Mereka berdua begadang semalaman. Vilanya jadi saksi bisu gimana dua orang dari dunia beda ini kerja sama bareng. Rian yang jago analisis angka dan strategi, ketemu sama Nara yang punya visualisasi luar biasa.
Pas jam dua pagi, Nara mulai ngantuk. Kepalanya sesekali manggut-manggut hampir kena keyboard. Rian yang liat itu langsung berhenti ngetik. Dia narik kepala Nara pelan-pelan biar nyender di bahunya.
"Istirahat dulu, Nara. Jangan dipaksa," bisik Rian pelan.
"Dikit lagi, Mas... ini transisi animasinya harus mulus banget biar Pak Handoko kena mental," igau Nara setengah sadar.
Rian nggak tega. Dia langsung matiin laptop Nara (setelah di-save, tentu saja). Dia gendong Nara ke kasur empuk di kamar sebelah. Pas mau ditaruh di kasur, Nara tiba-tiba meluk leher Rian erat banget.
"Mas... jangan jauh-jauh. Takut ada hantu dinosaurus," gumam Nara dalam tidurnya.
Rian ketawa kecil. Dia duduk di pinggir kasur sambil ngelus rambut Nara. "Nggak ada dinosaurus, Nara. Cuma ada saya di sini."
Rian akhirnya ketiduran sambil duduk di pinggir kasur Nara, sambil tetep megang tangan cewek yang udah jadi belahan jiwanya itu.
Besok paginya, mereka langsung gas balik ke Jakarta. Rian bener-bener berubah jadi mode "Sultan Marah". Dia udah pesen ke asistennya, Sarah, buat nyiapin ruangan rapat paling besar dan ngundang semua pemegang saham, termasuk Pak Handoko.
"Siap, Mas?" tanya Nara pas mereka udah sampai di lobi gedung kantor Rian yang menjulang tinggi.
Nara hari ini beda banget penampilannya. Dia pakai setelan jas wanita warna krem yang bikin dia kelihatan profesional tapi tetep asyik. Rian sendiri pakai kemeja sage green yang baru mereka beli kemarin. Kompak parah!
"Siap. Kamu tenang aja, Sarah bakal temenin kamu di ruang kontrol. Kamu yang megang kendali layarnya. Pas saya kasih kode 'eksekusi', kamu lepas semua buktinya," instruksi Rian.
Rapat dimulai. Suasana di ruang rapat tegang banget. Pak Handoko duduk di ujung meja dengan senyum meremehkan. Dia ngerasa udah menang karena skandal Rian dan Karin kemarin sempat bikin saham Rian turun dikit.
"Rian, saya dengar kamu lagi sibuk ngurusin mantan ya? Sayang sekali, harusnya kamu fokus ke bisnis, bukan drama percintaan murahan," sindir Pak Handoko sambil ketawa sombong.
Rian cuma senyum tipis. Dia berdiri, ngebenerin kacamatanya. "Terima kasih atas perhatiannya, Pak Handoko. Tapi justru karena drama itulah, saya nemuin sesuatu yang jauh lebih menarik daripada sekadar urusan mantan."
Rian ngasih kode ke kamera di sudut ruangan. Di ruang kontrol, Nara langsung mencet tombol Enter dengan mantap.
ZAP!
Layar besar di depan semua orang langsung berubah jadi hitam, terus muncul tulisan besar: "DI BALIK LAYAR MANIPULASI DIGITAL: SIAPA DALANG SEBENARNYA?"
Satu ruangan langsung bisik-bisik. Pak Handoko mulai gelisah. Layar nampilin bukti transfer dari perusahaan cangkang milik Pak Handoko ke rekening Karin. Terus muncul rekaman suara yang jernih banget—hasil cleaning audio dari Nara—di mana Pak Handoko lagi nyuruh orang buat ngerusak sistem keamanan apartemen Rian biar Karin bisa masuk.
"I-ini fitnah! Ini semua editan!" teriak Pak Handoko sambil berdiri, mukanya merah padam.
Rian jalan mendekat ke arah Pak Handoko. "Editan, Pak? Di ruang kontrol saya ada ahli desain grafis yang sudah membedah setiap byte dari data ini. Jika Bapak mau, kita bisa panggil polisi cyber sekarang juga buat cek keasliannya."
Nara dari ruang kontrol langsung nampilin foto Pak Handoko yang lagi ketemuan sama Karin di sebuah kafe tersembunyi. Fotonya jernih banget, hasil zoom dan enhance tingkat dewa dari Nara.
"Skakmat, Pak Handoko," ucap Rian dingin.
Ruangan itu mendadak ricuh. Para pemegang saham lainnya langsung berdiri dan nuntut penjelasan dari Pak Handoko. Rencana Pak Handoko buat jatuhin Rian malah jadi bumerang yang bikin kariernya sendiri tamat saat itu juga.
Setelah rapat selesai dan polisi dateng buat bawa Pak Handoko (karena ini udah masuk ranah kejahatan korporasi dan pencemaran nama baik), Rian langsung lari ke ruang kontrol.
Dia nemuin Nara yang lagi lemes di kursi, saking groginya tadi.
"NARA! Kita berhasil!" Rian langsung meluk Nara dan muter-muterin dia di udara.
"Mas! Pusing! Hahaha! Mas, tadi liat nggak muka Pak Handoko pas fotonya muncul? Lucu banget kayak orang nahan pup!" seru Nara kegirangan.
Semua orang di kantor ngeliatin mereka dengan tatapan kagum. Sarah, asisten Rian, cuma bisa geleng-geleng kepala. "Pak Rian, ini asisten Bapak beneran luar biasa. Saya hampir nggak percaya dia bisa ngerjain presentasi sekompleks itu dalam waktu semalam."
"Dia bukan cuma asisten, Sarah. Dia itu... penyelamat saya," ucap Rian sambil natap Nara dengan penuh cinta.
Malam itu, mereka ngerayain kemenangan di rooftop kantor. Cuma ada mereka berdua, ditemenin lampu-lampu kota yang kelap-kelip.
"Mas," panggil Nara sambil minum soda.
"Ya?"
"Masalah udah beres semua kan? Karin udah ilang, Pak Handoko udah di kantor polisi... sekarang kita bisa tenang?"
Rian ngerangkul pinggang Nara, narik dia makin deket. "Iya, Nara. Sekarang tinggal kita berdua. Nggak ada lagi rahasia, nggak ada lagi kontrak-kontrak kaku."
Rian ngambil sesuatu dari sakunya. Bukan cincin, tapi sebuah kunci.
"Ini kunci unit 402 yang baru. Dan ini..." Rian ngasih satu kunci lagi yang ada gantungan kunci buah naga warna emas. "...kunci rumah masa depan kita yang lagi saya bangun. Saya mau kamu yang pegang duluan, biar kamu tahu kalau di mana pun saya berada, rumah saya itu ada di kamu."
Nara nangis terharu. Dia nggak nyangka perjalanan dari tetangga yang saling benci karena suara berisik, bisa berakhir seindah ini.
"Mas... makasih ya. Mas beneran bukan robot lagi. Mas itu... ksatria saya yang paling keren!"
Nara langsung nyium pipi Rian, terus dia lari-lari kecil di rooftop sambil teriak, "GUE JADIAN SAMA SULTAN DAN GUE BAHAGIAAAAA!"
Rian cuma bisa ketawa ngelihat tingkah konyol pacarnya itu. Dia tahu, hidupnya mungkin nggak bakal pernah tenang karena Nara bakal selalu bawa keributan. Tapi Rian sadar, keributan itulah yang bikin jantungnya bener-bener ngerasa hidup.