Sekar Arum, gadis desa Plumbon, memiliki cinta yang tak biasa: wayang kulit. Ia rela begadang demi menyaksikan setiap pertunjukan, mengabaikan cemoohan teman-temannya. Baginya, wayang adalah jendela menuju dunia nilai dan kearifan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Gemini 75, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayangan di Keramaian
Malam itu, Sekar Arum sulit tidur. Ia terus memikirkan percakapan dengan Bapak dan Ibunya. Ia takut dengan omongan orang, tapi ia juga tidak ingin menyerah pada impiannya.
Selain itu, ia juga penasaran dengan sosok yang mengawasinya dari kejauhan. Siapa dia? Apa yang dia inginkan?
Namun, di atas semua itu, ada semangat baru yang membara di dalam dirinya. Ia bertekad untuk membuktikan kepada semua orang bahwa ia bisa sukses tanpa melanggar norma dan aturan yang ada. Ia ingin menunjukkan kepada Dalang A bahwa ia punya bakat yang layak diperhitungkan.
Keesokan harinya, Sekar Arum bangun dengan semangat baru. Ia bertekad untuk fokus pada persiapan penampilannya. Ia ingin memberikan yang terbaik di atas panggung nanti.
Setelah membantu Ibunya mengerjakan pekerjaan rumah, Sekar Arum berangkat ke sekolah. Ia bertemu dengan Lintang di depan gerbang sekolah.
"Kar, kamu kok kayaknya semangat banget hari ini?" tanya Lintang, heran.
"Iya nih, Lin. Aku udah siap buat menghadapi hajatan besok!" jawab Sekar Arum, tersenyum lebar.
"Wah, keren! Aku jadi nggak sabar pengen nonton kamu," kata Lintang, antusias.
"Kamu jangan lupa datang ya, Lin. Aku butuh dukunganmu," pinta Sekar Arum.
"Pasti dateng dong! Aku kan sahabatmu," jawab Lintang, merangkul Sekar Arum.
Di kelas, Sekar Arum berusaha untuk fokus pada pelajaran. Namun, pikirannya melayang pada lagu yang akan ia bawakan, kostum yang akan ia kenakan, dan penonton yang akan menyaksikannya.
Saat istirahat, Sekar Arum dan Lintang duduk di kantin sekolah. Mereka berbincang-bincang tentang rencana untuk hajatan nanti malam.
"Eh, Kar, kamu tahu nggak? Katanya sih, yang ngisi acara hajatan nanti malam bukan cuma kamu lho," kata Lintang, misterius.
"Maksudnya?" tanya Sekar Arum, penasaran.
"Katanya, ada penyanyi campursari dari luar kota yang juga diundang. Namanya... aku lupa," jawab Lintang, berpikir keras.
"Siapa ya?" tanya Sekar Arum, semakin penasaran.
Tiba-tiba, seorang siswa berlari ke arah mereka.
"Kar, dicariin sama Pak Seno di ruang guru!" serunya, terengah-engah.
"Pak Seno? Ada apa ya?" tanya Sekar Arum, bingung. Pak Seno adalah guru kesenian di sekolahnya.
"Nggak tahu. Pokoknya, disuruh segera ke sana," jawab siswa itu, lalu pergi.
Sekar Arum bertukar pandang dengan Lintang. Ia merasa khawatir dan bertanya-tanya apa yang ingin Pak Seno bicarakan.
"Udah sana, Kar. Siapa tahu ada kabar baik," kata Lintang, memberikan semangat.
Sekar Arum mengangguk dan bergegas menuju ruang guru. Ia mengetuk pintu dengan hati-hati.
"Masuk," suara Pak Seno terdengar dari dalam.
Sekar Arum membuka pintu dan masuk ke dalam ruang guru. Ia melihat Pak Seno sedang duduk di mejanya sambil membolak-balik selembar kertas.
"Sekar, sini duduk," kata Pak Seno, tersenyum.
Sekar Arum duduk di kursi di depan meja Pak Seno. Ia menunggu dengan sabar apa yang akan dikatakan oleh gurunya.
"Begini, Sekar. Bapak dengar kamu mau tampil di hajatan desa nanti malam?" tanya Pak Seno, menatap Sekar Arum dengan tatapan menyelidik.
"Iya, Pak. Memangnya kenapa?" jawab Sekar Arum, bingung.
"Bapak bangga sama kamu, Sekar. Kamu punya bakat yang luar biasa. Bapak yakin kamu bisa sukses di bidang seni," kata Pak Seno, tulus.
Sekar Arum tersenyum. Ia merasa senang karena mendapatkan dukungan dari gurunya.
"Tapi, ada satu hal yang ingin Bapak sampaikan," lanjut Pak Seno, raut wajahnya berubah menjadi serius.
"Apa itu, Pak?" tanya Sekar Arum, penasaran.
"Bapak dapat informasi kalau di hajatan nanti malam, akan ada Dalang A," kata Pak Seno, menatap Sekar Arum dengan intens.
Jantung Sekar Arum berdebar kencang. Ia teringat percakapannya dengan Mas Indra kemarin.
"Iya, Pak. Aku juga dengar begitu," jawab Sekar Arum, gugup.
"Bapak minta sama kamu, Sekar. Kalau kamu bertemu dengan Dalang A, kamu harus bersikap yang sopan dan menunjukkan kemampuan terbaikmu. Siapa tahu, dia tertarik sama kamu dan menawarkan sesuatu yang baik," pesan Pak Seno.
"Maksudnya, Pak?" tanya Sekar Arum, belum mengerti.
"Siapa tahu, Dalang A menawarkan kamu untuk bergabung dengan grupnya atau memberikan kamu kesempatan untuk tampil di acara yang lebih besar," jelas Pak Seno.
Sekar Arum terdiam sejenak. Ia memahami apa yang dimaksud oleh gurunya. Ini adalah kesempatan emas yang tidak boleh ia sia-siakan.
"Baik, Pak. Aku janji akan melakukan yang terbaik," ujar Sekar Arum, penuh tekad.
"Bagus. Bapak percaya sama kamu, Sekar. Sekarang, kamu boleh kembali ke kelas," kata Pak Seno, tersenyum.
Sekar Arum berdiri dan berpamitan kepada Pak Seno. Ia keluar dari ruang guru dengan hati yang berdebar-debar. Ia tidak sabar untuk menunggu hajatan nanti malam.
Namun, saat ia berjalan di koridor, ia merasa ada seseorang yang mengawasinya. Ia menoleh ke belakang, tetapi tidak melihat siapapun. Ia merasa merinding dan mempercepat langkahnya.
Siapa sebenarnya orang yang mengawasinya ini? Apakah dia ada hubungannya dengan Dalang A?
\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*