"Kau bisa memiliki segalanya di dunia ini, Arunika. Kecuali satu hal: Kebebasan."
Arunika mengira menikah dengan Adrian Valerius, sang Direktur jenius yang tampan, adalah keberuntungan. Namun di balik wajah malaikatnya, Adrian adalah seorang psikopat dingin yang terobsesi pada kendali.
Di mansion mewah yang menjadi penjara kaca, setiap napas Arunika diawasi, dan setiap pembangkangan ada harganya. Arunika bukan lagi seorang istri, melainkan "proyek" untuk memuaskan obsesi gelap sang suami.
Mampukah Arunika melarikan diri, atau justru terjerat selamanya dalam cinta yang beracun?
"Jangan mencoba lari, Sayang. Karena sejauh apa pun kamu melangkah, kamu tetap milikku."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34: TARIAN DI ATAS BELATI
Malam Jumat tiba dengan atmosfer yang mencekam. Langit di atas mansion Valerius tertutup awan mendung yang pekat, seolah alam semesta pun sedang menahan napas menyaksikan perjudian nyawa yang akan dilakukan oleh Arunika.
Sejak pagi, Arunika telah memainkan perannya dengan presisi seorang balerina di atas panggung kaca. Ia membiarkan Adrian memilihkan gaunnya—sebuah sutra merah marun yang memeluk tubuhnya seperti aliran darah. Ia membiarkan Adrian menyuapinya saat sarapan, menatap pria itu dengan binar mata yang kosong namun penuh pengabdian, persis seperti boneka porselen yang kehilangan jiwanya.
"Kau sangat penurut hari ini, Sayang. Aku hampir merasa bersalah karena harus meninggalkanmu malam ini," ucap Adrian sembari mengusap sudut bibir Arunika dengan ibu jarinya.
Arunika memberikan senyuman paling manis yang pernah ia palsukan. "Pergilah, Adrian. Pertemuan dengan klub cerutumu itu penting untuk bisnismu. Aku akan menunggumu di sini, membaca buku atau mungkin mendengarkan musik yang kau rekomendasikan."
Adrian mengecup keningnya lama, sebuah ciuman yang terasa seperti cap kepemilikan. "Bagus. Sandra akan menjagamu. Jangan tidur terlalu larut."
Begitu deru mobil sport Adrian menghilang di kejauhan, kelembutan di wajah Arunika menguap seketika. Matanya berubah tajam, sedingin es kutub. Ia berdiri, merapikan gaunnya, dan menatap Sandra yang berdiri kaku di ambang pintu.
"Dia sudah pergi?" tanya Arunika dingin.
"Sudah, Nyonya. Kita punya waktu tepat tiga jam sebelum Tuan kembali. Tapi ingat, Tuan bisa mengakses kamera melalui ponselnya kapan saja," bisik Sandra, suaranya bergetar karena ngeri.
Arunika menarik napas panjang. "Aku tahu. Itulah sebabnya aku butuh kau melakukan bagianmu."
Rencananya sangat gila. Arunika harus terlihat sedang berada di kamar, namun secara fisik ia harus berada di ruang kerja Adrian. Sandra telah menyiapkan rekaman looping—sebuah teknik manipulasi video sederhana namun berisiko—yang akan diputar di sistem keamanan kamar selama sepuluh menit. Sepuluh menit itulah satu-satunya celah yang mereka miliki.
Arunika menyelinap keluar melalui koridor rahasia yang biasa digunakan para pelayan untuk membersihkan ventilasi. Tubuhnya yang kurus memudahkannya merangkak di ruang sempit yang berdebu. Jantungnya berdegup kencang, setiap gesekan kain gaunnya dengan dinding beton terasa seperti ledakan di telinganya.
Begitu sampai di ruang kerja Adrian, Arunika turun dari langit-langit dengan bantuan tangga darurat. Ruangan itu gelap, hanya diterangi oleh lampu indikator merah dari berbagai perangkat elektronik.
Laci ketiga. Tombol rahasia.
Arunika merangkak di bawah meja kayu jati yang besar. Tangannya meraba permukaan bawah laci ketiga. Di sana, di sudut yang sangat tersembunyi, jemarinya menyentuh sebuah tonjolan kecil.
Klik.
Sebuah panel kecil di sisi meja terbuka, memperlihatkan sebuah pemindai sidik jari dan lubang kunci fisik. Arunika tersenyum dingin. Ia mengeluarkan replika sidik jari Adrian yang ia buat dari lilin polimer—benda yang ia sembunyikan di dalam jahitan gaunnya sejak beberapa hari lalu.
Sensor itu berkedip hijau. Pintu rahasia di balik rak buku bergeser perlahan, tidak menimbulkan suara sedikit pun. Di baliknya bukan hanya sebuah brankas, melainkan sebuah ruang arsip mini yang tertata sangat rapi.
Arunika masuk dengan langkah waspada. Senter kecil di tangannya menyorot deretan map yang disusun berdasarkan abstrak nama. Ia mencari huruf 'E'.
Elena Valerius - Arsip Medis & Observasi Perilaku.
Arunika membuka map itu. Tangannya gemetar hebat saat membaca lembar demi lembar. Isinya jauh lebih mengerikan dari sekadar penyiksaan. Adrian bukan hanya mencatat luka fisik, ia mendokumentasikan setiap tahap kehancuran mental Elena.
"Hari ke-100: Subjek menunjukkan tanda-tanda disosiasi identitas. Ia mulai percaya bahwa dirinya adalah ibuku. Eksperimen penggantian memori berhasil 60%."
Air mata Arunika jatuh menetes di atas kertas itu. Adrian tidak hanya ingin istri yang sempurna, ia mencoba membangkitkan kembali sosok ibunya yang telah tiada ke dalam tubuh istri-istrinya melalui cuci otak dan prosedur medis ilegal.
Namun, ada satu dokumen yang terselip di bagian paling belakang. Sebuah surat kematian yang asli, bukan yang dipalsukan untuk publik.
"Penyebab Kematian: Gagal Jantung akibat overdosis obat penenang yang diberikan secara intravena selama isolasi di Sektor 7."
"Jadi kau benar-benar membunuhnya, Adrian," desis Arunika dengan penuh kebencian.
Tiba-tiba, terdengar suara notifikasi dari ponsel yang ia curi dari dapur untuk memantau radar Sandra.
DANGER: ADRIAN KEMBALI LEBIH AWAL.
Darah Arunika terasa berhenti mengalir. Ia hanya punya waktu kurang dari dua menit. Dengan cepat, ia memotret dokumen-dokumen itu menggunakan ponselnya, lalu mengembalikan map tersebut ke tempat asalnya. Ia berlari keluar dari ruang arsip, menekan tombol penutup, dan kembali memanjat ke saluran ventilasi tepat saat ia mendengar suara kunci pintu ruang kerja terbuka.
Arunika merangkak secepat yang ia bisa. Debu memenuhi paru-parunya, namun ia tidak berani batuk. Di bawah sana, di ruang kerja, ia mendengar suara langkah kaki Adrian yang berat.
"Sandra, di mana Arunika?" suara Adrian terdengar melalui interkom.
"Nyonya sedang tidur di kamar, Tuan. Beliau tampak sangat lelah," suara Sandra terdengar stabil, namun Arunika tahu wanita itu pasti sedang berkeringat dingin.
"Begitu? Aku merasa ada yang tidak beres dengan koneksi kamera kamarnya sejenak tadi. Aku akan memeriksanya sendiri."
Arunika mempercepat gerakannya. Ia sampai di langit-langit kamarnya tepat saat pegangan pintu kamar mulai berputar. Dengan gerakan akrobatik yang menyakitkan, ia menjatuhkan diri ke atas ranjang, menyembunyikan ponsel di bawah bantal, dan menarik selimut hingga ke lehernya.
Cklek.
Pintu terbuka. Cahaya dari lorong menyinari sosok Adrian yang berdiri di ambang pintu. Pria itu berjalan mendekat, setiap langkahnya terasa seperti detak jam menuju eksekusi. Adrian berdiri tepat di samping tempat tidur, menatap Arunika yang memejamkan mata, mengatur napasnya agar terdengar seperti orang yang tertidur lelap.
Adrian mengulurkan tangannya, membelai pipi Arunika yang masih terasa panas karena adrenalin.
"Kau berbau debu, Sayang," bisik Adrian.
Arunika hampir saja membuka matanya karena takut. Namun ia tetap diam, mengandalkan kegelapan kamar untuk menutupi gemetar di tubuhnya.
"Mungkin aku harus meminta Sandra mengganti sprei ini besok pagi," lanjut Adrian. Ia kemudian membungkuk, mencium kening Arunika dengan lembut, namun ciuman itu terasa seperti sentuhan ular yang berbisa. "Tidurlah yang nyenyak. Masa depanmu sudah kuatur sedemikian rupa sehingga kau tidak perlu bermimpi lagi."
Setelah Adrian keluar dan mengunci pintu, Arunika baru berani membuka matanya. Air mata yang sejak tadi ditahannya tumpah membasahi bantal. Ia meraba ponsel di bawah bantalnya—ponsel yang kini berisi bukti bahwa suaminya adalah seorang pembunuh berantai psikologis.
Ia menyadari bahwa Elena bukan hanya sekadar korban, tapi adalah peringatan. Dan sekarang, ia memiliki senjata yang lebih kuat dari sekadar kebencian. Ia memiliki kebenaran.
Namun, ia juga menyadari satu hal yang mengerikan. Jika Adrian mencurigainya hari ini, maka pengawasan besok akan menjadi seribu kali lebih ketat. Ia harus mulai bergerak lebih halus. Ia harus menjadi "ibunya" jika itu yang Adrian inginkan, agar ia bisa mendekat ke leher pria itu dan menghancurkannya dari dalam.
"Elena... beri aku kekuatan," bisik Arunika dalam kegelapan.
Di layar ponsel yang menyala redup, terpampang foto dokumen Sektor 7. Arunika tahu, perang yang sesungguhnya baru saja dimulai.