NovelToon NovelToon
Warisan Mutiara Hitam 4

Warisan Mutiara Hitam 4

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Kebangkitan pecundang / Fantasi Timur / Balas Dendam
Popularitas:59.7k
Nilai: 4.7
Nama Author: Kokop Gann

(WARISAN MUTIARA HITAM SEASON 4)

Chen Kai kini telah menapakkan kaki di Sembilan Surga, namun kisahnya di Alam Bawah belum sepenuhnya usai. Ia mempercayakan Wilayah Selatan ke tangan Chen Ling, Zhuge Ming, dan Gui. Sepuluh ribu prajurit elit yang berhutang nyawa padanya kini berdiri tegak sebagai benteng yang tak tergoyahkan.

Sebuah petualangan baru telah menanti. Sembilan Surga bukanlah surga penuh kedamaian seperti bayangan orang awam; itu adalah medan perang kuno para Kaisar Agung, tempat di mana Mutiara Hitam menjadi incaran seluruh Dewa.

Di Sembilan Surga, hukum duniawi tak lagi berlaku. Di sana, yang berkuasa hanyalah Kehendak Mutlak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kokop Gann, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Prahara di Lembah Purba

Terjepit di antara dua lapisan dimensi yang bergeser, "Luka Langit" bukanlah sekadar lubang di angkasa, melainkan sebuah terowongan badai yang dipenuhi oleh kilatan listrik ungu dan serpihan realitas yang tajam. Chen Kai merentangkan tangannya, melepaskan jaring gravitasi yang membungkus Mo Yan dan Ah-Gou agar mereka tidak tercabik oleh tekanan atmosfer yang melonjak ekstrem.

WUSH—!

Dalam satu hentakan gravitasi, mereka meluncur keluar dari celah tersebut dan jatuh bebas menuju daratan yang berada ribuan mil di bawah Kota Awan Putih.

"Tahan napas kalian!" perintah Chen Kai.

Di ketinggian ini, udara Sembilan Surga begitu dingin hingga mampu membekukan meridian dalam hitungan detik. Chen Kai memejamkan matanya, membiarkan Mutiara Hitam berputar di pusat Dantiannya. Setelah mencapai Dewa Awal Tahap Menengah, ia tidak lagi merasa seperti diseret oleh dunia; ia mulai merasa seolah-olah ia adalah bagian dari arus itu sendiri.

"Hukum Gravitasi: Pendaratan Bulu."

Laju jatuh mereka melambat secara drastis tepat sebelum menghantam permukaan tanah. Mereka mendarat dengan senyap di atas padang rumput yang helaiannya terbuat dari serat kristal yang bercahaya keperakan.

Ah-Gou jatuh terduduk, wajahnya pucat pasi sambil memegangi dadanya yang sesak. Sementara Mo Yan segera memeriksa kotak penyimpanannya, memastikan Bunga Jiwa Hitam masih utuh.

"Kita... kita selamat?" bisik Ah-Gou, menatap ke atas di mana Kota Awan Putih kini hanya terlihat seperti setitik cahaya emas di balik kabut tebal.

"Untuk saat ini," jawab Chen Kai. Ia berdiri tegak, rambut peraknya berkilau tertiup angin padang rumput. Ia mengeluarkan Catatan Perak yang baru saja dicurinya. Gulungan itu berdenyut dengan frekuensi yang semakin sinkron dengan Mutiara Hitamnya.

"Chen Kai, jangan lengah," suara Kaisar Yao bergema di batinnya, kini terdengar sedikit lebih jelas seiring dengan meningkatnya penyelarasan Chen Kai. "Wilayah ini disebut 'Tanah Terbuang'. Ini adalah area di mana hukum alam Sembilan Surga masih liar dan belum dijinakkan oleh para Kaisar. Lembah Nafas Naga yang disebutkan catatan itu berada di balik hutan obsidian di depanmu."

Chen Kai menatap ke arah utara. Di sana, sebuah hutan dengan pepohonan yang batangnya hitam pekat dan tajam menjulang, dikelilingi oleh kabut berwarna abu-abu yang memancarkan aroma belerang dan darah naga yang telah membeku.

"Tuan," Mo Yan mendekat dengan ragu. "Lembah Nafas Naga adalah tempat terlarang bagi para alkemis kasta rendah seperti kami. Konon, udara di sana mengandung Residu Api Naga yang bisa membakar meridian dari dalam jika kita tidak memiliki perlindungan yang cukup."

"Itu sebabnya aku membawamu, Mo Yan," kata Chen Kai, matanya yang memiliki lingkaran emas menatap sang alkemis. "Gunakan Bunga Jiwa Hitam yang kita ambil untuk meracik Pil Penawar Esensi. Aku butuh kita bertiga bisa berjalan di lembah itu tanpa menjadi abu."

Mo Yan tersentak, namun segera mengangguk penuh tekad. "Siap, Tuan! Berikan saya waktu satu jam untuk menyiapkan tungku sementara."

Namun, kedamaian sesaat itu segera terus terusik. Tanah di bawah kaki mereka tiba-tiba bergetar hebat. Dari kejauhan, di antara pepohonan obsidian, terdengar suara auman yang rendah namun menggetarkan tulang.

ROAAARRR—!

Bukan auman naga sejati, melainkan sesuatu yang lebih busuk.

Dari balik bayangan hutan, muncul sesosok makhluk raksasa. Bentuknya menyerupai serigala, namun tubuhnya ditutupi oleh lempengan logam dewa yang telah menyatu dengan dagingnya, dan sepasang sayap yang telah membusuk tersampir di punggungnya.

Binatang Kerak: Penjaga Perbatasan.

Makhluk ini adalah hasil dari hewan-hewan yang gagal berevolusi menjadi dewa dan terkontaminasi oleh residu energi yang dibuang dari kota-kota atas. Matanya yang berwarna merah menyala terkunci pada Chen Kai, merasakan "darah segar" dari seorang Pendaki yang baru saja menembus batas.

"T-Tuan! Binatang Kerak tingkat Manifestasi!" pekik Ah-Gou, gemetar ketakutan.

Chen Kai tidak mundur. Ia justru melangkah maju, melepaskan Pedang Meteor Hitam dari bungkusan kainnya. Bilah pedang yang kini memancarkan cahaya kelabu itu berdengung penuh antisipasi.

"Aku butuh sedikit peregangan setelah mencapai Tahap Menengah," gumam Chen Kai, senyum predator terukir di bibirnya.

Monster itu melesat maju dengan kecepatan yang melampaui batas suara. Tanah kristal di belakangnya hancur berkeping-keping akibat daya dorongnya.

Chen Kai tidak bergerak hingga monster itu hanya berjarak satu meter dari hidungnya.

"Hukum Ruang: Lipatan Kehampaan."

Dalam sekejap mata, Chen Kai seolah membelah diri. Monster itu menerjang bayangan sisa Chen Kai, sementara Chen Kai yang asli sudah berdiri di samping leher monster tersebut.

"Tebasan Hampa Padat!"

Satu garis cahaya kelabu yang sangat tipis melintas. Tidak ada suara ledakan, hanya bunyi sret yang halus.

Lempengan logam dewa yang keras di leher monster itu terbelah seperti kertas tipis. Kepala monster raksasa itu meluncur jatuh, diikuti oleh semburan darah biru yang seketika membeku menjadi butiran es saat menyentuh udara.

Mo Yan dan Ah-Gou terbelalak. Mereka tahu Chen Kai kuat, tapi membunuh monster setingkat Manifestasi hanya dengan satu gerakan santai adalah sesuatu yang tidak masuk akal bagi seorang "Dewa Awal".

Chen Kai menyarungkan kembali pedangnya, menatap uap putih yang keluar dari mayat monster itu.

"Sembilan Surga... tempat di mana kekuatan hanya dibatasi oleh pemahaman," bisik Chen Kai. Ia merasakan Mutiara Hitam menyerap sedikit esensi dari monster yang mati, memperkuat fondasi Tahap Menengah-nya.

Ia menoleh ke arah hutan obsidian yang kini tampak lebih tenang, seolah-olah hutan itu sendiri baru saja menyaksikan kelahiran penguasa baru di tanah terbuang ini.

"Cepat siapkan pilnya, Mo Yan," perintah Chen Kai. "Kita akan memasuki Lembah Nafas Naga sebelum fajar. Aku merasakan... sesuatu sedang memanggil dari kedalaman sana."

Sang Raja Hitam telah tiba di wilayah perburuan aslinya. Dan kali ini, ia tidak akan berhenti sampai seluruh rahasia gurunya terungkap.

1
MyOne
Ⓜ️🤜🏻💥🤛🏻Ⓜ️
Cak Rokim Dakas
jangan lama² nyambungnya Thor ..
Dobi Papa Sejati
✔️
nyoman suta wirawan
mantap
Wahyu Roro Ireng.
aku suka banget alur ceritanya ,ya walau terkadang penulisan nama aktor keliru ,iru wajar..

dan semoga kedepannya lebih bagus lagi
Sibungas
mantab
MF
💪/Drowsy/💪💪💪💪💪
Dian Purnomo
tetap setia sampai akhir thor
Dian Purnomo
up.. lanjutkan thor semangat💪💪💪
Jojo Firdaus
💪💪💪
jaka saba jati
/Bomb//Bomb//Bomb/
Jeffie Firmansyah
hadeuhhh .... jd ikutan sesek bacanya... seolah q ,jd ikutan perang
Kai.... sikat semua dewa2 palsu nya
BTW.... pasti dewa2 Asli nya jadi tahanan mereka ya ?.......... 💪💪💪💪
rosidi didi
keren
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Taklukkan 🔥🌽
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
🔥🌽🔥🦀🔥🦑Hentooopz
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Yuhuuuuu 🔥🌽
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Yeaaah 🔥🌽
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Jlebz 🔥🌽
saniscara patriawuha.
gassssd...
Eka Haslinda
besok lagi.. 💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!