"Jika aku memang pembunuh yang kau cari, kenapa jantungmu berdetak begitu kencang saat aku menyentuhmu?"
Ghea, seorang detektif hebat, terbangun tanpa ingatan di sebuah villa mewah. Seorang pria tampan bernama Adrian mengaku sebagai tunangannya. Namun, Ghea menemukan sebuah lencana polisi berdarah di bawah bantalnya.
Saat ingatan mulai pulih, kenyataan pahit menghantam: Pria yang memeluknya setiap malam adalah psikopat yang selama ini ia buru. Terjebak dalam sangkar emas, apakah Ghea akan memilih tugasnya sebagai detektif atau justru jatuh cinta pada sang iblis?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14: LABIRIN KEBOHONGAN YANG MANIS
Sore itu, hujan rintik-rintik membungkus villa dengan kabut tipis. Adrian mengajak Ghea duduk di ruang perpustakaan, sebuah ruangan yang dipenuhi aroma kertas tua dan kayu ek. Adrian duduk di sofa kulit yang besar, sementara Ghea berada di dekatnya, bersandar pada bantal empuk yang menopang kakinya yang kian membaik.
Adrian memegang sebuah album foto kecil bersampul beludru hitam. "Kau ingat ini, Ghea? Kita membelinya saat liburan musim panas di pesisir utara, dua tahun lalu."
Ghea menatap foto yang ditunjukkan Adrian. Di sana terlihat Ghea—dengan rambut yang lebih panjang dan wajah yang nampak sangat bahagia—sedang tertawa sambil memegang es krim. Di sampingnya, Adrian merangkul pundaknya dengan mesra. Latar belakangnya adalah mercusuar merah yang megah.
"Aku... aku tidak ingat mercusuar itu," bisik Ghea. Ia mencoba memindai foto itu dengan mata detektifnya. Secara visual, foto itu sempurna. Pencahayaannya, bayangannya, hingga pantulan cahaya di mata mereka terlihat asli. Namun, ada sesuatu yang terasa janggal di benaknya.
"Wajar jika kau lupa. Hari itu sangat panas, dan kau mengeluh karena sepatu botmu kemasukan pasir," Adrian terkekeh, suaranya terdengar penuh nostalgia yang hangat. "Kau bilang, 'Adrian, jika suatu saat aku menghilang, cari aku di puncak mercusuar ini'. Dan aku berjanji padamu, bahwa aku akan mencarimu bahkan sampai ke ujung dunia."
Ghea menelan ludah. Cerita Adrian begitu detail. Pria itu tidak hanya memberikan foto, tapi juga memberikan emosi, dialog, bahkan keluhan kecil yang terasa sangat manusiawi. Jika ini adalah kebohongan, maka Adrian adalah sutradara terbaik di dunia.
"Kenapa kita tidak punya foto pernikahan, jika kita memang sudah bertunangan selama itu?" tanya Ghea, mencoba mencari celah.
Adrian menghela napas, wajahnya berubah sendu. "Kita berencana menikah bulan depan, Ghea. Gaunmu bahkan sudah selesai dijahit. Tapi kemudian kasus besar itu datang. Kau terobsesi menangkap sindikat itu, dan kau memintaku menunda semuanya sampai tugasmu selesai. Aku marah waktu itu, tapi aku tidak bisa menolak keinginanmu."
Adrian meraih tangan Ghea, mencium jemarinya satu per satu. "Aku menyesal sekarang. Seharusnya aku memaksamu berhenti jadi polisi dan menikahiku lebih cepat. Jika saja aku lebih keras kepala, kau tidak akan pernah berakhir di jurang itu."
Ghea menatap mata Adrian. Ia melihat ada genangan air mata di sana. Rasa bersalah yang dipancarkan Adrian terasa sangat nyata. Untuk sesaat, pertahanan Ghea goyah. Bagaimana jika Adrian benar? Bagaimana jika lencana dan kunci titanium itu hanyalah bagian dari masa lalu yang memang pahit, dan Adrian adalah satu-satunya hal manis yang tersisa?
"Kau tampak ragu," ucap Adrian lembut. Ia mengambil sebuah kotak kecil dari laci meja. Di dalamnya terdapat sebuah cincin emas putih dengan berlian kecil yang berkilau. "Ini cincin yang kau pakai malam itu. Aku menemukannya di sela-sela jok mobilmu yang hancur. Aku menyimpannya sampai lukamu sembuh."
Adrian memakaikan cincin itu ke jari manis Ghea. Pas. Sangat pas.
"Ghea, aku tahu kau merasa asing dengan semuanya. Tapi tolong, jangan ragukan cintaku. Aku menghabiskan seluruh hartaku dan mempertaruhkan nyawaku untuk menyembunyikanmu di sini agar kau tetap hidup. Bagiku, kau adalah duniaku. Tanpamu, aku hanya seorang pria yang hampa."
Adrian menarik Ghea ke dalam pelukannya. Ghea menyandarkan kepalanya di bahu Adrian. Aroma sandalwood dari kemeja Adrian terasa menenangkan, namun di balik itu, otak Ghea yang terlatih mulai berputar kembali.
Ia teringat buku psikologi yang ia baca kemarin. Pola manipulasi tertinggi adalah dengan mencampurkan 90% kebenaran dengan 10% kebohongan yang fatal.
Ghea mulai menganalisis foto mercusuar tadi di dalam kepalanya. Tunggu. Jika foto itu diambil dua tahun lalu, kenapa model jam tangan yang dipakai Adrian di foto itu adalah seri yang baru keluar tahun lalu? Ia ingat pernah melihat iklan jam itu di sebuah majalah lama di gudang.
Seketika, rasa hangat di dadanya berubah menjadi dingin yang membeku.
Dia memanipulasiku. Foto itu hasil editan yang sangat rapi.
Ghea menyadari bahwa Adrian mungkin telah menggunakan perangkat lunak canggih untuk menyisipkan dirinya ke dalam foto-foto masa lalu Ghea yang asli. Adrian sedang menciptakan sejarah palsu untuk menjebak mental Ghea agar merasa bergantung padanya.
"Terima kasih sudah menceritakan ini, Adrian," ucap Ghea, suaranya tetap lembut meski hatinya bergejolak. "Ceritamu membuatku merasa... lebih tenang."
"Itu tujuanku, Sayang," balas Adrian sambil mengusap punggung Ghea.
Ghea memejamkan mata dalam dekapan Adrian. Ia menyadari betapa berbahayanya situasi ini. Adrian tidak hanya mengunci pintu dan jendela; dia sedang mencoba mengunci pikiran Ghea. Pria ini sangat detail, sangat sabar, dan sangat terobsesi.
Dia ingin aku mencintainya dengan ingatan yang dia buat sendiri, batin Ghea ngeri.
Saat Adrian beranjak pergi untuk membuatkan teh, Ghea segera melepas cincin di jarinya. Ia melihat bagian dalam cincin itu. Ada grafir nama: Ghea & .... Bagian nama setelah tanda ampersand itu nampak agak kasar, seolah-olah nama aslinya telah dikikis dan diganti dengan nama lain.
Ghea segera memakai kembali cincin itu sebelum Adrian kembali. Ia harus tetap berperan sebagai "Ghea yang mulai percaya".
"Semakin indah ceritamu, semakin besar lubang yang kau gali untuk dirimu sendiri, Adrian," desis Ghea dalam hati.
Ia meraba bantal di sampingnya, memastikan kunci titanium itu masih ada di sana. Kunci itu adalah satu-satunya benda yang tidak bisa dimanipulasi oleh Adrian. Kunci itu adalah bukti fisik dari Ghea yang asli—Ghea yang seorang detektif, bukan Ghea yang seorang pengantin palsu dalam imajinasi gila Adrian.
Malam itu, saat Adrian tertidur di sampingnya, Ghea tetap terjaga. Ia menatap langit-langit kamar dengan mata yang tajam. Ia menyadari bahwa latihan menembak kemarin bukan hanya untuk pertahanan diri, tapi itu adalah cara Adrian untuk mengukur apakah Ghea sudah cukup "jinak" untuk memegang senjata di bawah perintahnya.
Ghea harus menemukan apa yang dibuka oleh kunci titanium itu. Dan ia harus menemukannya sebelum ia benar-benar kehilangan jati dirinya dalam labirin kebohongan Adrian yang manis ini.
"Kau pikir kau sudah menang karena aku mulai tersenyum padamu?" gumam Ghea pelan. "Kau salah. Detektif tidak pernah berhenti menyelidiki, bahkan saat dia berada di dalam pelukan pelakunya."
sarannya sebelum di update dibaca ulang yah thor....