NovelToon NovelToon
ERROR 404: BOSS IN LOVE

ERROR 404: BOSS IN LOVE

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Komedi / CEO / Cinta Seiring Waktu / Romansa / Office Romance
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Aira Aksara

💻 ERROR 404: BOSS IN LOVE ⚠️


"Apa jadinya kalau CEO robot harus belajar jadi manusia dari staf paling kacau di kantornya?"



Arsenio adalah CEO Volt-Tech yang hidupnya hanya berisi angka, logika, dan efisiensi. Baginya, manusia hanyalah kumpulan data. Tapi bagi Alinea, staf baru yang hidupnya seberantakan kabel charger di dasar tas, Arsenio hanyalah sebuah robot dingin yang sensor perasaannya sudah expired.
Gara-gara insiden kopi susu dan mulut pedasnya, Alinea terjebak kontrak gila:


"Humanity Coaching".


Tugasnya? Mengajari Arsenio cara menjadi manusia normal demi meyakinkan neneknya bahwa sang cucu bukan mesin pencetak uang semata. Alinea pikir ini cuma soal akting sampai sang Bos mulai menunjukkan glitch aneh: detak jantung yang mendadak overclock tiap kali Alinea berada dekat dengannya.



Ternyata, mengajari robot cara mencintai itu lebih rumit daripada coding paling error sekalipun.


🚫 Warning: High tension, snarky comments, and a lot of heart-melting glitches.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aira Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 3 — SAAT SATU KANTOR SETUJU: BOS ITU ROBOT

Alinea mematikan layar HP-nya dengan gerakan kasar, tapi benda pipih itu seolah punya nyawa sendiri. Bergetar lagi. Drtt... drtt... drtt! "Gila ya, ini orang-orang nggak ada KPI yang harus dikejar apa?" gumamnya ketus.

Dia melirik ke kubikel sebelah. Di sana ada Rio, seniornya yang biasanya anteng, tapi pagi ini matanya sudah berbinar-binar seolah baru saja memenangkan lotre—atau dalam kasus Volt-Tech, baru saja dapet update skandal terbaru.

Belum sempat Alinea melepas jaket, Rio sudah memutar kursi kerjanya 180 derajat.

"Lin, udah lihat grup 'Internal-No-Bos' belum? Foto lo di lobi tadi pagi... viral."

Jantung Alinea rasanya mau merosot ke lambung. Foto di lobi? Perasaan dia cuma telat dua menit dan lari-lari dikit biar nggak kena gate yang tertutup. Apa tali sepatunya lepas? Atau lebih parah, apa kemejanya salah kancing?

Alinea menatap layar HP-nya dengan mata yang hampir keluar. Jari-jarinya gemetar, bukan karena kafein, tapi karena horor melihat namanya (atau julukan "Cewek Baru"-nya) di-mention berkali-kali di grup KANTOR VOLT-TECH 🔥.

Rizky IT: BRO DIA NGATAIN PAK ARSENIO ROBOT 😭

Anonim: DAN MASIH HIDUP

"Mampus gue," bisik Alinea pelan.

Tiba-tiba, sebuah bayangan tinggi menutupi cahaya lampu di atas mejanya. Alinea mendongak pelan, sangat pelan, berharap itu cuma kurir paket yang tersesat. Tapi harapannya pupus.

Itu Pak Arsenio. Berdiri tegak, kemeja hitam slim-fit tanpa cela, dan wajah yang—ya ampun—emang beneran mirip robot karena nggak ada ekspresinya sama sekali.

"Alinea," suara Pak Arsenio rendah, datar, dan bikin bulu kuduk merinding. "Baterai saya sudah penuh. Bisa kita mulai rapatnya sekarang?”

Satu lantai kantor langsung hening. Rizky IT pura-pura sibuk ngetik kode padahal layarnya cuma gambar kucing. Semua orang menahan napas.

Hari ketiga kerja itu harusnya masih fase "nyari tahu dispenser di mana" atau "cara pakai mesin fotokopi," eh dia malah udah jadi trending topic satu gedung. Rasanya pengen pinjem jubah gaib punya Harry Potter sekarang juga, kan?

Bayangin, itu lorong kantor yang biasanya cuma keramik dingin, tiba-tiba kerasa kayak catwalk di tengah pekan mode, tapi versi horor karena semua mata tertuju ke dia.

Alinea berusaha jalan sealami mungkin menuju dispenser. Kiri, kanan, kiri, jangan sampai kesandung, Lin, batinnya. Tapi begitu dia sampai di depan galon, suasana pantry yang tadinya berisik kayak pasar mendadak senyap. Silent mode dalam sekejap.

Seorang cewek dari divisi Marketing—yang bulu matanya badai banget—nyenggol temannya sambil bisik-bisik, tapi suaranya bocor juga:

"Eh, itu kan? Yang bilang Pak Arsenio perlu di-upgrade sistemnya karena terlalu kaku?”

Alinea mematung. Air dari dispenser hampir meluap dari gelasnya.

"Sstt! Orangnya denger!" bales temannya sambil pura-pura sibuk ngaduk kopi padahal kopinya udah larut dari tadi.

Bukannya reda, Alinea justru mendengar bisikan lain yang lebih parah dari arah belakang:

"Gila sih, keberaniannya boleh juga. Gue denger Pak Arsenio langsung nyuruh HR buat nyiapin file dia... entah buat promosi atau buat surat peringatan."

Alinea menelan ludah. Air yang dia minum mendadak rasa air cuka. Asam.

Alinea mematung. Tangannya masih megang gelas, tapi matanya merem bentar. Please, jangan Pak Arsenio lagi, doanya dalam hati.

Dia pelan-pelan muter badan, siap buat pasang muka "Saya nggak tahu apa-apa, saya cuma mau minum."

Ternyata yang berdiri di sana bukan si Robot, tapi Siska, admin senior yang pegang kendali semua rahasia dapur kantor—mulai dari siapa yang telat reimburse sampai siapa yang selingkuh di tangga darurat. Siska berdiri sambil melipat tangan, alisnya naik satu.

"Gila ya lo, Lin," bisik Siska, suaranya pelan tapi tajam banget. "Gue kerja di sini lima tahun, baru kali ini liat ada orang yang berani bikin Pak Arsenio ganti kemeja di jam kerja gara-gara disiram."

Alinea megap-megap. "Mbak, itu... itu kecelakaan! Sumpah, gelasnya licin!"

Siska malah ketawa kecil, tipe ketawa yang bikin merinding. "Nggak usah jelasin ke gue. Jelasin tuh ke orangnya. Dia nungguin lo di ruangan jam 10 nanti. Katanya, ada 'sistem' yang perlu lo perbaiki."

Alinea nunduk liat gelasnya. Rasanya pengen nyebur aja ke dalam galon.

“Lin.”

Alinea baru mau protes, tapi Rizky sudah keburu angkat tangan, matanya melirik ke HP Alinea yang masih di saku.

"Masalahnya bukan cuma omongan orang, Lin," bisik Rizky, kali ini nadanya lebih serius—tipe serius yang bikin perut Alinea makin melilit. "Lu udah masuk ke 'ekosistem' mereka."

Alinea mengerutkan kening. "Maksudnya?”

Rizky menyodorkan layar HP-nya sendiri. Di sana, di sebuah grup Telegram yang Alinea bahkan nggak tahu keberadaannya, ada sebuah sticker pack baru yang baru saja di-update.

Gambarnya? Foto Alinea dari jauh, pas lagi kelihatan panik di lobi, dengan tulisan gede-gede: "ERROR 404: FEAR NOT FOUND". Ada juga stiker muka Pak Arsenio yang diedit pakai antena robot dengan caption: "SCANNING FOR NEW VICTIM.”

"Siapa yang bikin?!" Alinea hampir memekik, tapi suaranya tertahan di tenggorokan.

"Anak-anak kreatif, kayaknya," jawab Rizky santai sambil masukin tangan ke saku. "Di sini, kalau lu nggak viral karena prestasi, ya viral karena jadi meme. Dan selamat, Lin, stiker lu udah dipake sampai ke divisi legal."

Alinea rasanya mau melebur aja sama lantai pantry. Gosip lisan itu bisa hilang, tapi stiker WhatsApp? Itu abadi. Itu bakal muncul tiap kali ada yang mau ngeledek bos.

Alinea menatap layar HP-nya sampai matanya perih. Ke ruang saya. Sekarang.

"Oke, Lin. Tarik napas. Hembuskan. Jangan pingsan sekarang, belum jam makan siang," bisiknya pada diri sendiri. Dia berdiri dengan lutut yang rasanya kayak jeli.

Pas dia jalan ngelewatin kubikel-kubikel, suasana kantor yang tadinya riuh mendadak jadi sunyi senyap yang dibuat-buat. Semuanya mendadak "sibuk" tapi matanya ngikutin Alinea. Rizky IT bahkan ngasih gestur hormat dua jari dari jauh—seolah-olah Alinea itu prajurit yang mau maju ke medan perang tapi cuma bawa sendok plastik.

Di depan pintu kayu jati yang kokoh itu, Alinea berhenti. Ada papan nama kecil nan elegan: Arsenio Atmadja - CEO.

Dia mengetuk pintu. Pelan banget.

"Masuk," suara dari dalam terdengar berat dan dingin. Persis kayak suara es batu yang baru keluar dari freezer.

Alinea masuk, dan hal pertama yang dia liat adalah Arsenio yang lagi duduk di balik meja besarnya, nggak nengok sedikit pun ke arahnya. Matanya fokus ke iPad di tangannya.

"Duduk, Alinea," katanya tanpa ekspresi.

Alinea duduk di pinggir kursi, tegak banget kayak lagi ikut ospek. "Pak, soal yang tadi pagi... saya benar-benar minta maaf. Saya nggak maksud—"

Arsenio mengangkat tangannya, menyuruhnya diam. Dia lalu memutar iPad-nya ke arah Alinea. Di layarnya, terpampang meme kulkas pakai jas tadi.

"Menurut kamu," suara Arsenio terdengar sangat tenang, yang justru bikin Alinea makin merinding, "model kulkas ini... apa benar-benar merepresentasikan gaya kepemimpinan saya?”

Arsenio diam. Benar-benar diam sampai Alinea bisa dengar suara detak jantungnya sendiri yang udah kayak bedug mau Lebaran.

Arsenio melangkah maju satu langkah. Matanya yang tajam itu masih mengunci pandangan Alinea. "Bukan manusia?" ulangnya dengan nada yang sulit dibaca. "Jadi, menurut kamu, untuk menjadi manusia saya harus... berantakan? Capek? Dan melakukan kesalahan?"

Alinea meremas ujung kemejanya di balik punggung. "Nggak harus berantakan, Pak. Tapi setidaknya... Bapak perlu punya celah. Orang-orang di luar sana takut sama Bapak bukan karena Bapak hebat saja, tapi karena Bapak nggak punya 'sisi hidup'.”

Arsenio menatapnya lama sekali. Alinea sudah pasrah. Dia sudah membayangkan dirinya pulang lebih awal hari ini, packing kardus, dan menghapus "Volt-Tech" dari bio LinkedIn-nya.

Tapi tiba-tiba, sudut bibir Arsenio berkedut. Tipis banget. Hampir nggak kelihatan kalau Alinea nggak melotot saking tegangnya.

"Enam belas notifikasi," kata Arsenio sambil berjalan kembali ke mejanya. Dia mengambil HP-nya, lalu menunjukkan layarnya ke Alinea. "Dan sepuluh di antaranya tanya di mana saya beli kulkas yang ada di meme itu karena katanya 'estetik'.”

Dia menaruh HP-nya di meja dengan bunyi thud yang mantap. "Duduk, Alinea. Karena kamu yang memulai kekacauan ini, kamu yang harus bantu saya memperbaikinya.”

Arsenio buru-buru membuang muka, kembali memasang topeng datarnya, tapi telinganya—Alinea berani sumpah—kelihatan sedikit lebih merah dari biasanya.

"Jangan besar kepala," kata Arsenio, suaranya berusaha balik jadi sedingin es, tapi gagal total karena barusan dia udah "bobol". "Hanya karena saya tertawa, bukan berarti posisi kamu aman.”

Alinea malah tersenyum tipis. Rasa mulas di perutnya hilang, diganti sama adrenalin yang aneh. "Ya setidaknya sekarang saya tahu Bapak punya pita suara yang berfungsi buat hal lain selain nyuruh orang lembur."

Arsenio meliriknya tajam. "Kamu ini... beneran nggak ada remnya ya?"

"Bapak butuh orang yang nggak pakai rem, Pak," sahut Alinea santai, sekarang dia berani nyender ke kursi. "Biar kalau Bapak terlalu kencang jadi mesin, ada yang berani narik kabelnya.”

Arsenio terdiam lagi. Dia menatap meja kayunya yang mengkilap, seolah sedang memikirkan algoritma baru di kepalanya. "Kabel, ya?" gumamnya pelan. "Oke, Alinea. Kalau begitu, saya kasih kamu tugas pertama sebagai 'penarik kabel' saya."

Alinea menaikkan alis. "Apa tuh, Pak? Kursus ketawa?"

"Bukan," Arsenio berdiri, kembali ke wibawa CEO-nya tapi kali ini auranya beda. "Jam satu siang nanti saya ada meeting sama investor dari Jepang. Mereka bilang saya terlalu 'korporat' dan membosankan. Kamu ikut saya. Tugas kamu cuma satu: Pastikan saya nggak terlihat seperti kulkas di depan mereka.”

Keluar dari ruang CEO, Alinea langsung diserbu tatapan.

Rizky ngacungin jempol.

Dina HR menghela napas lega.

Seseorang berbisik, “Masih hidup.”

Alinea duduk di kursinya, sengaja naruh tasnya dengan gerakan pelan yang seolah bilang, "I'm staying, guys."

Rizky IT langsung muter kursinya, matanya melotot. "Lin, sumpah demi kabel LAN yang kusut, lu apain si Bos? Kok gue liat dari balik kaca tadi... dia kayak... melunak? Apa dia beneran re-boot?"

Alinea cuma angkat bahu, masih dengan seringai nakalnya. "Gue cuma factory reset dikit, Ky. Ternyata dalemnya bukan kabel semua kok.”

Belum sempat dia buka laptop, HP-nya getar lagi. Kali ini dari grup KANTOR VOLT-TECH 🔥

Anonim: FIX, DIA BUKAN MANUSIA. DIA SOFTWARE UPDATE-NYA PAK ARSENIO.

Anonim: Guys, gue barusan lewat depan ruang CEO... Pak Arsenio lagi liatin meme kulkas tadi DAN DIA NGGAK MARAH.

Rizky IT: Alinea for President! 🫡

Dina dari HR jalan lewat depan kubikel Alinea, berhenti sebentar, terus nunduk sambil bisik-bisik, "Lin, makasih ya. Seenggaknya hari ini saya nggak perlu bikin surat pemecatan yang paling drama sepanjang sejarah."

Alinea ketawa. Baru hari ketiga, tapi rasanya dia udah kayak pegang remote control buat satu gedung.

Sore harinya, Arsenio lewat lantai kerja. Biasanya dia jalan lurus tanpa nengok siapa pun.

Begitu Arsenio jalan menjauh dengan langkah tegapnya, suasana kantor yang tadinya beku langsung mencair... tapi cairnya jadi heboh kayak es teh manis tumpah!

Rizky IT hampir jatuh dari kursinya. "Lin... lu denger nggak tadi? Dia ngomong lebih dari tiga kata. Dan itu bukan soal laporan!"

Dina HR cuma bisa geleng-geleng kepala sambil ngetik di grup rahasia: 'Guys, Robotnya mulai punya sensor penciuman. Fix, ini ulah Alinea.’

Alinea sendiri masih duduk tenang, tapi tangannya sebenernya melintir ujung kabel charger.

"Latihan katanya," gumam Alinea pelan. "Gue jadi guru les kepribadian buat CEO? Yang bener aja.”

Alinea nyender di kursinya, matanya natap langit-langit kantor yang warnanya sama kayak kemeja-kemeja Arsenio. Debar di dadanya itu bukan lagi karena takut dipecat, tapi karena sesuatu yang lebih... complicated.

Dia ngelirik gelas kopinya. "Baunya mengganggu, ya?" bisiknya sambil senyum-senyum sendiri. Padahal biasanya dia nggak peduli pendapat orang, tapi kali ini komentarnya si "Robot" malah bikin dia ngerasa menang banyak.

Di grup WA, notifikasinya udah nggak berhenti:

Anonim: GUYS, TADI GUE LIAT PAK ARSENIO NENGOK KE ARAH MEJA ALINEA PAS DI LIFT!

Anonim: Kulkasnya mulai ada bunga es-nya nih, alias mulai manis!

Dina HR: Alinea, besok kalau butuh anggaran buat 'alat peraga latihan', kabarin saya ya. Apapun demi Pak Arsenio yang lebih manusiawi! 😂

Alinea cuma bisa geleng-geleng kepala. Dia sadar, besok bukan cuma soal cari nafkah, tapi soal "menjinakkan" pria yang nggak tahu caranya jadi manusia biasa.

1
Aira Aksara|IG:@ntii_tan
Halo para silent readers! Aku tahu kalian ada di sana mengawasi perjalanan Si Boss, berasa dipantau CCTV tapi yang ini versi baik hati. 🕵️‍♂️💖


Boleh minta tolong nggak, readers? Klik tombol Like dong! Tenang, klik Like itu 100% GRATIS, nggak dipungut biaya sepeser pun dan nggak bakal ngurangin kuota seblak kalian. Hehe. 🤭 Yuk, bantu Author yang lagi multitasking ini tetap semangat update dengan satu klik aja. Show some love, please? 🫶✨
Aira Aksara|IG:@ntii_tan
Bab ini judulnya SOROTAN, tapi kok kalian malah main petak umpet sih? Makasih ya yang sudah baca! Yuk, keluar dari persembunyian dan tunjukkan pesonamu lewat tombol Like & Komen! 🔦😎✨
Nur Halida
seru banget baca tiap kalimatnya
Aira Aksara|IG:@ntii_tan: 🥹🥹
makasih lohh🙌🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!