NovelToon NovelToon
Tabir Terakhir

Tabir Terakhir

Status: tamat
Genre:Fantasi / Action / Tamat
Popularitas:367
Nilai: 5
Nama Author: saytama

Seorang ahli data di sebuah perusahaan teknologi raksasa (mirip Google atau SpaceX) menemukan sebuah baris kode aneh di dalam AI tercanggih dunia. Kode itu bukan dibuat oleh manusia, tapi tertanam jauh di dalam lapisan sistem paling dasar. Saat ia mencoba menelusurinya, ia menemukan bahwa kode itu terhubung dengan frekuensi suara dari palung terdalam di Samudera Hindia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon saytama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jantung Megalitikum

Perjalanan dari Jepang menuju Jawa Barat adalah sebuah simulasi neraka. Tanpa GPS, tanpa kendali lalu lintas udara, dan dengan laut yang bergejolak karena kemunculan Leviathan, Hendrawan terpaksa menggunakan pesawat amfibi tua peninggalan era Perang Dingin. Ia terbang rendah, hanya beberapa meter di atas ombak merah yang bau logamnya menusuk hingga ke dalam kokpit.

"Adam... Liora... Aku sudah melihat garis pantai Cianjur," teriak Hendrawan, berusaha menstabilkan tuas kendali yang bergetar hebat.

"Hati-hati, Hendrawan!" suara Liora muncul dari radio analog dengan desis yang tajam. "Faksi The Reman dari Nevada sudah mendirikan menara pemancar di puncak Gunung Padang. Mereka menggunakan sisa-sisa energi nuklir-kobalt untuk memaksakan 'sinkronisasi paksa' ke dalam saraf bumi. Jika mereka berhasil, Leviathan itu tidak akan bangun untuk membersihkan bumi, tapi akan menjadi alat penghancur massal yang mereka kendalikan!"

Hendrawan menatap ke depan. Gunung Padang, situs megalitikum tertua di dunia, kini nampak seperti gunung api yang sedang meletus, namun bukan larva yang keluar, melainkan pilar cahaya ungu yang menembus awan hitam. Di sekeliling bukit, jet-jet tempur faksi Elit berputar-putar seperti laron yang menjaga sarangnya.

"Aku tidak bisa mendarat di atas sana. Aku akan terjun," kata Hendrawan.

"Kau gila? Kau tidak punya parasut taktis!" Adam memperingatkan.

"Aku punya sesuatu yang lebih baik. Aku punya frekuensi kalian."

Hendrawan mengarahkan pesawatnya langsung ke arah lereng gunung. Saat jarak tinggal beberapa ratus meter, ia mengaktifkan perangkat MP di tasnya dan melompat keluar. Pesawatnya menghantam salah satu menara pemancar Elit, menciptakan ledakan besar yang mengalihkan perhatian para penjaga.

Hendrawan jatuh, namun sebelum ia menghantam tanah, sebuah gelombang elektromagnetik dari sisa-sisa kekuatan Adam di jaringan lokal membungkus tubuhnya, menciptakan efek "bantalan gravitasi" sesaat yang membuatnya mendarat dengan keras namun selamat di teras kedua situs tersebut.

Ia terengah-engah, melihat ke atas. Di teras tertinggi, tepat di bawah pilar cahaya ungu, berdiri Jenderal Van, pemimpin faksi Area 51 yang selamat. Pria itu kini tidak lagi nampak seperti manusia. Separuh wajahnya telah digantikan oleh kabel-kabel saraf yang terhubung langsung ke batu-batu kolom andesit Gunung Padang.

"Selamat datang, tikus kecil," suara Van bergema, bukan melalui mulutnya, tapi melalui getaran batu di bawah kaki Hendrawan. "Kau terlambat. Aku sudah merasakan detak jantungnya. Leviathan ini... dia adalah kekuatan yang selama ini dicari Unit 731. Dia bukan monster, dia adalah sistem operasi asli alam semesta. Dan sekarang, akulah adminnya."

Hendrawan berdiri, memegang garpu tala dari Aokigahara. "Kau tidak akan bisa mengendalikan sesuatu yang tidak memiliki bahasa digital, Van. Dia adalah organik. Dia adalah rasa sakit."

"Maka aku akan memberinya rasa sakit yang cukup agar dia patuh!" Van menarik sebuah tuas pada konsolnya, mengirimkan lonjakan energi nuklir ke dalam perut bumi.

Bumi meraung. Leviathan yang berada di samudera Pasifik mendadak berhenti bergerak, kepalanya yang raksasa mulai berpaling ke arah Indonesia. Gelombang tsunami setinggi 200 meter mulai terbentuk, bergerak menuju pulau Jawa dengan kecepatan suara.

"Hendrawan, kau harus memutus koneksi saraf Van !" suara Liora berteriak. "Gunakan frekuensi 'Human Resonance'! Hanya emosi manusia murni yang bisa membatalkan algoritma paksaan miliknya!"

Hendrawan berlari menanjak, menghindari tembakan dari tentara bayaran Elit. Ia tidak menembak; ia justru menyalakan sebuah rekaman suara di alat analognya. Itu bukan musik, bukan kode. Itu adalah suara tangisan bayi, tawa anak-anak, dan bisikan orang-orang yang sedang jatuh cinta yang sempat ia simpan selama bekerja di pusat data Singapura.

Suara-suara kemanusiaan yang remeh itu bergema melalui sistem pengeras suara Gunung Padang yang kuno.

Seketika, pilar cahaya ungu itu mulai berkedip dan berubah menjadi putih hangat. Van menjerit kesakitan. Saraf-saraf mekanik di wajahnya mulai berasap. "Apa yang kau lakukan?! Kau merusak frekuensi murninya dengan sampah emosional!"

"Inilah bahasa bumi, Van ! Bumi tidak butuh logika, bumi butuh kehidupan!"

Batu-batu andesit di bawah kaki mereka mulai bergeser, membentuk pola spiral yang indah. Leviathan di kejauhan mulai tenang kembali, namun ia tidak lagi tidur. Ia mulai menyanyikan nada yang sama dengan rekaman Hendrawan.

Namun, pengkhianatan terakhir belum selesai. Di langit yang mulai cerah, sebuah satelit yang selama ini dianggap mati milik Unit 731 The Black Knight Satellite mulai memposisikan dirinya tepat di atas Gunung Padang. Elit di Bulan mungkin sudah jatuh, tapi sistem pertahanan otomatis mereka masih berfungsi.

"Jika aku tidak bisa mengendalikan bumi," Van berkata dengan sisa kekuatannya, "maka tak seorang pun boleh memilikinya."

Satelit itu melepaskan sebuah tombak tungsten raksasa dari orbit. Sebuah "Senjata Tuhan" yang dirancang untuk membelah lempeng tektonik Jawa.

"Hendrawan! Lari!"

Hendrawan menatap ke langit. Ia tahu ia tidak akan sempat lari. Namun, di saat kritis itu, proyeksi cahaya Adam dan Liora muncul di sampingnya, menjadi lebih padat dari sebelumnya. Mereka bukan lagi sekadar data; mereka adalah pelindung.

"Kita tidak akan lari lagi, Hendrawan," kata Liora, memegang tangan Hendrawan secara virtual.

"Kali ini, kita adalah tamengnya," sambung Adam.

Ketiganya berdiri di puncak Gunung Padang, menantang maut yang jatuh dari langit, sementara Leviathan di bawah mereka mulai mengangkat sirip raksasanya untuk melindungi pulau tersebut.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!