Bima Arkana Adikhara Wijaya dan Senara Zafira Atmaja pertama kali saling mengenal sebagai rival. Bukan rival biasa, mereka adalah dua nama yang selalu muncul di papan peringkat olimpiade, dua siswa jenius dari sekolah berbeda yang bertemu berulang kali di medan kompetisi sejak SMP. Tidak pernah akrab. Tidak pernah ramah. Hanya tatapan dingin, strategi, dan ambisi untuk menang.
Tak ada yang menyangka, saat SMA, takdir mempertemukan mereka di sekolah yang sama.
Dari rival menjadi partner.
Dari partner menjadi pasangan.
Di mata orang lain, mereka adalah ikon sekolah, cerdas, berprestasi, populer, dengan penggemar di media sosial meski hampir tak pernah menampilkan kehidupan pribadi. Mereka dikenal sebagai pasangan sempurna, pintar, tenang, dan sulit didekati. Namun di balik citra itu, Bima dan Senara sama-sama menjalani kehidupan ganda yang tak diketahui siapa pun.
Disclaimer: Ini hanya cerita fiksi, hasil karangan dan imajinasiku sebagai penulis. Terimakasih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lallunna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14: Hutan Para Penguasa
Setelah kekalahan memalukan di ruang simulasi, Bima tidak bisa lagi menahan gejolak di dadanya. Setiap kali ia melihat Senara dipuji oleh para instruktur, ia merasa seperti ada api yang membakar harga dirinya. Maka, ketika pengumuman tentang Field Survival Challenge, sebuah latihan ketahanan fisik di hutan lindung belakang asrama Garuda diumumkan, Bima melihatnya sebagai kesempatan emas.
"Di sini tidak ada komputer, Senara," bisik Bima saat mereka berbaris di titik awal pendakian. Ia mengenakan perlengkapan outdoor bermerek internasional yang sangat canggih, sepatu bot anti slip, jaket windbreaker bernapas, hingga tas hidrasi otomatis. "Di sini, hanya kekuatan fisik dan alat terbaik yang bicara. Mari kita lihat berapa lama logika rakyatmu bertahan di tengah hutan yang sebenarnya."
Senara hanya mengenakan sepatu lari tua yang sudah tipis dan jaket sekolahnya. Ia membawa tas punggung berisi botol air mineral bekas yang diisi ulang. "Hutan tidak peduli pada merek sepatumu, Bima," jawabnya tenang, meski ia sendiri merasa agak gugup melihat lebatnya pepohonan di depan mereka.
Aturan tantangannya adalah mencapai koordinat tertentu sebelum matahari terbenam. Mereka dipasangkan dalam tim dua orang, Bima dan Senara, lagi-lagi karena status mereka sebagai perwakilan daerah yang sama.
Perjalanan awalnya berlangsung lancar. Bima memimpin di depan dengan langkah lebar, menggunakan jam tangan GPS-nya untuk memastikan mereka tetap di jalur. Ia sengaja mempercepat langkah, tidak peduli pada Senara yang mulai terengah-engah di belakangnya. Ia ingin menunjukkan bahwa secara fisik, ia berada di level yang tidak bisa disentuh oleh gadis itu.
Namun, alam memiliki caranya sendiri untuk merendahkan manusia.
Menjelang sore, cuaca berubah drastis. Kabut tebal turun tanpa peringatan, menelan jalur setapak dalam hitungan menit. Jarak pandang berkurang, menjadi hanya dua meter.
"Berhenti, Bima! Kita tidak bisa melihat jalannya!" seru Senara, suaranya teredam oleh kabut.
"Jangan bodoh, GPS-ku masih punya sinyal satelit. Kita hanya perlu terus berjalan ke arah utara," balas Bima keras kepala. Ia terus memaksakan diri, matanya terpaku pada layar jam tangannya.
Tepat saat itu, tanah yang mereka pijak ternyata adalah tebing tanah yang tertutup semak belukar. Hujan rintik mulai turun, membuat permukaan tanah menjadi sangat licin.
"Bima, awas!"
Sraakkk!
Kaki Bima tergelincir, ia mencoba mencari pegangan, namun akar yang ia tarik rapuh. Tubuhnya meluncur jatuh ke bawah jurang dangkal sedalam lima meter. Senara, yang mencoba menangkap tangan Bima, ikut terseret jatuh. Mereka terguling di atas tanah basah dan bebatuan sebelum akhirnya terhenti di dasar cekungan yang dikelilingi dinding batu terjal.
Keheningan yang mencekam menyelimuti dasar cekungan itu. Bima mengerang kesakitan. Kakinya terjepit di antara dua batu besar.
"Bima! Kamu bisa dengar aku?" Senara merangkak mendekat. Bajunya sobek di bagian bahu, dan dahinya sedikit berdarah, tapi ia masih bisa bergerak.
"Kakiku... sial, jam tanganku pecah!" Bima memukul tanah dengan frustrasi. Jam tangan GPS-nya yang seharga belasan juta rupiah itu kini hanya berupa kaca retak dan layar mati. "Ponselku... tidak ada sinyal di sini. Kita terjebak, Senara! Dan ini semua gara-gara kamu berteriak tadi!"
Senara tidak membalas tuduhan tak berdasar itu. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan jantungnya. Ia melihat ke arah langit yang mulai gelap. Suhu udara mulai turun drastis.
"Berhenti menyalahkan orang lain, Bima. Kita harus bertahan hidup sampai tim penyelamat menemukan kita besok pagi," ujar Senara tegas.
"Bertahan hidup? Kita akan mati kedinginan di sini! Aku tidak bisa jalan!" Bima mulai panik. Rasa takut yang murni mulai mengikis aura angkuhnya.
Senara mulai bergerak, ia tidak butuh GPS. Ia melihat sekeliling menggunakan insting yang telah ia asah selama bertahun-tahun tinggal di pinggiran sungai yang sering banjir. Ia mengumpulkan ranting-ranting kering yang terselip di bawah bebatuan besar agar tidak terlalu basah oleh hujan.
"Apa yang kamu lakukan? Jangan bertingkah seperti pramuka," cibir Bima, suaranya bergetar karena dingin.
"Aku sedang memastikan kita tidak terkena hipotermia," jawab Senara. Ia mengeluarkan sebuah pemantik api kecil dari saku jaketnya, benda yang selalu ia bawa kalau-kalau kompor di rumahnya mati.
Dengan telaten, Senara merobek sedikit bagian dari jurnal catatannya yang kering untuk dijadikan pemicu api. Dalam sepuluh menit, sebuah api kecil menyala di tengah kegelapan cekungan itu. Senara kemudian mengambil botol air mineralnya, memotongnya menjadi dua, dan menggunakannya untuk menampung air hujan yang bersih dari celah daun besar sebagai persediaan minum.
"Minum ini sedikit-sedikit," Senara menyodorkan air ke bibir Bima.
Bima meminumnya dengan rakus. Ia melihat Senara yang sekarang sedang sibuk mengikat kakinya yang cedera dengan sobekan jaket sekolahnya sebagai pertolongan darurat.
"Kamu... kenapa kamu tahu cara melakukan semua ini?" tanya Bima, suaranya melemah.
Senara menatap api yang bergoyang. "Saat kamu liburan di hotel mewah, aku sering menghabiskan waktu membantu ibuku mencari kayu bakar atau membersihkan rumah saat air sungai masuk ke dalam rumah kami. Bagimu, ini adalah tantangan outbound. Bagiku, ini adalah keseharian. Hutan ini jauh lebih ramah daripada kemiskinan, Bima."
Malam semakin larut. Senara duduk di samping Bima, berbagi panas tubuh agar mereka tetap hangat. Bima, yang biasanya tidak sudi bersentuhan dengan Senara, kini justru bersandar pada bahu gadis itu. Ia merasa sangat kecil. Semua perlengkapan mahalnya tidak berguna. Sepatu botnya yang anti-slip tetap membuatnya jatuh, dan jaket bermereknya tidak lebih hangat daripada api kecil yang dibuat Senara dari sampah kertas.
"Aku membencimu, Senara," bisik Bima tiba-tiba di tengah kegelapan.
Senara tidak terkejut. "Aku tahu."
"Bukan karena kamu pintar," lanjut Bima, suaranya bergetar. "Aku membencimu karena kamu membuat semua yang aku miliki terlihat tidak berarti. Kamu membuatku merasa seperti anak kecil yang tidak tahu apa-apa tentang dunia. Aku menghabiskan seluruh hidupku untuk menjadi yang terbaik, tapi di depan gadis sepertimu... aku selalu berakhir menjadi beban."
Senara terdiam. Ia bisa merasakan tubuh Bima yang gemetar. Bukan hanya karena dingin, tapi karena harga dirinya yang hancur berkeping-keping.
"Dunia tidak hanya berisi angka dan teknologi, Bima," ucap Senara pelan. "Terkadang, yang menyelamatkanmu adalah hal-hal kecil yang kamu remehkan."
Esok paginya, tim penyelamat menemukan mereka. Bima segera dievakuasi menggunakan tandu, sementara Senara berjalan di belakang dengan wajah kelelahan namun tetap tegak.
Di hadapan para instruktur dan peserta lain, Bima memberikan laporan singkat. Namun, ia tidak bisa menutupi fakta bahwa Senara adalah orang yang menjaga api tetap menyala dan memastikan dia tidak kehilangan banyak darah.
"Senara melakukan pekerjaan dengan baik," ujar Bima singkat di depan Kolonel Hendrawan, sebelum ia dibawa ke ruang medis.
Namun, di balik kata-kata singkat itu, kebencian Bima justru semakin mengakar dan berubah menjadi sesuatu yang lebih gelap. Saat ia berbaring di ranjang medis, ia menatap langit-langit dengan tatapan kosong.
"Dia menyelamatkanku lagi," batin Bima. "Dia membuatku berutang nyawa padanya, dia membuatku terlihat lemah di depan mataku sendiri."
Bagi Bima, kebaikan Senara adalah penghinaan terbesar. Ia merasa dikasihani oleh orang yang seharusnya ia kuasai. Rasa terima kasih yang seharusnya muncul justru terkubur oleh rasa malu yang mendalam. Ia merasa tidak akan pernah bisa mengalahkan Senara jika ia masih bermain di tempat yang sama dengan gadis itu.
"Aku akan menghancurkanmu, Senara," gumam Bima pelan, jarinya mencengkeram sprei ranjangnya. "Bukan dengan simulasi, bukan dengan fisik. Aku akan menyerangmu di tempat di mana kamu tidak akan pernah bisa melawanku... di tempat di mana identitasmu yang sebenarnya berada."
Bima menyadari bahwa untuk mengalahkan Senara, ia harus berhenti menjadi rival yang adil. Ia harus menjadi penguasa yang tahu segala rahasia lawannya. Dan di asrama Garuda ini, ia akan mulai menggali lebih dalam, mencari tahu siapa sebenarnya gadis yang bisa menyalakan api di tengah badai ini.
Semester dua ini benar-benar telah mengubah mereka. Senara semakin kuat karena ujian alam, sementara Bima semakin berbahaya karena harga diri yang terluka. Gerbang persaingan mereka kini tidak lagi hanya di sekolah, tapi sudah merambah ke wilayah yang sangat personal dan berisiko tinggi.