Demi menyelamatkan keluarganya dari kehancuran, Alya menerima tawaran menjadi istri kontrak Bima, CEO muda paling berpengaruh di kota itu. Pernikahan mereka hanya berlangsung satu tahun — tanpa cinta, tanpa perasaan, tanpa masa depan.
Namun tinggal serumah dengan pria sedingin es yang diam-diam menyimpan luka masa lalu membuat batas antara kontrak dan kenyataan perlahan memudar. Ketika hati mulai terlibat, fitnah dan pengkhianatan justru menghancurkan kepercayaan mereka.
Saat kontrak berakhir, Alya pergi membawa rahasia yang tak pernah Bima duga.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, sang CEO muda harus belajar bahwa kehilangan jauh lebih menyakitkan daripada mencintai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tang Lin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2 Keputusan
Malam itu terasa lebih panjang dari biasanya.
Alya duduk di kursi kayu kecil di teras rumahnya, map tipis berisi draft kontrak masih tersimpan rapi di dalam tasnya. Ia belum berani membukanya.
Angin malam berembus pelan, membawa udara dingin yang menusuk kulit. Jalanan depan rumah sudah sepi. Hanya suara televisi tetangga yang samar terdengar.
Di dalam rumah, ibunya sudah tertidur setelah minum obat.
Alya memejamkan mata.
“Menjadi istri saya.”
Kalimat itu terus berulang di kepalanya.
Bukan lamaran.
Bukan ajakan.
Melainkan tawaran kerja sama.
Ia akhirnya membuka tasnya, menarik map itu keluar, lalu membukanya perlahan.
Kontrak tersebut tersusun rapi dan profesional. Tidak ada bahasa ambigu. Semua jelas dan sistematis.
Durasi: 1 tahun.
Kewajiban: tampil sebagai istri sah di publik dan acara perusahaan.
Kompensasi: pelunasan utang keluarga, biaya medis penuh untuk ibu, serta sejumlah dana pribadi yang cukup untuk memulai hidup baru setelah kontrak selesai.
Tidak ada kewajiban hubungan suami istri tertulis di dalamnya.
Semua terdengar bersih.
Terlalu bersih.
Alya menutup map itu kembali.
Harga dirinya terasa tergores.
Namun harga diri tidak bisa membayar obat.
Tidak bisa menghentikan penyitaan.
Tidak bisa menyelamatkan rumah yang menjadi satu-satunya kenangan ibunya.
Tiba-tiba suara motor berhenti di depan rumah.
Alya menoleh.
Dua pria berjaket hitam turun dari motor dan berdiri di depan pagar.
Jantungnya langsung berdebar.
Salah satu dari mereka mengetuk pagar besi dengan keras.
“Saudari Alya?”
Alya berdiri perlahan.
“Ada apa?”
“Kami cuma mau mengingatkan. Tenggat tinggal enam hari.”
Tatapan pria itu tajam dan tak ramah.
“Kalau sampai lewat, kami tidak segan mengeksekusi.”
Alya menggenggam pagar kuat-kuat agar tangannya tidak terlihat gemetar.
“Saya sudah tahu.”
“Kami hanya menjalankan tugas.”
Motor dinyalakan kembali. Mereka pergi tanpa menunggu balasan.
Sunyi kembali menyelimuti jalan kecil itu.
Namun kali ini, sunyinya terasa seperti ancaman.
Alya berdiri di sana beberapa detik sebelum akhirnya masuk ke dalam rumah.
Ia tidak punya enam hari.
Ia bahkan tidak yakin punya tiga hari.
Pagi berikutnya, ia datang lebih awal dari waktu yang ditentukan.
Gedung Wijaya Group terlihat sama megahnya seperti kemarin. Namun kali ini, langkahnya lebih mantap.
Ia sudah memutuskan.
Lift membawanya ke lantai 35.
Sekretaris pria itu tampak sedikit terkejut melihatnya.
“Nona Alya? Anda datang lebih cepat.”
“Saya ingin menyelesaikannya hari ini.”
Sekretaris itu mengangguk dan langsung membuka pintu ruangan utama.
Bima sudah berada di sana.
Ia berdiri menghadap jendela besar dengan pemandangan kota yang luas. Jas abu gelapnya membuatnya terlihat semakin formal dan tak tersentuh.
Tanpa menoleh, ia berkata, “Saya pikir Anda akan menunggu sampai detik terakhir.”
Alya menutup pintu di belakangnya.
“Saya tidak punya kemewahan untuk menunggu.”
Baru saat itu Bima berbalik.
Tatapan mereka bertemu.
“Apa keputusan Anda?”
Alya melangkah mendekat ke meja.
“Saya setuju.”
Ruangan itu kembali sunyi.
Bima tidak tersenyum. Tidak menunjukkan kemenangan.
Hanya satu anggukan kecil.
“Baik.”
Ia menekan tombol interkom. “Masuk.”
Seorang pria berjas lain masuk membawa map baru.
“Kontrak final. Silakan dibaca kembali.”
Alya duduk.
Tangannya terasa dingin saat membuka dokumen itu sekali lagi. Isinya sama seperti yang ia baca semalam. Tidak ada perubahan.
Namun kali ini, maknanya terasa berbeda.
Ia bukan lagi sedang mempertimbangkan.
Ia sedang menandatangani masa depan.
“Jika Anda berubah pikiran, ini kesempatan terakhir,” ujar Bima datar.
Alya menatapnya lurus.
“Tidak. Saya tidak berubah pikiran.”
Ia mengambil pulpen.
Detik ketika tanda tangannya tergores di atas kertas, ada sesuatu di dalam dirinya yang terasa terlepas — bukan kebebasan, melainkan pilihan untuk menyerah pada keadaan.
Bima menandatangani setelahnya.
Resmi.
“Transfer akan dilakukan hari ini,” kata Bima.
Alya mengangguk.
“Saya ingin bukti pelunasan sebelum sore.”
“Akan Anda terima.”
Ia berdiri.
“Pernikahan dilaksanakan tiga hari lagi. Sederhana, tertutup. Hanya keluarga inti dan notaris.”
“Tiga hari?” Alya mengerutkan kening.
“Saya tidak bisa menunda lebih lama.”
“Apa yang sedang Anda hadapi sebenarnya?”
Pertanyaan itu keluar tanpa ia sadari.
Bima terdiam sejenak.
“Dewan direksi ingin menggulingkan saya. Mereka butuh alasan bahwa saya tidak stabil. Status lajang saya menjadi salah satu isu.”
“Jadi saya tameng.”
“Ya.”
Kejujuran pria itu anehnya membuat Alya lebih tenang.
Setidaknya ia tahu perannya.
“Setelah ini, Anda akan pindah ke mansion saya.”
“Saya masih harus mengurus ibu saya.”
“Fasilitas medis terbaik akan disiapkan.”
Alya menatapnya beberapa detik.
“Jangan sentuh ibu saya tanpa izin saya.”
Sorot mata Bima berubah tipis.
“Saya tidak akan melakukan sesuatu tanpa persetujuan Anda.”
Nada itu tidak lembut. Namun tidak juga meremehkan.
Seolah untuk pertama kalinya, ia mengakui Alya sebagai pihak setara dalam kesepakatan ini.
Ponsel Alya bergetar.
Pesan masuk dari nomor tak dikenal.
Ia membukanya.
Foto bukti transfer dan surat konfirmasi pelunasan utang.
Lunas.
Seketika lututnya terasa lemas.
Rumahnya aman.
Ibunya aman.
Ia mengangkat wajahnya pelan.
“Sudah masuk.”
Bima mengangguk sekali.
“Selamat datang dalam kesepakatan kita, Nona Alya.”
Ia hampir tersenyum tipis.
“Mulai sekarang, panggil saya Alya saja.”
Pria itu menatapnya beberapa detik sebelum menjawab singkat.
“Baik, Alya.”
Nama itu terdengar berbeda ketika keluar dari bibirnya.
Lebih rendah.
Lebih dekat.
Alya berdiri.
“Tiga hari lagi.”
“Tiga hari lagi,” ulang Bima.
Ia berjalan menuju pintu.
Tangan Alya berhenti di gagang pintu.
“Setelah satu tahun… kita benar-benar berpisah, kan?”
“Ya.”
Jawaban itu datang tanpa ragu.
Tanpa jeda.
Tanpa emosi.
Alya membuka pintu dan melangkah keluar.
Kali ini bukan sebagai gadis yang terpojok.
Melainkan sebagai wanita yang telah menjual satu tahun hidupnya demi menyelamatkan keluarganya.
Dan tiga hari dari sekarang—
Ia akan menjadi istri seorang CEO yang bahkan tidak mencintainya.
Namun kali ini, kalimat itu tidak lagi terdengar seperti penghinaan.
Melainkan konsekuensi.
Lift bergerak turun perlahan dari lantai 35. Pantulan wajahnya di dinding kaca terlihat lebih pucat dari biasanya, tetapi tatapannya berbeda. Tidak goyah. Tidak ragu.
Satu miliar dua ratus juta rupiah.
Rumahnya aman.
Ibunya aman.
Harga yang ia bayar adalah satu tahun hidupnya.
Ketika pintu lift terbuka di lantai dasar, dunia terasa tetap berjalan seperti biasa. Karyawan berlalu-lalang, suara sepatu beradu dengan lantai marmer, percakapan formal terdengar samar.
Tak ada yang tahu bahwa tiga hari lagi, ia akan menjadi istri pria paling berkuasa di gedung itu.
Dan tak ada yang tahu bahwa pernikahan itu hanyalah kontrak.
Ponselnya kembali bergetar.
Pesan dari rumah sakit.
Tagihan kontrol ibunya untuk bulan ini telah dibayarkan penuh oleh pihak penjamin.
Alya menatap layar beberapa detik lebih lama.
Cepat.
Efisien.
Tanpa celah.
Bima Wijaya bukan pria yang berbicara kosong.
Ia melangkah keluar gedung.
Angin siang menerpa wajahnya. Untuk pertama kalinya sejak berbulan-bulan, ia bisa menarik napas tanpa dihantui ketakutan akan kehilangan rumah.
Namun ada sesuatu yang lain kini mengendap di dadanya.
Bukan takut.
Bukan juga menyesal.
Melainkan kesadaran.
Mulai hari ini, hidupnya tidak lagi sepenuhnya miliknya sendiri.
Ia telah masuk ke dunia yang asing, penuh aturan, penuh sorotan.
Dan pria yang akan menjadi suaminya—
adalah pria yang tidak mengenal cinta sebagai prioritas.
Tiga hari.
Hanya tiga hari sebelum statusnya berubah.
Alya menatap langit yang cerah setelah hujan panjang kemarin.
“Ini pilihanku,” gumamnya pelan.
Bukan karena ia lemah.
Bukan karena ia tak punya harga diri.
Tetapi karena ada hal-hal yang lebih penting dari ego.
Ia berbalik dan berjalan menuju halte bus.
Langkahnya mantap.
Karena ia tahu satu hal dengan pasti—
jika satu tahun itu hanya sandiwara bagi Bima,
maka baginya, satu tahun itu adalah pertaruhan seluruh hidupnya.
Dan ia tidak akan membiarkan dirinya hancur di dalamnya.
Tiga hari lagi, ia akan mengenakan gaun pengantin.
Dan sejak saat itu, tak ada jalan untuk kembali.