NovelToon NovelToon
Istri Kontrak Sang CEO Muda

Istri Kontrak Sang CEO Muda

Status: tamat
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:10.2k
Nilai: 5
Nama Author: Tang Lin

Ariana Dewi, 24 tahun, seorang desainer grafis freelance yang hidupnya berantakan setelah tunangan sekaligus bosnya selingkuh dengan sahabatnya sendiri. Terlilit utang almarhum ayahnya dan hampir kehilangan rumah, ia menerima tawaran gila dari Revano Aldrich, 29 tahun, CEO muda Aldrich Group yang dingin dan penuh misteri.
Tawarannya sederhana: menikah kontrak selama satu tahun.
Revano butuh istri untuk meredam tekanan sang kakek agar tidak menyerahkan kendali perusahaan ke tangan paman yang licik. Ariana butuh uang untuk melunasi utang dan menyelamatkan rumah ibunya.
Tidak ada cinta. Tidak ada perasaan. Hanya kontrak.
Tapi aturan paling ketat sekalipun bisa retak ketika dua orang terpaksa hidup dalam satu atap, menanggung luka yang sama, dan perlahan mulai melihat satu sama lain bukan sebagai rekanan bisnis — melainkan sebagai manusia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tang Lin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2 Proposal Yang Sangat Tidak Romantis

Aku tidak tidur.

Bukan karena menangis — aku sudah bilang, air mata itu tidak pernah benar-benar datang. Bukan juga karena memikirkan Bagas atau Tiara, meski wajah mereka sesekali muncul di tepi pikiranku seperti iklan yang tidak bisa di-skip.

Aku tidak tidur karena kartu nama itu ada di meja belajarku, dan entah mengapa benda sekecil itu terasa seperti memiliki gravitasi sendiri.

Revano Aldrich. CEO. Aldrich Group.

Aku sudah mencarinya di internet pukul sebelas malam. Lalu pukul satu. Lalu pukul tiga kurang seperempat ketika aku menyerah pura-pura bisa tidur dan membuka laptop dengan pasrah.

Hasilnya tidak mengejutkan — dalam artian, semua yang aku temukan mengonfirmasi bahwa pria yang duduk di hadapanku tadi di warung kopi murahan itu adalah salah satu orang paling berpengaruh di dunia bisnis Indonesia saat ini. Dua puluh sembilan tahun. Mengambil alih Aldrich Group dari sang ayah tiga tahun lalu dalam kondisi perusahaan yang sedang tidak stabil, dan dalam tiga tahun itu membawa pertumbuhan yang membuat analis ekonomi menulis artikel panjang dengan judul-judul dramatis.

Wajahnya ada di mana-mana — majalah bisnis, portal berita ekonomi, sesekali di halaman sosial ketika ada acara gala yang tidak bisa dia hindari. Di setiap foto, ekspresinya sama: dingin, terkontrol, dan seperti orang yang sedang menghitung sesuatu di kepalanya bahkan ketika sedang tersenyum untuk kamera.

Tidak ada foto dengan perempuan. Tidak ada rumor hubungan yang bertahan lebih dari satu paragraf. Kehidupan pribadinya adalah ruangan yang pintunya tidak pernah terbuka cukup lebar untuk kamera manapun.

Dan pria itu bilang dia butuh istri.

Aku menutup laptop pukul tiga pagi, membaringkan diri di kasur, menatap langit-langit, dan dengan sangat sadar memutuskan bahwa aku tidak akan pergi besok pagi.

Aku tiba di lobi Aldrich Tower pukul delapan lima puluh tiga.

Bukan karena aku berubah pikiran — setidaknya itu yang aku katakan kepada diri sendiri selama perjalanan KRL yang penuh sesak dari stasiun terdekat. Aku ke sini hanya untuk mendengarkan. Mendengarkan tidak berarti menyetujui apapun. Manusia waras mendengarkan dulu sebelum menolak, dan aku adalah manusia yang sangat waras.

Lobi gedung ini luasnya mungkin dua kali lipat apartemen yang pernah aku tinggali. Lantainya marmer putih dengan urat emas yang terlalu indah untuk diinjak. Resepsionis di balik meja setinggi bahuku menatapku dengan ekspresi profesional yang sangat terlatih — tidak menghakimi, tapi juga jelas sedang menilai apakah aku punya urusan yang sah di sini.

"Ariana Dewi," kataku. "Ada janji dengan—"

"Lantai dua puluh delapan, Bu." Dia sudah tahu. Tentu saja sudah tahu. "Lift di sebelah kanan. Pak Kenzo akan menjemput di atas."

Aku masuk lift dengan perasaan seperti seseorang yang berjalan masuk ke ruang sidang tanpa tahu dakwaannya apa.

Pak Kenzo ternyata berusia sekitar tiga puluhan, dengan wajah yang ramah tapi mata yang sangat awas — jenis awas yang kamu dapat dari bertahun-tahun bekerja di dekat orang yang tidak memberikan ruang untuk kesalahan.

"Selamat pagi, Bu Ariana. Saya Kenzo, sekretaris Pak Revano." Dia menjabat tanganku dengan profesional. "Pak Revano sedang menyelesaikan satu panggilan, akan bergabung dalam sepuluh menit. Silakan."

Dia membawaku ke sebuah ruang pertemuan kecil — bukan ruang rapat besar yang aku bayangkan, tapi ruangan intim dengan meja untuk empat orang, dinding kaca yang menghadap pemandangan Jakarta dari ketinggian yang membuatku sesaat lupa bernapas, dan di atas meja sudah ada dua cangkir kopi yang masih mengepul.

Dan sebuah map tebal berwarna abu-abu gelap.

Kenzo pergi dengan sopan. Aku duduk. Menatap map itu.

Tidak ada label. Tidak ada tulisan di covernya. Hanya map abu-abu yang ketebalannya membuatku memperkirakan isinya setidaknya tiga puluh halaman.

Aku meraihnya.

PERJANJIAN KERJA SAMA EKSKLUSIF

Pihak Pertama: Revano Aldrich

Pihak Kedua: Ariana Dewi

Durasi: Dua belas (12) bulan terhitung dari tanggal penandatanganan

Aku membalik halaman pertama.

Ternyata bukan tiga puluh halaman. Empat puluh dua.

Empat puluh dua halaman kontrak yang ditulis dengan bahasa hukum yang rapi, tersusun dalam pasal-pasal bernomor, dengan sub-pasal, dan beberapa lampiran di bagian belakang yang sepertinya berisi jadwal dan ketentuan teknis.

Ini bukan proposal. Ini dokumen hukum yang sudah selesai.

Aku mulai membaca.

Pasal 1 — Definisi dan Ruang Lingkup

Perjanjian ini merupakan kesepakatan pernikahan kontrak antara Pihak Pertama dan Pihak Kedua yang bersifat eksklusif, rahasia, dan terbatas waktu. Pernikahan yang dimaksud adalah pernikahan sah secara hukum negara Republik Indonesia, namun didasari oleh kesepakatan bisnis dan bukan hubungan romantis.

Tanganku mulai terasa sedikit tidak normal suhunya.

Pasal 3 — Kewajiban Pihak Kedua

3.1 Pihak Kedua wajib hadir dalam setiap acara publik, keluarga, dan bisnis yang ditentukan oleh Pihak Pertama dengan pemberitahuan minimal empat puluh delapan (48) jam sebelumnya, kecuali dalam kondisi darurat.

3.2 Pihak Kedua wajib menampilkan hubungan yang meyakinkan sebagai pasangan dalam seluruh interaksi publik.

3.3 Pihak Kedua wajib menjaga kerahasiaan perjanjian ini sepenuhnya kepada pihak luar, termasuk namun tidak terbatas pada anggota keluarga, rekan kerja, dan media.

3.4 Pihak Kedua dilarang menjalin hubungan romantis atau intim dengan pihak lain selama durasi kontrak berlangsung.

Aku berhenti di pasal 3.4. Membacanya dua kali.

Lalu lanjut.

Pasal 4 — Kewajiban Pihak Pertama

4.1 Pihak Pertama akan melunasi seluruh kewajiban utang Pihak Kedua yang tercantum dalam Lampiran B dalam waktu tujuh (7) hari kerja setelah penandatanganan perjanjian.

4.2 Pihak Pertama akan menyediakan tempat tinggal yang layak selama durasi kontrak.

4.3 Pihak Pertama akan memberikan tunjangan bulanan sebesar...

Angka yang tertera di baris berikutnya membuat aku harus membacanya tiga kali untuk memastikan aku tidak salah lihat.

Aku tidak salah lihat.

Itu jumlah yang — jika dibagi dua belas bulan — masih lebih besar dari total penghasilan freelance-ku dalam setahun penuh dengan asumsi semua proyek berjalan lancar.

4.4 Pihak Pertama tidak akan mengintervensi aktivitas profesional Pihak Kedua selama tidak bertentangan dengan kewajiban dalam Pasal 3.

4.5 Pihak Pertama menjamin bahwa tidak ada kewajiban fisik atau intim dalam perjanjian ini. Hubungan Pihak Pertama dan Pihak Kedua terbatas pada representasi publik semata.

Aku membaca pasal 4.5 itu sekali lagi.

Lalu aku membalik ke Lampiran B.

Di sana ada daftar — detail, lengkap dengan nama kreditur, jumlah, dan tanggal jatuh tempo — dari semua utang almarhum Bapak yang sudah dua tahun aku cicil sendirian. Angka yang tertera di baris terakhir adalah total yang masih tersisa.

Angka yang cukup besar untuk membuatku tidak bisa tidur nyenyak sejak dua tahun lalu.

Angka yang, menurut pasal 4.1, akan diselesaikan dalam tujuh hari kerja.

Aku menutup map itu.

Menarik napas.

Dan menyadari bahwa tanganku gemetar — bukan karena takut, tapi karena otakku mulai memproses bahwa ini nyata. Bukan hipotesis. Bukan skenario. Ini dokumen hukum yang sudah siap ditandatangani, dengan data yang sangat spesifik tentang hidupku yang tidak mungkin dikumpulkan dalam satu malam.

Dia sudah merencanakan ini sebelum datang ke warung kopi itu.

Pintu ruangan terbuka.

Revano Aldrich masuk dengan cara yang sama seperti kemarin — seperti gravitasi ruangan menyesuaikan diri dengannya, bukan sebaliknya. Jas hari ini berwarna abu-abu gelap. Dasi hitam tipis. Rambut yang sama rapinya. Dia meletakkan ponselnya di meja, duduk di kursi seberang dengan presisi yang mulai aku kenali sebagai caranya bergerak, dan menatapku dengan ekspresi yang tidak bisa aku baca.

"Kamu datang," katanya.

"Aku bilang aku hanya akan mendengarkan," jawabku. "Bukan berarti aku setuju."

Sesuatu di ujung matanya bergerak sedikit. Bukan senyum — terlalu kecil untuk disebut senyum. "Tentu."

"Kamu sudah mengumpulkan data tentang aku kapan?"

"Tiga hari lalu."

"Artinya kamu sudah memilihku sebelum datang ke sana kemarin malam."

"Kamu ada di urutan pertama dari daftar kandidat yang memenuhi kriteria."

Aku menahannya sebentar. "Kandidat. Jadi ada orang lain yang kamu pertimbangkan untuk posisi istri kontrak."

"Delapan orang. Kamu yang paling sesuai."

Cara dia mengatakannya — datar, faktual, seperti menjelaskan hasil seleksi karyawan — membuat sesuatu di dadaku bereaksi dengan cara yang tidak sepenuhnya bisa aku kategorikan. Bukan tersinggung. Bukan juga tidak tersinggung.

"Kriterianya apa?" tanyaku.

"Tidak punya afiliasi politik atau bisnis yang bisa menjadi konflik kepentingan. Cukup mandiri untuk tidak membutuhkan pengawasan konstan. Latar belakang yang bersih. Dan—" dia berhenti sejenak, "—situasi yang membuat tawaran ini relevan secara finansial."

"Kamu mencari orang yang cukup terdesak untuk menerima."

"Aku mencari orang yang memiliki alasan rasional untuk mempertimbangkan."

"Itu cara yang lebih halus untuk mengatakan hal yang sama."

Dia tidak membantah. Aku memberi poin untuk itu.

"Kenapa kamu butuh istri?" tanyaku langsung. "Dan kenapa harus kontrak? Orang dengan—" aku membuka tangan, mengisyaratkan seluruh ruangan ini, gedung ini, semua yang tersirat, "—semua ini pasti tidak kekurangan pilihan."

Revano meraih cangkir kopinya. Minum satu teguk sebelum menjawab — bukan untuk dramatis, rasanya lebih karena dia sedang memilih kata dengan hati-hati.

"Kakekku adalah pemegang saham terbesar Aldrich Group. Secara teknis ia sudah menyerahkan kendali operasional kepadaku tiga tahun lalu, tapi otoritas formalnya belum sepenuhnya dipindahkan." Suaranya tetap datar tapi ada sesuatu di bawahnya — sesuatu yang dia jaga supaya tidak naik ke permukaan. "Kondisi pengalihan otoritas penuh ada dua: aku membuktikan stabilitas kepemimpinan selama lima tahun, atau aku menikah sebelum usia tiga puluh."

"Dan ulang tahunmu yang ke tiga puluh kapan?"

"Empat bulan lagi."

Aku menghitung di kepala. "Jadi kamu butuh istri dalam waktu dekat."

"Dalam waktu yang sangat dekat."

"Dan kamu tidak mau menikah sungguhan karena—"

"Karena pernikahan yang didasari ekspektasi emosional memiliki tingkat kegagalan yang tidak perlu aku tambahkan ke dalam variabel bisnis yang sudah ada." Dia menjawab dengan cara yang terdengar seperti sudah dia formulasikan jauh sebelum aku bertanya. "Kontrak lebih bersih. Batas waktu jelas, kewajiban tercantum, dan ketika selesai, tidak ada yang dirugikan lebih dari yang sudah disepakati."

Aku menatapnya lama.

"Kamu," kataku pelan, "adalah orang yang paling tidak romantis yang pernah aku temui."

"Itu bukan bagian dari kriteria yang aku butuhkan."

"Tapi juga bukan penyangkalan."

Kali ini ada jeda yang sedikit lebih panjang sebelum dia menjawab. "Tidak."

Aku menyandarkan punggung ke kursi dan menatap langit-langit sebentar. Di luar jendela, Jakarta pagi hari terlihat berbeda dari ketinggian ini — lebih tenang, lebih rapi, seperti kota yang menyembunyikan kekacauannya dengan jarak yang cukup.

"Ada beberapa hal yang tidak ada di kontrak itu yang ingin aku tambahkan," kataku akhirnya.

Revano menatapku. "Aku mendengarkan."

"Satu — aku tidak akan berhenti bekerja. Proyek freelance-ku tetap berjalan, klienku tetap aku layani, dan itu bukan sesuatu yang bisa kamu intervensi selama tidak mengganggu jadwal yang sudah disepakati." Aku menghitung dengan jari. "Dua — di luar acara publik yang memang kewajiban kontrak, hidupku adalah hidupku. Aku tidak perlu laporan ke kamu soal mau ke mana atau melakukan apa. Tiga—"

"Setuju untuk poin satu dan dua," potongnya.

Aku berhenti. "Kamu tidak mau dengar poin tiga dulu?"

"Lanjutkan."

"Tiga — kalau ada hal yang perlu aku ketahui soal situasi keluargamu atau perusahaanmu yang bisa berdampak ke posisiku, aku ingin tahu. Aku tidak mau berjalan buta ke dalam situasi yang tidak aku mengerti."

Revano menatapku beberapa detik. Ekspresinya tidak berubah, tapi aku menangkap sesuatu — penilaian ulang yang sangat cepat, seperti dia merevisi satu kolom dalam spreadsheet yang sudah dia buat tentangku.

"Setuju," katanya. "Dengan catatan bahwa informasi yang bersifat sensitif bisnis akan disampaikan sesuai kebutuhan dan relevansi."

"Itu cara yang halus untuk bilang tidak semuanya."

"Itu cara yang akurat untuk menggambarkan bagaimana informasi bisnis bekerja."

Aku hampir tertawa. Hampir. "Baik."

Kami bertatapan di atas meja — dua orang yang baru saja mengenal satu sama lain, membicarakan perjanjian yang dalam situasi apapun lain di alam semesta ini tidak akan pernah aku bayangkan ada dalam hidupku.

"Aku belum bilang iya," kataku.

"Aku tahu."

"Aku butuh waktu untuk memikirkan ini."

"Kamu punya empat puluh delapan jam." Dia berdiri, merapikan jasnya. "Setelah itu, aku perlu keputusan. Situasiku tidak memiliki ruang untuk lebih dari itu."

Dia mengambil ponselnya dari meja dan berjalan ke arah pintu.

"Revano."

Dia berhenti. Menoleh sedikit.

"Kamu sudah tahu hampir segalanya tentang aku dari laporan tim riset kamu." Aku menatapnya langsung. "Tapi aku tidak tahu hampir apapun tentang kamu selain yang ada di artikel bisnis. Itu tidak seimbang."

Sesuatu di wajahnya bergerak — sangat halus, sangat cepat, tapi aku cukup awas untuk melihatnya.

"Apa yang ingin kamu ketahui?"

"Belum tahu," jawabku jujur. "Tapi aku ingin tahu bahwa kalau aku bertanya, kamu akan menjawab."

Jeda. Panjang.

"Tidak semuanya," katanya akhirnya. "Tapi aku tidak akan berbohong."

Dan dia pergi.

Aku duduk sendirian di ruangan itu selama mungkin lima menit setelah dia keluar. Menatap map abu-abu yang tebal di atas meja. Menatap pemandangan Jakarta yang terbentang di balik kaca.

Empat puluh dua halaman kontrak. Empat puluh delapan jam untuk memutuskan.

Aku membuka map itu lagi ke halaman Lampiran B — daftar utang Bapak yang sudah dua tahun menghantui tidurku. Membaca angka terakhir di baris paling bawah satu kali lagi.

Lalu aku menutupnya, memasukkannya ke dalam tas, dan berjalan keluar.

Di lift turun, aku menatap pantulan diriku di dinding lift yang mengilap. Rambut yang lebih rapi dari kemarin karena tadi pagi aku sadar diri. Blazer yang sudah kering tapi masih menyimpan kerutan dari hujan semalam. Wajah yang terlihat lebih tua dari dua puluh empat tahun tapi belum cukup tua untuk terlihat bijak.

Empat puluh delapan jam.

Lift terbuka di lobi. Aku melangkah keluar ke udara Jakarta yang sudah mulai panas, meski baru pukul sepuluh pagi.

Dan aku tahu — meski aku tidak mau mengakuinya bahkan kepada diri sendiri — bahwa keputusanku sudah setengah jadi sejak aku membuka halaman Lampiran B tadi.

Yang tersisa hanya menunggu setengahnya lagi untuk menyusul.

— Selesai Bab 2 —o

1
Nina Ninu
terlalu kaku dan bertele tele
Nabilah Putri
💪💪
Wahyu🐊
ok
Ds Phone
ada yang belum puas hati
Ds Phone
nasib baik dia ni ceras d
Ds Phone
tak bolih silap sekit pun
Ds Phone
semua kena ikut aturan
Ds Phone
bermula hidup baru
Ds Phone
semua nya untuk hidup
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!