Beberapa bulan setelah Leon lulus dari SMA, gurunya menawarkan Leon untuk bekerja di villa sang guru. Setahun setelah itu, Leon berhasil menembus tahap pemurnian qi level satu, dan secara resmi dijadikan murid oleh sang guru. Pada malam peresmian murid, gurunya memberikan sebuah bola hitam misterius kepada Leon. Keesokan harinya, kehidupan Leon mulai berubah secara drastis!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Candra S, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sebuah Penghinaan
Setelah menuangkan anggur, pelayan keluar dari dalam ruangan.
"Ini adalah sampelnya. Aku juga memiliki batangan 10 kilogram. Tapi aku tidak membawanya bersamaku sekarang."
Setelah menyesap anggur, Leon mengeluarkan masing-masing satu emas batangan 100 gram dan 1 kilogram dari dalam ransel. Tentu itu hanyalah kamuflase untuk menutupi inventory miliknya.
"Hooo...."
Robenyo mengambil dua emas batangan itu dari tangan Leon.
"Kamu dapat memeriksa tingkat kemurniannya untuk memastikan."
"Leon, apakah menurutmu setelah kejadian di mobil tadi aku tidak mempercayaimu?"
Leon tertawa kecil mendengar pernyataan Robenyo.
"Berapa banyak yang bisa kamu sediakan?"
"Aku tidak masalah berapapun yang kamu minta."
Robenyo mengangguk mendengar pernyataan santai Leon. Setelah berpikir sejenak, dia memutuskan angkanya.
"Aku ingin sepuluh ton. Apakah kamu dapat menyediakannya?"
"Tentu. Dimana aku akan membawanya?"
"Aku memiliki sebuah gudang khusus untuk hal-hal seperti ini. Aku akan mengirimkan lokasi gudangnya padamu nanti."
"Ohhh, apakah gudang itu jarang dipakai?"
Melihat ketertarikan Leon, Robenyo menawarkan.
"Hohohoho, jika kamu mau, kamu bisa menggunakannya sesukamu. Bahkan tidak ada kamera pengawasan di dalam gudang dan area sekitarnya."
Setelah menyesap anggur, Robenyo menjelaskan kepada Leon.
"Meskipun aku seorang pengusaha yang benar, sesekali orang seperti kami melakukan beberapa hal di area abu-abu. Tentu aku tidak akan melewati batas diluar jalur hukum, seperti obat-obatan terlarang, atau barang berbahaya lainnya."
Kemudian Robenyo mengirimkan alamat gudang dan kontak kepala gudang kepada Leon.
"Bisakah kamu mengirimnya ke gudang sebelum hari Kamis?"
"Tentu saja. Aku bahkan akan mengirimkannya besok atau lusa."
"Untunglah. Jumat nanti, aku akan kembali ke Bali. Akan ada pelelangan besar di sana dalam dua minggu ke depan."
"Pelelangan?"
"Mmm, pelelangan besar terjadi sekali dalam setahun. Berbeda dengan lelang kecil yang terjadi setiap bulan, pelelangan besar bahkan menarik orang-orang kaya dari luar negeri."
"Apa ada barang yang menarik di sana?"
"Setiap pelelangan besar akan selalu menunjukkan item magis yang berharga. Tentu tidak seberharga ramuan yang dapat meregenerasi anggota tubuh tadi. Tapi bagi kami orang-orang biasa, item magis ini tentunya sangat menarik minat kami."
"Kalau begitu bisakah aku ikut? Aku ingin melihat-lihat jika ada barang yang menarik."
"Tidak masalah. Tapi aku hanya memiliki kursi keanggotaan biasa dalam tempat itu, jadi aku tidak dapat membawa seseorang masuk dengan bebas. Selain anggota, mereka harus membayar deposit 1 miliar untuk masuk ke dalam. Jika kamu melakukan penawaran dalam lelang, jumlahnya akan dikurangi nilai deposit tersebut. Tapi jika kamu tidak membeli apapun dalam pelelangan, uang deposit tersebut akan hangus."
Robenyo juga memberitahu Leon bahwa pendaftaran untuk mengikuti Lelang paling lama adalah tiga hari sebelum pelelangan berlangsung.
"Baiklah, itu akan berhasil."
Sebagai bentuk persahabatan lintas generasi diantara mereka, Leon mengeluarkan sebuah tabung kaca berisi ramuan pemulihan kecil.
"Aku akan memberikan ini padamu. Meskipun ini jauh berbeda dengan yang dikonsumsi Joe, ini dapat menyembuhkan luka kecil, dan bahkan meringankan efek racun yang mematikan."
"Benarkah? Bagaimana dengan cadanganmu?"
"Aku masih punya empat lagi. Jangan khawatir."
"Aku sungguh sangat menghargainya!"
Itu adalah barang murah yang Leon beli dari universe network. Namun bagi seseorang seperti Robenyo, itu merupakan barang yang sangat berharga. Terutama manfaat dalam meringankan efek racun yang dapat merenggut hidupnya dalam sekejap.
Setelah keduanya berbincang-bincang sejenak, mereka memutuskan untuk kembali ke tempat sebelumnya.
"Siapa mereka?"
Dari kejauhan, Robenyo bertanya-tanya siapa kelompok orang yang ada disekitar meja para gadis dan bawahannya. Namun disamping Robenyo, Leon menunjukkan ekspresi murung.
"Sepertinya mereka adalah kelompok orang yang suka mengganggu adikku dan Elisa."
"Hohhh.... Mari kita lihat apa yang mereka lakukan pada adik dan wanitamu."
*****
"Tolong berhenti mengganggu meja ini. Jika tidak, saya akan memanggil petugas keamanan."
Karena ini bukan situasi yang berbahaya, Joe dan para pengawal lainnya hanya mengamati. Namun berbeda dengan mereka, asisten Robenyo harus menanggapi sekelompok pengganggu yang mengganggu keluarga teman bosnya.
"Aku tidak mengganggu kalian. Wilona dan Elisa adalah teman satu angkatan kami. Kami hanya mengundangnya untuk ikut bergabung bersama meja kami saja."
Ternyata mereka adalah kelompok geng kaya dari jurusan yang sama dengan Wilona dan Elisa, yang terdiri dari tujuh orang.
"Tidak usah. Kami sedang menunggu kakakku."
Wilona menolak pria tersebut dengan alasan yang menunggu kakaknya.
"Kakakmu yang waktu itu? Kalau begitu itu juga bukan masalah. Kakakmu dapat bergabung dengan kami nanti."
"Tidak, tidak perlu. Terimakasih."
Sebelum pria itu berbicara, Leon dan Robenyo tiba di meja.
"Ada apa ini?"
Melihat kedatangan Robenyo asistennya berbisik menjelaskan. Pria yang memimpin kelompok itu baru saja di restoran. Ketika mereka melihat keberadaan Wilona dan Elisa, mereka mengundang keduanya untuk bergabung di meja mereka untuk menikmati makan siang. Meskipun pria tersebut mengundang dengan kata-kata sopan, pria itu dan kelompoknya tidak menyerah dengan penolakan Wilona dan Elisa.
Setelah mendengar penjelasan asistennya, Robert tersenyum dan melangkah maju.
"Dengar teman-teman. Mereka berdua baru saja makan siang bersama kami. Tidak perlu lagi bagi kalian untuk mengundang keduanya untuk makan lagi."
"Tidak masalah pak. Mereka dapat menikmati makanan penutup di meja kami."
Robenyo mengalihkan pandangan dari pria tersebut ke atas meja. Mengikuti pandangan Robenyo, pria itu juga melihat berbagai hidangan penutup yang masih ada di sana.
"Y-yah, bagaimana kalau kalian berdua hanya berbincang-bincang dengan kami saja?"
"Tidak perlu. Kami akan segera kembali pulang ke rumah."
Wilona terus menolaknya.
"Dasar kalian ini. Yudha sudah berbaik hati mengajak kalian berdua bergabung bersama kami. Jangan sok jual mahal!"
Sementara pria yang bernama Yudha sebelumnya berbicara sopan, salah satu wanita dalam kelompok itu tidak tahan lagi mendengar penolakan Wilona.
"Jangan bertengkar nak. Tidak perlu membuat keributan di tempat ini."
Robert berusaha menenangkan gadis tersebut.
"Siapa kamu pria tua? Aku tidak bertengkar dengan kedua orang ini. Para lacur inilah yang sok jual mahal sejak awal!"
Plak!!!
Suara tamparan keras terdengar disekitar meja tersebut.
Leon tanpa basa-basi melangkah maju dan langsung menampar pipi kiri gadis itu ketika dia mendengar hinaan yang dia lontarkan terhadap Wilona dan Elisa.
Lacur? Beraninya dia menempelkan kata itu terhadap adiknya dan Elisa!
"Kamu... Beraninya kamu menamparku!"
"Hei, kamu berani menampar Yuni?"
"Jangan berlebihan dengan menggunakan kekerasan!"
Sementara gadis lain membantu Yuni yang terjatuh, pria-pria lain di kelompok itu maju dan menunjuk-nunjuk Leon.
"Dia menghina adikku dan Elisa. Itu adalah hal yang pantas baginya."
Yuni berdiri dan menunjuk Leon dengan amarah.
"Kamu... Panggil, panggilkan petugas keamanan segera!"
"Oke-oke, sabarlah."
Salah satu pria memanggil pelayan yang mengamati dari kejauhan, dan menyuruhnya untuk memanggil petugas keamanan.
"Kamu akan segera menyesal! Ayahku adalah seorang direktur di tempat ini!"
Gadis itu menunjuk Leon dengan kasar.
"Hooo.... Lalu siapa nama ayahmu ini?"
Robenyo tertawa dalam hati. Dia tidak menyangka menemukan hal klise seperti dalam novel-novel cina di kehidupan nyata. Dia menjadi tertarik dan benar-benar bersemangat!
"Apa urusanmu pria tua!"
"Bisa saja kamu berbohong bukan? Aku juga bisa mengatakan saudaraku adalah salah satu direktur disini. Tapi mana buktinya?"
"Ka-kamu. Kalau begitu pelayan, panggilkan manager juga! Manager akan mengenalku!"
Tak lama kemudian, petugas keamanan datang. Namun karena dia melihat semua orang menunggu manager dalam diam, dia pun ikut menunggu manager dalam diam.