NovelToon NovelToon
Pewaris Kekuatan Dewa Api

Pewaris Kekuatan Dewa Api

Status: tamat
Genre:Fantasi Timur / Kebangkitan pecundang / Harem / Tamat
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: Wang Qiu'er

Di benua Xuanyuan yang luas, di mana kekuatan kultivasi menentukan segalanya, keluarga besar Lin menguasai wilayah Selatan dengan gemilang. Lin Feng, putra sulung dari garis keturunan utama, seharusnya menjadi harapan masa depan keluarga. Namun, saat upacara pembukaan dantian di usia 12 tahun, kebenaran kejam terungkap: dantiannya rusak parah sejak lahir, meridiannya tersumbat, dan qi langit & bumi tak mampu mengalir masuk.

Sejak saat itu, julukan "Tuan Muda Sampah" melekat padanya. Saudara-saudara tiri yang iri, tetua keluarga yang kecewa, serta para pelayan yang dulu merendah kini berani menghinanya secara terang-terangan. Tunangannya yang cantik dari sekte terkemuka membatalkan pertunangan dengan alasan "tak layak", dan ayahnya sendiri, Patriark Lin, hanya bisa menghela nafas sambil menatap sedih anaknya.

Namun, takdirnya mulai berubah ketika Lin Feng mewarisi kekuatan Dewa Api.
Bagaimana kisah Lin Feng? Yuk, ikuti kisahnya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wang Qiu'er, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19

Tiga hari kemudian, Lin Feng dan Ye Qingyu meninggalkan Kota Kekaisaran Xuan Yuan dengan dua kuda roh hitam yang lincah, hadiah dari penjual di pasar bawah tanah setelah Lin Feng “membujuk” mereka dengan sedikit api demonstrasi. Mereka bergerak ke utara, melewati dataran luas yang mulai berubah menjadi tanah retak-retak berwarna merah gelap, seperti darah yang membeku di bawah matahari.

Udara semakin panas setiap hari. Pohon-pohon mulai jarang, digantikan batu-batu hitam yang retak dan mengeluarkan uap tipis. Ye Qingyu duduk di belakang Lin Feng di atas kuda yang sama, lengannya melingkar erat di pinggang pria itu, dagunya bersandar di bahu lebarnya. Jubah hitamnya berkibar ditiup angin panas, memperlihatkan lekuk pinggul dan paha mulusnya yang sesekali tersingkap.

“Kau baik-baik saja?” tanya Lin Feng, suaranya tenang tapi penuh perhatian.

Ye Qingyu mengangguk pelan, rambut hitamnya menyapu leher Lin Feng. “Aku baik… selama kau ada di depanku. Panasnya mulai terasa, tapi api mu seperti pelindung. Aku bisa merasakannya dari belakang.”

Lin Feng tersenyum tipis. Tangan kirinya meraih tangan Ye Qingyu yang melingkar di perutnya, meremas lembut. “Kalau terlalu panas, bilang. Aku bisa buat perisai api lebih tebal.”

Malam pertama di perjalanan, mereka mendirikan kemah di tepi jurang kecil yang dikelilingi batu obsidian alami. Api unggun Lin Feng menyala keemasan, tidak butuh kayu, hanya percikan dari telapak tangannya. Ye Qingyu duduk di pangkuan Lin Feng, punggungnya menempel dada pria itu, kakinya terbuka melingkari kaki Lin Feng.

“Malam ini dingin di luar, tapi di sini… hangat sekali,” bisik Ye Qingyu sambil menggeser pinggulnya pelan, menggosokkan tubuh bagian belakangnya yang montok ke tombak penghancur Lin Feng yang langsung bereaksi.

Lin Feng menghembuskan napas panas di leher gadis itu. “Kau sengaja, ya?”

“Sedikit,” jawab Ye Qingyu sambil tersenyum manja. Ia memutar tubuhnya menghadap Lin Feng, lututnya di kedua sisi pinggul pria itu. Jubahnya ia buka perlahan, memperlihatkan kedua Puncak Kembar montok yang naik-turun seiring napas cepat. “Aku butuh kau malam ini… untuk hilangkan pikiran tentang adikku. Buat aku lupa sebentar.”

Lin Feng tidak menjawab dengan kata. Ia menarik Ye Qingyu lebih dekat, mulutnya langsung menangkap kuncup kiri gadis itu, mengisap lembut sambil lidahnya berputar. Tangan kanannya meremas puncak satunya, jari-jarinya memilin kuncup hingga Ye Qingyu mendesah manja dan menggeliat di pangkuannya.

“Ahh… Lin Feng… lebih kuat…” pintanya, tangannya menyusup ke jubah Lin Feng, menggenggam tombak penghancur yang sudah keras dan panas.

Mereka bergerak pelan di depan api unggun. Ye Qingyu mengangkat pinggulnya, memasukkan Lin Feng ke dalam dirinya dengan gerakan lambat yang menyiksa. Ia menggoyang pinggulnya naik-turun, puncak kembarnya bergoyang di depan wajah Lin Feng yang terus mengisap dan menggigit lembut. Tubuh bagian belakang montoknya memantul setiap kali ia turun, suara kulit bertemu kulit bercampur desahan mereka.

Lin Feng memegang pinggul ramping Ye Qingyu, membantu gerakannya lebih dalam. “Kau terasa semakin sempit… semakin panas…” geramnya, suaranya parau.

Ye Qingyu menjerit kecil setiap kali mencapai puncak kecil, tubuhnya kejang, tapi ia terus bergerak. “Isi aku… buat aku penuh… hilangkan semua duka ini dengan apimu…”

Mereka berganti posisi—Ye Qingyu berlutut di atas batu hangat, tubuh bagian belakangnya terangkat tinggi. Lin Feng masuk dari belakang, menghantam keras sambil meremas puncak kembarnya dari samping. Setiap dorongan membuat Ye Qingyu menjerit kenikmatan, kakinya gemetar. Akhirnya Lin Feng mencapai puncak, memenuhinya dengan panas yang membara, membuat gadis itu mencapai puncak hebat hingga tubuhnya ambruk ke pelukan Lin Feng.

Mereka berbaring saling peluk di dekat api, napas tersengal. Ye Qingyu mencium dada Lin Feng pelan.

“Terima kasih… malam ini aku bisa tidur tenang.”

Lin Feng membelai rambutnya. “Besok kita sampai di lembah. Aku akan ambil adikmu kembali. Dan Huo Yan Mie… akan jadi abu.”

Hari ketiga, mereka tiba di mulut Lembah Api Terlarang. Lembah itu seperti luka terbuka di bumi—dinding batu merah gelap menganga, sungai lava mengalir di dasar, udara penuh asap hitam dan bau belerang yang menyengat. Di tengah lembah, samar-samar terlihat benteng hitam dengan menara api yang berdenyut seperti jantung raksasa.

Formasi kutukan sudah aktif—gelombang api hitam melingkar seperti ular raksasa, membakar apa pun yang mendekat.

Lin Feng turun dari kuda, api keemasan meledak dari tubuhnya. Ia mengulurkan tangan ke Ye Qingyu.

“Siap?”

Ye Qingyu menggenggam tangannya erat. “Selama kau pegang aku… aku siap bakar apa saja.”

Mereka melangkah masuk. Api hitam menyambar, tapi api keemasan Lin Feng langsung menelannya, mengubah kutukan menjadi bahan bakar. Formasi bergetar hebat—seolah lembah sendiri marah.

Dari dalam benteng, suara tawa dingin terdengar.

“Lin Feng… akhirnya kau datang. Aku sudah menunggu lama untuk membakar pewaris Api Abadi.”

Huo Yan Mie muncul di atas menara, tubuhnya setengah terbakar, mata merah menyala, tangan memegang guci hitam berukir api jiwa.

Pertarungan terakhir… akan dimulai.

1
Dian Pravita Sari
gak gaya tamat Curtis ngambang srmua
Dian Pravita Sari
dlogok jarang gak teks aku pules kau smbil. links. gak tanggung jawab jgn hynkejst kontrak yo. lejat reputasi fukl th mana bagian boro konsumen mau aku protes biar do blek. list kmli
Lekat Wahyudi
😍👍👍
༄🥑⃟⍟Mᷤbᷡah²_Atta࿐
Ceritanya menarik untuk dibaca 👍
Wang Chen: semoga terhibur ya kak
total 1 replies
༄🥑⃟⍟Mᷤbᷡah²_Atta࿐
Awal cerita sudah bagus 👍
Wang Chen: terimakasih, kak.
total 1 replies
🄱🅃🅃🄷_Wₐₙg Yᵤₓᵢᵤ
mantap
Wang Chen: terimakasih kak
total 1 replies
🄱🅃🅃🄷_Wₐₙg Yᵤₓᵢᵤ
ok
🄱🅃🅃🄷_Wₐₙg Yᵤₓᵢᵤ
Mulai baca
Wang Chen: selamat membaca kak
total 1 replies
Wang Chen
Jika suka dengan karya ini, jangan lupa kasih like, comment, share, subscribe, dan follow ya hehe
Wang Chen
bantu likom ya gess
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!