NovelToon NovelToon
Pelakor Berkedok Sahabat

Pelakor Berkedok Sahabat

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Diam-Diam Cinta / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:7.7k
Nilai: 5
Nama Author: Gusmon

Nadya adalah definisi istri sempurna: cantik dengan wajah baby face yang menggemaskan, tubuh sintal yang terjaga, dan hati selembut sutra. Namun, kebaikannya yang tanpa batas justru menjadi bumerang. Demi membangkitkan butik eksklusifnya yang mulai lesu, Nadya mempekerjakan Stefani, seorang top affiliate e-commerce berusia 21 tahun yang sedang naik daun.


Stefani bukan sekadar rekan kerja biasa. Di balik wajah cantiknya yang sensual dan gaya bicaranya yang manja, ia adalah predator yang haus akan kemewahan. Saat pertama kali menginjakkan kaki di rumah mewah Nadya, target Stefani berubah. Ia tidak lagi menginginkan komisi penjualan, ia menginginkan seluruh hidup Nadya—termasuk suaminya, Erian.


Erian, seorang eksekutif muda yang gagah, selama ini memendam gairah besar yang tidak tersalurkan karena sifat Nadya yang terlalu pasif dan "terlalu baik" di ranjang. Celah inilah yang dimanfaatkan Stefani dengan sangat licik. Dengan kedok profesionalisme—sering menginap untuk alasan live.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gusmon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21 : Tangisan Stefani

Pagi itu, aroma nasi goreng buatan Nadya memenuhi ruang makan, namun suasana di meja makan terasa sangat kontras. Erian duduk dengan kemeja kantor yang rapi, tampak segar setelah malam yang panjang. Di sampingnya, Nadya tersenyum manis sambil menyendokkan nasi ke piring suaminya.

"Mas harus makan yang banyak, kemarin kan udah capek banget di kantor," ucap Nadya lembut.

Stefani datang dengan wajah ditekuk dan kantung mata yang menghitam karena kurang tidur—akibat "konser" suara dari kamar sebelah semalam. Ia duduk di hadapan mereka dengan kasar, menarik piringnya sampai menimbulkan bunyi settt yang ngilu.

"Pagi, Stef. Kok mukanya ditekuk gitu? Nggak enak badan?" tanya Nadya polos, tanpa menyadari rasa dengki yang membakar asistennya.

Stefani melirik Erian yang sama sekali tidak menoleh padanya, lalu beralih ke Nadya. "Iya, kurang tidur. Ada suara berisik semalam, kayak ada yang lagi pesta tapi nggak bagi-bagi," jawab Stefani sinis dengan nada ketus.

Erian menghentikan suapannya, matanya menatap Stefani dengan tajam dan dingin. "Kalau kamu merasa rumah ini terlalu berisik, mungkin kamu butuh tempat tinggal lain yang lebih sepi, Stefani."

Suasana mendadak beku. Nadya kaget mendengar nada bicara Erian yang tidak biasanya kasar pada Stefani. Sementara Stefani, jantungnya berdegup kencang antara takut dan marah. Ia ingat pesan Marlon semalam bahwa mobilnya dibatalkan, dan sekarang Erian seolah-olah mengancam akan mengusirnya.

Stefani mengepalkan tangan di bawah meja. Sialan kamu, Erian. Kamu belum tahu saja kalau aku bisa menghancurkan topeng 'suami teladan' kamu ini kapan saja, batin Stefani penuh amarah.

"Maaf, Mas. Aku cuma bercanda," ucap Stefani akhirnya dengan nada rendah, mencoba kembali ke mode "sahabat" yang terintimidasi.

"Sudah-sudah, ayo dimakan. Mas, jangan galak-galak sama Stefani," lerai Nadya sambil mengelus lengan Erian.

Esok Harinya

Pagi itu, rumah terasa sedikit lebih sepi karena Nadya sudah berangkat lebih awal untuk meeting penting dengan klien butiknya. Erian masih berada di rumah, sedang bersiap-siap di ruang tengah sambil memeriksa beberapa dokumen kantor yang sempat tertunda.

Di pojok ruang tengah, Stefani sudah mengatur posisinya. Ia duduk termenung dengan penampilan yang sangat kontras dari biasanya. Ia mengenakan daster sutra mini yang sangat tipis dengan tali bahu yang kecil, mengekspos bahu dan lengannya yang terbuka. Parfum beraroma soft sensual yang erotis mulai menguap, memenuhi sudut ruangan itu, mencoba menjerat indra penciuman Erian.

Matanya dibuat sembab, dan ia mulai sesenggukan. Awalnya, Erian yang sedang fokus pada berkasnya bersikap cuek saja. Ia tidak ingin berurusan dengan asisten istrinya yang menurut Clarissa adalah "ular berbisa" itu. Namun, lama-kelamaan tangisannya semakin terdengar menyayat hati, membuat suasana rumah menjadi tidak nyaman.

Erian menghela napas panjang, meletakkan dokumennya, lalu melangkah maju menghampiri Stefani.

"Kamu kenapa, Stef?" tanya Erian datar, masih menjaga jarak aman.

Stefani mendongak, air mata buatan itu mengalir membasahi pipinya. Ia tampak sangat rapuh di balik balutan sutra tipisnya. "Aku bingung, Mas... aku benar-benar buntu," ucap Stefani dengan suara bergetar.

"Kenapa? Ada masalah apa?"

"Ayahku, Mas... beliau sakit keras. Selama ini aku selalu mengirimi keluarga uang dalam jumlah yang lumayan setiap bulan untuk biaya terapinya. Tapi kali ini dokter bilang kondisinya menurun drastis. Beliau harus segera dibawa untuk terapi ke Singapura, dan biayanya... biayanya jauh lebih besar dari yang aku punya," ucap Stefani memelas.

Ia menutup wajahnya dengan tangan, bahunya berguncang hebat. "Aku nggak tahu harus cari uang ke mana lagi dalam waktu singkat ini. Aku nggak mau kehilangan Ayah, Mas..."

Erian terdiam. Secara logika, ia merasa iba mendengar cerita soal orang tua yang sakit. Namun, di kepalanya, peringatan Clarissa semalam terus berdenging.

Sore itu, suasana di ruang tengah kediaman Erian dan Nadya mendadak berubah haru sekaligus tegang. Stefani, yang sudah berganti pakaian namun wajahnya masih terlihat sangat kuyu dengan mata yang merah, berdiri di hadapan Erian dan Nadya sambil membawa sebuah tas koper kecil.

"Nad, Mas Erian... aku datang mau pamit. Aku harus pulang ke kampung di Jawa Barat sekarang juga. Kondisi Ayah makin kritis, dokter bilang nggak bisa nunggu lebih lama lagi," ucap Stefani dengan suara yang masih serak, seolah habis menghabiskan sisa air matanya.

Nadya, yang memang memiliki hati selembut sutra, langsung memeluk sahabatnya itu dengan erat. "Ya ampun, Stef... kenapa baru bilang? Kalau soal biaya yang kamu bilang tadi, nanti aku usahakan bantu bicara sama Mas Erian ya. Kamu hati-hati di jalan."

Stefani mengangguk lemah dalam pelukan Nadya, namun matanya melirik ke arah Erian yang berdiri tak jauh dari mereka. "Makasih ya, Nad. Maaf aku malah bikin kalian repot di saat Mas Erian baru saja mulai kerja lagi."

Erian hanya berdiri mematung dengan tangan di saku celananya. Ia melihat bagaimana Nadya dengan tulus mengkhawatirkan asistennya itu. Secara manusiawi, Erian merasa simpati, namun di sudut hatinya yang paling dalam, ia masih teringat pada peringatan keras dari Clarissa soal "ular berbisa".

"Ya sudah, Stef. Hati-hati di jalan. Semoga ayahmu segera mendapatkan perawatan terbaik," ucap Erian singkat dan formal. Tidak ada tawaran untuk mengantar, tidak ada basa-basi berlebih.

Setelah Stefani mencium tangan Nadya dan berpamitan, ia melangkah keluar menuju taksi yang sudah menunggu. Begitu pintu taksi tertutup dan mobil itu bergerak menjauh dari gerbang rumah, ekspresi sedih di wajah Stefani mendadak lenyap. Ia mengambil ponselnya, bukan untuk menghubungi keluarga di kampung, melainkan mengirim pesan singkat.

1
katty
up
Ovha Selvia
Nadya bodohnya minta ampun wkwkwkwkw
Lee Mba Young
Kbanyakan istri sah ki mesti baik nya kbanyakan bodoh mudah di tipu. masukin wanita lain ke rumah pdhl itu TDK bnar menurut agama.
ntar kl suami selingkuh dng wanita itu yg di Salah kan suaminya pdhl yg Salah jls istri sah yg mmbawa wanita lain tinggal di situ 🤣🤭.
mkne kl erian terjerat ma pelakor ya yg Salah istri sah lah. gk muasin suami plus malah bawa wanita lain seatap. 😄🤭
katty
lanjut
katty
/Shy/
katty
lanjut
Indi_Dedy77
nadya oon, suaminya CEO tp oon juga, jd ada lubang si ular bs masuk se enaknya. kan bs pake ancaman utk stefani biar keluar dr rumahnya.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!