Selama ini Nana selalu mengalah pada tunangannya, dia bagaikan gadis bodoh yang tidak ingin kehilangan cinta Tris. Sampai Tris mempermalukan Nana di depan orang banyak, karena kejadian itu Nana dihujat di internet. Lalu Nana mulai berubah usai mendapatkan uluran tangan acuh tak acuh dari abangnya Tris, yaitu Aska.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rinnaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
2. Kebodohan.
Nana menutup telepon dengan perasaan puas yang aneh. Baru kali ini suara Tris terdengar segan bahkan cenderung takut saat berbicara dengannya. Biasanya, Tris akan membentak atau langsung mematikan sambungan jika Nana menuntut sesuatu.
"Sudah puas pamer kekuasaan lewat namaku?" sindir Aska tanpa mengalihkan pandangan dari jalanan.
Nana meringis kecil, memasukkan ponsel barunya ke dalam kantong belanjaan. "Aku tidak pamer, Bang. Hanya saja... Tris memang cuma dengar kata-katamu."
"Dia bukan dengar kata-kataku. Dia takut aku menagih hutangnya," sahut Aska datar. Mobil mewah itu membelok masuk ke area parkir sebuah restoran privat yang tampak tenang dan mahal. "Turun. Dan lepaskan sepatu bodohmu itu. Kau berjalan seperti bebek lumpuh."
Nana menunduk, melihat kakinya. Benar saja, lecet di tumitnya sudah mulai mengeluarkan darah sedikit, menodai bagian dalam heels putihnya. Tanpa membantah, Nana melepas sepatunya di dalam mobil. Begitu kakinya menyentuh lantai mobil yang dingin, ia menghela napas lega.
Mereka duduk di sudut restoran yang cukup tersembunyi. Aska memesan makanan tanpa bertanya pada Nana, seolah dia sudah tahu bahwa gadis di depannya ini terlalu lemas untuk memilih menu.
Saat pelayan pergi, Aska meletakkan sebuah kantong plastik kecil di atas meja. Nana membukanya dan menemukan plester luka, cairan antiseptik, dan sepasang sandal hotel yang empuk.
"Pakai itu. Jangan buat lantai restoran ini berdarah," perintah Aska dingin.
"Bang Aska kapan belinya?" tanya Nana takjub. Ia tidak sadar kapan pria ini sempat mampir ke apotek.
"Saat kau sibuk mengagumi ponsel barumu tadi." Aska mulai menyesap kopi hitamnya. "Kenapa kau masih bertahan dengan si berengsek itu, Nana? Kau punya wajah yang lumayan, kau tidak bodoh-bodoh amat kalau sedang tidak jatuh cinta. Kenapa harus Tris?"
Nana terdiam, tangannya sibuk menempelkan plester ke tumitnya yang perih. "Dia orang pertama yang membuatku merasa punya rumah, Bang. Sebelum ada Elli yang kembali masuk ke hidupnya."
"Rumah yang membiarkan penghuninya jalan kaki 12 kilometer di bawah terik matahari bukan rumah namanya," sela Aska tajam. Matanya yang tajam menatap Nana lekat-lekat. "Itu halte. Dan kau cuma numpang lewat sampai dia menemukan penumpang yang lebih dia sukai."
Hati Nana mencelos. Perkataan Aska selalu jujur hingga terasa menyakitkan. Makanan datang, namun selera makan Nana menguap begitu saja.
"Bang," panggil Nana pelan. "Kenapa Abang membantuku? Bukankah Abang selalu bilang kalau aku ini merepotkan?"
Aska memotong steak-nya dengan presisi seorang ahli bedah. "Memang merepotkan. Tapi melihat Tris ketakutan karena kau bersamaku... itu hiburan yang cukup menarik untuk akhir pekan ini."
Nana menatap pria di depannya. Aska jauh lebih tampan dari Tris, lebih matang, lebih stabil, dan memiliki aura yang mendominasi. Jika Tris adalah api yang membakarnya pelan-pelan, maka Aska adalah es yang membekukan logikanya.
Sebuah ide gila melintas di kepala Nana. Jika Tris begitu takut pada Aska, bukankah ini kesempatan bagus untuk mengancam Tris? Nana ingin Tris datang menjemputnya di rumah Aska, meminta maaf dengan wajah penuh penyesalan, lalu mengajaknya pulang sambil berjanji tidak akan mengulanginya lagi.
Ya, Nana hanya ingin Tris peduli padanya. Sesederhana itu mimpinya.
“Bang Aska,” Nana mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap mata hitam Aska yang dingin.
“Boleh aku menunggu tas dan ponselku di rumah Abang saja? Aku tidak mau menunggu di teras apartemenku sendirian. Panas, Bang. Dan... kakiku sakit sekali.”
Aska berhenti mengunyah. Ia meletakkan garpunya, lalu menatap lecet di kaki Nana yang baru saja ditempeli plester dengan tidak rapi.
“Kau ingin aku menjadi alat untuk memancing perhatian adikku yang tidak berguna itu?” tebak Aska tepat sasaran. Ia mendengus pelan, suaranya berat dan penuh ejekan. “Kau pikir dengan berada di rumahku, Tris akan datang berlutut dan memohon ampun?”
Nana terdiam, bibirnya mengerucut. “Mungkin saja? Dia kan takut pada Abang. Kalau dia tahu aku bersamamu, dia pasti langsung datang.”
Aska menyandarkan punggungnya ke kursi, melipat tangan di depan dada. Ia menatap Nana seolah gadis itu adalah sebuah kasus hukum yang sangat tidak menguntungkan namun menghibur untuk ditonton.
“Kau benar-benar bodoh, Nana. Tapi aku sedang tidak ada pekerjaan siang ini. Jika melihat drama picisan kalian bisa membuatku tidak bosan, maka jadilah.”
“Benarkah? Terima kasih, Bang Aska!” Seru Nana senang. Ia bahkan lupa kalau sejam yang lalu ia baru saja ditinggalkan di pinggir jalan.
Apartemen Aska sangat luas, minimalis, dan terasa dingin, persis seperti pemiliknya. Tidak ada foto keluarga, hanya rak buku tinggi penuh dengan literatur hukum dan berkas-berkas kasus.
Nana duduk di sofa kulit hitam yang dingin, sementara Aska masuk ke ruang kerjanya tanpa berkata apa-apa lagi. Nana segera menggunakan ponsel barunya untuk mengirim pesan singkat kepada Tris melalui aplikasi pesan instan yang baru ia unduh.
Nana: [Tris, cepatlah, aku menunggumu.]
Nana menatap layar ponselnya dengan jantung berdebar. Satu menit, lima menit, sepuluh menit. Pesan itu hanya dibaca, namun tidak ada balasan.
Dua jam kemudian, bel pintu berbunyi. Nana langsung berdiri dengan semangat, merapikan rambutnya yang sedikit berantakan. Ia yakin itu Tris. Ia sudah menyiapkan kalimat "aku memaafkanmu" di ujung lidahnya.
Namun, saat pintu dibuka, bukan Tris yang berdiri di sana. Melainkan seorang pria berseragam kurir ojek online yang membawa tas miliknya.
“Atas nama Nona Nana? Ini kiriman paket dari Pak Trisna,” kata kurir itu datar.
Senyum Nana luntur seketika. Ia menerima tasnya dengan tangan gemetar. Tris bahkan tidak mau datang sendiri. Ia lebih memilih membayar orang asing daripada melihat tunangannya yang baru saja ia telantarkan.
Dari balik pintu ruang kerja, Aska keluar sambil membawa segelas wiski. Ia bersandar di bingkai pintu, menatap Nana yang berdiri mematung memegang tasnya di depan pintu yang sudah tertutup kembali.
“Dia tidak datang, kan?” tanya Aska. Suaranya tidak terdengar mengejek kali ini, tapi lebih seperti pernyataan fakta yang telak.
Nana memaksakan tawa kecil yang terdengar hambar. “Dia... dia pasti sangat sibuk di kantor, Bang. Mungkin ada rapat mendadak dengan atasan.”
Aska berjalan mendekat, berdiri tepat di depan Nana hingga gadis itu harus mendongak. Aska mengambil tas dari tangan Nana dan meletakkannya di atas meja.
“Berhenti mencari alasan untuk orang yang bahkan tidak sudi meluangkan waktu sepuluh menit untukmu, Nana,” ucap Aska pelan, namun mengintimidasi. “Kau mau pulang sekarang, atau mau terus berdiri di sini menanti keajaiban yang tidak akan datang?”
Nana menggigit bibir bawahnya kuat-kuat, menahan air mata yang mendesak keluar. Ia belum menyerah, belum. Besok, ia yakin Tris akan berubah.
“Antarkan aku pulang, Bang,” cicit Nana pelan.
Aska mengambil kunci mobilnya. “Ayo. Dan simpan air matamu itu. Kau terlihat semakin jelek kalau menangis karena laki-laki seperti dia.”
Meskipun kata-katanya kasar, Aska membukakan pintu untuk Nana, memastikan gadis itu tidak tersandung sandal hotelnya yang kebesaran. Aska merasa aneh, ada rasa geli sekaligus jengkel melihat kegigihan Nana yang sia-sia. Baginya, Nana adalah kasus paling konyol yang pernah ia temui, dan entah kenapa, ia ingin melihat sejauh mana "kebodohan" ini akan berlanjut.
Bersambung....