NovelToon NovelToon
Golden Girl, Silver Boy

Golden Girl, Silver Boy

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Komedi / Idola sekolah
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Varss V

Ara tidak pernah berencana menyebut nama Gill.

Tapi ketika sahabatnya mendesak soal perasaannya, nama yang keluar justru nama cowok paling aneh di sekolah. Cowok yang bahkan tidak ingat wajahnya setelah insiden nasi tumpah di kantin.

Cowok yang memanggilnya wanita gila di minimarket. Cowok yang lebih peduli sama game-nya daripada pendapat seluruh sekolah.

Masalahnya, nama itu sudah terlanjur keluar.
Dan Gill, dengan logikanya yang tidak masuk akal tapi entah kenapa selalu benar, malah menawarkan solusi yang lebih tidak masuk akal lagi.

"Kalau mau berbohong, berbohonglah sampai akhir."

Satu perjanjian palsu. Satu hubungan yang tidak seharusnya nyata. Dan satu atap sekolah yang entah bagaimana menjadi satu-satunya tempat di dunia di mana Tiara Alexsandra bisa berhenti menjadi sempurna.
Siapa sangka kebohongan terbaik dalam hidupnya justru terasa seperti kebenaran yang paling sungguhan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Varss V, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

# BAB 35 - PERTEMUAN YANG TAK DI RENCANAKAN

Minggu pagi.

Ponsel Ara bergetar di atas meja belajar pukul sembilan lewat beberapa menit, di jam yang cukup siang untuk tidak merasa bersalah masih di kasur tapi cukup pagi untuk masih ingin tidak beranjak dari sana.

Ara mengambilnya dengan mata yang belum sepenuhnya terbuka.

Notifikasi dari Via.

*Ra, keluar yuk.*

Ara membaca itu dengan tingkat kesadaran yang masih belum seratus persen. Mengetik: *Kemana?*

*Refreshing.*

Ara menatap kata itu.

*Refreshing yang gimana.*

*Ya refreshing. Jalan-jalan.*

*Via, itu bukan jawaban yang spesifik.*

*Spesifik nanti. Jadi atau nggak?*

Ara meletakkan ponselnya di dada, menatap langit-langit kamarnya yang sudah sangat ia kenal dalam berbagai kondisi pagi, dan mempertimbangkan apakah ada alasan kuat untuk tidak pergi.

Tidak ada.

Minggu tanpa rencana dan Via yang mengajak keluar adalah kombinasi yang sudah cukup sering menghasilkan hari yang tidak terduga tapi tidak pernah membosankan.

*Oke. Jam berapa?*

*Sejam lagi. Ketemuan di taman deket stasiun.*

---

Via sudah ada di taman ketika Ara tiba.

Duduk di bangku dengan tas di pangkuan dan ekspresi yang terlihat biasa dari jarak sepuluh meter, tapi Ara sudah cukup lama mengenal Via untuk menangkap sesuatu yang berbeda dari cara Via duduk hari ini. Kurang tegak dari biasanya. Bahu yang sedikit lebih rendah. Cara matanya menatap ke arah taman yang bukan cara mata seseorang yang sedang melihat sesuatu tapi cara mata seseorang yang sedang ada di tempat lain sementara tubuhnya duduk di sini.

Ara duduk di sebelahnya.

"Mau kemana?" Ara bertanya.

Via menoleh. Ekspresinya langsung menyesuaikan ke versi yang lebih biasa, lebih terkontrol. "Belanja."

"Belanja apa?"

Via tersenyum dengan cara yang lebih cerah dari kondisi matanya beberapa detik lalu. "Nggak tau, liat-liat dulu."

Ara menatapnya satu detik.

Lalu memutuskan untuk tidak mendorong lebih jauh. Tidak dulu.

"Oke," ia berkata. "Mall yang mana."

---

Mall yang Via pilih ada dua stasiun dari taman, cukup besar untuk menghabiskan beberapa jam tanpa kehabisan tempat untuk dikunjungi, cukup ramai untuk hari Minggu siang tapi tidak sampai sesak.

Mereka masuk dari pintu utama.

Via berjalan dengan langkah yang tidak punya tujuan yang jelas tapi tidak tersesat, lebih seperti seseorang yang memang tidak mau punya tujuan yang jelas hari ini dan memilih membiarkan kakinya yang memutuskan.

Toko pertama: toko buku. Masuk, jalan-jalan di antara rak, Via mengambil satu buku melihat covernya meletakkannya kembali. Keluar.

Toko kedua: toko pakaian dengan pencahayaan yang terlalu dramatis untuk siang hari. Masuk, melihat beberapa baju, tidak ada yang diambil. Keluar.

Toko ketiga: toko aksesoris yang menjual berbagai hal mulai dari gelang sampai cermin kecil dengan frame yang terlalu banyak hiasannya. Masuk, Via melihat sebuah pin kecil berbentuk kucing dengan ekspresi datar, memegangnya sebentar, meletakkannya kembali. Keluar.

Dan begitu terus berulang sampai toko ke empat dan lima.

Di depan toko kelima, Ara berhenti berjalan.

Via yang satu langkah di depannya menoleh.

"Via," Ara berkata.

"Hm."

"Kita ini ngapain sebenernya."

Via menatapnya dengan ekspresi yang sangat terkontrol untuk seseorang yang baru saja ditanya pertanyaan yang paling langsung dari seluruh pertanyaan yang Ara bisa tanyakan hari ini.

"Refreshing," Via menjawab.

"Itu bukan jawaban."

"Itu jawaban yang valid."

"Via, kita sudah masuk lima toko dan tidak beli apapun."

"Belanja bukan berarti harus beli sesuatu."

"Itu definisi belanja yang sangat tidak konvensional."

Via tidak menjawab tapi di sudut bibirnya ada sesuatu yang bergerak ke atas, bukan senyum penuh tapi sesuatu yang mendekatinya, sesuatu yang mengandung campuran antara tertangkap dan tidak keberatan tertangkap.

Lalu ia tertawa.

Bukan tawa Via yang biasa yang pendek dan terkontrol. Ini tawa yang keluar sedikit lebih lama dari biasanya, sedikit lebih dari yang Via mungkin rencanakan untuk dikeluarkan, tawa yang terdengar lebih lelah dari yang seharusnya ada di tawa yang keluar karena sesuatu yang lucu.

Ara menatap Via yang tertawa itu.

Dan memutuskan bahwa ada tempat yang lebih baik dari lorong mall di antara toko lilin aromaterapi dan toko sepatu untuk percakapan yang sepertinya perlu terjadi hari ini.

"Via," Ara berkata, lebih pelan dari sebelumnya. "Kita istirahat dulu."

---

Cafe di luar mall itu kecil dengan konsep yang sederhana, beberapa meja di dalam dan beberapa meja di luar di bawah kanopi yang cukup untuk melindungi dari matahari siang tanpa sepenuhnya memisahkan dari udara luar.

Via memilih meja di luar.

Ara memesan dua minuman di kasir, proses yang memakan waktu cukup untuk ia kembali ke meja dengan dua gelas di tangannya dan menemukan Via yang sudah duduk dengan posisi yang sama seperti di taman tadi pagi, meja di depannya kosong, mata yang menatap ke arah jalan di depan cafe tempat orang-orang lewat dengan berbagai tujuan dan berbagai kecepatan dan berbagai ekspresi yang tidak ada hubungannya satu sama lain.

Tatapan yang ke arah yang Ara tidak tahu.

Ara meletakkan gelas di depan Via.

Duduk di sebelahnya.

Via tidak langsung bereaksi, masih menatap jalan itu selama dua detik sebelum menarik dirinya kembali dan melihat ke gelas yang baru ada di mejanya. "Makasih."

"Via."

"Hm." Via mengambil gelasnya.

"Kamu kenapa."

Pertanyaan yang langsung. Bukan pertanyaan yang mengelilingi dulu dari berbagai sudut untuk mencari celah masuk yang paling tidak mengancam. Langsung ke intinya karena Ara sudah cukup mengenal Via untuk tahu bahwa Via tidak merespons dengan baik terhadap pendekatan yang terlalu berhati-hati, Via lebih mudah terbuka ketika pertanyaannya jujur.

"Nggak ada apa-apa." Via minum seteguk dari gelasnya sambil coba tersenyum dengan cara yang sangat terlihat seperti usaha. "Capek aja."

"Via."

Satu kata. Diucapkan dengan nada yang berbeda dari sebelumnya, lebih pelan, lebih hangat, lebih seperti seseorang yang tidak sedang bertanya tapi sedang membuka pintu dan mempersilakan.

Ara menatap mata Via langsung.

Via menatap balik.

Dan sesuatu di Via yang tadi sangat terkontrol, yang sudah sangat lama terbiasa dikontrol, perlahan turun setengah langkah dari posisi tegaknya.

"Semalam aku chat sama Mike," Via berkata akhirnya.

Ara menunggu.

"Dia yang mulai." Via meletakkan gelasnya. Menatap permukaannya. "Habis telepon kamu katanya."

Ara berkedip. "Kamu tau Mike telepon aku?"

"Mike yang cerita." Via mengangkat bahunya tipis. "Dia chat aku, cerita kalau habis telepon kamu. Cerita soal kamu, soal gimana dia khawatir, soal hubungan kamu sama Gill dari sudut pandangnya."

Ara menatap Via. "Sudut pandangnya gimana?"

Via menatap jalan di depan cafe, ke arah yang tadi, ke arah yang tidak ada apa-apanya tapi rupanya lebih mudah untuk dilihat dari beberapa hal lain yang ada di sisi ini. "Dia cerita dengan cara yang..." Via berhenti sebentar, memilih kata. "Yang terkesan sedikit cemburu."

Ara membuka mulutnya.

"Tapi kamu ga ada apa-apa sama Mike," Via langsung menambahkan, dengan suara yang lebih pelan. "Aku tahu itu. Aku percaya kamu."

"Via, aku memang nggak ada apa-apa sama Mike." Ara menatap sahabatnya. "Semalam itu aku yang minta dia jawab soal kamu. Aku yang nanya dia tentang perasaannya ke kamu."

Via akhirnya menoleh ke Ara.

Ekspresinya bergerak melalui beberapa stadium sebelum berhenti di sesuatu yang menyerupai terkejut yang sudah setengah diantisipasi. "Kamu tanya itu ke dia?"

"Iya."

"Kenapa."

Ara menatap gelasnya sendiri. "Karena aku merasa dia perlu ditanya langsung. Karena terlalu lama tidak ditanya langsung."

Via diam beberapa detik.

"Dia jawab apa?" suaranya lebih pelan dari sebelumnya.

Ara menatap Via. Mempertimbangkan sebentar apakah ada cara yang lebih baik untuk menyampaikan ini. Menemukan bahwa tidak ada, dan bahwa Via yang jujur lebih baik dari Via yang dijaga dari kejujuran. "Dia bilang tidak tahu."

Hening.

Angin lewat dari arah jalan, mengangkat sedikit rambut pendek Via, membawa serta suara kota yang bergerak di sekitar mereka.

Via mengangguk sangat pelan.

"Via, aku salah ya." Ara berkata. "Aku minta maaf kalau salah."

Via menggeleng. Menarik napas. Lalu tersenyum dengan cara yang lebih tulus dari senyum yang ia pasang dari tadi pagi sampai sekarang, tapi juga lebih lelah dari senyum tulus yang biasanya ada di Via. "Nggak. Kamu nggak salah. Aku cuma..." ia berhenti. "Kaget aja denger jawaban itu."

Ara menatapnya.

"Tidak tahu itu jawaban yang jujur," Via melanjutkan, seolah sedang meyakinkan dirinya sendiri tentang sesuatu yang sudah ia ketahui tapi masih perlu diucapkan dengan keras untuk benar-benar terasa nyata. "Lebih jujur dari yang aku harapkan mungkin."

"Via."

"Hm."

Ara ingin berkata sesuatu. Banyak sesuatu. Tentang Mike yang tidak tahu dan Marco yang sudah mencoba, tentang seseorang yang mau mengambil risiko versus seseorang yang masih berdiri di tepian sambil menimbang-nimbang apakah airnya cukup dingin untuk terjun.

Tapi Via sudah bersuara lagi sebelum Ara menemukan kata yang tepat.

"Kamu tau apa yang paling menyakitkan?"

Ara menunggu.

Via menatap jalan di depan cafe dengan cara yang sudah berbeda dari tadi, bukan kosong lagi tapi lebih seperti seseorang yang sedang mencari keberanian untuk melihat sesuatu yang ada di sana dan sudah ada dari tadi tapi belum sanggup langsung ditatap. "Di akhir chat kami semalam. Mike bilang hari ini dia mau pergi."

Ara mengerutkan kening. "Pergi ke mana?"

"Lina dan Diana minta ketemu." Via masih menatap jalan itu. "Katanya ada hal penting yang mau mereka sampaikan ke Mike. Mereka minta ketemuan di sekitar sini."

Satu detik.

Dua detik.

Ara menatap Via.

"Jadi itu," Ara berkata pelan, "alasan kamu ngajak aku ke sini."

Via tidak langsung menjawab.

Menatap permukaan mejanya. Menatap gelasnya. Menatap tangannya sendiri yang melingkari gelas itu.

Lalu mengangguk, sangat pelan, dengan cara seseorang yang sudah memutuskan untuk tidak berbohong meski kebenaran yang akan diakuinya tidak membuat ia terlihat dalam kondisi terbaiknya.

"Aku minta maaf," Via berkata. Suaranya sangat datar tapi ada sesuatu di bawah kerataan itu yang tidak. "Aku harusnya bilang dari awal."

Ara menatap sahabatnya.

Via yang selalu tahu caranya berdiri tegak. Via yang brutal jujur dengan semua hal kecuali hal-hal yang paling dekat dengan dirinya sendiri. Via yang tadi pagi mengajak keluar dengan alasan refreshing dan membawa Ara masuk ke lima toko tanpa membeli apapun dan memilih cafe ini dan meja di luar yang menghadap jalan di mana seseorang mungkin lewat, mungkin tidak, tapi kemungkinannya cukup untuk membuat Via perlu ada di sini dengan seseorang di sebelahnya.

Ara mengulurkan tangannya di bawah meja.

Menyentuh lengan Via.

Tidak mengatakan apapun dulu karena ada momen di mana kata-kata datang terlalu cepat dan mengisi ruang yang sebenarnya lebih baik dibiarkan diam sebentar.

Via tidak mengatakan apapun juga.

Mereka duduk seperti itu, di meja luar cafe kecil di dekat mall, dengan dua gelas minuman yang sudah tidak terlalu dingin dan angin yang masih bergerak dari arah jalan dan orang-orang yang lewat dengan berbagai kecepatan dan berbagai tujuan yang tidak ada satupun dari mereka tahu sedang ada dua orang yang duduk di bawah kanopi itu dengan percakapan yang jauh lebih berat dari penampilan dua remaja yang sedang istirahat dari belanja di hari Minggu.

Dan kemudian, dari arah jalan yang sudah terlalu lama Via tatap, dari sisi yang tidak langsung terlihat dari meja ini tapi cukup dekat untuk dikenali ketika sudah cukup dekat.

Dua orang.

Satu berbadan besar dengan langkah yang selalu sedikit lebih antusias dari yang diperlukan untuk sekadar berjalan, dan satu dengan rambut hitam yang masih berantakan di sisi kirinya meski sudah hari Minggu siang dan ada waktu yang cukup untuk merapikannya kalau memang mau.

Marco dan Gill.

Berjalan dari arah yang sama dengan arah orang-orang yang Via tatap dari tadi.

Ara melihat mereka terlebih dahulu karena posisinya menghadap lebih ke arah jalan dari Via yang menghadap lebih ke meja.

Menatap keduanya yang masih belum melihat ke arah cafe ini.

Lalu menoleh ke Via yang masih menatap ke arah lain.

Dan memutuskan untuk tidak bersuara dulu, membiarkan beberapa detik ini ada dengan caranya sendiri, karena ada hal-hal yang tidak perlu disiapkan dan tidak perlu diumumkan tapi hanya perlu terjadi.

1
Varss V
terimakasih
wan auw
Bagus thor novelnya, semangat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!