Satu tahun lalu, Michael—sang pewaris SM Corporation—diselamatkan oleh wanita bertopeng misterius berjuluk "Si Perempuan Gila". Terpaku pada mata indahnya, Michael berjanji akan memberikan apa pun sebagai balasan hutang nyawa.
Kini, Michael dipaksa menikahi Shaneen, putri konglomerat manja yang ia anggap membosankan dan lemah. Michael tidak tahu bahwa di balik sikap manja dan keluhan konyol istrinya, Shaneen adalah sang legenda bertopeng yang selama ini ia cari.
Permainan kucing dan tikus dimulai. Di siang hari ia menjadi istri yang merepotkan, namun di malam hari, ia adalah ratu kegelapan yang memegang nyawa suaminya sendiri. Akankah Michael menyadari bahwa wanita yang ia tidak sukai adalah wanita yang paling ia gilai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Shalina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malam di Ambang Batas
Malam telah jatuh di The Golden Coast, menyisakan deburan ombak yang tenang di bawah balkon apartemen mewah Michael. Namun, di balik ketenangan itu, ada satu nama yang masih menggantung seperti awan hitam di pikiran mereka: Aris.
– Siapa sebenarnya Tuan Aris?
Dia bukan sekadar pengusaha atau mafia biasa. Aris adalah mantan petinggi intelijen yang membelot, pria yang membangun kekuasaannya dari rahasia kotor para penguasa di The Big Apple. Alasan kenapa dia begitu sulit ditaklukkan adalah karena dia tidak memiliki aset fisik yang bisa dihancurkan. Aris adalah "hantu". Dia bergerak melalui ribuan perusahaan cangkang dan memiliki jaringan informan di setiap sudut The Empire State.
Bagi Aris, Don hanyalah pion percobaan, dan Bramasta hanyalah alat pendanaan. Namun, sekuat apa pun Aris bersembunyi, dia lupa satu hal: SM Corporation adalah puncak rantai makanan di dunia finansial global, dan Tizon Tech adalah pemilik mata digital dunia. Jika SM Corp adalah predator di darat, Tizon Tech adalah elang di langit. Gabungan keduanya adalah maut yang tak terelakkan.
Di dalam apartemen, suasana sangat kontras dengan kekacauan di hotel Bramasta tadi sore. Cahaya lampu temaram memberikan nuansa emas pada ruangan. Michael baru saja melepaskan jasnya, menyisakan kemeja putih dengan dua kancing teratas yang terbuka.
Shaneen berdiri di dekat jendela, menatap pantulan dirinya. Michael melangkah mendekat, melingkarkan tangannya di pinggang Shaneen dari belakang, menghirup aroma mawar yang selalu mengikuti istrinya.
"Berhenti memikirkan Aris, Shaneen," bisik Michael rendah. "Malam ini hanya ada kita."
Michael memutar tubuh Shaneen, menatap mata predatornya yang kini meredup menjadi tatapan penuh kasih. Tanpa menunggu lama, Michael menunduk dan mencium Shaneen. Sebuah ciuman yang awalnya lembut, namun dengan cepat berubah menjadi penuh tuntutan dan gairah—sebuah pelepasan setelah perjalanan panjang yang melelahkan dari The Concrete Jungle hingga ke dermaga The Sunset Empire.
Tangan Michael merayap ke tengkuk Shaneen, sementara Shaneen mencengkeram kemeja Michael, menariknya semakin dekat seolah ingin meleburkan detak jantung mereka. Ciuman mereka semakin dalam, memabukkan, dan panas.
Namun, di ambang batas yang paling berbahaya, Michael tiba-tiba menjauhkan wajahnya sedikit, napasnya memburu di depan bibir Shaneen yang membengkak karena ciumannya. Ia menyandarkan dahinya ke dahi Shaneen, mencoba mengendalikan insting liarnya.
"Shaneen..." Suara Michael parau, berat oleh gairah yang tertahan. "Kita harus berhenti di sini–sebelum aku benar-benar kehilangan kendali."
Shaneen menatapnya dengan mata sayu, napasnya juga tidak beraturan. "Michael..."
Michael terkekeh rendah, sebuah tawa maskulin yang terdengar sangat seksi di kesunyian malam. "Ayo segera menikah secara resmi, Sayang. Aku merasa aku tidak tahu berapa lama lagi aku bisa menahan diriku jika setiap malam kau tampak seperti ini di depanku. Menahan diri ini adalah siksaan terberat yang pernah kualami."
Shaneen tertawa kecil, melingkarkan lengannya di leher Michael dan mengecup ujung hidungnya. "Tuan Miguel yang hebat ternyata bisa menyerah juga?"
"Aku hanya manusia biasa jika di depanmu, Shaneen," Michael menggendong Shaneen menuju tempat tidur, hanya untuk merebahkannya dan menyelimutinya dengan lembut. "Tidurlah. Besok kita punya Aris yang harus diburu, dan sebuah pernikahan yang harus segera dipersiapkan."
...–Pengkhianatan di Balik Kemudi–...
Aris berdiri di depan jendela markas sementaranya di pinggiran The Sunset Empire. Napasnya berat, sisa-sisa kejayaannya di The Big Apple terasa memudar. Ia harus segera menemui Don untuk menyusun rencana serangan bunuh diri terakhir.
"Siapkan mobil. Kita ke markas Don sekarang," perintah Aris pada Gideon, kepala pengawal setianya selama sepuluh tahun.
Gideon mengangguk kaku, namun matanya tidak berani menatap Aris. Ia baru saja menerima kiriman video dari nomor tak dikenal—video yang memperlihatkan istri dan anaknya sedang duduk di ruang makan mewah, dilayani oleh pelayan berseragam Tizon Tech dengan senjata tersampir di bahu. Pesan di bawah video itu singkat: "Bawa Aris ke titik koordinat ini, atau kau tidak akan pernah melihat mereka lagi."
Sedan hitam itu meluncur membelah kabut malam The Golden Coast. Aris duduk di kursi belakang, terus memeriksa jam tangannya.
"Gideon, kenapa kita lewat jalur bawah tanah dermaga? Ini bukan arah menuju markas Don," tanya Aris, mulai merasa ada yang tidak beres.
Gideon terdiam, jemarinya mencengkeram kemudi hingga memutih. "Ada blokade polisi di jalur utama, Tuan. Kita harus memutar lewat fasilitas logistik Tizon yang sudah kosong."
Aris menyipitkan mata. Insting intelijennya dari The Concrete Jungle mulai berteriak. Ia mencoba meraih pintu, namun central lock sudah dikunci secara elektronik dari luar. "Gideon! Berhenti sekarang!"
Aris, yang sudah tua dan pergerakannya mulai melambat—sama rapuhnya dengan Martha—mencoba menyerang Gideon dari belakang. Namun, tenaga fisiknya sudah tidak sepadan. Dengan gerakan cepat yang sudah direncanakan, Gideon merogoh saku pintu dan menghujamkan jarum suntik berisi bius berdosis tinggi tepat ke paha Aris.
"Maafkan saya, Tuan Aris... tapi keluarga saya adalah segalanya," bisik Gideon gemetar saat kepala Aris perlahan terkulai lemas di kursi belakang.
Aris tersentak bangun saat air dingin disiramkan ke wajahnya. Ia mencoba menggerakkan tangannya, tapi rantai besi menahannya kuat. Matanya yang kabur perlahan fokus pada sosok wanita yang berdiri di depannya dengan pisau lempar perak yang memutar dengan kecepatan kilat.
"Bagaimana bisa..." Suara Aris parau, tenggorokannya terasa terbakar.
Ia tidak berada di rumah sakit atau penjara biasa. Ia berada di Markas Utama Tizon, sebuah fasilitas bawah tanah yang bahkan tidak tercatat di peta mana pun.
Aris dirantai di tengah sebuah koridor panjang yang dikelilingi oleh 6 dinding penjara baja yang saling berhadapan—tiga di kiri dan tiga di kanan.
Di dalam sel-sel itu, Aris melihat pemandangan yang membuat jantungnya hampir berhenti. Bukan hanya manusia yang ditahan di sana, tapi binatang buas. Di satu sel, seekor macan tutul hitam menatapnya dengan mata kuning yang lapar. Di sel lain, dua anjing penjaga terlatih yang tampak liar terus menggonggong pada jeruji besi
"Kau suka tempat ini, Aris?" Suara Shaneen muncul dari kegelapan di ujung koridor.
Shaneen melangkah maju, diikuti oleh Michael yang tampak seperti raja di dunianya sendiri. Shaneen berhenti tepat di depan Aris, menatapnya dengan tatapan merendahkan. Michael masih saja memperhatikan ruangan tersebut, gila ini benar-benar gila. Antara gila dan keren yang ada dibenak Michael.
"Gideon mengirim salam," ucap Shaneen sambil memainkan ponselnya, menunjukkan pesan bahwa keluarga Gideon telah dibebaskan dengan selamat. "Mudah sekali mematahkan loyalitas anak buahmu, Aris. Cukup tunjukkan pada mereka bahwa aku bisa menjadi malaikat bagi keluarga mereka, atau menjadi iblis yang menguliti mereka hidup-hidup."
Aris berteriak frustrasi, namun suaranya tenggelam oleh raungan macan tutul di sampingnya. Ia akhirnya sadar, di The Golden Coast, Shaneen adalah pemilik rantai makanan yang sesungguhnya.
Suara langkah kaki yang lambat namun mantap bergema di lorong beton. Martha Tizon muncul dari kegelapan, duduk di kursi roda otomatisnya yang elegan, namun tatapannya masih setajam elang. Michael dan Shaneen memberikan jalan sebagai bentuk penghormatan tertinggi.
"Halo, Aris," sapa Martha dengan senyum kecil yang lebih menakutkan daripada raungan macan tutul di sel sebelah. "Lama tidak bertemu, Hantu dari The Concrete Jungle."
Aris, yang dirantai di tengah koridor, meronta sekuat tenaga. "MARTHA! Kau wanita iblis! Lepaskan aku! Kau seharusnya sudah mati bersama suamimu yang malang itu!"
Martha tertawa rendah, sebuah tawa kering yang terdengar sangat meremehkan. "Mati? Tidak, Aris. Aku masih harus bertahan hidup untuk memastikan benalu sepertimu benar-benar dicabut sampai ke akarnya. Kau ingat Elena? Wanita yang kau puja setengah mati itu? Aku yang menguliti setiap inci kulitnya di ruangan ini sebelum dia membusuk di neraka."
Aris membelalak. "Kau... kau membunuhnya karena kau cemburu pada Alexander!"
"Cemburu?" Martha tertawa lebih keras kali ini. "Untuk apa aku cemburu pada seorang jalang yang bahkan tidak tahu siapa yang menghamilinya?"
Martha memberikan isyarat pada Damian. Sebuah Dokumen Kuning yang sudah agak kusam—yang ditemukan Damian di ruang kerja rahasia Orlando—dilemparkan tepat ke pangkuan Aris.
"Kau tahu, Aris? Don Diredgo Tizon. Nama 'Tizon' tidak akan pernah bisa masuk ke dalam nama seorang anak haram!" Desis Martha.
Aris gemetar, matanya membaca cepat isi dokumen DNA itu. "Apa maksudmu, Martha? Apa-apaan dokumen palsu ini?!"
"Itu asli, Aris. Orlando menyimpannya sebagai senjata terakhir untuk menghancurkan Don jika saatnya tiba," ucap Martha dingin. "Hasil tes DNA itu menyatakan bahwa Alexander—suamiku—bukanlah ayah biologis Don. Tapi kau, Aris... kaulah ayah biologis dari tikus kecil itu."
Aris terdiam membeku, wajahnya pucat pasi. "Tidak mungkin... Elena bilang dia sudah menggugurkan kandungannya! Dia bilang dia tidak ingin memiliki anak dari pria sepertiku!"
"Oh, Aris... kau memang ahli intelijen di The Big Apple, tapi kau sangat bodoh soal wanita," ejek Martha. "Kau mencintainya, kau sangat terobsesi padanya hingga kau memperkosanya dengan paksa agar dia tetap di sampingmu, bukan? Kau pikir dengan menanam benihmu, dia akan menjadi milikmu?"
Martha mendekat, matanya menatap langsung ke pupil mata Aris. "Tapi sayang sekali, Elena jauh lebih licik darimu. Dia membencimu. Dia merasa jijik dengan perbuatanmu. Alih-alih menggugurkannya, dia memilih bersembunyi di balik punggung Alexander. Dia menjebak suamiku, membuat Alexander percaya bahwa anak yang dikandungnya adalah hasil perselingkuhan mereka. Dia menggunakan suamiku sebagai pelindung dari dirimu!"
Aris menggelengkan kepala, air mata kemarahan mulai jatuh. "Dia... dia menjadikanku ayah tanpa aku tahu? Dan dia membiarkan anakku tumbuh membenci 'ayah' aslinya?"
"Tepat," Shaneen menyela dari belakang Martha, suaranya sedingin es. "Jadi selama ini kau menghancurkan keluargaku, menyiksa Ibuku hanya untuk membela anak yang bahkan ibunya sendiri tidak ingin mengakuimu sebagai ayahnya? Kau benar-benar pecundang terbesar dalam sejarah The City of Dreams, Aris."
Martha menyeringai puas melihat kehancuran mental Aris. "Elena memberikan anak itu nama Tizon hanya agar dia punya akses ke harta kami. Dia mempermainkanmu, Aris. Sampai napas terakhirnya, dia tertawa karena berhasil membuatmu menjadi anjing penjaga bagi rahasia busuknya."
"Tidak, ini tidak mungkin! Katakan bahwa semua itu bohong!" Teriak Aris. Kenyataan ini telah membuatnya menangis. Apalagi mengingat bahwa dia telah memperalat atau menjadi pion anaknya sendiri. Dan ketika salah atau gagal, dia malah memukul habis-habisan anaknya. Padahal itu adalah satu-satunya–penerusnya.
Kini, giliran Don yang harus membayar atas semua kekacauan yang ia buat.