Adam Al-Fatih (40) adalah potret kesempurnaan: CEO miliarder yang gagah, karismatik, dan taat beribadah. Di Jakarta, ia memiliki Khadijah, istri saleha yang menjadi pilar kekuatannya sejak masa sulit. Namun, takdir membawa langkah Adam melintasi benua, dari romantisme Paris, kemegahan Istanbul, hingga hiruk-pikuk New York. Di setiap kota tersebut, Adam bertemu dengan wanita-wanita luar biasa yang tengah terhimpit badai kehidupan.
Demi sebuah wasiat rahasia sang kakek dan misi kemanusiaan yang mendalam, Adam akhirnya menikahi Isabelle, Aisha, dan Sarah. Publik mencibirnya sebagai lelaki yang mabuk poligami di puncak dunia. Namun, sebuah rahasia medis yang pedih tersimpan rapat di balik pintu kamarnya: Adam menderita impotensi akibat kecelakaan masa lalu.
Ketiga pernikahan di luar negeri itu hanyalah "sajadah perlindungan". Adam mengorbankan reputasi dan perasaannya demi menyelamatkan sesuatu yang lebih berharga!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alvaraby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mahkota Di Atas Sajadah
Lampu indikator sabuk pengaman di kabin Gulfstream G700 itu baru saja padam dengan denting halus yang memecah kesunyian. Adam Al-Fatih menarik napas panjang, sebuah tarikan napas yang terasa berat meski oksigen di dalam jet pribadi itu telah diatur sesempurna mungkin. Di balik jendela oval, hamparan awan putih berarak bak kapas raksasa, sesekali tersambar cahaya fajar yang menyembul malu-malu di ufuk timur.
Adam melirik jam tangan Patek Philippe yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Waktu menunjukkan pukul 04.45 WIB. Berdasarkan koordinat penerbangan yang ditampilkan pada layar digital di depannya, mereka tengah melintasi batas udara samudra sebelum memasuki wilayah Jawa. Sudah masuk waktu Subuh.
Pria itu bangkit dari kursi kulit creamy yang empuk. Sosoknya berdiri tegak, memancarkan aura wibawa yang sulit diabaikan. Di usia 40 tahun, Adam berada di puncak keemasannya. Rahangnya tegas dengan garis wajah yang matang, rambut hitamnya tertata rapi tanpa satu helai pun yang terlihat kusut meski ia baru saja menempuh perjalanan belas jam dari London. Tubuhnya yang atletis dan tegap dibalut kemeja linen putih yang harganya mungkin setara dengan gaji satu tahun guru honorer.
Ia adalah definisi dari kesuksesan duniawi. Seorang CEO Al-Fatih Group, raksasa baja yang memiliki jaringan di tiga benua. Namun, bagi Adam, segala angka nol di saldo rekeningnya tak lebih dari sekadar titipan yang bisa diambil kapan saja.
Adam melangkah menuju ruang tengah kabin yang lebih luas. Ia mengambil sebuah tas kecil bermotif sulaman tangan, mengeluarkan sajadah sutra berwarna hijau tua—hadiah dari istrinya sepuluh tahun lalu. Dengan gerakan takzim, ia membentangkan sajadah itu menghadap kiblat yang telah ditentukan oleh kompas digital pesawat.
"Allahu Akbar..."
Suaranya yang berat dan bariton bergema pelan, memecah kesunyian kabin yang hanya diisi oleh desis halus mesin jet. Di ketinggian 30.000 kaki, di atas bumi yang sering kali membuatnya pongah karena jabatan, Adam tersungkur. Ia melepaskan segala atribut CEO-nya. Di hadapan Tuhan, ia hanyalah seorang hamba yang penuh dengan kekhawatiran.
Dalam sujudnya yang panjang, pikiran Adam melayang pada sosok wanita yang telah menunggunya di Jakarta. Khadijah. Istri pertamanya, satu-satunya wanita yang menemani masa-masa sulitnya saat ia masih merintis usaha dari sebuah bengkel las kecil di pinggiran Bekasi.
Khadijah adalah penyejuk jiwanya. Wanita ningrat yang meninggalkan segala kemewahan keluarganya demi hidup bersama Adam yang kala itu hanya punya tekad dan doa. Adam ingat betul, bagaimana Khadijah rela menjual perhiasannya hanya untuk modal usaha Adam yang hampir bangkrut diterjang krisis.
Setelah salam, Adam duduk terpekur cukup lama. Ia mengusap wajahnya yang tampan dengan kedua telapak tangan. Karismanya bukan hanya karena wajah yang menyerupai aktor film, tapi karena keteduhan yang memancar dari matanya yang sering basah oleh air mata pertobatan.
Ia meraih ponselnya. Sebuah pesan masuk dari Khadijah muncul di layar.
"Mas, aku baru saja selesai tahajud. Aku sudah menyiapkan opor ayam tanpa santan berlebih, sesuai saran dokter untuk kesehatanmu. Hati-hati di jalan, Mas. Aku dan anak-anak merindukanmu. Pulanglah dengan selamat."
Adam tersenyum tipis. Senyum yang jarang ia perlihatkan di depan dewan direksi. Khadijah selalu tahu cara menyentuh titik terlembut di hatinya. Wanita itu adalah pilar yang tak pernah goyah. Namun, di balik senyum itu, Adam memendam sedikit kecemasan. Kesuksesannya yang melesat bak meteor membawa risiko besar. Musuh-musuh bisnis mulai bermunculan, dan ia tahu, hidupnya tak akan sesederhana dulu lagi.
Adam berdiri dan kembali ke kursinya. Tak lama kemudian, asisten pribadinya, Reza, datang membawa secangkir kopi hitam tanpa gula.
"Pak Adam, kita akan mendarat di Halim Perdanakusuma dalam empat puluh lima menit," lapor Reza dengan sopan.
Adam mengangguk kecil. "Terima kasih, Rez. Bagaimana dengan agenda pertemuan dengan investor dari Prancis?"
"Semua sudah diatur, Pak. Mereka meminta waktu besok siang di SCBD. Namun, ada laporan dari tim keamanan bahwa ada beberapa pihak yang mulai mengincar data ekspansi kita di Eropa dan Turki," jelas Reza dengan nada serius.
Adam terdiam. Ia menyesap kopinya perlahan. Tatapannya menembus awan. Pikiran tentang ekspansi ke luar negeri—ke Paris, Istanbul, dan New York—memang sudah di depan mata. Ia tidak pernah menyangka bahwa langkah bisnisnya di kota-kota besar dunia itu nantinya bukan hanya akan membawanya pada kekayaan, tapi pada takdir-takdir tak terduga yang belum ia kenal sama sekali saat ini.
Saat ini, di hatinya hanya ada Khadijah. Namun, takdir memiliki cara yang unik untuk menguji kesetiaan seorang pria ketika ia berada di puncak dunia.
Pesawat mendarat dengan mulus di landasan pacu Halim. Begitu pintu jet terbuka, udara lembap Jakarta menyambutnya. Sebuah mobil Rolls-Royce Cullinan hitam sudah menunggu di apron. Adam masuk ke dalam mobil dengan langkah cepat. Sepanjang perjalanan menuju kediamannya di daerah Menteng, ia hanya menatap kerlap-kerlip lampu kota yang mulai padam digantikan cahaya pagi.
Sesampainya di rumah utama, sebuah bangunan megah dengan arsitektur klasik modern, Adam disambut oleh aroma melati yang kuat. Khadijah berdiri di ambang pintu. Ia mengenakan gamis berwarna nude dengan kerudung lebar yang menutup dada. Wajahnya yang kuning langsat tampak bercahaya meski tanpa riasan tebal.
"Assalamualaikum, Mas," suara Khadijah lembut, meneduhkan telinga Adam yang lelah karena bisingnya mesin pesawat.
"Waalaikumussalam, Dijah," jawab Adam. Ia meraih tangan istrinya, mencium keningnya dengan penuh kasih. Ada kehangatan yang tak bisa dibeli dengan miliaran dollar dalam pelukan itu.
Mereka duduk di ruang makan yang mewah namun tetap terasa hangat. Khadijah menyajikan opor ayam hangat dengan ketupat. Adam makan dengan lahap, sementara Khadijah bercerita tentang perkembangan sekolah tahfidz yang mereka bangun.
"Mas, ada satu permintaan dari pengurus yayasan di Turki," Khadijah membuka percakapan. "Mereka ingin Mas Adam datang langsung untuk meresmikan panti asuhan di Istanbul bulan depan. Katanya, ada masalah administrasi yang butuh tanda tangan Mas secara langsung."
Adam menghentikan kunyahannya sejenak. "Istanbul? Bukankah seharusnya Reza bisa mengurusnya?"
Khadijah menggeleng lembut. "Mereka ingin pendirinya yang datang, Mas. Sebagai simbol dukungan moral."
Adam menghela napas. "Baiklah, jika itu untuk anak-anak yatim, aku akan usahakan."
Tanpa Adam sadari, perjalanannya ke Istanbul bulan depan adalah pintu pertama yang akan membukanya pada rahasia takdir yang luar biasa. Ia belum tahu bahwa di Istanbul nanti, ia akan bertemu dengan sosok Aisha yang akan mengubah hidupnya. Ia juga belum tahu bahwa setelah itu, Paris dan New York akan menyusul dalam rangkaian takdir yang akan membuatnya memiliki empat 'sajadah' di empat benua berbeda.
Untuk saat ini, Adam hanya ingin menikmati suapan opor buatan istri tercintanya. Ia ingin beristirahat sejenak dari hiruk-pikuk dunia, tanpa tahu bahwa badai besar tentang poligami, pengorbanan, dan rahasia medis yang ia simpan suatu saat nanti akan meledak dan menguji kekuatan cinta Khadijah.
"Mas, kenapa melamun?" tanya Khadijah heran melihat suaminya terdiam.
Adam tersenyum, kali ini lebih lebar. Ia menggenggam tangan Khadijah di atas meja. "Tidak apa-apa. Aku hanya bersyukur punya kamu, Dijah. Apapun yang terjadi nanti, ingatlah bahwa kamu adalah awal dari segalanya."
Khadijah tersenyum malu, tidak menyadari ada nada getir dalam ucapan suaminya. Pagi itu, di Menteng, segalanya tampak sempurna. Namun, di langit yang jauh, takdir sedang menyusun pion-pionnya untuk sebuah permainan besar yang disebut kehidupan.
Saat Adam sedang beristirahat di kamarnya, ponsel pribadinya bergetar. Sebuah nomor tak dikenal dari Paris mengirimkan foto sebuah dokumen kuno yang berhubungan dengan masa lalu kelam keluarga Al-Fatih. Siapakah pengirimnya? Dan apa hubungannya dengan rencana Adam ke luar negeri?