NovelToon NovelToon
Menikahi Mantan Istri Sahabatku

Menikahi Mantan Istri Sahabatku

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh / Romantis / Dijodohkan Orang Tua / Romansa / Dokter Genius
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: yuningsih titin

​Demi melunasi hutang budi, Dokter Yoga terpaksa menikahi Dinda, wanita pengkhianat yang tak pernah ia sentuh selama setahun pernikahan. Di tengah sandiwara itu, ia harus menjaga Anindya, istri mendiang sahabatnya yang lumpuh akibat kecelakaan tragis.
​Saat Yoga berhasil bebas dan menceraikan Dinda demi menikahi Anindya, sebuah rahasia besar meledak: Anindya ternyata adalah Nayla Rahardjo, putri sulung yang hilang dari keluarga mantan mertuanya sendiri.
​Bagaimana Yoga mencintai wanita yang ternyata adalah kakak dari mantan istrinya sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yuningsih titin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pernikahan Dingin Dibalik Kontrak

Pintu kamar presidential suite itu tertutup dengan bunyi klik yang solid, mengunci kebisingan pesta di luar sana. Kamar itu sudah didekorasi sedemikian rupa dengan taburan kelopak mawar merah dan aroma terapi yang membangkitkan gairah.

Namun, alih-alih mendekati ranjang, Yoga langsung melepas beskapnya dengan kasar, menyisakan kemeja putih yang lengannya ia gulung hingga siku. Ia berjalan menuju sofa di sudut ruangan, membuka tas kerjanya, dan menyalakan laptop.

Jemarinya bergerak lincah di atas keyboard. Ia melakukan panggilan video terenkripsi dengan asisten kepercayaannya di Surabaya.

Selama tiga tahun terakhir, di sela kesibukannya sebagai internis, Yoga diam-diam membangun imperium bisnis distribusi alat kesehatan dan laboratorium klinis di Jawa Timur. Sebuah rencana cadangan yang ia siapkan untuk hari di mana ia harus menebus dirinya dari keluarga Reza.

Pintu kamar mandi terbuka. Dinda keluar dengan langkah yang sengaja dibuat gemulai. Ia mengenakan lingerie sutra hitam tipis yang sangat berani, kontras dengan kulit putihnya. Ia berjalan mendekati Yoga, aroma parfumnya yang manis mulai menyerbu indra penciuman sang dokter.

"Mas... kok malah pegang laptop?" bisik Dinda manja, tangannya mencoba mengelus bahu Yoga yang tegang. "Ini malam pertama kita. Lupakan Surabaya sebentar, ya?"

Yoga tidak bergeming. Matanya tetap terpaku pada grafik penjualan di layar laptop.

"Mas Yoga..." Dinda sedikit membungkuk, sengaja memamerkan lekuk tubuhnya di depan mata Yoga. "Kenji itu cuma masa lalu. Sekarang aku milik kamu seutuhnya. Kamu nggak mau 'periksa' aku malam ini?"

Yoga menghentikan gerakan jemarinya. Ia menutup laptopnya dengan dentuman keras, lalu menatap Dinda. Tatapannya bukan tatapan penuh nafsu, melainkan tatapan penuh penghinaan yang membuat Dinda seketika merasa telanjang dalam arti yang menyakitkan.

"Punya kaca di kamar mandi tadi, kan?" suara Yoga rendah dan dingin.

"Maksud kamu?" Dinda mengernyit bingung.

"Pakai baju kamu yang benar. Jangan kayak perempuan murahan yang baru saya lihat di klub malam kemarin," ucap Yoga kasar. Kalimat itu menghantam Dinda seperti tamparan fisik.

"Mas! Aku ini istri kamu! Kamu nggak bisa bicara sekasar itu!" teriak Dinda tak terima.

Yoga berdiri, membuat Dinda terpaksa mundur beberapa langkah karena intimidasi postur tubuh suaminya. "Istri karena terpaksa, Dinda. Ingat itu baik-baik."

Yoga melangkah menuju lemari, mengambil bantal dan selimut tambahan, lalu melemparnya ke arah sofa.

"Tidur sana di ranjang mewah kamu. Jangan harap aku akan menyentuh kamu malam ini, besok, atau malam-malam berikutnya. Tubuh kamu mungkin sudah sah secara hukum jadi milikku, tapi bagiku, kamu itu seperti pasien dengan infeksi kronis. Menjijikkan untuk disentuh."

"Yoga! Kamu keterlaluan!" Isak tangis Dinda pecah, namun kali ini Yoga sama sekali tidak peduli.

"Aku akan tetap di sini, mengerjakan bisnisku sampai aku punya cukup uang untuk melempar lima belas miliar itu ke muka ibu kamu. Sampai hari itu tiba, anggap saja aku ini orang asing yang kebetulan berbagi kamar dengan kamu. Jangan pernah ganggu aku lagi."

Yoga kembali duduk di sofa, memasang earphone, dan kembali tenggelam dalam dunianya, meninggalkan Dinda yang terisak di atas ranjang pengantin yang megah namun terasa sangat dingin.

Dinda mematung dengan ponsel yang sudah ada di genggamannya. Ibu jarinya gemetar, siap menyentuh kontak "Mama". Wajahnya yang semula penuh kemenangan kini memerah karena amarah dan rasa malu yang bercampur aduk.

"Oke! Kalau ini mau kamu, Mas! Aku akan adukan semua sikap kasar kamu malam ini ke Papa dan Bunda! Lihat saja, kamu bakal habis di tangan mereka!" teriak Dinda dengan suara melengking.

Yoga bahkan tidak menoleh. Ia hanya menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa, melipat tangan di dada, lalu menatap Dinda dengan tatapan yang sangat kosong—jenis tatapan yang biasa ia berikan pada jaringan tubuh yang sudah mati.

"Adukan saja, Dinda. Silakan," jawab Yoga, suaranya sangat tenang namun setajam silet. "Telepon sekarang. Kasih tahu mereka kalau suami yang mereka beli ini tidak sudi menyentuh kamu."

Dinda terdiam, jarinya ragu.

"Tapi ingat satu hal," lanjut Yoga, suaranya merendah dan makin dingin. "Detik setelah kamu selesai mengadu dan mereka menginjakkan kaki di pintu kamar ini, aku pastikan malam ini juga aku akan menjatuhkan talak padamu. Aku akan menceraikanmu di depan muka mereka."

"Kamu... kamu gila, Yoga! Kamu nggak akan berani!"

"Coba saja kalau mau tahu jawabannya. Soal ancaman lima belas miliar dari Bunda kamu? Aku akan mencicilnya. Aku punya aset, aku punya harga diri yang jauh lebih mahal dari angka itu. Aku lebih baik jatuh miskin dan hidup dari nol lagi daripada harus berpura-pura mencintai wanita yang moralnya sudah busuk seperti kamu. Mengerti?"

Kalimat terakhir Yoga benar-benar mengunci lidah Dinda. Ancaman cerai di malam pertama adalah aib yang jauh lebih besar daripada sekadar utang budi. Jika Yoga benar-benar melakukannya, posisi Dinda di mata kolega ayahnya akan hancur total sebagai pengantin yang dibuang di malam pertama.

Dinda perlahan menurunkan ponselnya. Nyalinya ciut di hadapan ketegasan pria yang biasanya selalu mengalah itu. Ia menyadari satu hal: Yoga yang ada di depannya sekarang bukanlah Yoga sang asisten ayahnya yang penurut, melainkan seorang pria yang sudah kehilangan rasa hormat sepenuhnya.

Dengan isak tangis yang mulai meledak, Dinda melempar ponselnya ke atas kasur. Ia naik ke ranjang king size yang luas itu, meringkuk di balik selimut sutra, dan menangis sejadi-jadinya. Suara tangisnya memenuhi kamar presidential suite yang mewah, namun terdengar sangat menyedihkan.

Yoga hanya melirik sekilas, lalu kembali membuka laptopnya. Tidak ada rasa iba, tidak ada keinginan untuk memeluk atau menenangkan. Baginya, tangisan Dinda hanyalah kebisingan latar belakang yang tidak berarti.

Lampu meja di samping sofa tetap menyala hingga dini hari. Di satu sisi ruangan, seorang wanita menangisi ego yang terluka, sementara di sisi lain, seorang pria sedang menyusun strategi untuk membeli kembali kebebasannya.

Pagi menyapa dengan suasana yang jauh dari kata romantis. Cahaya matahari yang masuk melalui celah gorden presidential suite hanya memperjelas raut wajah Yoga yang sudah segar setelah mandi, sementara Dinda terbangun dengan mata sembap dan sisa riasan yang hancur.

Tanpa sepatah kata pun, Yoga meletakkan dua lembar kertas di atas meja rias, tepat di depan Dinda.

"Baca. Kalau setuju, tanda tangan. Kalau nggak, kita cerai sekarang dan aku tanggung risikonya," ucap Yoga datar.

Dinda meraih kertas itu dengan tangan gemetar. Itu adalah surat perjanjian pernikahan yang ditulis Yoga dengan bahasa yang sangat sistematis, khas seorang dokter yang sedang memberikan diagnosis.

Perjanjian Pernikahan Prayoga Aditama dan Dinda Dewi

Tanpa Kontak Fisik: Tidak akan ada sentuhan seksual atau intimasi dalam bentuk apa pun antara suami dan istri. Tubuh adalah otoritas masing-masing.

Kebebasan Aktivitas: Selama menjalani pernikahan, tidak ada pihak yang boleh melarang atau mencampuri aktivitas masing-masing, selama tidak mencoreng nama baik di depan publik.

Sandiwara Publik: Di depan keluarga besar, kolega, dan publik, kedua belah pihak wajib bersikap selayaknya pengantin baru yang bahagia demi menjaga martabat Dokter Reza dan Ibu Sekar.

Nafkah Lahir: Yoga hanya akan memberikan nafkah lahir sebesar Dua Puluh juta rupiah per bulan. Tidak ada tambahan, dan Dinda dilarang menuntut lebih.

Domisili Mandiri: Menolak pemberian rumah mewah dan fasilitas dari Dokter Reza.

Keduanya akan tinggal di rumah kontrakan milik Yoga di dekat rumah sakit untuk menunjukkan kemandirian (sekaligus cara Yoga untuk menjauhkan Dinda dari zona nyamannya).

Dinda terbelalak saat membaca poin kelima. "rumah kontrakan, Mas? Kamu gila? Aku ini anak Dokter Reza, aku nggak pernah hidup di rumah kontrakan!"

Yoga menatapnya tajam, membuat nyali Dinda ciut. "Itu tempat yang mampu aku bayar dengan uangku sendiri tanpa bantuan Papa kamu. Kalau kamu mau hidup mewah, silakan pulang ke rumah orang tuamu, tapi surat cerai akan langsung sampai ke meja kerja Dokter Reza jam sepuluh pagi ini."

Dinda menelan ludah. Ia melirik poin-poin tersebut sekali lagi. Ketakutan akan kemarahan ayahnya dan rasa malu karena bercerai dalam waktu kurang dari 24 jam jauh lebih besar daripada rasa takutnya tinggal di rumah kontrakan kecil.

Dengan tangan yang masih gemetar, Dinda mengambil pulpen dan menorehkan tanda tangannya di atas materai. Yoga menyusul melakukan hal yang sama.

"Bagus," Yoga mengambil satu rangkap surat itu dan memasukkannya ke dalam tas kerja.

"Sekarang hapus air mata kamu. Pakai baju yang sopan. Satu jam lagi kita harus sarapan dengan orang tuamu. Remember the third point, Dinda. Act well."

Dinda hanya bisa mengangguk pelan. Ia menyadari bahwa mulai hari ini, hidupnya yang serba mewah akan berubah total. Ia bukan lagi putri mahkota yang bisa bermanja, melainkan "pasien" dalam pengawasan ketat seorang Yoga Aditama yang kini memegang kendali penuh atas nasibnya.

1
Lisna Wati
mana lanjutan nya
Siti Amyati
kok di bikin muter terus ceritanya baru bahagia udah di kasih konflik
yuningsih titin: makasih komentar nya kak
total 1 replies
yuningsih titin
bastian memang serigala berbulu domba....
Siti Amyati
ceritanya sekarang kok di bikin muter" jadi ngga sesuai alurnya
yuningsih titin: makasih komentar nya kak, biar seru dikit kak, muter muter dikit ya
total 1 replies
yuningsih titin
makasih komentar nya👍
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
❀ ⃟⃟ˢᵏAcha Loveria Valerie♡
Semangat Yogaa
❀ ⃟⃟ˢᵏAcha Loveria Valerie♡
SAHHH KATA INI PAS UDAH DIUCAPIN KITA UDAH BUKAN PUNYA ORANG TUA TETAPI PUNYA SUAMI KITA DAN PASTINYA BAKAL SIAO NANGGUNG SEMUA KEWAJIBAN DAN TUGAS YANG HARUS KITA LAKUIN.
yuningsih titin: makasih komentar nya kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!