Berikut sinopsis singkat yang cocok untuk sampul belakang novel atau deskripsi di platform seperti Webnovel/KakaoPage:
**Murim's Last Heir**
**Q Zlatan Ibrahim**
Di puncak kejayaan Klan Pedang Kang, Kang Ha-neul pernah menjadi jenius termuda yang ditakdirkan mengubah sejarah Murim. Namun, satu malam tragis merenggut segalanya: keluarganya dibantai, meridiannya disegel oleh kekuatan misterius, dan ia jatuh menjadi sampah yang diejek bahkan oleh saudara klannya sendiri.
Hingga darahnya menetes ke cincin pusaka ayahnya—dan dari kegelapan muncul Hyeol-geon, Iblis Pedang Berdarah, arwah legendaris yang dikhianati muridnya sendiri ratusan tahun lalu.
Dengan dendam yang membara dan satu-satunya keluarga yang tersisa—adik perempuannya Soo-ah—Ha-neul memulai perjalanan balas dendam yang akan mengguncang seluruh Murim. Dari reruntuhan menjadi pewaris sejati, ia harus membuka segel meridiannya, menguasai jurus-jurus terlarang, dan menghadapi musuh terbesar: Penguasa Sekte Iblis
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PENALIAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10: BADAI PERTAMA
Seminggu berlalu sejak insiden di Lembah Bayangan.
Ha-neul semakin disiplin dalam latihannya. Setiap malam, ia berganti tempat agar tidak mudah dipantau. Kadang di balik air terjun kecil, kadang di gua tersembunyi yang ditunjukkan Hyeol-geon, kadang di puncak bukit batu yang sulit dijangkau.
Tubuhnya berubah. Otot-ototnya mulai terbentuk dengan jelas, pernapasannya lebih panjang, dan matanya—matanya kini bersinar dengan kewaspadaan yang tidak pernah ada sebelumnya.
Tapi perubahan fisik tidak bisa disembunyikan selamanya.
---
"Kang Oppa!"
Suara Soo-ah memecah lamunan Ha-neul saat ia sedang memperbaiki atap gudang yang bocor. Ia menoleh. Adiknya berdiri di bawah dengan wajah cemas.
"Ibu Nyonya Min memanggil. Katanya ada urusan penting."
Ha-neul mengerutkan kening. Nyonya Min—istri pamannya—tidak pernah memanggil mereka kecuali untuk memberi tugas atau menghina. Pasti ada sesuatu.
"Aku ikut."
Mereka berjalan menuju kompleks utama. Sepanjang jalan, para murid menatap mereka dengan berbagai ekspresi—ada yang sinis, ada yang iba, ada yang acuh tak acuh. Ha-neul sudah terbiasa. Tapi kali ini, ia merasakan sesuatu yang berbeda. Beberapa orang menatapnya lebih lama dari biasanya, seperti melihat sesuatu yang asing.
Di paviliun utama, Nyonya Min duduk dengan anggun di kursi kayu berukir. Di sampingnya berdiri Dae-ho dengan senyum puas. Beberapa pelayan dan pengawal berjejer di belakang.
"Ah, kalian datang." Nyonya Min tersenyum manis—terlalu manis. "Aku punya kabar baik untuk kalian."
Ha-neul tidak percaya sepatah kata pun. Kabar baik dari Nyonya Min sama langkanya dengan salju di musim panas.
"Apa itu, Nyonya?" tanyanya hati-hati.
"Aku sudah memikirkan masa depan kalian. Terutama Soo-ah." Nyonya Min menatap gadis itu. "Dia sudah enam belas tahun. Usia yang pantas untuk menikah."
Dunia Ha-neul seperti berhenti berputar.
"Aku punya kenalan, seorang pengusaha kaya dari kota timur. Usianya empat puluh tahun, duda, tapi kaya raya. Ia sedang mencari istri muda. Dan ia setuju menerima Soo-ah sebagai istri ketiganya."
Soo-ah memucat. Tangannya meraih lengan kakaknya, menggenggam erat.
"Tidak." Ha-neul menjawab tegas. "Soo-ah tidak akan menikah dengan siapa pun. Apalagi dengan pria yang tidak kami kenal."
Nyonya Min mengangkat alis. "Oh? Berani sekali kamu menolak. Ingat, Ha-neul, kalian tinggal di sini karena belas kasihan kami. Kamu pikir kamu punya hak untuk menolak?"
"Aku tidak peduli." Suara Ha-neul dingin. "Soo-ah adikku. Aku yang bertanggung jawab atasnya, bukan kau."
Dae-ho tertawa. "Lihat, Ibu. Sudah kubilang sampah ini akan membangkang. Tapi tenang, aku sudah antisipasi."
Ia memberi isyarat. Dua pengawal—Sung-min dan Jae-won—melangkah maju, menghalangi jalan keluar.
"Kau pikir kau bisa pergi begitu saja?" Dae-ho berdiri, berjalan mendekat. "Dengar, Ha-neul. Ini bukan permintaan. Ini perintah. Soo-ah akan menikah bulan depan. Dan kau tidak bisa berbuat apa-apa."
Ha-neul merasakan darah mendidih. Tangannya mengepal. Di jarinya, cincin giok hitam terasa hangat.
"Tenang." suara Hyeol-geon memperingatkan. "Jangan bertindak bodoh. Kau belum siap."
Tapi Ha-neul tidak bisa tenang. Ini tentang Soo-ah. Satu-satunya keluarga yang ia punya.
"Soo-ah, keluar," bisiknya pelan.
"Tapi Oppa—"
"Keluar. Cepat."
Soo-ah menatapnya ragu, lalu menurut. Ia berlari keluar sebelum para pengawal sempat menghentikannya—mereka lebih fokus pada Ha-neul.
Setelah Soo-ah pergi, Ha-neul menatap Dae-ho dan Nyonya Min dengan mata tajam.
"Aku bilang sekali lagi. Soo-ah tidak akan menikah dengan siapa pun."
Nyonya Min mendengus. "Tangkap dia. Ajar dia sopan santun."
Sung-min dan Jae-won bergerak.
Yang terjadi selanjutnya begitu cepat.
Sung-min menerjang dari depan, berniat mencengkeram bahu Ha-neul. Tapi Ha-neul tidak mundur. Ia melangkah maju, memiringkan tubuh, dan siku kanannya menghantam ulu hati Sung-min tepat di titik sensitif. Pria itu tersentak, napasnya terhenti, lalu roboh.
Jae-won terkejut, tapi segera menusuk dengan pisau pendek yang tiba-tiba muncul di tangannya. Ha-neul bergeser, pisau itu hanya menggores lengan bajunya. Dalam gerakan yang sama, tangannya menangkap pergelangan Jae-won, memutar, dan lututnya naik menghantam siku lawan. Krak! Suara tulang bergeser terdengar. Jae-won menjerit, pisaunya jatuh.
Dua pengawal tumbang dalam hitungan detik.
Sunyi.
Dae-ho terbelalak. Mulutnya terbuka, tapi suara tidak keluar. Nyonya Min bangkit dari kursinya, wajah pucat pasi.
"Ka-kau... apa kau...?"
Ha-neul tidak menjawab. Ia menatap Dae-ho dengan mata kosong—tapi di balik kekosongan itu, ada api yang membara.
"Dengar baik-baik, sepupu." Suaranya rendah, tapi jelas. "Jika kau atau ibumu menyentuh Soo-ah, atau bahkan berpikir untuk menyakitinya, aku tidak akan peduli kau putra pemimpin klan. Aku tidak akan peduli berapa banyak pengawal yang kau miliki. Aku akan mencari cara untuk membuatmu menyesal."
Ia melangkah mundur perlahan, masih menatap mereka.
"Ini peringatan terakhir."
Lalu ia berbalik dan berlari keluar, meninggalkan Dae-ho, Nyonya Min, dan dua pengawal yang terkapar di lantai.
---
Ha-neul berlari tanpa henti sampai ke gudang. Soo-ah sudah menunggu di depan pintu, wajah basah oleh air mata.
"Oppa!" Ia berlari memeluk kakaknya erat-erat. "Oppa kenapa? Aku dengar suara ribut—"
"Tidak apa." Ha-neul mengusap kepala adiknya. "Oppa baik-baik saja. Tapi kita harus pergi."
Soo-ah mengangkat wajah. "Pergi?"
"Sekarang. Malam ini juga."
Ia masuk ke gudang, mengambil bungkusan kecil berisi beberapa helai pakaian dan sisa makanan. Tidak banyak yang bisa dibawa. Tapi itu cukup.
Di luar, suara ramai mulai terdengar dari kompleks utama. Tanduk peringatan dibunyikan. Dae-ho pasti sudah mengerahkan semua orang.
"Kau tahu apa yang baru saja kau lakukan?" suara Hyeol-geon terdengar tegang.
"Aku melindungi adikku."
"Kau baru saja menyatakan perang terhadap seluruh klan."
"Aku tahu." Ha-neul meraih tangan Soo-ah. "Ayo."
Mereka berlari ke kegelapan malam, meninggalkan satu-satunya tempat yang pernah mereka kenal sebagai rumah.
Di belakang mereka, obor-obor mulai berkobar di kompleks Klan Pedang Kang. Teriakan-teriakan bergema: "Cari mereka! Jangan biarkan kabur!"
Badai pertama telah tiba.