NovelToon NovelToon
OWNED BY AZEUS

OWNED BY AZEUS

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Bad Boy / CEO
Popularitas:847
Nilai: 5
Nama Author: Andara Wulan

"Jangan pernah berpikir untuk lari, karena setiap jengkal napasmu adalah milikku." _Azeus (Versi Novel).
Aluna benci Azeus. Bukan Azeus si CEO dalam novel favorit yang tengah ia baca, melainkan Azeus di dunia nyata, seorang cowok narsis, tukang pamer motor 1000cc, dan hobi ugal-ugalan yang hampir membuatnya celaka dua kali!
Aluna mengira hidupnya akan setragis tokoh di dalam bukunya: diculik, disiksa, dan menderita. Namun, kenyataannya malah jauh lebih merepotkan. Alih-alih cambukan, Aluna justru dihujani gombalan narsis, traktiran boba, dan aksi protektif yang ugal-ugalan dari geng motor paling populer di Jakarta.
Saat garis antara fiksi dan realita mulai kabur, Aluna tersadar satu hal, Apakah dia akan berakhir tragis seperti di dalam novel, atau justru terjebak dalam obsesi manis si cowok ugal-ugalan yang diam-diam mencuri hatinya?
"Lo boleh benci Azeus yang di buku itu, tapi jangan harap bisa lepas dari Azeus yang di depan mata lo sekarang."

Karya ini berisi Novel dalam Novel

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andara Wulan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kepergian Aluna

Satu bulan telah berlalu. Azeus sukses menjalankan misi pengasingan diri itu dengan sempurna, meski hatinya kerap kali meronta hebat. Di balik layar, Ayah Azeus tetaplah penguasa yang tak kasat mata. ia terus mengawasi gerak-gerik Aluna melalui CCTV dan laporan asisten rumah tangga. Ancaman itu nyata. jika Aluna sampai hamil atau dirusak, Azeus akan menerima hukuman yang jauh lebih berat daripada sekadar pengusiran.

Sementara itu, Aluna benar-benar terjebak dalam kebosanan dan rasa sepi yang mencekik. Ia rindu siulan narsis Azeus, rindu godaan nakalnya, dan rindu tatapan obsesif pria itu. Dalam kepolosannya, Aluna mengira Azeus marah besar karena penolakannya malam itu.

Malam ini, Aluna tidak tahan lagi. Ia keluar dari rumah mewah itu tanpa pamit, berjalan menyusuri trotoar jalanan yang sunyi hanya untuk mencari angin segar. Namun, di kejauhan sekitar 100 meter, dunianya seolah runtuh.

Di bawah lampu jalan yang temaram, Aluna melihat moge Azeus terparkir di pinggir jalan. Di sampingnya, berdiri seorang cewek cantik dan seksi yang sedang bergelayut manja di lengan Azeus. Azeus tampak membuka helmnya, lalu membungkuk memeriksa kap mobil wanita itu yang sepertinya sedang mogok. Tiba-tiba, gadis itu memeluk Azeus dari belakang dengan sangat romantis.

Dada Aluna sesak. Cemburu membakar seluruh hatinya. Tanpa menunggu lebih lama, ia berbalik dan berlari cepat kembali ke rumah. Begitu sampai di lantai dua, ia membanting pintu kamarnya dan menjatuhkan diri di atas ranjang. Air mata mengalir deras membasahi bantal, isakannya tertahan oleh rasa sakit yang luar biasa. Ia merasa dikhianati oleh pria yang katanya mencintainya.

.

Kilas balik momen.

Malam semakin larut saat moge Azeus membelah kawasan elit menuju rumahnya. Azeus baru saja menyadari ada sepasang lampu mobil yang terus membuntutinya sejak keluar dari area kampus. Begitu sampai di jalanan sunyi yang hanya berjarak beberapa ratus meter dari rumah, mobil di belakangnya mendadak mengeluarkan suara aneh dan berhenti total.

"Sial," umpat Azeus sambil mengerem motornya.

Ia menoleh dan mendapati mobil Erena teronggok kaku di sana. Azeus menyeringai sinis di balik helmnya.

"Karma emang instan buat orang yang hobi nguntit", batinnya. Azeus berniat langsung tancap gas, tapi Erena buru-buru keluar dari mobil dengan wajah yang diset untuk menangis.

"Azeus! Tolong... mobil aku mati total, aku takut sendirian di sini," teriak Erena dengan suara bergetar yang dibuat-buat sedih.

Azeus mendengus kasar. Karena merasa nggak tega meninggalkan perempuan di jalanan sepi. meskipun itu Erena, ia terpaksa turun, membuka helmnya, dan melangkah malas ke arah kap mobil.

"Lo ngapain sih ngikutin gue mulu? Kurang kerjaan banget," semprot Azeus dingin.

Ia membuka kap mobil Erena, mencoba mencari masalahnya. Ternyata mobil itu mengalami overheat (mesin terlalu panas) karena radiatornya bermasalah.

"Azeus, aku kangen banget sama kamu..." Tiba-tiba Erena melangkah maju, tangannya yang lentik mulai bergelayut manja di lengan Azeus yang berbalut jaket kulit.

Azeus langsung melepaskan tangan itu dengan muak.

"Jaga jarak, Er. Gue mau benerin mobil lo, bukan mau nostalgia."

Tapi Erena nggak menyerah. Saat Azeus sedang fokus memeriksa mesin, Erena justru memeluk Azeus dari belakang, menyandarkan kepalanya di punggung tegap Azeus.

"Aku tahu kamu masih peduli, Ze. Buktinya kamu mau berhenti buat aku..."

"Lepas, Erena! Gue bilang lepas!" Azeus menyentak tangan Erena dengan kasar. Matanya berkilat penuh amarah dan kejijikan. Ia tidak tahu bahwa di kejauhan, Nana baru saja melihat adegan romantis palsu itu dengan hati yang hancur berkeping-keping.

Azeus menutup kap mobil itu dengan bantingan keras.

"Mobil lo butuh derek. Gue panggilin montir, setelah itu jangan berani-berani lo muncul di depan gue lagi!"

Tanpa mempedulikan rengekan Erena, Azeus memakai helmnya kembali dan memacu motornya secepat kilat.

^^^^

Setelah kejadian di pinggir jalan tadi, Azeus memacu motornya masuk ke garasi dengan perasaan dongkol. Ia tidak tahu bahwa seratus meter di belakangnya tadi, Aluna sudah menangis sampai matanya sembab dan mengunci diri rapat-rapat agar isakannya tidak bocor ke telinga para pembantu.

Azeus melangkah masuk dengan sangat hati-hati, seperti ritual jaga jarak yang ia lakukan sebulan ini. Salah satu pembantu berbisik bahwa Aluna sudah tidur sejak tadi. Azeus menghela napas lega, ia pun masuk ke kamarnya sendiri, membayangkan wajah tidur Aluna yang damai, tanpa sadar bahwa gadis itu sedang meringkuk hancur di balik bantal.

^^^

Pagi buta berikutnya, tepat pukul 05.30, Azeus sudah memanaskan motornya dan pergi ke kampus demi menghindari interaksi pagi dengan Aluna. Saat deru motor Azeus menjauh, Aluna membuka matanya yang bengkak. Ia tidak bisa lagi bertahan di rumah yang penuh dengan bayang-bayang pengkhianatan itu.

Aluna membereskan barang-barang kecilnya, memasukkannya ke dalam koper mini yang dulu ia bawa dari panti. Baginya, fasilitas mewah ini tidak ada artinya jika hatinya terus teriris. Ia merasa hanya menjadi pelampiasan rasa bersalah Azeus, sementara hati pria itu masih milik wanita seksi di pinggir jalan semalam.

Usai membereskan segalanya, Aluna melangkah keluar kamar dengan wajah pucat. Namun, langkahnya terhenti saat berpapasan dengan salah satu pembantu di tangga melilit itu.

"Non Aluna? Mau ke mana bawa koper?" tanya si Bibi heran.

Aluna hanya tersenyum tipis dan getir.

"Aku mau pulang, Bi. Titip salam buat Papa dan... Kak Azeus"

Di parkiran kampus, Azeus baru saja melepas helm saat ponselnya bergetar hebat. Sebuah pesan dari asisten rumah tangganya masuk.

"Den, Non Aluna pergi bawa koper! Katanya mau pulang!"

Jantung Azeus seolah berhenti berdetak. Ia bingung setengah mati. Kenapa tiba-tiba? Apa yang salah? Perasaan Azeus mendadak tidak enak, firasat buruk menghantam dadanya seperti hantaman moge.

"Woy, Ze! Kenapa muka lo pucat gitu? Kesambet?" tanya Dion yang baru sampai.

"Aluna... Aluna pergi dari rumah," bisik Azeus parau, tangannya gemetar memegang ponsel.

Tanpa mempedulikan kelas yang akan dimulai atau teman-temannya yang melongo, Azeus langsung naik kembali ke atas motornya. Ia tidak peduli pada apa pun sekarang. Dunianya, jantung hatinya, sedang mencoba melarikan diri darinya.

^^^

Azeus memacu motornya gila-gilaan, hampir saja ia menabrak pagar rumahnya sendiri karena pengereman yang mendadak. Tanpa melepas helm, ia berlari menaiki tangga meliuk itu, menerjang pintu kamar Aluna yang sudah terbuka lebar.

"Aluna!" teriaknya parau.

Hening. Kamar itu rapi, terlalu rapi. Mata Azeus menyapu seluruh ruangan dan hatinya seketika mencelos. Di atas ranjang yang empuk, tergeletak ponsel mahal yang baru ia belikan beberapa hari lalu. Di sampingnya, tumpukan baju-baju bermerek dan tas-tas mewah masih tersusun rapi di tempatnya.

Aluna tidak membawa satu pun fasilitas darinya. Gadis itu hanya membawa barang-barang lamanya yang lusuh—barang yang menjadi saksi bisu kemiskinannya dulu. Aluna pergi seolah ingin menghapus jejak bahwa ia pernah menjadi bagian dari hidup Azeus.

"Sial! Bodoh kamu, Ze!" umpat Azeus sambil memukul kusen pintu.

Ia langsung berbalik, berlari menuruni tangga dan kembali melompat ke atas motornya. Otaknya berputar cepat. Kompleks elit ini sangat luas. jarak dari rumahnya ke gerbang depan hampir mencapai 2 kilometer lebih. Aluna tidak mungkin bisa keluar dengan cepat jika hanya berjalan kaki, apalagi sambil membawa koper meski ukurannya mini.

Dia pasti masih di sekitar sini, batin Azeus penuh obsesi dan ketakutan.

Azeus menarik gas motornya hingga meraung keras, membelah jalanan perumahan yang lebar dan sepi. Matanya bergerak liar ke kiri dan kanan, menyisir setiap trotoar, setiap belokan, dan setiap halte bus internal komplek. Keringat dingin mengucur di balik jaket kulitnya.

"Jangan pergi, Al... Tolong jangan pergi!!" gumam Azeus di balik helmnya, suaranya tercekat oleh rasa sesak.

Ia terus menyusuri jalan utama komplek yang panjang itu, berharap sosok gadis dengan dress sederhana dan koper mini itu muncul di pandangannya sebelum ia mencapai gerbang besar yang memisahkan dunia mereka kembali.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!