Demi menyelamatkan keluarganya dari kehancuran, Alya menerima tawaran menjadi istri kontrak Bima, CEO muda paling berpengaruh di kota itu. Pernikahan mereka hanya berlangsung satu tahun — tanpa cinta, tanpa perasaan, tanpa masa depan.
Namun tinggal serumah dengan pria sedingin es yang diam-diam menyimpan luka masa lalu membuat batas antara kontrak dan kenyataan perlahan memudar. Ketika hati mulai terlibat, fitnah dan pengkhianatan justru menghancurkan kepercayaan mereka.
Saat kontrak berakhir, Alya pergi membawa rahasia yang tak pernah Bima duga.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, sang CEO muda harus belajar bahwa kehilangan jauh lebih menyakitkan daripada mencintai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tang Lin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24 – Ujian Masa Lalu Bima
Matahari pagi menyinari mansion Wijaya dengan lembut, tapi ketenangan itu hanyalah ilusi. Alya merasakan udara pagi membawa tekanan yang berbeda—bukan hanya untuk dirinya, tetapi untuk Bima juga.
Bima duduk di ruang kerjanya, menatap layar laptop yang menampilkan laporan terbaru dari tim investigasi internal. Satu pesan mencuat: mantan eksekutif senior yang dulu berseteru dengannya baru saja muncul, siap memberikan kesaksian yang bisa mengguncang citra Bima di mata publik dan investor.
Ia menghela napas dalam, menutup mata sejenak. Setiap keputusan yang ia buat di masa lalu kini menjadi senjata yang diputarbalikkan. Tidak ada lagi ruang untuk kesalahan. Dan Arsen, tentu saja, tahu persis bagaimana memanfaatkan titik lemah ini.
Alya berdiri di belakangnya, tangan mereka bersentuhan ringan. “Bima… apa yang terjadi?” tanyanya lembut. Suaranya menenangkan, tapi penuh ketegangan.
Bima menatap Alya, matanya memancarkan ketenangan yang terlatih. “Arsen mulai menyerang sisi masa laluku. Ini bukan sekadar tekanan finansial atau media… ini pribadi. Mantan eksekutif lama, perselisihan internal, keputusan kontroversial yang dulu kulakukan… semuanya akan diangkat bersamaan.”
Alya menelan napas. Ia menyadari, badai ini berbeda. Kali ini, bukan hanya dirinya yang menjadi target. Ini adalah ujian untuk fondasi hubungan mereka—untuk kepercayaan, kerja sama, dan kemampuan mereka menghadapi tekanan secara bersamaan.
“Jadi… kita harus bersiap,” ucapnya tegas. “Seperti kemarin, kita hadapi semuanya bersama. Tidak ada yang ditinggalkan.”
Bima mengangguk, lalu menatap layar laptop lagi. Ia mulai merancang strategi: komunikasi publik, klarifikasi internal, bahkan kontrol rumor sebelum menyebar ke media. Semuanya harus presisi, karena satu langkah salah bisa dimanfaatkan Arsen.
Sementara itu, Arsen duduk di kantornya dengan senyum tipis. Ia menikmati setiap momen ini. “Sekarang giliran Bima,” gumamnya. “Mari kita lihat seberapa kuat pasangan itu menghadapi ujian sejati.” Ia menekan tombol di laptopnya, mengirimkan dokumen dan catatan lama ke beberapa wartawan dan mantan eksekutif yang masih memiliki dendam.
Di mansion Wijaya, Alya dan Bima bekerja tanpa henti sepanjang siang. Mereka menelaah dokumen lama, menyiapkan pernyataan, dan menyusun strategi komunikasi. Setiap kali sebuah ancaman muncul, mereka menanganinya dengan sinkron, menutup celah yang coba dibuat Arsen.
Namun semakin mereka mencoba menenangkan publik dan investor, semakin Arsen meningkatkan intensitasnya. Ia memanfaatkan setiap celah—foto lama, email yang belum dipublikasikan, testimoni mantan karyawan—untuk menekan Bima dan menguji ketahanan Alya.
Sore menjelang, Alya berdiri di balkon, menatap langit yang mulai gelap. “Badai ini berbeda,” ucapnya pada Bima yang datang dari belakang. “Ini bukan sekadar kita melawan dunia luar. Ini melawan masa lalu kita sendiri.”
Bima meletakkan tangan di pundaknya, memegang erat. “Dan itu yang membuat kita lebih kuat. Kita tahu apa yang kita hadapi, dan kita tidak takut. Selama kita tetap bersama, tidak ada rahasia atau tekanan yang bisa memisahkan kita.”
Alya menatapnya, menyadari kebenaran itu. Fondasi yang baru mereka bangun—kepercayaan, kesadaran, dan cinta yang tumbuh perlahan—sekarang diuji. Tapi mereka tidak gentar. Mereka siap menghadapi ujian ini, bukan sebagai pasangan kontrak, tetapi sebagai partner sejati yang berdiri tegak menghadapi dunia, masa lalu, dan segala badai yang menunggu di depan.
Dan ketika malam tiba, lampu mansion menyala perlahan, menandai kesiapan mereka menghadapi ujian besar. Arsen mungkin telah membuka pintu untuk serangan baru, tapi Alya dan Bima tahu satu hal: tidak peduli seberapa kuat badai datang, mereka akan menghadapinya bersama—lebih kuat, lebih sadar, dan lebih tak tergoyahkan dari sebelumnya.
Malam itu, Alya merasakan getaran ketegangan yang berbeda dari biasanya. Ia tahu badai ini bukan sekadar serangan media atau manipulasi investor. Ini adalah ujian yang menargetkan setiap lapisan kehidupan mereka: masa lalu Bima, reputasi Alya, dan hubungan yang baru saja mereka bangun dengan susah payah.
Namun, alih-alih merasa takut atau terbebani, Alya menemukan sesuatu yang lebih dalam. Ia menyadari bahwa kekuatan sejati bukan hanya tentang kemampuan menghadapi ancaman eksternal, tetapi tentang bagaimana mereka tetap teguh dalam satu sama lain ketika dunia di luar berusaha memisahkan mereka. Setiap tekanan, setiap rumor, setiap manipulasi yang dilemparkan Arsen kini menjadi bahan latihan—seolah badai itu mengajarkan mereka kesabaran, ketahanan, dan kesadaran penuh akan prioritas mereka.
Bima duduk di sampingnya, diam tapi hadir sepenuhnya. Tidak ada kata-kata yang diperlukan; kehadirannya sendiri adalah jangkar yang menenangkan Alya. Dalam diam, mereka berbagi pemahaman: bahwa kekuatan mereka lahir dari keputusan sadar untuk memilih satu sama lain, bukan karena kontrak, bukan karena kewajiban, tapi karena hati mereka benar-benar menginginkannya.
Alya menatap keluar jendela, menyaksikan lampu kota yang berkelap-kelip. Setiap titik cahaya seolah mencerminkan kemungkinan yang bisa datang—baik badai besar maupun serangan kecil yang licik. Tapi sekarang, alih-alih merasa cemas, ia melihat itu sebagai medan latihan, tempat mereka berdua mengasah strategi, membangun kepercayaan, dan memperkuat ikatan mereka.
Ia merasakan detak jantungnya stabil, napasnya tenang, dan pikirannya fokus. Ini bukan sekadar kesiapan menghadapi dunia luar; ini kesiapan menghadapi masa lalu, manipulasi orang lain, bahkan kemungkinan munculnya keraguan internal. Semua itu tidak akan bisa menembus tembok yang mereka bangun bersama—tembok dari kepercayaan, kesadaran, dan cinta yang perlahan tapi pasti menjadi benteng mereka.
Bima menunduk sedikit, menyentuh bahu Alya, memberikan sinyal bahwa apapun yang datang, mereka tidak akan terpecah. “Kita akan menghadapi semuanya,” katanya lembut namun tegas. “Tidak ada yang bisa memisahkan kita—tidak media, tidak investor, tidak masa lalu, dan tidak satu pun serangan dari Arsen. Selama kita memilih satu sama lain, kita tidak akan terkalahkan.”
Alya menutup mata sejenak, membiarkan kata-kata itu meresap ke dalam hatinya. Ia merasakan kehangatan dan keyakinan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Bahwa kekuatan mereka bukan berasal dari jabatan atau kekayaan, tetapi dari keberanian memilih satu sama lain setiap hari, dari kesadaran penuh akan risiko yang ada, dan dari cinta yang tumbuh perlahan namun semakin kokoh setiap hari.
Malam itu, ketika mansion hening dan lampu terakhir padam, Alya dan Bima menyadari satu hal yang pasti: badai bisa datang kapan saja, dengan intensitas apapun, dengan serangan yang paling licik sekalipun. Tapi selama mereka tetap berdiri bersama, selama mereka tetap memilih satu sama lain dengan sadar, tidak ada kekuatan di dunia yang mampu mematahkan mereka.
Dan dalam keheningan malam itu, mereka tidak hanya merasa siap—mereka merasa tak tergoyahkan. Tak tergoyahkan bukan karena mereka tidak akan jatuh, tetapi karena mereka memiliki satu sama lain sebagai jangkar, sebagai partner sejati, dan sebagai kekuatan yang akan selalu menahan mereka dari setiap badai yang mengintai.