NovelToon NovelToon
Hijrah Hati Menuju Ridha Nya

Hijrah Hati Menuju Ridha Nya

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Rizal telah menyiapkan segalanya sebuah cincin dan masa depan yang ia dedikasikan sepenuhnya untuk Intan. Namun, tepat di malam ia berencana melamar, dunianya runtuh. Di depan matanya sendiri, ia melihat Intan mengkhianati cintanya, berselingkuh dengan sahabat karib yang paling ia percayai.
Di tengah hancurnya harga diri Rizal, hadir Aisyah, ibu tiri Intan yang selama ini menyimpan simpati pada ketulusan Rizal. Sebagai wanita yang lama menjanda dan tahu betul tabiat buruk putri tirinya, Aisyah menawarkan sebuah jalan keluar yang tak terduga.
"Nikahi aku, Rizal. Jangan biarkan Intan menginjak harga dirimu lagi. Aku akan mengangkat derajatmu lebih tinggi dari yang pernah ia bayangkan."
Kini Rizal berada di persimpangan: tetap meratapi pengkhianatan, atau menerima tawaran Aisyah untuk membalas luka dengan cara yang paling elegan—menjadi ayah tiri dari wanita yang menghancurkan hatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1

Jari-jari Rizal gemetar halus saat ia menyapukan ibu jarinya ke permukaan beludru kotak cincin di genggamannya.

Di dalamnya terdapat sebuah lingkaran emas sederhana berkilau tertimpa lampu kamar yang temaram.

Rizal tahu persis berapa banyak jam lembur dan jatah makan siang yang ia korbankan demi benda kecil itu.

“Sedikit lagi, Zal,” bisiknya pada diri sendiri.

Baginya, cincin itu bukan sekadar perhiasan. Itu adalah janji.

Sebuah simbol bahwa seorang pria biasa sepertinya berhak memimpikan masa depan bersama wanita yang ia puja.

Dengan penuh khidmat, ia memasukkan kotak itu ke saku jaketnya, tepat di atas jantungnya yang berdegup kencang karena harap dan cemas.

Sementara itu, di sebuah unit apartemen milih Hadi yang sejuk oleh hembusan AC.

Tirai tersingkap setengah, menampakkan lampu kota yang mulai menyala.

Intan menyandarkan kepalanya di bahu bidang Hadi, membiarkan jemari sahabat karib Rizal itu membelai rambutnya dengan intim.

Keheningan mereka terpecah saat ponsel di atas nakas bergetar hebat. Nama "Rizal" berkedip di layar.

Intan mendengus malas, namun tetap meraih ponsel itu.

"Ada apa?" tanya Intan sambil memeluk 'Hadi' yang selama ini telah menjadi selingkuhannya.

"Nanti malam aku tunggu di rumah makan yang biasa, ya? Aku ada kejutan. Oh iya, ajak Mama kamu juga kalau beliau tidak sibuk."

Intan terdiam sejenak saat mendengar perkataan dari Rizal.

Ia melirik Hadi yang kini memberikan kecupan tipis di pelipisnya sebagai tanda godaan.

Sebuah senyum sinis tersungging di bibir Intan. Alih-alih memberikan jawaban atau sekadar kata perpisahan, ia langsung menekan tombol merah.

Klik!

Layar ponsel itu menggelap, sedingin tatapan matanya.

Bagi Intan, suara Rizal tak lebih dari sekadar kebisingan latar belakang yang mengganggu kesenangannya sore itu.

Di apartemen itu, gema suara Rizal dari telepon tadi menguap begitu saja, kalah oleh dentum ambisi dan nafsu.

Intan melempar ponselnya ke ujung tempat tidur seolah benda itu adalah kotoran yang baru saja menyentuh tangannya.

"Ada apa? Si bodoh itu mengajak makan malam lagi?" bisik Hadi, suaranya serak, penuh nada mengejek.

Intan hanya mendengus, jemarinya kini sibuk memainkan kerah kemeja Hadi yang sudah berantakan.

"Dia bilang ada kejutan. Paling-paling hanya cincin murah hasil cicilan setahun. Membosankan."

Ia sama sekali tak berniat menghubungi Aisyah, apalagi memenuhi undangan Rizal.

Baginya, sore itu jauh lebih berharga dihabiskan di dalam dekapan pria yang ia anggap lebih 'setara' dengannya, meski itu adalah sahabat karib tunangannya sendiri.

Di kamar yang terkunci itu, pengkhianatan berlanjut tanpa sedikit pun rasa bersalah.

Sementara itu, langit Jakarta mulai berubah jingga keunguan.

Rizal, dengan motor tua yang ia rawat sedemikian rupa agar tampak mengkilap, membelah kemacetan.

Aalih-alih langsung menuju restoran, Rizal memutuskan mampir ke kediaman keluarga Intan.

Ia ingin memastikan Aisyah—Ibu tiri Intan—bisa ikut serta.

Rizal selalu merasa Aisyah adalah satu-satunya orang di keluarga itu yang memandangnya sebagai manusia, bukan sekadar pelengkap status Intan.

Suasana rumah besar itu sepi saat Rizal melangkah masuk melalui pintu samping yang biasanya terbuka.

Bau harum tumisan bawang dan rempah tercium hingga ke teras.

"Assalamualaikum, Ma," sapa Rizal lembut saat melihat sosok wanita anggun dengan apron yang menutupi gaun rumahan mahalnya sedang sibuk di depan kompor.

Aisyah menoleh, sedikit terkejut namun senyum tipis segera terukir di wajahnya yang masih terlihat awet muda.

"Waalaikumsalam, Rizal. Tumben sore-sore begini sudah sampai sini. Ada apa?"

"Apa Intan sudah menghubungi Mama? Tadi saya meneleponnya, mengajak makan malam bersama Mama juga."

Aisyah mematikan kompor, lalu menghela napas panjang sambil menggelengkan kepala.

Ia meletakkan sudipnya dan menatap Rizal dengan tatapan campuran antara kasihan dan rasa hormat.

"Belum, Zal. Intan tidak menelepon Mama sama sekali," jawab Aisyah tenang.

Ia berjalan menuju wastafel untuk mencuci tangan, lalu berbalik menyandarkan tubuhnya di konter dapur.

"Bukankah kamu tahu sendiri, Rizal? Bagaimana Intan sangat membenciku karena aku menikah dengan Papa Taufik. Baginya, aku hanyalah orang asing yang merebut posisi ibunya. Dia jarang sekali bicara padaku jika tidak ada perlunya."

Aisyah menatap kotak kecil yang menyembul dari saku jaket Rizal.

Sebagai wanita yang tajam intuisinya, ia tahu apa isi kotak itu.

"Zal..." Aisyah menggantung kalimatnya.

"Terkadang, ketulusan seseorang sering kali jatuh di tangan yang salah. Kamu pria yang baik. Terlalu baik, mungkin."

Rizal terdiam saat mendengar perkataan dari Aisyah.

Ia belum tahu, bahwa saat ia berdiri di dapur yang hangat itu, tunangannya sedang menertawakan kemiskinannya di pelukan pria lain.

Suasana dapur terasa begitu kontras dengan keriuhan di luar sana.

Harum tumisan bawang putih dan bumbu rempah buatan Aisyah sejenak meredam gemuruh di dada Rizal.

Pria itu masih berdiri mematung di ambang pintu dapur, menatap kotak beludru di saku jaketnya yang terasa semakin berat.

"Sudahlah, Rizal. Jangan terlalu dipikirkan kalau Intan belum menjawab," ujar Aisyah lembut.

Ia mematikan kompor, lalu berbalik menatap Rizal dengan tatapan keibuan yang menenangkan.

"Duduklah. Mama baru saja selesai memasak semur daging kesukaan almarhum Papa Taufik. Kamu harus makan dulu."

"Tapi, Ma. Saya janji bertemu Intan di restoran jam tujuh malam ini."

Aisyah tersenyum tipis ke arah Rizal dan memintanya untuk tenang.

"Masih ada waktu satu jam. Perut kosong hanya akan membuat kepalamu tumpul saat bicara nanti. Makanlah sedikit, nanti Mama janji akan menyusul ke sana."

Melihat ketulusan di mata ibu tirinya itu, Rizal tak kuasa menolak.

Ia duduk di meja makan kayu yang kokoh. Aisyah menyendokkan nasi hangat dan potongan daging ke piring Rizal dengan penuh perhatian.

Bagi Rizal, Aisyah adalah satu-satunya sosok di rumah mewah ini yang tidak pernah memandangnya sebelah mata, meski Intan sering kali memperlakukan Aisyah seperti musuh dalam selimut.

"Terima kasih, Ma," ucap Rizal tulus.

"Habiskan, Zal. Kamu butuh tenaga untuk menghadapi apa pun yang terjadi malam ini," balas Aisyah misterius.

Satu porsi makanan habis dalam keheningan yang nyaman.

Rizal merasa sedikit lebih tenang setelah menikmati masakan Aisyah.

Kemudian ia berdiri dan merapikan jaketnya.

"Saya pamit dulu, Ma. Saya ingin sampai di restoran lebih awal untuk menyiapkan mejanya," pamit Rizal sambil mencium punggung tangan Aisyah dengan hormat.

"Hati-hati di jalan, Rizal. Ingat, apa pun yang kamu lihat nanti, jangan pernah merasa rendah diri. Kamu pria yang berharga," pesan Aisyah sambil mengantar Rizal sampai ke depan pintu.

Rizal mengangguk, meski ia sedikit bingung dengan nada bicara Aisyah yang terdengar seperti sebuah peringatan.

Begitu suara deru motor Rizal menghilang di kejauhan, raut wajah Aisyah yang lembut seketika berubah.

Kehangatan itu lenyap, digantikan oleh sorot mata yang tajam dan dingin.

Aisyah melangkah menuju meja kerjanya yang elegan di sudut ruang tengah.

Ia meraih sebuah tablet ramping yang tergeletak di sana.

Dengan beberapa ketukan cepat, sebuah aplikasi khusus terbuka.

Di layar itu, sebuah titik merah berkedip-kedip statis di sebuah koordinat yang sangat familiar di sebuah apartemen mewah di pusat kota.

Aisyah bukan wanita bodoh, ia sudah lama mendampingi mendiang suaminya membangun imperium bisnis.

Ia tahu betul tabiat buruk putri tirinya. Sejak sebulan lalu, ia telah memasang perangkat GPS kecil di bawah bumper mobil Mercedes milik Intan.

"Masih di apartemen Hadi," gumam Aisyah dingin.

Ia memperhatikan titik merah itu tidak bergerak selama tiga jam terakhir.

Ia tahu betul apa yang dilakukan putri tirinya di sana bersama sahabat karib Rizal.

Rasa muak berkecamuk di dada Aisyah; ia benci melihat ketulusan pria seperti Rizal diinjak-injak oleh wanita serendah Intan.

Aisyah mengambil kunci mobilnya dan mengenakan blazer hitamnya.

1
falea sezi
lanjut donk
falea sezi
aisyah umur brp
my name is pho: 25 tahun
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!