Sebuah kisah tentang seorang putri es yang bernama Aira Skypia. Ia memiliki kekuatan es yang luar biasa, tetapi juga memiliki hati yang penuh dengan dendam dan murka. Setelah keluarganya dibunuh oleh musuh yang kejam, putri es ini berusaha membalas dendam dan menghancurkan musuhnya dengan kekuatan esnya.
Namun, kekuatan luar biasa yang ia miliki kini lenyap seketika setelah musuhnya mengutuk seluruh keturunan es agar tidak ada yang menjadi penerus kejayaan kerajaan es.
Dalam perjalanan kultivasinya, ia harus berhadapan dengan bangsa vampir. Aira terpaksa harus hidup dan berlatih di dalam istana kerajaan Vampir.
Bagaimana cara putri es hidup setelahnya?
Seperti apa perjuangan Aira di dalan kerajaan Vampir yang dipenuhi oleh energi kegelapan?
Bagaimana cara ia membalas dendam tanpa kekuatan yang dimilikinya?
Pantengin terus ceritanya sampai akhir🗣️🗣️
Jangan lupa like, vote, dan komen biar author makin semangat....🦋
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MellaMar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nocturna
Panah-panah mulai beterbangan, mengenai tembok istana dan mengenai pasukan Valerius. Valerius sendiri memimpin serangan, matanya membara dengan kemarahan.
"Serang!" teriaknya, suaranya mengguncang udara.
Pasukan Valerius maju, pedang-pedang mereka berkilatan di bawah sinar matahari. Pasukan Ignis siap untuk melawannya, panah-panah dan pedang-pedang mereka siap untuk menyerang.
Ignis sendiri berdiri di atas tembok istana, matanya membara dengan kekhawatiran. "Kita harus melindungi istana," katanya kepada panglimanya.
Panglima itu mengangguk, dan pasukan Ignis maju untuk melawan pasukan Valerius. Pertarungan sengit terjadi, pedang-pedang berkilatan dan panah-panah beterbangan.
Valerius sendiri bertempur dengan gigih, matanya membara dengan kemarahan. Dia tidak akan berhenti sampai dia menemukan Nocturna.
Tiba-tiba, sebuah panah meluncur ke arah Ignis. Ignis dengan sigap mengangkat tangannya, dan panah itu terbakar menjadi debu.
"Ha!" teriak Ignis, matanya membara dengan kekuatan. "Kalian tidak bisa menyentuhku!"
Valerius melihat Ignis, dan matanya membara dengan kemarahan. "Kau!" teriaknya. "Kau yang membawa Nocturna!"
Kedua alis Ignis mengerut, "Nocturna? Aku tidak membawanya". Bantah Ignis dengan keras
Ignis tersenyum, dan pasukan Ignis maju untuk melawan pasukan Valerius. Pertarungan semakin sengit, dan hasilnya belum jelas.
Valerius terkejut, matanya membara dengan kemarahan. "Kau berbohong!" teriaknya kepada Ignis. "Kau pasti menyembunyikan Nocturna!"
Ignis tersenyum, matanya membara dengan kekuatan. "Aku tidak menyembunyikan Nocturna, Valerius. Tapi hanya ingin tahu, seberapa kuat pertahananmu."
Valerius menggulung tangannya, matanya membara dengan kemarahan. "Kamu akan membayar untuk ini, Ignis!"
Pertarungan semakin sengit, pedang-pedang berkilatan dan panah-panah beterbangan. Tapi, Valerius tidak bisa menghilangkan perasaan bahwa Ignis tidak berbohong, dan Nocturna tidak ada di istana Ignis.
Valerius melompat ke arah Ignis, pedangnya berkilatan di udara. Ignis dengan sigap mengangkat tangannya, dan sebuah bola api muncul di depannya.
"Bola api!" teriak pasukan Valerius, mundur ke belakang.
Ignis tersenyum, matanya membara dengan kekuatan. "Kalian tidak bisa menghandapi kekuatanku!"
Bola api itu meluncur ke arah Valerius, tapi dia dengan sigap menghindar. Pedangnya berkilatan, dan Ignis terpaksa mundur ke belakang.
Tiba-tiba, sebuah suara terdengar dari kejauhan. "Cukup!".
Valerius mengangkat satu tangannya mengepal di udara, begitu pula dengan Ignis melakukan hal yang serupa.
Semua orang berhenti bertempur, dan memandang ke arah suara itu. Sebuah sosok muncul dari kejauhan, dengan mata indahnya dia berhenti di antara Valerius dan Ignis.
"Vexa!" teriak Ignis, matanya membara dengan kejutan.
Valerius juga memandang ke arah Vexa, matanya membara dengan kemarahan. "Kau!" teriaknya. "Kau pasti yang membawa Nocturna!"
Vexa tersenyum, "Aku tidak membawa Nocturna, Valerius. Tapi aku tahu siapa yang melakukannya."
Valerius menggulung tangannya, matanya membara dengan kemarahan. "Siapa?" teriaknya.
Vexa menunjuk ke arah Ignis. "Ignis tidak melakukannya. Tapi aku tahu siapa yang melakukannya."
Ignis membalas dengan mata yang membara. "Jangan menuduhku, Vexa. Aku tidak melakukannya."
Vexa tersenyum lagi. "Aku tidak menuduhmu, Ignis. Aku hanya mengatakan bahwa aku tahu siapa yang melakukannya."
Valerius tidak sabar lagi. "Siapa?" teriaknya lagi.
Vexa mengambil napas dalam-dalam, dan kemudian berkata, "Aku yang melakukannya."
Semua orang terkejut, matanya membara dengan kejutan. Valerius tidak percaya, "Kau?" teriaknya. "Kenapa?"
"Aku hanya ingin berteman dengan adikmu, dia yang memaksa memintaku agar membawanya!". Bantah Vexa dengan senyuman.
Valerius membantah dengan keras, matanya membara dengan kemarahan. "Kamu berbohong, Vexa! Nocturna tidak akan pernah meminta bantuanmu!"
Vexa tersenyum lagi. "Aku tidak berbohong, Valerius. Aku hanya ingin membantu adikmu. Tapi sekarang, dia sudah aman, dan aku akan menjaga rahasia ini... sampai saatnya tiba."
Ignis memandang Vexa dengan mata yang membara dengan kemarahan. "Kamu tidak bisa dipercaya, Vexa. Kamu hanya ingin menghancurkan Valerius dan keluarganya."
Vexa tersenyum lagi, kali ini tatapannya melekat pada Ignis. "Aku hanya ingin menjaga apa yang aku anggap penting. Dan sekarang, aku akan pergi... untuk sementara."
"Kembalikan Nocturna! Kembalikan adikku sekarang juga"
"Aku tidak memiliki Nocturna, Valerius. Aku hanya ingin kamu... memahami sesuatu."
Valerius tidak sabar lagi, dia melompat ke arah Vexa dengan pedangnya. "Kamu tidak akan pernah mendapatkan apa yang kamu inginkan! Kembalikan adikku!"
Ignis dan pasukannya siap untuk campur tangan, tapi Vexa mengangkat tangannya. "Tunggu... aku akan menunjukkan sesuatu kepada Valerius."
Vexa mengangkat tangannya, dan sebuah portal terbuka di udara. Dari portal itu, Nocturna muncul, dengan mata yang menatap sang kakak dengan lembut.
Vexa mengangkat tangannya, matanya membara dengan kekuatan. Dia mulai mengucapkan mantra, suaranya seperti musik yang memekakkan telinga. Udara di sekitarnya mulai bergetar, dan sebuah cahaya biru mulai muncul di depannya.
Cahaya biru itu semakin terang, membentuk lingkaran yang berputar-putar. Portal mulai terbuka, menunjukkan pemandangan yang tidak jelas di baliknya. Suara gemuruh terdengar, seperti suara air terjun yang jauh. Nocturna muncul dari portal, Valerius terkejut, dia tidak bisa percaya bahwa adiknya ada di sana.
"Nocturna!" teriak Valerius, ingin memeluk adiknya.
Tapi Nocturna tidak bergerak, matanya tetap tertuju pada Valerius. "Aku ada di sini karena aku ingin, kakak," katanya dengan suara yang dingin.
Valerius terkejut, dia tidak bisa memahami apa yang terjadi. "Apa yang kamu maksud? Kamu tidak bisa ingin berada di sini!"
Vexa tersenyum, "Nocturna ada di sini karena aku telah membantu dia, Valerius. Aku telah memberikan dia kekuatan yang dia butuhkan."
Nocturna memandang Vexa dengan mata yang membara dengan kesetiaan. "Aku berterima kasih, Vexa. Aku akan selalu bersamamu."
"Nocturna, apa yang kamu lakukan? Kamu tidak bisa berarti kamu ingin meninggalkan aku!"
Valerius merasa seperti jantungnya tertusuk panah, dia tidak bisa menerima kenyataan bahwa Nocturna ingin meninggalkan dia.
"Nocturna, tolong... jangan lakukan ini," Valerius memohon, suaranya bergetar dengan emosi.
"Aku sudah membuat keputusan, kakak. Aku ingin berada di sini, dengan Vexa."
"Aku akan menjaga Nocturna, Valerius. Aku akan memberikan dia kekuatan yang dia butuhkan untuk menjadi lebih kuat." Vexa menimpali
Valerius mengepalkan tangannya, matanya membara dengan kemarahan. "Kamu tidak akan pernah bisa menggantikan aku sebagai kakaknya! Nocturna, tolong... kembalilah!"
Tiba-tiba, Nocturna melompat ke arah Valerius, matanya menatap sang kakak dengan tajam. "Aku tidak ingin kembali, kakak. Aku ingin menjadi lebih kuat, dan aku akan melakukannya dengan Vexa."
Valerius terkejut, dia tidak bisa percaya bahwa adiknya merasa seperti itu. "Apa yang kamu maksud? Kamu adalah satu-satunya keluargaku yang tersisa, Nocturna!"
Nocturna menggelakkan kepalanya. "Tidak, kakak. Aku selalu merasa seperti aku tidak cukup baik untukmu, sikapmu menunjukkan kalau aku tidak pernah bisa memenuhi harapanmu."
Vexa memandang Valerius mencoba memeberinya penjelasan lebih. "Kamu tidak pernah memberikan Nocturna kesempatan untuk menjadi dirinya sendiri, Valerius. Dan aku akan memberinya kesempatan itu."
Valerius terpaku dalam diam, dadanya merasa seperti dipukul, dia tidak bisa percaya bahwa dia telah gagal sebagai kakak.
"Dan satu lagi, aku akan menikahi Ignis". Ujar Nocturna.