NovelToon NovelToon
Kembalinya Sang Naga

Kembalinya Sang Naga

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Balas Dendam / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: Idwan Virca84

Puluhan tahun silam dunia persilatan mengalami kedamaian, Sembilan Master Naga berhasil membuat dunia menjadi lebih aman, para pendekar golongan hitam tidak ada yang membuat onar baik di dunia persilatan maupun di kerajaan yang di tinggali rakyat biasa. Namun semua itu kini tidak ada lagi, kini dunia persilatan mengalami kekacauan setelah sebuah partai golongan hitam muncul dan merajalela.
Wang Long yang hidup di sebuah desa bersama keluarganya juga mendapat perlakuan buruk dari anggota partai golongan hitam tersebut.
Semua keluarga dan orang-orang di desa Wang Long di bantai secara sadis.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Idwan Virca84, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 17: Air Tenang yang Menyembunyikan Naga

Arena batu Perguruan Awan Putih terletak tepat di jantung komplek perguruan, dikelilingi oleh pilar-pilar raksasa setinggi dua tombak yang diukir dengan relief awan berlapis-lapis.

Lantai arenanya terbuat dari marmer putih yang dipoles hingga mengilap, memantulkan cahaya matahari pagi seperti permukaan danau es yang membeku di puncak gunung.

Ratusan murid berjubah putih telah berkumpul, membentuk lingkaran manusia yang rapi namun penuh dengan rasa ingin tahu.

Beberapa tetua duduk di balkon atas dengan jubah yang melambai ditiup angin pegunungan, wajah mereka kaku, menjaga wibawa.

Ketua Perguruan Awan Putih duduk di tengah balkon, dagunya ditumpu tangan, sorot matanya yang tajam mengamati setiap inci pergerakan di bawah sana.

Seorang pria melangkah keluar dari barisan murid inti dengan kepercayaan diri yang memancar dari setiap geraknya.

Tubuhnya tegap, wajahnya tampan dengan rahang tegas yang menandakan disiplin tinggi.

Ia adalah Sue Lie Ceng, pendekar muda kebanggaan perguruan yang usianya baru menginjak kepala tiga namun prestasinya sudah melampaui rekan-rekan sebayanya.

Tanpa suara, Sue Lie Ceng melompat ringan. Tubuhnya meluncur di udara seperti helaian bulu, lalu kakinya menjejak tepat di atas puncak salah satu pilar batu.

Tidak ada debu yang beterbangan, tidak ada suara dentuman. Ia berdiri di sana dengan keseimbangan sempurna, halus seperti burung bangau yang bertengger di dahan pohon.

Beberapa murid berseru kagum, mata mereka berbinar.

"Itu Kakak Senior Sue!"

"Lihatlah! Langkah Awan Ringannya sudah mencapai tingkat tinggi!"

Sue Lie Ceng berdiri di atas pilar dengan satu tangan di belakang punggung, menatap ke arah Wang Long yang masih berdiri di tepi arena.

"Siapa pun yang menyebut dirinya naga, silakan naik," ucapnya. Suaranya tidak keras, namun mengandung tenaga dalam yang cukup untuk membuatnya terdengar jelas hingga ke sudut terjauh arena.

Semua mata kini tertuju pada Wang Long. Sin Yin berdiri di sisi arena, menyilangkan tangan di dada dengan tenang.

Meski wajahnya dingin, binar di matanya menunjukkan keyakinan penuh pada pria di depannya. Di dekatnya, Yue Lan berdiri diam, matanya yang jernih menatap ke tengah arena.

Keduanya saling melirik sekilas, berbagi pemahaman tanpa perlu kata; mereka tahu bahwa naga tidak perlu memamerkan sisiknya hanya untuk membuktikan kekuatannya.

Wang Long mulai melangkah maju. Ia tidak melompat secara dramatis, tidak pula berlari dengan kecepatan tinggi.

Wang Long berjalan biasa saja, bahunya santai, langkahnya stabil seolah ia sedang berjalan di pematang sawah desanya untuk mengambil air di sumur.

Beberapa murid yang tidak mengerti esensi bela diri mulai tertawa kecil, saling menyikut teman di sampingnya. "Dia bahkan tidak bisa meloncat ke pilar?"

"Benar-benar seperti bocah desa yang tersesat di istana."

Sue Lie Ceng memandang dari atas pilar dengan tatapan merendahkan, bibirnya menyunggingkan senyum tipis yang meremehkan.

Wang Long tiba di tepi arena, namun ia tidak naik ke pilar manapun. Ia hanya melangkah masuk ke tengah arena batu yang luas, berdiri tepat di titik pusat, lalu terdiam.

Aura naganya ditekan begitu dalam hingga ke dasar batin. Tidak ada tekanan yang menyesakkan, tidak ada getaran tenaga dalam yang terpancar. Ia tampak seperti pemuda biasa tanpa kemampuan silat sedikit pun.

Di balkon atas, salah satu tetua mengerutkan kening, merasa heran. "Kenapa aku tidak merasakan apa pun darinya? Apa intelijen kita salah?"

Ketua Awan Putih menyipitkan mata, mengamati postur Wang Long yang sangat rileks. "Justru itu yang membuatnya menarik. Menekan aura hingga ke titik nol membutuhkan kontrol batin yang luar biasa."

Sue Lie Ceng akhirnya melompat turun dari pilar. Tubuhnya mendarat ringan di depan Wang Long, menciptakan pusaran debu tipis di bawah kakinya yang lincah. Ia menatap Wang Long dari jarak tiga langkah, mencoba mencari celah di balik ketenangan itu.

"Apakah kau benar pewaris naga yang dibicarakan dunia?" tanya Sue Lie Ceng, suaranya menekan.

Wang Long menjawab dengan nada yang datar namun mantap. "Aku hanya Wang Long."

Mendengar itu, tawa murid-murid kembali pecah. Sue Lie Ceng menyipitkan mata, merasa dipermainkan. "Kenapa kau menekan auramu? Kau menganggap remeh ujian ini?"

"Aku tidak menekannya," sahut Wang Long jujur.

"Lalu?"

"Aku memang seperti ini."

Jawaban yang polos itu entah mengapa membuat Sue Lie Ceng merasa harga dirinya sedikit terusik. Ia mencabut pedangnya perlahan.

Bilah baja tipis itu berdesing saat keluar dari sarungnya, memantulkan cahaya matahari yang menyilaukan mata penonton. "Hunus senjatamu!" perintahnya tegas.

Wang Long melirik ke arah rak senjata latihan yang berbaris di tepi arena. Ia berjalan ke sana dengan santai, sementara semua mata mengikuti setiap gerakannya dengan penuh tanya. Ia mengulurkan tangan dan mengambil... sebuah pedang kayu.

Pedang kayu latihan untuk murid pemula yang bahkan permukaannya masih kasar.

Arena itu seketika riuh oleh gelak tawa. "Apa dia bercanda?!"

"Pedang kayu melawan pedang baja Sue Senior? Dia sudah gila!"

Sue Lie Ceng mengangkat alisnya, wajahnya memerah karena merasa dihina secara terang-terangan. "Anak muda," nada suaranya kini mengandung ancaman nyata. "Kau sedang mencoba menghinaku?"

Wang Long kembali ke tengah arena, menggenggam pedang kayu itu dengan santai. "Aku tidak punya niat menghina sedikit pun."

"Lalu apa maksudmu dengan potongan kayu itu?"

"Pedang ini cukup untuk menghadapi ujian ini," jawab Wang Long tanpa maksud menyombongkan diri.

Keriuhan di arena semakin tak terkendali. Sue Lie Ceng menarik napas dalam-dalam, berusaha menjaga ketenangannya sebagai murid inti. "Atau kau ingin aku dipandang curang oleh dunia karena memakai pedang sungguhan melawan kayu?"

Wang Long menatap pedang kayu di tangannya sejenak, lalu kembali menatap lawan bicaranya. "Kalau aku memakai pedang pusaka, pertarungan ini akan terlalu cepat berakhir."

Beberapa murid yang tadi tertawa tiba-tiba terdiam, merasakan dingin yang aneh di tengkuk mereka. Sue Lie Ceng menyipitkan mata, amarahnya sudah di ubung-ubung kepala. "Kau terlalu percaya diri, anak muda!"

Wang Long menjawab dengan suara yang sangat lembut, hampir seperti bisikan angin. "Aku hanya berusaha adil agar kita bisa sedikit lebih lama bertukar jurus."

Sin Yin menahan senyum di bibirnya, sementara Yue Lan menunduk sedikit untuk menyembunyikan tawa tipisnya. Mereka tahu air ini sangat tenang, namun di bawahnya terdapat arus yang mampu menelan gunung.

Sue Lie Ceng mengangkat pedangnya, ujungnya mengarah tepat ke mata Wang Long. "Baik! Kalau begitu jangan salahkan aku jika pedangku mematahkan kayumu sekaligus meremukkan tanganmu!"

Wang Long hanya mengangguk ringan, memposisikan pedang kayunya dengan santai. "Silakan."

Wasit yang berada di pinggir arena mengangkat tangannya tinggi-tinggi. "Mulai!"

Gerakan Pertama

Begitu kata "Mulai" diteriakkan, Sue Lie Ceng menghilang dari pandangan mata murid-murid biasa. Ia menggunakan teknik Langkah Awan Ringan secara maksimal.

Tubuhnya bergerak secepat kabut yang ditiup badai, menyapu permukaan marmer. Dalam sekejap mata, ia sudah berada di sisi kanan Wang Long dengan pedang yang menyapu secara horizontal.

Srett!

Serangan itu sangat cepat dan tajam, angin pedangnya terdengar memekik tipis di udara. Wang Long tidak bergerak sedikit pun, seolah-olah ia terpaku oleh kecepatan lawannya.

"Dia tak sempat bereaksi!" seru seorang murid.

Namun, tepat beberapa milimeter sebelum bilah baja itu menyentuh jubahnya, pedang kayu Wang Long bergerak sedikit.

Tok!

Suara benturan itu terdengar sangat sederhana, menyerupai ketukan pintu kayu. Namun, secara ajaib, pedang baja Sue Lie Ceng terpental setengah jengkal, meleset dari sasaran.

Sue Lie Ceng terkejut. Gerakan Wang Long terlalu tepat, tanpa tenaga yang berlebihan namun sangat efektif.

Tak ingin membuang waktu, Sue Lie Ceng menyerang lagi dengan tusukan lurus ke arah dada.

Wang Long hanya memutar pergelangan tangannya sedikit. Pedang kayu itu menekan sisi bilah baja dengan kelembutan seperti daun yang jatuh ditiup angin, namun cukup untuk membuat tusukan itu melenceng jauh.

“Bagaimana mungkin…” gumam Sue Lie Ceng tak percaya.

Ia mulai meningkatkan tenaga dalamnya. Aura putih tipis menyerupai uap dingin mulai menyelimuti tubuhnya. Ia menyerang bertubi-tubi dengan tebasan dari atas, bawah, dan samping. Arena itu kini dipenuhi oleh bayangan pedang yang saling bersilangan.

Namun Wang Long tetap pada ketenangannya. Ia hanya mundur setengah langkah, lalu bergeser setengah langkah lagi ke samping. Pedang kayunya bergerak dengan ritme yang stabil.

Tok. Tak. Tok.

Setiap serangan Sue Lie Ceng dipatahkan dengan ketukan ringan. Penonton yang tadi riuh kini mulai bungkam seribu bahasa.

Tidak ada ledakan tenaga yang dahsyat, tidak ada manuver yang rumit, namun entah kenapa Sue Lie Ceng terlihat semakin terengah-engah dan terdesak. Keringat dingin mulai bercucuran di pelipisnya.

“Seriuslah! Jangan bermain-main denganku!” teriak Sue Lie Ceng dengan emosi yang meledak.

“Aku sudah serius sejak awal,” jawab Wang Long tenang. Jawaban itu membuat beberapa murid yang mendengarnya menelan ludah dengan susah payah.

Sue Lie Ceng menggeram, ia melompat tinggi ke udara, memutar pedangnya dengan kecepatan penuh hingga menciptakan pusaran angin. “Jurus Awan Memecah Langit!”

Ia turun menghujam dengan tebasan vertikal yang membawa seluruh sisa tenaga dalamnya. Bilah pedang bajunya bergetar hebat, udara di sekitar arena seolah terbelah oleh tekanan tersebut.

Wang Long berhenti mundur. Ia berdiri tegak, kaki menapak kokoh di atas marmer. Ia mengangkat pedang kayunya secara melintang di atas kepala. Hanya gerakan sederhana.

Krek!

Suara retakan keras terdengar memekakkan telinga. Semua orang memejamkan mata, mengira pedang kayu itu telah hancur berkeping-keping. Namun saat mereka membuka mata, mereka terperangah. Lantai batu di bawah kaki Sue Lie Ceng-lah yang retak seribu.

Pedang baja Sue Lie Ceng tertahan tepat dua jari dari kepala Wang Long. Pedang kayu itu tidak patah; ia menahan bilah baja dengan sudut kemiringan yang sempurna, menetralisir seluruh beban serangan. Sue Lie Ceng merasakan getaran hebat menjalar ke lengannya. Bukan dorongan keras, tapi sebuah tekanan lembut yang sangat masif dan tak bisa dilawan.

Wang Long menatap mata Sue Lie Ceng yang kini dipenuhi ketakutan. “Kau terlalu banyak membuang tenaga pada tempat yang salah,” ucapnya pelan.

Lalu, dengan sentakan kecil pada pergelangan tangannya, Wang Long memutar pedang kayunya. Pedang baja itu seketika terpental keluar dari genggaman Sue Lie Ceng, berputar-putar di udara sebelum akhirnya menancap dalam di lantai marmer arena.

Sunyi senyap menyelimuti seluruh perguruan. Sue Lie Ceng berdiri kaku dengan tangan kanan yang bergetar hebat, mati rasa. Sementara itu, ujung pedang kayu Wang Long kini berhenti tepat satu inci di depan tenggorokan Sue Lie Ceng.

Wang Long berkata dengan suara rendah yang menggetarkan batin, “Apakah perlu aku menghunus pedang yang sungguhan?”

Sue Lie Ceng menelan ludah dengan susah payah, tak berani bergerak sedikit pun. Di tepi arena, Sin Yin tersenyum tipis penuh kemenangan. Yue Lan berbisik sangat pelan, seolah hanya pada angin, “Naga itu… bahkan belum benar-benar membuka matanya.”

Di balkon atas, Ketua Awan Putih berdiri perlahan dari kursinya. Ia menatap ke tengah arena dengan pandangan yang sangat dalam dan penuh penghargaan.

“Air yang tenang… benar-benar menyembunyikan naga sejati di dalamnya,” gumamnya.

Bersambung...

1
rozali rozali
👍👍👍👍
Idwan Syahdani
siap, malam ini akan ada 2 - 3 bab ya...
rozali rozali
laaanjut lg thor.
Idwan Syahdani: tunggu ya malam ini kita tambah 2 - 3 bab..
total 1 replies
Nanik S
Kenapa tidak ada cincin ruang untuk menaruh pedangnya
Idwan Syahdani: ini bukan novel Kultuvator kakak.. ini novel silat klasik..
total 1 replies
Nanik S
Lanjutkan Tor
Nanik S
Hadir...cukup menarik
Nanik S
Wang Long ..dimana Mei Lin adiknya
Idwan Syahdani: nanti mereka bertemu saat sama-sama sudah jadi pendekar..
total 1 replies
Idwan Syahdani
aman kak, semua novel akan tamat kok, sabar ya...
Dian Pravita Sari
dlogok cerita kok gak da yg tamat kl blm siap jgn modal. janji dankejar kontrak makan duit pulsa aja di otak yang gak da rasa tanggung jenmenueledaikan cerita
Idwan Syahdani: semua novel akan saya tamatin kok kak... stay cun aja ya...
total 1 replies
anggita
like👍iklan☝, pertama untuk dukung novel barunya.
Idwan Syahdani: makasih kak... pa kabar, nggak ikut di n.v.a kak?
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!