NovelToon NovelToon
Lopeyou My Teacher

Lopeyou My Teacher

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Gadis nakal / Romantis / Cintamanis / Cinta Terlarang / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: kikyoooo

⚠️Area yang khusus orang besar. ^_^ nak kecil hus hus...

Kisah cinta slow-burn antara siswi petakilan dengan guru muda PJOK yang terlalu cool untuk jadi nyata. Isinya 30% latihan fisik, 70% adu mekanik perasaan.

Mulai dari drama salah kirim stiker WhatsApp ke grup kelas, sampai momen panas di gudang sekolah yang hampir bikin profesionalitas Pak Radit runtuh.

Ini cerita tentang masa transisi jadi dewasa, di mana batas antara guru dan murid cuma sebatas "status" yang siap dihapus setelah hari kelulusan.

"Pak, lari keliling lapangan saya sanggup. Asal finish-nya di pelaminan kita." — Gia, 18 tahun, pejuang remedial.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikyoooo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 2: Digital Disaster & The Aftermath

Kalau ada kompetisi "Cara Tercepat Merusak Masa Depan dalam 5 Detik," Gia yakin dia bakal bawa pulang medali emas, piala, sekaligus sertifikatnya.

Jantung Gia rasanya bukan lagi dribble bola basket, tapi sudah seperti genderang tawuran antar sekolah.

Dia menatap layar ponselnya yang masih menampilkan lingkaran biru berputar—sebuah usaha sia-sia untuk menghapus stiker kucing "Aww, Daddy" yang kini sudah resmi berstatus Read oleh orang yang paling tidak seharusnya melihatnya: Pak Radit.

"Mampus. Gue mampus. Ca, gue beneran mau pindah planet," rintih Gia sambil membenturkan jidatnya ke meja kantin yang sedikit lengket karena tumpahan kecap.

"Kenapa lagi sih? Lo kayak habis liat hantu penunggu lab biologi aja," sahut Caca tenang, masih sibuk mengaduk seblaknya yang level pedasnya nggak masuk akal.

Gia menyodorkan ponselnya dengan tangan gemetar. Begitu Caca melihat layar itu, dia langsung tersedak kerupuk mawar. "GIA! LO SAKIT YA?! Itu grup PJOK, anjir! Ada Pak Radit, ada Bu kepsek juga di situ!"

"Hah? Bu Kepsek?!" Gia merebut ponselnya kembali. Benar. Dia lupa kalau grup koordinasi mata pelajaran itu isinya bukan cuma murid, tapi jajaran petinggi sekolah yang memantau kurikulum. "Gue... gue niatnya mau kirim ke grup gibah kita, Ca. Sumpah, jempol gue glitch!"

"Cepat hapus, bego!"

"Nggak bisa! Udah ke-read sama Pak Radit! Liat nih, centang birunya seakan-akan lagi ngetawain kemiskinan harga diri gue!" Gia mulai merasa sesak napas. "Gue harus gimana? Pura-pura HP gue dibajak? Atau pura-pura HP gue jatuh ke selokan terus meledak?"

Caca menggeleng prihatin. "Saran gue sih satu: ganti identitas, pindah ke luar kota, dan mulai hidup baru jadi peternak lele. Karena kalau gue jadi Pak Radit, gue bakal panggil orang tua lo sekarang juga."

Belum sempat Gia membalas, sebuah notifikasi muncul di bagian atas layarnya. Bukan dari grup. Tapi sebuah pesan pribadi.

Radit PJOK: Gia, ke ruangan guru olahraga sekarang. Sendiri.

Gia lemas. Ponselnya merosot ke meja. "Ca... titip salam buat nyokap gue ya. Bilang gue sayang beliau, walaupun gue mati dalam keadaan memalukan kayak gini."

Koridor sekolah menuju ruang guru olahraga terasa lebih panjang dari biasanya. Gia berjalan dengan langkah yang diseret, mirip zombi di film The Last of Us tapi versi pakai seragam putih abu-abu. Setiap kali dia berpapasan dengan murid lain, dia merasa mereka semua tahu kalau dia baru saja memanggil gurunya "Daddy" di depan publik digital.

Gia sampai di depan pintu kayu bercat hijau lumut yang sudah agak mengelupas. Ada papan nama kecil bertuliskan: Ruang Guru Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan.

Tok... tok... tok...

"Masuk," suara bariton itu terdengar dari dalam.

Gia membuka pintu perlahan. Ruangan itu dingin, bau parfum maskulin yang bercampur dengan aroma bola karet dan matras yoga. Pak Radit sedang duduk di balik meja kayu besar yang berantakan dengan kertas absen dan beberapa botol tumbler aesthetic.

Pria itu tidak mendongak. Dia sibuk mencoret-coret sesuatu di buku besar. Dia masih pakai kaos polo hitam yang tadi, tapi sekarang kacamatanya bertengger di hidung. Damage-nya nambah 100%. Dia kelihatan pintar, tegas, dan sangat tidak bisa diajak bercanda soal stiker kucing.

"Duduk, Gia," katanya tanpa melihat.

Gia duduk di kursi kayu di depan meja. Dia meremas ujung roknya sampai lecek. Keheningan di ruangan itu lebih menyiksa daripada lari keliling lapangan sepuluh kali.

Pak Radit meletakkan pulpennya. Dia melepas kacamata, lalu menatap Gia dalam-dalam. "Kamu tahu kenapa kamu di sini?"

"Soal... stiker itu ya, Pak?" cicit Gia. "Sumpah, Pak! Itu HP saya dibajak sama... sama sepupu saya yang masih balita! Dia emang suka mainin stiker nggak jelas. Saya beneran minta maaf, saya—"

"Gia." Pak Radit memotong kalimatnya. Suaranya tenang, tapi berwibawa. "Saya bukan guru yang baru kemarin sore megang HP. Saya tahu itu bukan kerjaan balita. Stiker itu ada di folder favorites kamu, kan?"

Gia bungkam. Skakmat. Dia ingin menghilang menjadi molekul udara saja.

"Maksud kamu apa kirim stiker kayak gitu ke grup resmi?" tanya Pak Radit lagi. Dia memajukan badannya, menumpukan kedua tangannya di meja, membuat jarak di antara mereka terkikis.

Gia bisa melihat bayangan dirinya di mata Pak Radit. "Saya... saya salah pencet, Pak. Beneran. Saya tadinya mau kirim ke temen saya, buat bahas... bahas aktor drakor yang mirip Bapak! Eh, maksud saya—bukan mirip Bapak! Maksud saya..." Gia merutuki mulutnya yang nggak bisa diajak kerja sama.

Pak Radit menaikkan satu alisnya. "Oh, jadi saya mirip aktor drakor? Siapa? Gong Yoo? Atau siapa yang sekarang lagi viral di TikTok kamu itu?"

"Bapak main TikTok?!" Gia kaget sendiri.

"Saya 25 tahun, Gia. Bukan 50 tahun. Saya tahu apa itu FYP, saya tahu apa itu istilah 'Daddy' yang sering kalian pakai buat cowok-cowok yang menurut kalian... menarik," kata Pak Radit dengan penekanan pada kata terakhir.

Wajah Gia sekarang sudah semerah tomat matang. "Pak, saya minta maaf banget. Saya bakal klarifikasi di grup kalau itu salah kirim."

"Nggak perlu," kata Pak Radit santai sambil bersandar kembali di kursinya. "Saya sudah hapus pesannya buat semua orang. Kebetulan saya admin grupnya."

Gia bernapas lega. "Makasih, Pak! Bapak emang green flag paling juara!"

Pak Radit tidak tersenyum. "Jangan senang dulu. Saya hapus pesannya bukan berarti masalahnya selesai. Kamu tetap harus dapet konsekuensi atas ketidaksopanan kamu, sekaligus nilai olahraga kamu yang di bawah standar itu."

Gia menelan ludah. "Hukuman apa, Pak?"

Pak Radit mengambil sebuah jadwal latihan dari laci mejanya dan menyodorkannya ke arah Gia. "Mulai sore ini, setelah bel pulang sekolah, kamu nggak boleh pulang sebelum menyelesaikan target latihan dari saya. Dan satu lagi..." Pak Radit menjeda kalimatnya, menatap Gia dengan tatapan yang sulit diartikan. "Selama latihan privat, HP kamu saya sita. Saya nggak mau kamu sibuk motret saya buat konten second account kamu lagi."

Gia terlonjak. "Bapak tahu soal second account saya?!"

Pak Radit mengambil HP-nya sendiri, menunjukkan sebuah tangkapan layar. Itu adalah story yang Gia buat tadi di lapangan—foto punggung Pak Radit dengan caption tentang "Visual Pinterest".

"Algoritma Instagram itu lucu, Gia. Kamu pakai foto saya, dan kebetulan salah satu teman kuliah saya follow kamu. Dia kirim ini ke saya sambil ketawa," ujar Pak Radit dengan nada datar tapi mematikan.

Gia merasa jiwanya baru saja keluar dari raga. Hidupnya benar-benar di ujung tanduk. Dia merasa seperti karakter utama di drakor, tapi drakor yang genre-nya horor psikologis bagi kesehatan mentalnya.

"Sore ini, jam 4. Jangan telat satu menit pun. Kalau telat, satu menit sama dengan satu keliling lapangan. Mengerti?"

"Ngerti, Pak..." jawab Gia lemas.

"Satu lagi, Gia."

Gia yang sudah setengah berdiri dari kursinya menoleh lagi.

"Jangan panggil saya 'Daddy'. Di sekolah ini saya guru kamu. Di luar sekolah pun, saya tetap orang yang harus kamu hormati. Jelas?"

"Jelas, Pak Radit," jawab Gia sambil buru-buru keluar dari ruangan itu sebelum jantungnya beneran meledak.

Sore harinya, langit Jakarta sedang cantik-cantiknya. Warna oranye kemerahan alias golden hour yang biasanya dipakai Gia buat foto aesthetic. Tapi kali ini, dia nggak bisa foto apa-apa. HP-nya sudah berpindah tangan ke laci meja Pak Radit.

Gia berdiri di tengah lapangan basket yang sudah sepi. Hanya ada dia dan Pak Radit. Pria itu sudah ganti baju—sekarang pakai kaos tanpa lengan yang memperlihatkan otot bisepnya yang... well, Gia harus mengakui kalau itu sangat tidak menyehatkan bagi fokusnya.

"Lakukan pemanasan. Mulai dari lari statis," perintah Pak Radit sambil meniup peluitnya kecil.

Gia mulai berlari di tempat. Angin sore meniup rambutnya yang diikat kuda. Dia merasa sangat lelah, tapi setiap kali dia mau protes, dia melihat Pak Radit sedang memperhatikannya sambil memegang stopwatch.

"Pak, capek..." keluh Gia setelah lima menit.

"Baru lima menit, Gia. Kamu bilang mau jadi analis taktik tadi siang? Analis harus punya fisik yang kuat," sahut Pak Radit tanpa ampun.

Gia terus bergerak. Keringat mulai bercucuran di pelipisnya. Seragam olahraganya mulai terasa berat. Dia tidak sadar kalau Pak Radit memperhatikannya dengan cara yang sedikit berbeda. Bukan tatapan menghakimi, tapi tatapan yang... mungkin sedikit kagum dengan kegigihan Gia yang biasanya malas-malasan.

Tiba-tiba, Gia mengaduh. "Aduh!" Dia terduduk di lapangan sambil memegangi pergelangan kaki kanannya.

Pak Radit langsung berlari menghampirinya. "Kenapa? Keseleo?"

"Sakit, Pak... kayaknya salah tumpuan," ringis Gia. Air mata mulai menggenang di matanya—kali ini bukan acting delulu, tapi beneran sakit.

Pak Radit berlutut di depan Gia. Tanpa permisi, dia memegang pergelangan kaki Gia. Tangannya terasa hangat dan kasar, memberikan sensasi aneh yang menjalar ke seluruh tubuh Gia.

"Tahan sebentar," kata Pak Radit lembut. Dia mulai memijat pelan bagian yang sakit.

Gia menatap puncak kepala Pak Radit yang jaraknya sangat dekat. Dia bisa mencium bau parfum maskulin yang makin kuat karena hawa panas tubuh pria itu. Di bawah langit senja, di tengah lapangan yang sunyi, Gia merasa waktu benar-benar berhenti.

"Gia," panggil Pak Radit pelan, masih sambil memijat kakinya.

"I-iya, Pak?"

Pak Radit mendongak. Jarak wajah mereka kini sangat dekat. Begitu dekat sampai Gia bisa melihat pantulan sinar matahari di lensa mata cokelat gelap gurunya.

"Lain kali, kalau latihan... fokus ke kaki kamu, jangan fokus ke saya. Mengerti?"

Gia hanya bisa mengangguk pelan. Di detik itu, Gia sadar satu hal: remedial ini bakal jadi masa-masa paling panjang, paling melelahkan, dan paling berbahaya bagi hatinya sepanjang sejarah SMA.

...

1
Qaisaa Nazarudin
Astaga Gia ini OON benar ya,Heran deh aku..🤦
Qaisaa Nazarudin
Ngapain juga nyari Gia kesini nya?
Qaisaa Nazarudin
Gitu dong,Aku suka CEWEK YG TEGAS,JUTEK,CUEK,DINGIN DAN BAR-BAR,Bukan cewek yg MELEMPEM..
Qaisaa Nazarudin
Nah itu dia,Jangan kayak murahan banget,Di umpan dikit udah meleleh 🙄🙄
Qaisaa Nazarudin
Cuekin aja ah..kesel aku..
Qaisaa Nazarudin
Nah benar kan dia nganggap kamu anak kecil dong Gia..
Qaisaa Nazarudin
Nah kan halau sendiri...sok soan gengsi..
Thor bikin Gia jangan ngejar2 nih guru lagi,Bikin gia cuekin nih guru biar tau rasa dia..
Qaisaa Nazarudin
Waah ngasih kode tuh minta di chat..
Qaisaa Nazarudin
Bagus tuh Gia.. SKAKMATT buat si MANTAN...🤣🤣🤣
Qaisaa Nazarudin
Nah kan.. Ini pasti si MANTAN yg Gamon..
Qaisaa Nazarudin
maknyos kenak di jantung,Pasti pernah ditinggal Nikah ama pacarnya tuh,Makanya sekarang dia jomblo..
Qaisaa Nazarudin
Apakah perasaan itu adalah CINTA?? Waahh pak Radit diem.diem.bae udah kencatol duluan tapi sok gengsi..awas pak ketikung pak ntar nyesel lho..😅😅
Qaisaa Nazarudin
Bukan udah bisa ikut Pemilu dong Gia,Tapi udah bisa dibawa ke KUA 😂😂😂
Qaisaa Nazarudin
Duh kata kata mu menusuk jantungku pak..🥹🥹🥹😄😄
Qaisaa Nazarudin
Waahh Gia orang pertama yang bisa digendong oleh gurunya..🤣🤣
Qaisaa Nazarudin
Kenapa Alasannya langsung oon kayak gitu,siapa juga gak bakalan percaya Gia..😂😂
Qaisaa Nazarudin
🤣🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!