NovelToon NovelToon
Gadis Milik CEO Posesif

Gadis Milik CEO Posesif

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / CEO / Anak Genius / Bullying dan Balas Dendam
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Tiara Pratiwi

Akibat fitnah kakak sepupunya, Sierra Moore dibuang keluarganya keluar kota Cragstone yang sangat jauh dan terpencil tanpa dibekali uang sepeserpun di usia 15 tahun. Tiga tahun kemudian, Tobias Moore, kakek Sierra yang baru mengetahui kalau Sierra telah didepak dari keluarga Moore sangat marah dan meminta anak dan menantunya untuk membawa Sierra kembali atau dia akan melongsorkan anaknya itu dari posisi CEO Moore Company. Sepupu Sierra, Nora Moore tentunya tidak senang dengan hal ini dan mengupayakan segala cara untuk bisa menyingkirkan Sierra dari keluarga Moore.
Apa yang membuat Nora tidak menyukai Sierra?
Hanya dengan dukungan kakeknya, akankah Sierra bisa bertahan dan mengambil kembali posisinya di keluarga Moore?
Akankah Sierra balas dendam pada orang-orang yang sudah menyakitinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiara Pratiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1 Siapa Wanita Itu

Lampu neon yang berkedip-kedap di atas papan reklame tua itu seolah sedang meregang nyawa. Cragstone tidak pernah berubah, kota ini tetaplah sebuah lubang pembuangan bagi mereka yang tak diinginkan, dan taman bermain bagi mereka yang tak punya hati nurani.

Sierra mengayuh sepedanya dengan santai, tas ransel hitamnya yang berisi laptop hasil rakitannya terasa berat di punggung. Dia baru saja meninggalkan markas The Ghost, sebuah klub peretas bawah tanah yang dibuatnya tiga tahun lalu, malam ini baru saja membobol sistem keamanan bank pusat bukan untuk membobol tabungan rahasia para koruptor untuk dibagikan pada beberapa lembaga amal yang tersebar di berbagai kota.

Sebagai peretas peringkat satu dunia, Sierra tidak butuh dari para koruptor, dia mendapatkan uang dari pekerjaan seperti memasang firewall pada beberapa perusahaan bahkan militer yang semuanya dia lakukan secara remote. Meskipun sudah memiliki banyak uang, di Cragstone, Sierra tetap hidup secara sederhana di apartemen kecil.

Jalan utama sedang diblokir oleh aksi unjuk rasa yang berakhir ricuh, pemandangan biasa di kota penuh kriminal ini. Demi mengejar waktu tidur malamnya, Sierra memutuskan untuk memotong jalan melalui sebuah gang sempit.

Begitu roda sepedanya memasuki mulut gang, suasana terasa berubah drastis. Udara yang biasanya berbau sampah busuk kini bercampur dengan aroma amis yang sangat pekat. Sierra mencium bau darah.

Sierra menghentikan kayuhannya sejenak, menghirup udara dengan tenang. Jika itu orang normal, mereka pasti sudah berbalik arah sambil gemetar. Namun, bagi Sierra yang merupakan ahli bela diri dan telah melewati banyak simulasi bahaya dalam hidupnya selama tinggal di Cragstone, ia sama sekali tidak takut dan tetap mengayuh lagi sepedanya untuk semakin masuk.

Lima menit berlalu ketika penglihatannya menangkap bayangan yang bergerak cepat di bawah satu-satunya lampu jalan yang masih menyala. Sekitar sepuluh meter di depan, sebuah perkelahian brutal sedang berlangsung. Seorang pria yang tampak sudah sangat kepayahan sedang dikepung oleh sepuluh orang pria berpakaian hitam taktis.

Sierra memperlambat kayuhan sepedanya. Matanya yang tajam mengamati cara sepuluh orang itu memegang dan menggunakan senjatanya. "Sepertinya bukan preman lokal", batinnya. "Ini... pembunuh bayaran profesional"

Meskipun menyadari situasi hidup dan mati di depannya, Sierra tetap melaju lurus. Dia tidak punya niat menjadi pahlawan. Dia hanya ingin pulang, mandi air panas, dan tidur. Dengan ekspresi sedingin es, dia mengayuh sepedanya melewati kerumunan maut itu seolah-olah mereka hanyalah tiang listrik.

Namun, dunia tidak bekerja semudah itu. Salah satu dari pria berpakaian hitam itu menyadari kedatangan Sierra dan melangkah maju, menendang ban depan sepeda Sierra hingga ia terpaksa turun.

"Hei! Kalian lanjutkan saja urusan kalian," ucap Sierra tanoa takut saat ia berada tepat di tengah-tengah mereka. "Aku tidak berniat mengganggu."

"Kau tidak bisa pergi kemana-mana. Saksi mata tidak boleh hidup," desis salah satu dari mereka.

Sierra menghela napas panjang, lalu menyandarkan sepedanya. "Padahal aku sudah bilang aku tidak peduli," katanya dengan nada suara yang mulai bergetar karena kesal. "Kenapa kalian harus menggangguku?!"

Tanpa peringatan, Sierra mulai menyerang.

Gerakannya bukan seperti orang berkelahi, melainkan seperti tarian kematian yang sangat efisien. Saat dua orang pertama menerjangnya, Sierra merunduk, mematahkan pergelangan tangan salah satunya dalam sekali sentakan, dan merebut pistol dari pinggang pria itu.

DOR! DOR!

Dua tembakan tepat di dahi. Sierra tidak ragu. Dia bergerak secepat kilat, menggunakan tubuh salah satu lawan sebagai tameng saat sisa pembunuh lainnya mulai menyerang serentak. Di Cragstone, hukum hanyalah kata-kata di atas kertas yang tak berharga. Polisi bisa dibeli, dan pembunuhan di gang kecil seperti ini adalah berita basi yang tidak akan masuk koran besok pagi.

Dalam waktu kurang dari tiga menit, gang itu kembali sunyi. Sepuluh mayat bergelimpangan di dalam gang itu yang kini banjir darah. Sierra menyeka setetes darah di pipinya dengan punggung tangan, lalu membuang dua pistol milik para pembunuh itu yang kini pelurunya sudah habis ke atas tumpukan sampah.

Dia membangunkan sepedanya, lalu menaikinya. Namun, saat ia baru saja hendak mengayuh, sebuah tangan yang bersimbah darah mencekal pergelangan kakinya dengan sangat kuat.

"Tolong..." sebuah suara parau terdengar.

Sierra menunduk. Itu adalah pria yang tadi dikeroyok. Wajahnya tertutup debu dan darah. Bahkan dalam kondisi nyaris mati, pria ini memancarkan aura otoritas yang sangat kuat. "Bukan orang sembarangan, aku paling malas berurusan dengan orang-orang semacam ini", batin Sierra.

"Lepaskan," perintah Sierra dingin.

Pria itu tidak menjawab, namun cekalannya di kaki Sierra justru semakin mengencang meskipun matanya kembali terpejam. Sierra terdiam sejenak. Jika dia meninggalkannya, pria ini pasti mati karena pendarahannya. Entah karena dorongan apa, mungkin karena wajah tampan pria itu yang terlalu sayang untuk menjadi santapan tikus gang ini, Sierra akhirnya menyerah.

"Sial. Aku akan menyesali ini."

Sierra membawa pria itu ke sebuah klinik kecil di ujung jalan. Tentu saja kliniknya sudah tutup, tapi bagi Sierra, kunci pintu bukan penghalang untuknya masuk. Dalam waktu lima detik, dia sudah membobol pintu masuk dan membawa pria itu ke ruang praktek dokter.

Sierra membaringkan pria itu di atas ranjang besi. Dia dengan membuka paksa kemeja mahal pria itu yang kini sudah compang-camping. Sebuah lubang peluru menganga di dada.

"Beruntung sekali kau, Tuan Tampan. Sedikit ke kiri, dan jantungmu pasti sudah berhenti berdetak," gumam Sierra.

Meskipun tidak pernah menempuh pendidikan medis formal, Sierra pernah membantu operasi dari beberapa dokter bedah pasar gelap, untuk mendapatkan uang saat awal datang ke Cragstone.

Sebagai hacker yang sering diburu organisasi internasional, Sierra juga sering harus berhadapan dengan situasi berbahaya dan terkadang dia harus bisa menjahit lukanya sendiri. Sierra juga belajar cara meracik obat dan racun secara otodidak.

Sierra bahkan pernah menjahit luka di kepalanya sendiri lalu dengan salep buatannya, dia bisa membuat luka jahitan sembuh dengan cepat dan tanpa jejak.

Tanpa anestesi, Sierra mengambil skalpel. Saat mata pisau yang dingin itu menyentuh kulit pria itu untuk membuat sayatan kecil, pria itu tiba-tiba tersentak bangun. Tangan pria itu menyambar lengan Sierra, matanya terbuka lebar, menatap tajam penuh kewaspadaan.

"Kau?! Apa yang akan kau lakukan padaku?" suaranya berat dan mengancam.

Sierra tidak berkedip. "Jangan bergerak kalau masih mau selamat. Aku akan mengeluarkan peluru ini."

Pria itu terdiam. Dia menatap mata Sierra yang tenang, mencari niat jahat namun hanya menemukan tatapan dingin. Akhirnya, dia melepaskan cengkeramannya dan berbaring diam, membiarkan Sierra bekerja.

Sierra mulai menyobek sedikit jaringan di sekitar luka dan menggunakan pinset medis untuk mencari proyektil logam di dalamnya. Bunyi denting alat medis yang beradu dengan daging adalah satu-satunya suara di ruangan itu. Sierra melirik wajah pria itu, dia masih sadar sepenuhnya. Hebatnya, pria itu tidak berteriak, tidak mengerang, bahkan tidak meringis. Dia hanya terus menatap Sierra dengan intensitas yang aneh.

"Luar biasa", batin Sierra. "Padahal aku tidak membiusnya. Apa dia sudah kehilangan rasa sakit karena terlalu sering terluka?"

Setelah peluru berhasil dikeluarkan dan diletakkan di atas baki logam dengan bunyi ting, Sierra memastikan tidak ada pecahan peluru lain di luka pria itu lalu mulai menjahit luka itu dengan sangat rapi. Setelah selesai, dia membalut dada pria itu dengan perban bersih.

"Selesai," ucap Sierra singkat.

Pria itu mencoba membuka mulut untuk mengatakan sesuatu, tapi kelelahan dan kehilangan darah yang masif akhirnya menang. Dia kembali kehilangan kesadaran, kepalanya terkulai ke samping.

Sierra segera mengecek napas dan detak jantungnya. "Ah, dia pingsan lagi. Kupikir dia mati. Sayang sekali jika dunia ini sampai harus kehilangan wajah tampan ini untuk selamanya."

Sierra kemudian merogoh kantong pria itu untuk mencari ponselnya. Sierra menemukannya dan menggunakan jari pria itu untuk membukanya. Sierra bermaksud menghubungi keluarga pria itu untuk menjemputnya. Namun, sebelum dia sempat menekan tombol, ponsel itu bergetar, ada panggilan masuk. Sebuah nama muncul di layar, James.

Sierra menggeser tombol hijau.

"Adrian?! Di mana kamu?!" Suara di seberang terdengar panik. "Aku dengar kamu belum kembali ke hotel! Apa terjadi sesuatu di jalan? Bukankah kamu cuma mau bernegosiasi dengan kontraktor yang mogok kerja itu? Sudah tidak terhitung berapa kali aku meneleponmu sejak siang tadi!"

Sierra berdehem kecil. "Ehem! Apa kau mengenal pemilik ponsel ini?"

Suara di seberang sana seketika membeku. "Hah? Siapa kamu?!"

"Pemilik ponsel ini terluka, dia ada di Klinik Y ujung gang X. Jemput dia sekarang, dia sedang tidak sadarkan diri."

"Baiklah! Aku segera ke sana! Jangan pergi dulu—"

Klik.

Sierra mematikan telepon dan meletakkannya kembali di kantong pria bernama Adrian itu.

Dengan langkah ringan, dia keluar dari klinik, menaiki sepedanya, dan menghilang di kegelapan malam Cragstone.

James tiba sekitar lima belas menit kemudian dengan tiga mobil hitam dan selusin pengawal bersenjata lengkap. Dia menyerbu masuk ke dalam klinik, namun yang ditemukannya hanyalah Adrian yang terbaring tenang dengan luka yang sudah dirawat.

"Bawa dia ke rumah sakit sekarang! Cepat!" perintah James.

Keesokan harinya, matahari musim dingin masuk melalui jendela besar di sebuah rumah sakit eksklusif. Adrian membuka matanya, hal pertama yang ia ingat adalah sepasang mata dingin namun indah yang menatapnya di bawah lampu klinik yang redup.

"Kau sudah bangun?" James masuk ke ruangan dengan wajah lega.

"Di mana dia?" tanya Adrian tanpa basa-basi. Suaranya masih lemah tapi penuh penekanan.

James mengernyit. "Hah? Siapa?"

"Wanita itu... wanita yang menolongku."

James menggelengkan kepala. "Saat aku menjemputmu, kau sudah sendirian di sana. Wanita itu sudah pergi. Bahkan tidak ada saksi mata di sekitar klinik."

Adrian bangkit sedikit dari sandaran ranjangnya, mengabaikan rasa nyeri di dadanya. "Cari dia."

"Sekarang?" James bertanya dengan nada konyol.

Adrian hanya memberikan tatapan tajam yang membuat James seketika diam. Adrian adalah pria yang tidak pernah meminta dua kali.

"Sebaiknya kita kembali dulu ke Metropolia," saran James. "Fasilitas rumah sakit terbaik di kota kumuh ini kurang bagus untuk pemulihanmu."

"Aku tidak akan pergi tanpa bertemu wanita itu," tegas Adrian.

James tertawa kecil, meskipun sedikit bingung. "Apa ini? Seorang Adrian yang dingin tiba-tiba sangat antusias mencari seorang wanita. Apa wanita itu cantik?"

Adrian terdiam sejenak, membayangkan wajah Sierra saat sedang berkonsentrasi menjahit lukanya. Cahaya lampu yang memantul di rambutnya dan ekspresi datarnya yang misterius.

"Sangat cantik," jawab Adrian singkat.

James tertegun. Dia hanya bercanda tadi, tapi melihat reaksi serius Adrian, dia tahu ada sesuatu yang berbeda. "Hah?! Jangan bilang kau... jatuh cinta pada wanita itu pada pandangan pertama?"

Adrian memalingkan wajahnya ke arah jendela. "Apa maksudmu? Aku hanya belum mengucapkan terima kasih padanya. Aku juga berhutang nyawa padanya. Cepat temukan dia."

"Baiklah, baik. Aku sudah instruksikan orang-orangku untuk menyisir seluruh Cragstone sejak semalam tapi memang belum menemukan dimana wanita itu," ujar James sambil berjalan menuju pintu. "Oh, soal pembunuh bayaran semalam... mayat mereka ditemukan di gang. Mereka sudah dibereskan. Oiya... wanita yang menolongmu itu benar-benar misterius."

Adrian menoleh. "Hm?"

"Semalam aku sudah mencoba mencarinya lewat rekaman CCTV di sekitar klinik dan gang itu," James menjelaskan dengan nada serius. "Tapi tidak ada jejaknya. Tidak ada rekaman yang menangkap wajahnya, seolah-olah dia tahu persis di mana titik buta setiap kamera di kota ini. Ada beberapa rekaman CCTV yang juga tampaknya telah diedit, sepertinya wanita itu bukan orang biasa."

Adrian menyunggingkan senyum tipis yang jarang terlihat. "Yah, tentu saja dia bukan orang biasa. Dia membunuh sepuluh pembunuh bayaran itu sendirian sebelum menolongku. Dan dia tampak masih sangat muda."

Mata James membelalak. "Serius? Aku pikir mayat-mayat itu adalah hasil perbuatanmu sebelum kau tumbang. Apa dia benar-benar membantai sepuluh profesional sendirian? Bukankah menurutmu gadis itu sangat sadis? Kau yakin masih mau mencarinya?"

"Tentu saja, lagipula tinggal di kota seperti Cragstone, apa yang aneh jika dia bisa membunuh orang?", ucap Adrian.

James menghela napas panjang, rasa penasarannya kini memuncak. "Aku jadi sangat penasaran seperti apa wanita itu. Siapa sebenarnya dia?"

1
Tiara Pratiwi
Diusahakan update tiap hari tapi mungkin cuma 3 episode per hari. pengalaman ynag udah-udah sekalinya ngebut lebih dari 10 episode, tangan jadi agak tremor trs jd butuh istirahat lama /Sweat/ sudah tidak muda lagi akika
Narti Narti
aku hadir kak selamat untuk karya baru ya👍👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!