Ara tidak pernah berencana menyebut nama Gill.
Tapi ketika sahabatnya mendesak soal perasaannya, nama yang keluar justru nama cowok paling aneh di sekolah. Cowok yang bahkan tidak ingat wajahnya setelah insiden nasi tumpah di kantin.
Cowok yang memanggilnya wanita gila di minimarket. Cowok yang lebih peduli sama game-nya daripada pendapat seluruh sekolah.
Masalahnya, nama itu sudah terlanjur keluar.
Dan Gill, dengan logikanya yang tidak masuk akal tapi entah kenapa selalu benar, malah menawarkan solusi yang lebih tidak masuk akal lagi.
"Kalau mau berbohong, berbohonglah sampai akhir."
Satu perjanjian palsu. Satu hubungan yang tidak seharusnya nyata. Dan satu atap sekolah yang entah bagaimana menjadi satu-satunya tempat di dunia di mana Tiara Alexsandra bisa berhenti menjadi sempurna.
Siapa sangka kebohongan terbaik dalam hidupnya justru terasa seperti kebenaran yang paling sungguhan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Varss V, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
# BAB 14 - CERITA YANG AKHIRNYA SELESAI DIUCAPKAN
Sepulang sekolah, Ara dan Via berjalan ke arah gerbang bersama.
Tidak ada yang memulai percakapan dulu. Via berjalan dengan tangan di saku, menatap ke depan, dan Ara melakukan hal yang sama di sebelahnya. Suara sekolah yang bubar mengelilingi mereka, langkah kaki ratusan siswa yang berhamburan ke berbagai arah, tapi di antara mereka berdua ada hening yang sudah tahu dirinya sendiri dan tidak meminta untuk diisi sebelum waktunya.
Mereka keluar gerbang.
Belok kiri.
Ada bangku taman kecil di sudut jalan dua blok dari sekolah, di bawah pohon yang cukup besar untuk memberikan naungan di sore hari. Tempat yang sudah mereka duduki bersama berkali-kali sejak SMP, tempat yang tidak pernah mereka tetapkan sebagai tempat resmi untuk bicara tentang hal-hal berat tapi entah bagaimana selalu berakhir di sana kalau ada hal berat yang perlu dibicarakan.
Via duduk duluan. Meletakkan tasnya di sampingnya. Menarik napas satu kali yang panjang sebelum menoleh ke Ara yang duduk di sebelahnya.
"Cerita," Via berkata. Satu kata, tapi bukan perintah. Lebih seperti undangan yang sudah lama menunggu.
Ara mengangguk.
Dan ia bercerita.
Semua. Dari awal.
Tentang nama yang keluar begitu saja di kantin ketika Via bertanya. Tentang bagaimana Ara sendiri tidak mengerti kenapa nama itu yang muncul, kenapa bukan nama lain, kenapa dari seluruh sekolah pikirannya langsung ke seseorang yang bahkan memanggilnya wanita gila di minimarket malam sebelumnya. Tentang atap sekolah dan percakapan pertama yang dimulai dengan Gill bertanya soal gosip dan berakhir dengan tawaran yang tidak masuk akal diucapkan dengan nada yang terlalu masuk akal.
Tentang keputusan yang ia buat semalam, sendirian di kamar, menatap buku catatan yang terbuka ke halaman kosong.
Tentang tadi pagi dan susu kotak dan foto dan kalimat ke Via yang tidak direncanakan tapi terjadi.
Tentang percakapan di atap tadi siang dan pertanyaan yang berjalan dua arah dan jawaban yang belum sepenuhnya selesai dari kedua belah pihak.
Via mendengarkan selama itu semua tanpa menyela satu kali pun. Duduk dengan tangan di pangkuannya, menatap jalan di depan mereka, dan Ara tahu Via sedang mendengarkan sungguhan karena ketika Via tidak tertarik ia akan mulai mengomentari hal lain atau mengeluarkan ponselnya. Tapi sekarang tidak ada satu pun dari itu.
Hanya mendengarkan.
Ketika Ara selesai, ada beberapa detik hening yang biarkan semuanya mengendap dulu di antara mereka.
Lalu Via berkata, "Dia yang menawarkan duluan?"
"Iya."
"Kenapa?"
"Katanya namanya sudah masuk ke dalam masalahku tanpa ia minta. Jadi sudah jadi urusannya juga."
Via diam sebentar. "Dan alasan yang lain?"
Ara menoleh ke Via. "Apa maksudmu?"
"Pasti ada alasan yang lain." Via akhirnya menoleh balik, menatap Ara dengan mata yang sudah memproses semua yang baru didengarnya dan sedang menarik kesimpulan dengan kecepatan yang selalu membuat Ara sedikit kewalahan. "Orang yang cuek dan tidak peduli dengan urusan siapa pun tidak menawarkan dirinya untuk terjun ke drama orang asing hanya karena namanya kebetulan disebut."
Ara tidak langsung menjawab.
"Dia bilang," Ara memulai, pelan, "bahwa orang yang dicintai semua orang biasanya adalah orang yang paling jarang benar-benar diperhatikan."
Via diam.
Lama kali ini. Lebih lama dari jeda-jeda sebelumnya.
Angin lewat, menggerakkan daun-daun di atas mereka dengan suara yang lembut dan tidak terburu-buru.
"Dia bilang itu?" Via bertanya akhirnya.
"Iya."
Via menatap jalan lagi. Menggigit bibir bawahnya sedikit, satu kebiasaan kecil yang hanya muncul ketika ia sedang memikirkan sesuatu yang cukup berat untuk dipikirkan.
"Ara," Via berkata setelah beberapa saat.
"Hm."
"Aku masih belum tahu harus merasakan apa tentang semua ini."
Ara mengangguk. "Aku tahu."
"Tapi," Via melanjutkan, dan ada sesuatu di nada suaranya yang bergeser sedikit, "kalau ada orang yang melihat itu tentang kamu dan memilih untuk melakukan sesuatu soal itu..." ia berhenti sebentar. "Itu bukan sesuatu yang bisa aku bilang salah."
Ara menatap sahabatnya itu.
Via tidak menoleh. Masih menatap ke depan dengan rahang yang sedikit mengencang dan bahu yang naik setengah tingkat dari posisi normalnya. Tanda-tanda kecil yang memperlihatkan bahwa percakapan ini bukan tanpa biaya bagi Via meski ia memilih untuk membayarnya.
"Via," Ara berkata pelan.
"Jangan bilang maaf," Via memotong cepat.
"Aku tidak akan bilang maaf."
"Bagus."
"Aku akan bilang terima kasih."
Via diam sebentar. Lalu mendengus kecil, membuang muka ke arah yang lain, tapi tidak cukup cepat untuk menyembunyikan sesuatu yang bergerak di wajahnya. "Gombal."
"Serius."
"Aku tahu." Via menarik napas satu kali. Panjang, kemudian dibuang pelan. "Oke. Sekarang aku mau tanya sesuatu dan kamu jawab jujur."
"Tanya."
Via akhirnya menoleh ke Ara, matanya langsung dan tidak membutuhkan pembukaan lebih. "Kamu beneran punya perasaan ke dia? Bukan karena situasi, bukan karena kasihan, bukan karena dia yang menawarkan duluan. Tapi karena kamu sendiri merasakannya."
Ara menatap Via.
Pertanyaan itu menggantung di udara sore yang mulai mendingin.
Dan Ara duduk di sana, di bangku taman yang sudah mereka duduki puluhan kali sebelumnya, mencari jawaban yang jujur di dalam dirinya sendiri, di tempat yang sudah lama tidak ia kunjungi dengan sungguhan.
"Aku tidak tahu," ia menjawab akhirnya. "Belum. Tapi ada sesuatu." Ia menatap tangannya di pangkuannya. "Ada sesuatu yang berbeda dari cara aku memikirkannya dibandingkan memikirkan orang lain. Dan aku belum tahu itu apa. Tapi itu ada."
Via mendengarkan.
"Dan itu cukup untuk sekarang," Ara melanjutkan, mengangkat kepalanya dan menatap Via langsung. "Itu cukup untuk tidak menjadikannya hanya alasan."
Hening.
Via menatap Ara beberapa detik.
Lalu ia mengangguk. Satu kali, pelan, tapi pasti.
"Oke," ia berkata. "Aku percaya."
Dua kata yang terasa lebih besar dari ukurannya.
Ara menarik napas yang sudah ia tahan tanpa sadar.
Via berdiri dari bangku, mengambil tasnya, menarik tali bahunya ke atas. "Tapi aku masih akan mengawasi." Ia menatap Ara dengan ekspresi yang mengandung peringatan yang disampaikan dengan cukup hangat untuk tidak terasa mengancam. "Kalau dia menyakitimu, aku yang urusin."
Ara menatap Via dengan sesuatu yang hangat mengisi dadanya. "Kamu baru kemarin bilang dia cuek dan tidak sopan."
"Dua hal itu bisa benar sekaligus." Via sudah mulai berjalan. "Yuk, aku diantar sampai perempatan."
Ara berdiri, mengambil tasnya, dan mengikuti langkah Via ke arah jalan pulang.
Mereka berjalan bersama sampai perempatan, bicara tentang hal-hal kecil di antaranya, tentang tugas Biologi yang belum dimulai dan film yang Via rekomendasikan minggu lalu yang belum Ara tonton. Hal-hal normal yang terasa seperti napas setelah menyelam terlalu lama.
Di perempatan, Via berbelok ke kiri dan Ara ke kanan.
"Via," Ara memanggil sebelum mereka berpisah.
Via menoleh.
"Makasih sudah dengerin."
Via menatapnya satu detik. Lalu mengangkat satu tangan ke udara sebagai isyarat kecil yang artinya bisa bermacam-macam tapi dalam bahasa mereka berdua sudah lama berarti: aku dengar kamu, dan kita baik-baik saja.
Lalu ia berjalan tanpa menoleh lagi.
Ara menyaksikan punggungnya sampai menghilang di tikungan.
Lalu berbalik dan berjalan ke arah rumah.
---
Malam itu ibu Ara mengetuk pintu kamarnya lagi.
Ara sudah menduga ini akan terjadi karena semalam ia pergi ke minimarket dan malam sebelumnya juga, dan ibunya sepertinya sudah menjadikan ini bagian dari agenda malam.
"Ara, tolong ke minimarket lagi. Stok susu habis."
Ara menatap buku catatannya yang sudah terbuka di meja belajar dan menimbang antara melanjutkan membaca atau pergi.
Membaca bisa dilakukan nanti. Susu tidak bisa dibeli sendiri oleh ibunya karena ibunya sedang menunggu cucian selesai.
"Iya, Bu. Sebentar."
---
Malam Eldria City di luar rumah terasa lebih hangat dari dua malam sebelumnya, atau mungkin Ara yang sudah tidak membawa sebanyak itu di dalam dadanya sehingga ruang untuk merasakan hal-hal di luar dirinya menjadi lebih besar.
Ia masuk ke minimarket dengan bunyi pintu geser yang sama, disambut AC yang sama, cahaya neon yang sama. Mengambil susu dari rak yang sama dengan cara yang sudah otomatis.
Dan ketika ia menuju kasir, sebelum sampai, ia sudah tahu.
Karena di bangku panjang di depan minimarket yang terlihat dari dalam melalui kaca, ada dua sosok yang sudah terlalu familiar untuk salah dikenali.
Gill. Dan Fio.
Dengan es krim yang sama.
Ara membayar di kasir, mengucapkan terima kasih, dan keluar.
Fio yang melihatnya pertama. Anak itu langsung menegakkan badannya dari posisi setengah bersandar ke lengan Gill, matanya menyala dengan antusias yang tidak proporsional. "Kak Ara!"
Gill mengangkat kepala dari ponselnya.
Matanya menemukan Ara di depan pintu minimarket, dan sesuatu yang sangat kecil berubah di ekspresinya. Bukan kejutan, lebih seperti pengakuan yang tenang.
"Kamu lagi," ia berkata.
"Kamu juga," Ara membalas.
"Ibu minta susu?"
Ara menoleh ke kantong minimarket di tangannya. "Iya."
"Sama."
Ara menatap Gill. Lalu menatap Fio yang sudah bergeser ke ujung bangku, membebaskan ruang di tengah dengan cara yang cukup eksplisit untuk menyampaikan undangan tanpa harus mengucapkannya.
Ara duduk di bangku itu.
Di antara Gill dan Fio, dengan kantong minimarket di pangkuannya, di bawah lampu luar minimarket yang tidak seterbuka lampu neon di dalam tapi cukup untuk melihat wajah orang di sampingnya.
"Kak Ara!" Fio langsung menggelayut ke lengan Ara dengan cara yang membuat es krimnya hampir tumpah ke baju Ara. "Kak Gill tadi beli es krim rasa stroberi. Fio minta tapi kata Kak Gill nggak boleh karna Fio udah makan manis-manis dari siang."
"Memangnya kamu makan apa dari siang?" Ara bertanya, menatap Fio dengan senyum yang muncul sendiri.
"Permen." Fio mengaku dengan jujur yang tidak menunjukkan penyesalan. "Tapi itu cuma dikit."
"Seberapa dikit?"
Fio mengeluarkan tangan kirinya yang selama ini tersembunyi di sisi badannya. Di genggamannya ada bungkus permen setengah kosong yang ukuran sachetnya cukup besar untuk menampung lebih dari sepuluh biji.
Ara menoleh ke Gill.
Gill menatap Fio dengan ekspresi yang sudah menyerah. "Dia menyembunyikannya di balik punggung sejak dari tadi."
"Fio nggak nyembunyiin," Fio membela dirinya sendiri. "Fio cuma nggak tunjukin."
"Itu sama saja."
"Beda."
Gill menatap Fio dengan tatapan yang datar tapi matanya menyampaikan sesuatu yang berbeda dari tatapan datar yang biasa ia arahkan ke orang lain. Ada sesuatu di sana yang lebih hangat, lebih sabar, dan sangat tidak konsisten dengan reputasi cowok dingin yang diabaikan semua orang di sekolah.
Ara menyaksikan itu dari sudut matanya dan menyimpan observasi itu di tempat yang nanti akan ia pikirkan lebih lanjut.
"Kak Ara," Fio berpaling ke Ara dengan kecepatan yang membuat rambutnya sedikit berantakan. "Kak Gill bilang sekarang Kak Ara sama Kak Gill itu pacaran. Beneran?"
Ara berkedip.
Menoleh ke Gill yang sudah kembali menatap ponselnya dengan cara yang menyampaikan bahwa ia tidak berencana membantu menjawab pertanyaan ini.
"Beneran," Ara menjawab akhirnya.
Fio memandangi Ara selama dua detik penuh. Matanya bulat dan serius dengan cara yang menggemaskan karena terlalu besar untuk wajah sekecil itu. Lalu ia menoleh ke Gill.
"Kak Gill," ia berkata.
"Hm."
"Fio suka Kak Ara."
"Iya."
"Kak Ara cantik."
"Iya."
Gill berhenti bergerak di layar ponselnya.
Ara menekan bibirnya rapat-rapat supaya tidak tersenyum terlalu lebar.
"Fio," Gill berkata akhirnya, nada suaranya datar seperti biasa tapi ada sesuatu yang sedikit berbeda di caranya mengucapkan nama adiknya itu. "Makan es krimmu sebelum cair."
Fio melihat ke es krimnya yang memang sudah mulai meleleh di pinggir cone. "Aduh!" Ia langsung sibuk menyelamatkan es krimnya dengan konsentrasi yang total.
Ara akhirnya tidak bisa menahan senyumnya sepenuhnya.
Di sebelahnya, Gill melirik ke arahnya sebentar. Satu detik, dari sudut mata, cukup singkat untuk diabaikan kalau Ara tidak sedang memperhatikan.
"Kamu cerita ke Via?" ia bertanya, suaranya pelan supaya tidak mengalihkan perhatian Fio yang sedang berjuang dengan es krimnya.
"Iya," Ara menjawab dengan volume yang sama. "Tadi sore."
"Bagaimana?"
"Dia bilang percaya."
Gill mengangguk satu kali. Tidak mengomentari lebih jauh tapi Ara bisa membaca dari cara bahunya sedikit turun dari posisi sebelumnya bahwa itu adalah informasi yang ia terima dengan lebih dari sekadar netral.
"Kamu bilang semua?" Gill bertanya lagi.
"Semua. Termasuk bahwa kamu yang menawarkan duluan."
"Dan?"
"Dan dia bilang orang yang cuek tidak menawarkan dirinya untuk urusan orang asing hanya karena namanya kebetulan disebut."
Gill diam sebentar. "Via itu lebih tajam dari yang dia perlihatkan."
"Iya." Ara menatap jalan di depan mereka, kendaraan yang lewat sesekali, lampu-lampu yang mulai menyala seiring langit yang semakin gelap. "Itu kenapa aku sayang dia."
Hening sebentar.
Bukan hening yang kosong. Hening yang penuh dengan hal-hal yang tidak perlu diucapkan karena sudah ada di sana.
"Gill," Ara berkata setelah beberapa saat.
"Hm."
"Apa yang Via bilang tadi soal kenapa kamu menawarkan ini." Ara menatap ke depan, tidak ke arah Gill. "Bahwa orang yang cuek tidak melakukan itu hanya karena namanya kebetulan disebut." Ia berhenti sebentar. "Kamu punya jawaban yang lebih lengkap dari yang kamu bilang ke aku di atap?"
Gill tidak langsung menjawab.
Fio masih sibuk dengan es krimnya di sisi lain bangku, mengeluarkan suara-suara kecil yang tidak jelas artinya tapi mengindikasikan kepuasan yang cukup besar.
"Aku bilang aku belum tahu," Gill menjawab akhirnya.
"Iya." Ara menoleh ke arahnya. "Tapi itu bukan berarti tidak ada."
Gill menatap layar ponselnya yang sudah gelap karena tidak disentuh beberapa menit. Lalu ia mengangkat kepala dan menatap ke arah yang sama dengan Ara, jalan di depan mereka, lampu-lampu yang menyala satu per satu.
"Aku sudah lama tidak menemukan seseorang yang kelihatan seperti satu hal di luar tapi terasa seperti hal yang berbeda di dalam," ia berkata akhirnya, pelan, dengan cara yang terdengar seperti seseorang yang mengucapkan sesuatu untuk pertama kalinya bukan karena baru memikirkannya tapi karena baru menemukan situasi yang tepat untuk mengatakannya. "Dan biasanya aku tidak peduli. Tapi kamu..." ia berhenti sebentar. "Kamu kelihatan terlalu lelah untuk sesuatu yang seharusnya tidak melelahkan."
Ara mendengarkan.
"Jadi," Gill melanjutkan, bahu-nya sedikit naik dalam sesuatu yang hampir menyerupai gestur mengangkat bahu kalau diperhatikan dari sudut yang tepat, "aku tidak tahu apakah itu cukup sebagai alasan. Tapi itu yang ada."
Hening.
Lampu minimarket di atas mereka berdengung sangat pelan.
Ara duduk di sana, di bangku yang sama dengan dua malam sebelumnya tapi dengan jarak yang lebih dekat dan percakapan yang sudah jauh lebih dalam dari malam-malam itu, dan merasakan sesuatu yang bergerak di dalam dadanya dengan cara yang sudah ia mulai kenali meski belum bisa ia beri nama dengan tepat.
"Kak Araaa," Fio menyela tiba-tiba, menarik lengan Ara dengan tangan yang bebas. "Fio udah habis es krimnya."
Ara menoleh ke Fio. Memang sudah habis, hanya cone-nya yang masih dipegang di tangan.
"Bagus," Ara berkata. "Enak?"
"Enak banget." Fio mengangguk dengan penuh semangat. "Kak Ara mau es krim juga? Fio minta Kak Gill beliin."
"Fio," Gill berkata.
"Buat Kak Ara dong Kak."
"Fio sudah habis uang sakunya untuk permen."
"Kan ada uang Kak Gill."
Gill menatap adiknya. "Kamu baru makan satu es krim dan sebelumnya setengah bungkus permen dan kamu masih mau minta dibelikan lagi?"
"Bukan buat Fio. Buat Kak Ara."
Gill menatap Fio beberapa detik. Lalu menoleh ke Ara. "Kamu mau es krim?"
Ara membuka mulutnya untuk menolak karena tidak perlu merepotkan dan es krimnya juga tidak benar-benar ia butuhkan malam ini. Tapi kemudian ia melihat Fio yang menatapnya dengan mata bulat yang penuh harap dengan cara yang membuat menolak terasa seperti tindakan yang terlalu kejam untuk dilakukan.
"Boleh," Ara menjawab. "Rasa apa yang enak?"
Fio langsung bersinar. "Cokelat! Tapi kalau mau yang unik coba matcha. Kak Gill suka matcha. Kak Ara suka apa?"
"Stroberi."
"Ohhh." Fio menoleh ke Gill dengan ekspresi yang sangat serius untuk anak enam tahun. "Kak Gill beli stroberi."
Gill sudah berdiri dari bangku, tangannya di saku, ekspresinya datar tapi tidak menolak. Ia berjalan masuk ke minimarket tanpa banyak kata.
Fio langsung bergeser ke tempat Gill tadi duduk, lebih dekat ke Ara, dan menatap Ara dengan mata bulatnya yang tidak pernah terlihat lelah memandangi dunia.
"Kak Ara," Fio berkata, suaranya lebih pelan dari biasanya.
"Hm?"
"Kak Gill itu baik loh sebenernya."
Ara menatap Fio. "Iya?"
"Iya." Fio mengangguk serius. "Dia suka pura-pura nggak peduli. Tapi sebenernya peduli. Waktu Fio sakit bulan lalu, Kak Gill yang jagain sampe pagi. Nggak tidur." Fio melihat ke arah pintu minimarket sebentar lalu kembali ke Ara. "Tapi kalau Fio bilang makasih dia bilang sudah jadi tugasnya. Dia nggak mau dibilang baik."
Ara mendengarkan itu dengan sesuatu yang bergerak pelan di dadanya.
"Tapi Fio tahu dia baik kan?" Fio melanjutkan dengan nada yang sangat yakin. "Makanya Fio bilang ke Kak Ara. Supaya Kak Ara tahu juga."
Ara menatap Fio selama beberapa detik.
Anak enam tahun ini, dengan cone bekas es krim yang masih dipegang dan rambut ikal yang sedikit berantakan dan gigi depan yang satu sudah tanggal, baru saja berkata sesuatu yang lebih dalam dari yang kebanyakan orang dewasa ucapkan dalam percakapan yang jauh lebih panjang.
"Makasih, Fio," Ara berkata. Tulus, sampai ke sudut terdalamnya.
Fio tersenyum lebar. "Sama-sama Kak Ara."
Pintu minimarket terbuka.
Gill keluar dengan satu es krim cone di tangan, rasa stroberi warnanya pink pale di bawah lampu luar minimarket, dan memberikannya ke Ara dengan cara yang sama seperti ia meletakkan susu kotak di meja tadi pagi. Langsung, tanpa basa-basi, tanpa menunggu ucapan terima kasih.
Ara mengambilnya.
"Terima kasih," ia berkata.
Gill duduk kembali di tempatnya. Mengeluarkan ponselnya. Tapi kali ini tidak langsung membuka apa pun, hanya memegang ponsel itu di tangan sementara matanya menatap ke depan.
Mereka bertiga duduk di bangku itu, Fio di tengah dengan cone bekasnya yang ia pertahankan entah untuk alasan apa, Ara dengan es krim stroberinya, Gill dengan ponselnya yang tidak dibuka.
Malam Eldria City bergerak di sekitar mereka.
Kendaraan lewat. Angin lewat. Suara-suara kota yang tidak pernah benar-benar berhenti bahkan ketika langit sudah gelap.
"Kak Gill," Fio berkata tiba-tiba.
"Hm."
"Kak Ara cantik ya."
"Fio sudah bilang itu tadi."
"Iya tapi Kak Gill belum jawab."
Hening dua detik.
Ara fokus pada es krimnya dengan sangat intens.
"Iya," Gill menjawab akhirnya. Satu kata. Datar. Tapi ada.
Fio puas. Mengangguk-angguk kecil seperti seseorang yang berhasil menyelesaikan misi penting.
Ara tidak menoleh ke arah Gill.
Tapi di sudut bibirnya, sesuatu bergerak ke atas dengan cara yang tidak bisa ia sembunyikan sepenuhnya meski ia tidak berencana untuk memperlihatkannya.
Es krimnya terasa lebih manis dari yang ia duga.
Atau mungkin itu bukan es krimnya.