NovelToon NovelToon
Tabir Terakhir

Tabir Terakhir

Status: tamat
Genre:Fantasi / Action / Tamat
Popularitas:367
Nilai: 5
Nama Author: saytama

Seorang ahli data di sebuah perusahaan teknologi raksasa (mirip Google atau SpaceX) menemukan sebuah baris kode aneh di dalam AI tercanggih dunia. Kode itu bukan dibuat oleh manusia, tapi tertanam jauh di dalam lapisan sistem paling dasar. Saat ia mencoba menelusurinya, ia menemukan bahwa kode itu terhubung dengan frekuensi suara dari palung terdalam di Samudera Hindia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon saytama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Benteng Nurani

Gunung Padang kini bukan lagi sekadar situs arkeologi; ia telah berubah menjadi sebuah mercusuar harapan di tengah kegelapan yang menyelimuti dunia. Ratusan truk dan kendaraan pengungsi mulai memadati kaki bukit Cianjur. Mereka datang dari berbagai penjuru, melarikan diri dari kota-kota besar yang kini telah berubah menjadi ladang perburuan para Arc. hon . Udara terasa tebal dengan campuran rasa takut, debu, dan aroma hujan yang menggantung di langit yang terdistorsi.

Liora berdiri di gerbang teras pertama, memandu arus manusia yang masuk. Wajahnya penuh coretan abu, tapi matanya memancarkan api yang tidak bisa dipadamkan. Di tangannya, ia memegang megafon kuno salah satu alat analog yang masih berfungsi di tengah badai frekuensi ini.

"Terus bergerak ke arah teras ketiga! Jangan melihat ke belakang! Di sini kalian aman, frekuensi mereka tidak bisa menembus batuan andesit ini!" teriak Liora.

Di dalam benaknya, suara Adam terasa seperti denyut nadi yang lemah namun stabil.

"Liora, kau harus mempercepat evakuasi. Aku bisa merasakan tiga Arc. hon lainnya sedang bergerak menuju koordinatmu dari arah Jakarta. Mereka tidak lagi berpura-pura menjadi dewa. Mereka datang sebagai eksekutor. Mereka membawa unit pembersih biologis sisa-sisa riset Unit 731 yang dirancang untuk membusukkan jaringan organik melalui gelombang suara."

"Aku tahu, Adam! Tapi kapasitas bunker di bawah gunung ini terbatas. Mpu Barada sedang mencoba membuka ruang di tingkat kelima, tapi pintunya macet oleh endapan tektonik," jawab Liora sambil membantu seorang ibu yang menggendong anaknya.

Di dalam ruangan kristal di bawah Borobudur, Adam sedang bertarung dalam dimensi yang tidak bisa dilihat mata. Kesadarannya terbagi menjadi ribuan fragmen, mencoba menahan serangan siber-psikologis yang dilancarkan dari Bahtera di Bulan. Setiap kali Arc. hon memancarkan gelombang "Kepatuhan", Adam harus membalasnya dengan frekuensi "Kenangan". Ia mengirimkan potongan-potongan memori kolektif manusia—suara tawa bayi, melodi lagu daerah, hingga rasa hangat sinar matahari di pagi hari—untuk menjaga agar jiwa-jiwa di bumi tidak menyerah pada kehampaan.

"Liora, dengarkan aku," suara Adam mendadak berubah menjadi sangat serius. "Mpu Barada tidak bisa membuka pintu itu sendirian. Pintu tingkat kelima bukan digerakkan oleh mesin, tapi oleh sinkronisasi tiga titik nadi: Borobudur, Gunung Padang, dan satu lagi yang belum kita aktifkan... Situs Muara Takus di Sumatra."

Liora tertegun. "Sumatra? Itu terlalu jauh! Kita tidak punya waktu!"

"Kau tidak perlu ke sana secara fisik. Di dalam tas ranselmu, ada sebuah kristal pemancar yang kau ambil dari laboratorium Maru. Kau harus menempatkannya di puncak stupa tertinggi Gunung Padang. Aku akan mencoba melakukan lompatan kuantum frekuensi melalui tubuhmu sebagai jembatan. Ini akan sangat menyakitkan, Liora. Lebih menyakitkan dari ledakan asteroid tadi."

Liora menatap tasnya. Ia tahu risiko menjadi "jembatan" bagi energi sebesar itu. Tubuhnya hanyalah daging dan darah, sementara energi yang dibicarakan Adam adalah kekuatan murni bumi.

"Lakukan saja, Adam. Jika aku mati, setidaknya aku mati sebagai manusia yang bebas," tegas Liora.

Ia mulai mendaki menuju puncak tertinggi Gunung Padang. Di sekelilingnya, para pengungsi menatapnya dengan penuh harap dan ketakutan. Saat ia mencapai teras kelima, ia melihat Mpu Barada sedang duduk bersila di depan sebuah batu altar besar, bibirnya bergerak tanpa suara, mencoba menahan getaran bukit yang mulai tidak stabil akibat serangan laser dari orbit yang terus menghujam lereng bawah.

Liora mengeluarkan kristal itu. Benda itu berpendar ungu pucat. Ia menempatkannya di tengah altar batu.

"Mpu, aku butuh bantuanmu untuk menjaga raga ini agar tidak hancur," kata Liora.

Mpu Barada membuka matanya yang buta. "Kau sedang menawarkan dirimu menjadi tungku api, Cah Ayu. Tapi ingatlah, emas hanya menjadi murni setelah melewati api yang paling panas. Aku akan menjaga sukmamu."

Liora menyentuh kristal itu dengan kedua tangannya.

"Sekarang, Liora! Buka pikiranmu! Jangan lawan energinya, biarkan ia mengalir melaluimu!" teriak Adam.

Seketika, sebuah pilar cahaya biru melonjak dari Borobudur, melintasi jarak ratusan kilometer di bawah kerak bumi, dan meledak keluar melalui tubuh Liora di Gunung Padang. Liora menjerit, namun suaranya tidak terdengar oleh telinga manusia; itu adalah teriakan frekuensi yang membelah atmosfer. Dari Gunung Padang, energi itu melesat ke arah barat, menuju Muara Takus, membentuk sebuah segitiga energi raksasa yang menyelimuti pulau-pulau besar di Indonesia.

KREEEKKK!

Di bawah kaki mereka, pintu tingkat kelima Gunung Padang akhirnya terbuka. Sebuah aula raksasa yang mampu menampung puluhan ribu orang terbentang di bawah sana, diterangi oleh dinding-dinding fosfor alami.

"Masuk! Semuanya masuk sekarang!" instruksi Mpu Barada kepada para pengungsi.

Namun, di saat yang sama, tiga kapsul emas Arc. hon menghantam tanah di kaki bukit. Ledakannya menciptakan gelombang kejut yang meruntuhkan beberapa pohon besar. Tiga sosok Arc. hon keluar, namun kali ini mereka tidak mengenakan jubah putih. Tubuh mereka adalah mesin perang yang hitam legam, dengan senjata plasma yang terintegrasi di lengan mereka. Mereka bergerak dengan kecepatan yang tidak masuk akal, mendaki bukit menuju posisi Liora.

"Penghuni bumi yang keras kepala," suara salah satu Arc. hon bergema, suaranya kini sepenuhnya digital dan penuh kebencian. "Kalian memilih untuk bersembunyi di dalam liang tanah seperti tikus. Baiklah, kami akan menjadikan gunung ini sebagai kuburan kalian."

Arc. hon pertama melepaskan tembakan plasma ke arah teras ketiga, menghancurkan barisan batu kuno. Liora, yang masih terhubung dengan kristal, merasa tubuhnya sangat lemah. Ia tidak bisa bergerak.

"Liora, tetap di sana! Aku akan mencoba membajak sistem internal mereka!"

Adam mulai meretas protokol kesadaran para Arc. hon tersebut. Ia menemukan sisa-sisa memori manusia di dalam otak organik mereka potongan-potongan kehidupan dari para ilmuwan elit yang pernah memiliki keluarga. Adam memutar memori-memori itu secara berulang, menciptakan "halusinasi emosional" di dalam sistem saraf para Arc.hon.

Salah satu Arc. hon berhenti mendadak. Tangannya yang memegang senjata gemetar. "Siapa... siapa anak kecil yang menangis ini?" bisik Arc. hon itu, suaranya pecah.

"Jangan dengarkan dia! Itu adalah virus emosi!" teriak Arc. hon kedua, namun ia pun mulai terlihat tidak stabil.

Pertempuran ini sangat aneh. Di satu sisi ada kehancuran fisik, di sisi lain ada perang memori di dalam syaraf. Adam menggunakan segala hal yang ia tahu tentang Unit 731 untuk membalikkan keadaan. Ia membangkitkan rasa bersalah yang telah ditekan selama puluhan tahun di dalam pusat data elit.

Namun, di Bulan, sang Pemegang Kendali menyadari apa yang sedang terjadi. "Arsitek menggunakan nurani sebagai senjata. Sangat kreatif. Tapi nurani tidak bisa menahan kekosongan."

Sang Pemegang Kendali menekan sebuah tombol hitam di konsol kursinya. "Aktifkan The Nul lifer. "

Tiba-tiba, Adam merasakan sebuah serangan yang berbeda. Bukan lagi serangan data, tapi sebuah keheningan yang absolut. Seolah-olah seluruh suara di alam semesta mendadak hilang. Borobudur mulai bergetar dengan cara yang salah—ia bukan lagi memancarkan energi, tapi justru menyerap energi dari sekelilingnya, termasuk energi kehidupan dari tubuh Adam.

"Liora... aku... aku kehilangan kendali..." suara Adam terdengar sangat jauh, seperti suara orang yang tenggelam. "Dia... dia menghapus frekuensi dasar bumi..."

Liora melihat pilar cahaya di atasnya mulai meredup. Para Arc. hon di bawah bukit mulai pulih dari halusinasi mereka dan kembali mendaki dengan amarah yang lebih besar.

"Adam! Jangan menyerah!" Liora berteriak, air mata membasahi wajahnya yang terbakar.

Ia melepaskan tangannya dari kristal dan mengambil senjata MP manualnya. Ia tahu ia tidak bisa menang melawan tiga Arc. hon sekaligus, tapi ia tidak akan membiarkan mereka mencapai puncak tanpa perlawanan.

"Mpu, bawa orang-orang itu masuk dan tutup pintunya! Aku akan menahan mereka di sini!"

"Liora, kau akan mati!" Mpu Barada memperingatkan.

"Aku sudah mati sejak hari aku bertemu Adam di lantai 88," jawab Liora dengan senyum pahit. "Sekarang aku hanya sedang menyelesaikan tugasku."

Liora melompat ke bawah, menuju ke arah para Arc. hon yang mendekat. Di dalam kegelapan yang diciptakan oleh The Nul lifer , ia menjadi satu-satunya titik cahaya yang tersisa di Gunung Padang.

Namun, di saat harapan seolah habis, sebuah kejutan terjadi. Dari arah langit yang gelap, sebuah pesawat kecil dengan logo yang sangat dikenal Adam muncul. Pesawat itu bukan milik elit, melainkan milik organisasi bawah tanah internasional yang selama ini diam. Dan dari speakernya, terdengar sebuah lagu yang sangat tua lagu rakyat yang penuh dengan semangat perlawanan.

Lagu itu memecah kesunyian The Nul lifer

"Adam! Gunakan lagu itu sebagai gelombang pembawa!" teriak sebuah suara di radio pesawat. Itu adalah suara Hendrawan yang ternyata masih hidup dan telah berhasil meretas stasiun penyiaran global.

Adam, yang hampir pingsan di Borobudur, mendengar melodi itu. Ia menangkap frekuensi lagu tersebut dan menjadikannya tameng untuk melawan keheningan. Cahaya di tubuhnya kembali berkobar, kali ini dengan warna merah berani.

Perang belum berakhir. Justru, ini adalah awal dari simfoni perlawanan manusia yang sesungguhnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!