Seorang taruna tingkat akhir Angkatan Laut diperkenalkan oleh ibunya kepada putri sahabat lamanya. Pertemuan yang awalnya sekadar bentuk silaturahmi itu perlahan berubah menjadi kisah yang tak pernah mereka duga—sebuah perjalanan dari perkenalan sederhana hingga tumbuhnya cinta yang tulus. Lareina Shafa Putri, yang akrab disapa Nana, adalah siswi kelas 12 SMA. Ia merupakan anak ketiga sekaligus putri satu-satunya dari tiga bersaudara. Tumbuh di tengah dua kakak laki-laki membuat Nana menjadi pribadi yang mandiri, hangat, dan penuh perhatian. Ia adalah buah hati dari pasangan Ibu Hapsari dan Bapak Widodo, yang selalu mendidiknya dengan kasih sayang dan nilai-nilai keluarga yang kuat. Sementara itu, Izzan Adreano Althaf, atau Izzan, adalah seorang taruna Angkatan Laut tingkat terakhir yang dikenal tegas, bertanggung jawab, dan berwibawa. Ia merupakan anak pertama dari dua bersaudara, dengan seorang adik laki-laki bernama Kaivan Adreano Althaf. Izzan adalah putra dari Ibu Karin dan Bapak Sudirman, yang membesarkannya dengan disiplin dan prinsip hidup yang kokoh. Perbedaan usia empat tahun di antara Nana dan Izzan sempat terasa sebagai jarak yang membatasi. Namun, waktu membuktikan bahwa angka hanyalah hitungan. Kedewasaan Izzan dan keceriaan Nana justru saling melengkapi. Dari perkenalan yang sederhana, tumbuh rasa saling memahami, saling menjaga, hingga akhirnya bersemi cinta yang menguatkan satu sama lain. Bagi mereka, perbedaan bukanlah alasan untuk berpisah, melainkan jembatan untuk belajar menerima, mengerti, dan berjalan berdampingan menuju kebahagiaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon K.Ayura Dane, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tatapan yang Tidak Sempat Menjadi Kata
Izzan akhirnya kembali ke Jakarta setelah satu setengah tahun bertugas di Italia. Kepulangannya disambut hangat oleh kedua orang tuanya. Rumah terasa lebih hidup, lebih lengkap.
“Selamat datang kembali, Nak,” ucap Bu Karin sambil memeluknya erat saat berkunjung ke Jakarta untuk menjemput anaknya yang datang setelah satu setengah tahun tidak bertemu dikarenakan tugas ke luar negeri yaitu Italia.
“Alhamdulillah sudah sampai rumah,” jawab Izzan pelan. (Selama di Jakarta, Izzan dibelikan rumah di komplek yang elit supaya ketika orang tua Izzan berkunjung tidak perlu menyewa hotel)
Wajahnya terlihat lebih matang. Sorot matanya berbeda—lebih tenang, lebih dalam. Pengalaman di luar negeri tidak hanya membentuk kariernya, tetapi juga cara pandangnya terhadap hidup.
Beberapa hari setelah kepulangannya, Jakarta kembali menyibukkannya. Rapat, laporan, penyesuaian tugas baru. Namun kali ini, ia menjalani semuanya dengan perasaan yang stabil. Tidak ada lagi drama percintaan yang menguras energi. Fokusnya jelas: pekerjaan dan keluarga.
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Di waktu yang hampir bersamaan, liburan semester Nana dimulai.
Semester enam telah ia lewati dengan penuh perjuangan. Laporan menumpuk, tanggung jawab sebagai Ketua BEM yang nyaris membuatnya tumbang, hingga akhirnya ujian akhir selesai juga.
Sebagai hadiah kecil untuk dirinya sendiri, Nana memutuskan berlibur ke Jakarta, mengunjungi kakaknya—Affandra.
Affandra adalah anak pertama di keluarga mereka. Seorang tentara angkatan darat dengan pangkat yang bahkan masih di atas Izzan. Tegas, disiplin, namun sangat menyayangi adiknya.
Nana memilih naik kereta api. Ia menyukai perjalanan darat—melihat sawah, kota, dan langit yang berubah sepanjang jalur rel.
Sesampainya di Stasiun Gambir, ia mengirim pesan pada kakaknya.
“Kak, Nana sudah sampai.”
Tak lama kemudian, Affandra muncul dengan seragam santainya. Wajahnya langsung tersenyum lebar.
“Eh, Ketua BEM datang juga,” godanya.
Nana memutar mata. “Apaan sih.”
Mereka berjalan menuju parkiran. Belum juga sampai mobil, Affandra sudah mulai jahil.
“Jadi… pacarnya mana?”
Nana mendengus pelan. “Nggak punya.”
Affandra berhenti sejenak, menatap adiknya pura-pura heran. “Loh? Udah semester enam mau semester tujuh, masa belum punya pacar?”
Nana memalingkan wajah. “Nggak penting.”
“Kamu ini gimana sih. Dulu kakak sama Kak Sherly dari kelas 10 SMA sudah pacaran. Lihat, sekarang nikah.”
Nana langsung pura-pura merajuk. “Ih, kakak jahat banget sih.”
Begitu sampai rumah, Sherly—istri Affandra—langsung menyambut Nana dengan pelukan hangat.
“Nana! Makin cantik aja.”
Affandra masih tertawa. “Cantik sih cantik, tapi belum punya pacar.”
Sherly langsung menepuk lengan suaminya. “Kamu ini ya. Jangan ganggu adik sendiri.”
Nana langsung berdiri di belakang Sherly, pura-pura berlindung.
“Tuh kan, dibela,” katanya sambil menjulurkan lidah ke arah kakaknya.
Affandra geleng-geleng kepala. “Dasar.”
Suasana rumah terasa hangat. Nana selalu merasa nyaman di sana. Ia bisa menjadi dirinya sendiri tanpa tekanan.
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Beberapa hari kemudian, karena Affandra harus bertugas di Cakung dan Sherly sibuk bekerja, Nana memutuskan pergi sendiri ke sebuah mall di Jakarta—Grand Indonesia.
Ia memesan gojek dari rumah kakaknya.
Sepanjang perjalanan, ia menikmati hiruk-pikuk Jakarta. Kota ini berbeda dari Malang. Lebih padat, lebih cepat, lebih ramai.
Grand Indonesia menyambutnya dengan gemerlap lampu dan keramaian pengunjung.
Nana berjalan santai. Ia masuk ke beberapa toko pakaian, mencoba beberapa baju, memilih yang sederhana tapi elegan. Ia juga membeli beberapa keperluan kecil.
Setelah lelah berkeliling, ia makan sendirian di salah satu restoran. Tidak ada yang aneh baginya. Ia terbiasa melakukan banyak hal sendiri.
Menjelang sore, ia baru sadar belum menunaikan shalat Ashar.
“Ya Allah,” gumamnya pelan.
Ia segera mencari mushollah di dalam mall. Setelah menemukannya, ia berwudhu dan masuk ke ruang shalat yang tenang.
Di tengah riuhnya mall, mushollah itu terasa seperti dunia lain. Hening. Damai.
Nana berdiri, mengangkat tangan, dan mulai shalat.
Dalam sujudnya, ia memohon ketenangan. Memohon kemudahan untuk semester-semester akhir yang akan ia jalani.
Selesai shalat, ia duduk sebentar, berdoa lebih lama dari biasanya.
Tak ada doa khusus tentang jodoh. Ia hanya meminta yang terbaik, tanpa menyebut nama siapa pun.
Setelah itu, Nana berjalan keluar mall. Ia sudah mengirim pesan pada kakaknya untuk menjemput karena kebetulan searah dengan perjalanan pulang Affandra dari tugasnya.
Ia berdiri di area depan, dekat pintu keluar.
Tangannya memegang ponsel, sesekali melihat layar memastikan kakaknya sudah dekat.
Dan di saat itulah…
Langkahnya terhenti.
Di seberang sana, beberapa meter darinya, berdiri seorang pria yang sangat ia kenal.
Izzan.
Waktu seakan melambat.
Izzan juga baru saja keluar dari mall bersama dua rekannya. Ia sedang tertawa kecil atas percakapan mereka, hingga tiba-tiba pandangannya menangkap sosok yang tidak asing.
Nana.
Untuk beberapa detik, dunia di sekitar mereka seperti menghilang.
Mereka saling menatap.
Tidak ada senyum lebar. Tidak ada lambaian tangan.
Hanya tatapan.
Tatapan yang membawa dua tahun jarak. Dua tahun perubahan. Dua tahun kedewasaan.
Nana menyadari itu Izzan. Posturnya masih sama, namun wajahnya lebih matang. Ada ketenangan yang berbeda.
Izzan juga menyadari itu Nana. Wajah yang dulu pernah ia lihat sekilas kini terlihat lebih dewasa. Sorot matanya tegas, namun lembut.
Mereka tidak melangkah mendekat.
Tidak ada sapaan.
Mungkin karena mereka tidak pernah benar-benar memiliki hubungan. Hanya sekadar pernah dikenalkan. Pernah hampir dipertemukan.
Dan kini, mereka berdiri sebagai dua orang dewasa yang kebetulan bertemu di kota besar.
Ponsel Nana bergetar.
“Sudah depan GI.” pesan Affandra.
Tatapan itu terputus.
Nana mengalihkan pandangan lebih dulu. Ia berjalan menuju arah mobil kakaknya yang sudah terlihat.
Izzan hanya berdiri diam beberapa detik, lalu melanjutkan langkahnya bersama rekannya.
Tidak ada yang mengejar.
Tidak ada yang memanggil nama.
Di dalam mobil, Affandra menoleh ke arah adiknya.
“Lama amat. Ngapain?”
“Enggak apa-apa,” jawab Nana singkat.
Ia menatap ke luar jendela. Lampu-lampu Jakarta mulai menyala.
Di sisi lain jalan, Izzan masuk ke mobilnya sendiri. Ia bersandar di kursi, pikirannya sedikit melayang.
“Kenapa, Zan?” tanya rekannya.
“Enggak. Tadi kayak lihat orang kenal.”
“Siapa?”
Izzan menggeleng pelan. “Nggak jadi.”
Ia menatap keluar jendela mobil yang bergerak.
Pertemuan itu begitu singkat.
Namun cukup untuk menyadarkannya bahwa waktu memang telah berjalan jauh.
Tidak ada rasa sesak. Tidak ada penyesalan.
Hanya perasaan aneh yang sulit dijelaskan—seperti membaca kembali halaman lama dalam buku yang belum pernah benar-benar selesai.
Sementara Nana di kursi penumpang juga terdiam.
Ia tidak tersenyum. Tidak juga terlihat gelisah.
Hanya hening.
Seolah-olah pertemuan itu hanyalah satu titik kecil dalam perjalanan panjang mereka.
Dan mungkin memang begitu.
Tatapan tadi tidak menjadi kata.
Tidak menjadi sapaan.
Tidak menjadi awal ataupun akhir.
Hanya sebuah pertemuan tanpa suara.
Namun kadang, yang paling membekas bukanlah percakapan panjang—
melainkan detik singkat ketika dua pasang mata saling mengerti,
lalu memilih berjalan kembali ke arah masing-masing.
kadang hijabnya kadang rambutnya trs yang bener hijab apa rambut jadi bingung kadang